Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 60. Benteng Batasan Itu Sudah Hancur Tak Bersisa.


__ADS_3

Sejak dari taksi, sampai ke dalam rumah, Esta tetap mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia marah kepada Rai yang tidak meminta pendapatnya terlebih dahulu dan malah memberitahu ke semua orang kalau mereka sedang pacaran. Ia tidak tau bagaimana ia akan menghadapi teman-temannya nanti di sekolah.


Esta sedang berdiri di meja dapur sambil membuat susu. Ia mengabaikan Rai apapun yang di bicarakan atau di lakukan oleh pria itu. Ia benar-benar marah.


Rai yang menyadari kesalahannya, mendekati Esta dan memeluk pinggang Esta dari belakang. Esta yang terkejut hendak melepaskan diri namun tertahan oleh tangan Rai yang semakin erat memeluknya.


“Maaf. Aku janji gak akan ngulangin lagi.” Lirih Rai dengan sungguh-sungguh.


“Apa yang bisa di ulangin? Semua orang udah terlanjur tau. Sebenernya kenapa kamu ngelakuin itu, Rai?”


“Aku cuma mau memperjelas hubungan kita. Biar gak ada orang yang ganggu kamu, ataupun gangguin aku.”


“Hubungan kita kurang jelas di mana sih?”


“Udahlah. Udah terlanjur juga. Udahin marahnya. Please. Lagian kita udah gak akan sering ketemu mereka lagi. Soalnya senin kan udah ujian. Abis itu, kita udah gak ketemu lagi sama mereka. Jadi abaikan aja.”


“Segampang itu kamu ngomong. Mereka pasti lagi gunjingin aku sekarang.”


“Gak usah di fikir. Fikir dedek aja. Sama aku.” Rayu Rai.


Rai belum mau melepaskan pelukannya. Ia senang sudah tiba di rumah dan ia bisa melakukan apapun sesuka hati. Memeluk Esta, menciumi lehernya, mengelus perutnya, bahkan menggigiti telinganya.


“Rai, geli. Ih!” Hardik Esta yang sudah merinding sekujur tubuh akibat ulah Rai.


“Ke kamar yuk. Semalem kan udah janji.”


“Janji apa? Aku gak ada janji apa-apa.” Elak Esta.


“Ih, kok gitu? Ingkar nih. Gak mau, pokoknya ayo ke kamar.” Paksa rai.


Karna mendapat penolakan dari Esta, akhirnya Rai membopong tubuh Esta ke kamar dan membaringkannya di atas kasur. Ia memposisikan dirinya di atas gadis itu dengan bertumpu pada kedua tangannya.


“Kamu mau ngapain Rai?”


“Ya mau minta jatah dong. Mau apa lagi.”


“Gak ada jatah. Inget ada dedek. Emangnya boleh minta jatah?”


“Hmm,,  iya ya? Bisa gak sih? Bentar, aku tanya dulu sama dokter Hafis.” Ujar Rai yang langsung bangun dan mengambil ponselnya.


“Kamu mau ngapain?”

__ADS_1


“Telfon dokter Hafis.”


“Terus?”


“Ya mau tanya, boleh berhubungan gak.”


“Kamu gila ya? Malu-maluin Rai.”


“Kenapa musti malu. Dia lebih berpengalaman daripada kita.”


“Ih, gak mau ah. Gak usah tanya. Tanya mbah gugel aja.” Paksa Esta. Membayangkan Rai bertanya begitu saja sudah membuatnya malu.


Namun itu hanyalah modus Esta untuk melarikan diri dari Rai. Ia segera berlari keluar dari kamar setelah tangan Rai sibuk dengan ponsel.


“Eh, eh, eh, kok malah kabur?!” Teriak Rai yang langsung mengejar Esta. Setelah mendapatkannya, Rai kembali membopong Esta ke kamar.


Kali ini, ia mengunci tubuh Esta dia antara lengannya. Mengurung gadis itu agar tidak bisa kabur lagi darinya.


Wajah Esta sudah merona. Menatap Rai yang berada di atas tubuhnya dengan nafas yang seolah tercekat di tenggorokan. Dadanya sedang bergemuruh luar biasa. Ia merasakan darahnya seolah sedang mendidih.


Apalagi saat Rai tiba-tiba menyingkap kausnya dan langsung mengecupi perutnya. Ia seperti sedang tersengat aliran listrik yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Membuatnya membeku dan tidak bisa bergerak.


“Dek, Mama gak mau ngasih jatah. Padahal Papa lagi pengennnnnn banget.” Adu Rai kepada bayinya.


“Ta? Bernafas.” Ujar Rai lagi saat melihat Esta membeku sempurna. Ia tetap menempelkan wajahnya di perut Esta.


Esta masih terdiam. Berapapun ia berusaha untuk menetralkan degup jantungnya, tapi ia masih gagal.


