
selesai makan malam, banyak anak-anak yang memutuskan untuk pergi masing-masing ke Malioboro, maupun ke alun-alun. dengan syarat, mereka harus meminta ijin dulu kepada Trio dan Pak Jamil.
Esta sedang berjalan-jalan menyusuri jalanan Malioboro bersama dengan Putri, taman sekamarnya. Ternyata Putri orang yang ramah dan supel. Walaupun wajahnya terkesan judes, tapi Putri punya hati yang hangat.
Menegaskan bahwa wajah tidak selamanya mencerminkan tingkah laku. Berbeda dengan Tina, yang sekarang kembali tidak menganggap Esta.
Tapi entahlah, itu hanya kesan pertama Esta pada Putri. Ia tetap tidak berani menilai pribadi Putri karna ia baru beberapa jam mengobrol dengannya.
Esta benar-benar tidak peduli dengan Rai. Ia bahkan tidak penasaran dimana pria itu berada sekarang.
Esta dan Putri berhenti di salah satu sisi jalan. Disana orang-orang sedang berkumpul untuk menikmati pertunjukan musik sekelompok anak muda. Musik bercampur koplo itu membuat siapapun yang mendengarnya ikut menggoyangkan kaki.
“Kamu udah pernah kesini, Ta?” Tanya Putri ketika mereka melanjutkan langkah.
Esta menggeleng. “Baru ini. Kamu?”
“Udah sering. Soalnya nenekku asli Wonosari. Jadi kalau libur aku pasti pulang kemari.
Esta hanya mengangguk wlaupun tidak tau dimana itu Wonosari.
“Satu tahun kita sekelas, tapi aku baru sadar kalau kita jarang ngobrol begini.”
“Hehehe, iya, ya.”
“Mungkin karna kelas tiga banyak yang harus di pelajari, jadi kita gak punya waktu buat bersosialisasi.”
Entahlah. Esta merasa ia punya banyak waktu. Hanya saja tidak ada yang melihatnya. Tidak ada yang bersedia menerima kehadirannya. Tidak ada yang memberi ruang untuk berbagi dengannya. Ia hanya menghuni ruangan miliknya sendiri, tanpa orang lain. Tanpa teman. Ia hanya orang terbuang di antara mereka. Ia berada di kasta paling rendah di kelasnya.
“Mau ke alun-alun gak, Ta?”
“Alun-alun? Ada apa disana?” Tanya Esta.
“Banyak. Kita bisa main mobil hias. Atau kamu bisa coba jalan di tengah pohon beringin kembar sambil tutup mata. Mitosnya, kalau kamu berhasil ngelewatin beringin kembar itu dengan mata ketutup, apa yang kamu harapkan bakal terkabul lho.”
Esta sangat tertarik mendengar penjelasan Putri. Benarkah keinginannya akan terwujud jika dia mampu melakukannya?
“Boleh, dimana alun-alunnya? Jauh gak?”
“Gak jauh kok dari sini. Kita bisa naik becak kesana. Atau kalau mau jalan kaki juga bisa. Memang lumayan capek sih kalau jalan kaki.”
“Terserah enaknya aja.” Jawab Esta.
Putri melirik jam tangannya, masih pukul 18.03 wib. Mereka masih punya banyak waktu. Lantas Putri dan Esta menghampiri tukang besak yang kebetulan masih mangkal di sekitar mereka. Putri berbicara kepada tukang becak dengan menggunakan bahasa jawa yang entah apa, Esta sama sekali tidak mengerti artinya.
__ADS_1
Kemudian, Putri kembali mengajak Esta untuk naik ke atas becak dan becakpun melaju menuju Alun-Alun Selatan atau biasa di sebut dengan Alkid.
Esta terkagum-kagum saat turun dari becak. Di sekitarnya, ramai sekali mobil-mobilan kayuh yang di hiasi sedemikian cantiknya menggunakan lampu-lampu berbagai warna. Namun ia ingin mencoba berjalan melewati beringin kembar terlebih dahulu sebelum mencoba mobil hiasnya.
“Ta, istirahat dulu yuk. Aku mau beli bakso bakar, mau?” Tawar Putri.
“Bolehlah.” Akhirnya Esta kembali mengikuti Putri menuju ke salah satu penjual bakso bakar di pinggir lapangan.
Setelah mendapatkan keinginan mereka, merekapun duduk-duduk lesehan di atas rerumputan begitu saja. Menikmati bakso bakar sambil melihat banyaknya manusia yang sedang menikmati kehangatan kota Jogja.
“Kamu udah lama pacaran sama Akash?” Lagi-lagi Putri menyinggung soal Akash.
“Kami gak pacaran, kali. Kalian aja yang bilang-bilang begitu.”
