Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 21. Semuanya Semakin Samar.


__ADS_3

Walaupun hari sangat terik, sepulang sekolah Rai tetap pergi mencari kos baru untuknya dan Esta. Sebelum itu, ia mampir ke rumah neneknya terlebih dulu. Rai menjelaskan kalau Esta keberatan  tinggal di rumah nenek.


“Jadi kalian mau tinggal dimana?” Tanya Salamah.


“Aku rencananya mau nyari kos-kosan yang lebih luas, Nek. Biar Esta nyaman.” Jelas Rai.


Nenek faham mengapa Esta merasa tidak nyaman untuk tinggal di rumah ini. Setelah apa yang gadis itu lalui, ia tidak akan mungkin nyaman tinggal bersama dengan keluarga dari pria yang telah menghamilinya. Seteerbuka apapun mereka, tidka akan mudah menerimanya.


“Ya terserah gimana baiknya aja. Kalau dia gak mau ya jangan di paksa. Gak apa-apa walaupun mahal sedikit, cari yang nyaman. Nenek udah transfer uang buat kebutuhan kalian.”


“Aku masih punya pegangan sedikit, Nek.”


“Kamu ini udah jadi suami. Tanggung jawab Esta dan bayi yang ada di perutnya, ada di pundakmu. Kamu wajib ngasih kehidupan yang nyaman buat mereka. Tapi karna kalian masih di bawah umur, jadi kalian masih jadi tanggung jawab kami. Gak usah nolak, nanti kalau kamu udah kerja, baru boleh gak minta uang dari Nenek.” Tegas nenek.


Rai hanya menghela nafas saja. Ia menundukkan wajah merasa malu dengan perbuatannya.


“Maafin aku, Nek.”


“Udah Nenek maafin. Tapi, bukan sama Nenek kamu harus minta maaf, tapi sama Esta. Ini pasti gak mudah buat dia. Biar gimanapun, hubungan di luar nikah, tetep perempuan yang rugi. Jadi perlakukan dia dengan baik, tebus kesalahanmu.”


Rai mengangguk. “ya udah kalau gitu, aku mau pamit dulu, Nek. Nanti keburu sore.” Pamit Rai.


“O iya, Rai. Nanti, bawa Esta periksa ke klinik om Hafis, Nenek udah buat janji sama dia nanti kamu tinggal telfon aja. Masih ada kan nomornya?”


“Masih, Nek.”


Rai keluar dari rumah neneknya dengan perasaan yang masih terasa berat. Ia sedang memikirkan tanggung jawab yang kini ada di kedua tangannya. Ia memang sama sekali tidak punya perasaan apapun kepada Esta. Pernikahan ini ia lakukan hanya karna ia tidak ingin menjadi seorang pengecut.


Semua kejadian ini menyamarkan langkahnya. Ia tidak tau apa yang akan dia lakukan ke depannya. Rai bingung. Ia terlalu memikirkan semua resiko-resiko yang bahkan belum tentu terjadi. Ia hanya meyakini kalau itu akan terjadi, dan itu bukanlah sesuatu yang baik.


“Udah mau balik, Den?” Tanya penjaga rumah ramah kepada Rai.


“oh, Mas Danis. Udah, Mas. Lagi ngapain, Mas?”


“baru selesai bersihin kolam. Cepet amat baliknya? Padahal saya gak lihat Aden datang.”


“Udah dari tadi kok, Mas. Udah makan juga.”

__ADS_1


“Biasanya lama, ini kok buru-buru.?”


“Iya nih, Mas. Mau cari kos-kosan lagi. Nanti keburu malem.”


“Kos-kosan? Aden mau pindah?”


“Iya, Mas. Ehm, mungkin Mas ada tau gitu dimana ada kos-kosan yang lumayan lebar dan nyaman.”


Danis nampak berfikir sejenak. “Ada sih, tapi di rusun. Bukan kos, punyanya sepupu, katanya mau di sewain.”


“Rusun? Daerah mana, Mas?”


“Gak jauh sih, dari kosnya Aden yang sekarang. Kalau mau, biar saya anter kesana.” Tawar Danis.


“Boleh, Mas. Ayok lah.” Ajak Rai sumringah.


Dengan informasi dari Danis, Rai tidak perlu repot-repot untuk menyusuri kos-kosan yang sudah ada dalam daftarnya. Karna semalam, Rai sudah mencari kos lewat aplikasi.