“Hahahaha. Gak usah takut gitu. Aku gak bakalan minta jatah kok kalau kamu gak mau. Lagian aku juga takut kalau itu bahaya buat dedek bayi.”


Mendengar kalimat itu membuat Esta sedikt lega. Ia hanya perlu menunggu Rai untuk menyingkir dari perutnya.


Tapi bukannya menyingkir, tangan Rai malah bergerilya mengegrayangi perut dan pinggang Esta. Membuat Esta kembali merinding di sekujur tubuhnya. Ia berusaha menahan laju pergerakan tangan Rai. Namun apalah dayanya, tubuhnya yang gemetar seolah menghilangkah separuh tenaganya.


“Rai, udah dong. Jangan.” Lirih Esta memohon.


Namun Rai hanya mengangkat kepalanya sebentar kemudian kembali melanjutkan aksinya. Kini tangan Rai bahkan sudah mencakup sebelah gundukannya dengan sempurna. Merem@snya dengan perlahan hingga Esta mengeratkan jari-jari kakinya. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat untuk mencegah mulutnya mengeluarkan lenguhan.


Esta tidak bisa berkutik. Bukan karna ia tidak bisa mengusir Rai dari atas tubuhnya. Namun ia sudah terlanjur tersihir dengan rangsangan yang di berikan oleh Rai. Ia bahkan sudah mencengkeram rambut Rai demi menahan diri dari siksaan kenikmatan itu.


Karna tidak mendapat penolakan, akhirnya Rai melanjutkan aksinya dengan lebih berani lagi. Ia mengeluarkan gundukan milik Esta dari dalam pembungkusnya hingga kedua gundukan itu menyembul keluar.

__ADS_1


Dan langsung saja Rai mengerjai dua gundukan itu dengan semakin mengencangkan rem@sannya. Memilin-milin puncaknya hingga Esta mengerang dan tubuhnya bergerak-gerak akibat menahan rangsangan.


Tahap selanjutnya, Rai langsung melahapnya tanpa ampun. Memainkan puncaknya dengan lidahnya hingga membuat Esta semakin mencengkeram rambutnya.


Tanpa sadar Esta semakin menekan kepala Rai ke tubuhnya. Suara lenguhan sudah tidak bisa lagi ia tahan.


“Rai......” Lirihnya.


“Hemm?”


“Ud-dah do-ng.” Pintanya di sela helaan nafas beratnya.


Rai mengangkat kepalanya dari gundukan Esta. Menggeser tubuhnya hingga sejajar dengan Esta. Ia menopang tubuhnya dengan siku sambil terus menatapi wajah Esta. Ia tersenyum lucu saat melihat tatapan Esta yang bahkan tidak bisa terbuka dengan sempurna.


“Enak kan?” Ujarnya menggoda.


Dengan tangan lemahnya Esta memukul pelan lengan Rai. “Nakal.”


“Hehehehehe.”


Rai membelai rambut Esta dengan lembut. Ia seperti sedang mencurahkan seluruh perasaannya kepada gadis itu.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di pipi Esta.


“Semesta...?”


“Hemm?”


“Aku sayang banget sama kamu.”


Esta menoleh kepada Rai dan tersenyum. Sudah, ia sudah pasrah sepenuhnya kepada Rai. Ia sudah takluk kepada pria itu. Seolah benteng batasanannya sudah hancur tak bersisa. Kini ia memilih untuk membuka hati dan membiarkan Rai masuk dan menghuni hatinya. Menutup lubang yang selama ini menganga dengan seluruh cinta dari Rai.


Rai juga merasakan hal yang sama. Ia memilih untuk jatuh kepada Esta. Gadis jelek dan gemuk yang sudah berhasil memikat seluruh hatinya. Dan karna itu, ia akan menyerahkan seluruh perasaannya kepada gadis itu.


Rasa di dalam hati semakin bergejolak. Mendorong Rai untuk kembali mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di bibir Esta. Perlahan ia mulai melum@tnya dengan penuh kelembutan hingga Esta memejamkan matanya.


Lalu ia mulai menembus bibir padat itu hingga lidahnya berhasil masuk dengan sempurna. Menari-nari di dalam dengan membawa sejuta kenikmatan yang tiada terkira. Membawa Esta terbang membumbung ke angkasa hingga tidak ingin kembali lagi.


Tapi hanya sebatas itu. Rai masih tidak berani melakukan yang lebih karna takut akan berpengaruh pada bayi mereka. Lagipula, ia butuh ijin Esta untuk melakukannya. Dan sepertinya Esta belum siap.

__ADS_1


******


oke readers tercinta sekalian. sampe disini, gimana menurut kalian jalan ceritanya? apa alurnya terlalu lambat apa terlalu cepat? apa gimana nih?


__ADS_2