“Tapi kan Akash nembak kamu waktu itu?”
“Iya, tapi kami gak pacaran. Cuma temenan aja.”
“Oooh. Kirain kalian pacaran. Soalnya kalian kelihatan deket banget gitu.”
“Hehehehe..” Esta hanya menanggapinya dengan tertawa.
“Udah sono kalau mau coba.”
“Boleh.”
Kemudian Esta dan Putri mencari mobil hias yang sesuai dengan selera mereka. Beberapa saat kemudian, kedua gadis itu sudah mengayuh mobil hias berkeliling alun-alun. Sesekali mereka saling mengambil foto dan tertawa senang.
Baru kali ini Esta bisa melepas rasa bahagianya saat bersama dengan orang lain. Sepertinya Putri benar-benar orang baik. Baru beberapa jam bersama, mereka sudah merasa akrab seperti itu.
“Abis tamat kamu nyambung kemana, Ta?” Tanya Putri disela-sela mengayuh.
“Ehm,, gak tau. Belum ada gambaran. Kemungkinan besar sih enggak. Kamu?”
“Aku rencananya mau lanjut ke sini aja. Tapi baru rencana sih. Gak tau nanti.”
Esta tersenyum kecut. Ada sebuah perasaan iri yang singgah di hatinya. Betapa beruntungnya Putri. Bisa melanjutkan pendidikan ke tempat yang ia mau.
Tidak ada waktu untuk iri dengan hidup orang lain. Semua sudah ada porsinya masing-masing. Bukan waktunya untuk cemburu. Lakukan saja dengan baik apa yang ada di depan mata. Orang yang nampak beruntung, belum tentu seberuntung kelihatannya. Karna kita tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Kamu kenapa gak lanjut kuliah, Ta?”
“Gak ada biaya. Soalnya aku hidup sebatang kara.” Jujur Esta.
__ADS_1
Putri nampak sangat terkejut dengan pengakuan Esta itu. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Esta hidup sendirian. Tapi ia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi tentang kehidupan Esta. Ia menghargai keterbukaan Esta padanya.
“Kan ada bea siswa. Coba aja daftar. Banyak kok beasiswa yang di sediakan pemerintah.”
“Beasiswa itu bukannya buat orang-orang pinter ya?”
“Ada beasiswa untuk anak-anak gak mampu juga.”
“Tapi yang pinter. Itu syarat utamanya. Sedangkan aku, otakku terbatas, Put. Hehehehehe.”
“Semoga nanti ada jalan, ya.” Doa tulus dari Putri.
“Semoga. Siapa tau ya kan?”
“Hahahahahahaa. Pasti ada. Kan udah di tutorin sama Rai.”
Mendengar nama Rai di sebut, membuat Esta tersenyum gamang. Ia segera mengalihkan pembicaraan pada hal lain dan memaksa Putri untuk mengayuh lebih cepat lagi.
Setelah waktu penyewan mereka habis, Esta dan Putri kembali duduk lesehan untuk menghilangkan rasa lelah mereka. Berusaha untuk mengatur nafas sambil menikmati semangkuk wedang ronde yang baru saja di pesan oleh Putri.
Selanjutnya mereka kembali melanjutkan obrolan ringan seputar sekolah, kegiatan di luar sekolah, sampai dengan pria yang pernah menjadi pacar Putri.
Putri lebih banyak cerita di bandingkan dengan Esta. Karna ia tidak punya banyak pengalaman seperti Putri. Selama ini ia hanya berkutat pada hidupnya sendiri saja. Tanpa teman, apalagi pacar.
“Brrrrrrruuu..” Esta menyemburkan wedang ronde yang baru saja ia tenggak.
“Kenapa, Ta?”
“Pyuh. Gak enak.” Bisik Esta. Takut di dengar penjualnya.
“Masak sih? Ini enak banget lho. Ngangetin badan.”Ujar Putri yang menyeruput wedang ronde miliknya.
“Pedes. Gak cocok sama lidahku, Put.”
“Hahahaahahahha. Ya ampun kamu ini ada-ada aja. Jadi mau beli yang lain?”
“Enggak deh. Aku mau nyoba kesana aja.” Ujar Esta menunjuk dua batang beringin kembar dengan dagunya.
“Oke, aku nunggu di sini, ya. Berani kan sendiri?”
“Berani dong.” Ujar Esta yang bangun berdiri sambil menepuki bokongnya untuk menyingkirkan rumput yang menempel.
Namun, ternyata Putri tidak tega juga membiarkan Esta pergi sendirian. Iapun mengikuti Esta berjalan ke tengah lapangan dan memberitahu Esta cara bermainnya.
__ADS_1