“Sebentar, Den. Biar saya tanya dulu sama orangnya, barangkali udah ada yang nyewa.” Ujar Danis kemudian menelfon seseorang.


“Gimana, Mas?”


“Ayo kita kesana sekarang aja, Mas.”


Setelah mengganti pakaiannya, Danis segera naik ke atas sepeda motor Rai dan siap menunjukkan arah jalan.


Tidak butuh waktu lama, sekitar setengah jam kemudain, Rai dan Danis sudah sampai di sebuah rumah susun yang nampak menjulang tinggi. Itu adalahrusun sederhana yang di tinggali oleh sebagian besar keluarga menengah ke bawah.


Danis segera mengajak Rai untuk pergi ke salah satu unit yang ada di lantai satu. Di sana, mereka sudah ditunggu oleh seorang pria yang sepantaran dengan Danis. Pria itu adalah sepupu Danis yang ingin menyewakan rumahnya karna ia mendapat mutasi kerja ke luar kota.


“Wes suwe ta ngenteni?” Tanya Danis kepada sepupunya menggunakan bahasa jawa.


“Durung. Iki ta seng arep nyewa?”


Rai mengangguk ramah kepada sepupu Danis sambil mengulurkan tangan. “Saya Rai, Mas.” Ujar Rai.


“Oh, kamu cucunya Buk Salamah ya? Saya Seto, sepupunya Danis.”

__ADS_1


“Iya, tadi Mas Danis udah cerita.”


“Oh, gitu. Kalau gitu ayo kita masuk sekarang. Di lihat-lihat dulu, takutnya gak cocok.”


Danis dan Rai mengikuti Seto berjalan di belakangnya. Seto membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Ia juga menjelaskan detail rumahnya dengan baik.


Rumah itu terdiri dari satu kamar tidur, satu kamar mandi, dapur kecil di sebelah kamar mandi dan ruang tamu yang tidak terlalu lebar juga. Meja makan mungil yang menempel di dinding, sebuah akuarium yang berisi ikan-ikan hias, meja belajar dan tv di sebelahnya.


“Mas Seto kapan rencana mau pindah?” Tanya Rai sambil melihat-lihat kondisi rumah.


“Nanti malam saya udah berangkat ke Malang.”


“Terus barang-barangnya?”


“Kamu pake aja dulu, gak apa-apa kok. Cuma ya itu, minta tolong kasih makan ikan-ikanku, hehehe.” Seloroh Seto.


“Jadi, berapa sewanya, Mas?”


“Eh, gini aja, kamu gak usah bayar, cukup rawat rumah ini dan isinya baik-baik.”


“Ya gak bisa gitu dong, Mas Seto. Namanya sewa kan harus ada bayarannya.”


“Kamu gak usah sewa, deh. Saya pinjamin aja, gimana?”


“Beneran, Mas?” Tanya Rai tidak yakin.


“Ya beneran. Mau gak?”


“Wah, ya mau banget dong, Mas. Rejeki nomplok kok di tolak. Makasih banyak, Mas, makasiiihhh banyak pokoknya.”


“Sama-sama. Aku juga makasih karna kalian udah baik sama Danis.”


Dan akhirnya di sepakati kalau Rai tidak perlu menyewa rumah itu. Seto dengan baik hati hanya meminjamkan saja kepada Rai dengan syarat dia harus merawat ikan dan rumah itu serta semua isinya. Itu adalah sebuah keberuntungan di tengah masalah yang sedang di hadapi oleh Rai. Ia sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Danis dan Seto.


Setelah mengantarkan Danis pulang ke rumah nenek, Rai segera kembali tanpa berhenti dulu sejenak. Rai kembali ke kosnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Ia merasa penat sekali hari ini. Namun ia tetap meraih ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Esta. Ia memberitahu kalau besok, setelah pulang sekolah, mereka sudah bisa pindah ke kos yang baru dan meminta Esta untuk segera membereskan barang-barangnya.

__ADS_1


Esta tidak membalas pesan dari Rai karna dia sedang sibuk melayani pelanggan di warung Pakde Karya. Ia tidak sempat membuka ponselnya walaupun ia mendengar ponselnya berbunyi beberapa kali.


__ADS_2