
“Esta!! Ta?!”
Dor! Dor! Dor!
“Esta?! Buka pintunya!”
Dor! Dor! Dor!
“Ta, plis buka pintunya. Ta?!”
Dor! Dor! Dor!
“Dobrak aja, Rai.” Ujar Mpok Nur yang tak kalah panik dengannya. “Esta! Buka dong! Ta?!!”
Masih tidak ada tanggapan dari Esta. Rai dan Mpok Nur bisa melihat dari jendela kalau Esta sedang memeluk lututnya dan sesenggukan di pojokan.
Brak!
Brak!
Brak!
Rai mencoba untuk mendobrak pintu rumahnya karna Esta tak kunjung membuka pintu.
“Ta! Please buka pintunya.” Pinta Rai. Ia sangat mengkhawatirkan Esta.
“Rai! Gimana?” Suara Akash yang baru tiba dan berlari menghampiri Rai.
Rai menggeleng. Lalu ia meminta Akash untuk membantunya mendobrak pintu.
Kedua pria itu lantas bahu membahu untuk memaksa mendobrak pintu. Tidak hanya mereka, melainkan ada beberapa tetangga lain yang ikutmembantu.
Brak!!!!
Akhirnya dengan banyak usaha pintu berhasil terbuka. Rai segera merangsek masuk dan langsung menghampiri Esta. Ia langsung memeluk tubuh Esta yang masih sesenggukan.
Mpok Nur juga tidak ketinggalan. Ia masuk dan menghampiri Esta dan Rai.
“kamu gak apa-apa? Udah, udah. Jangan nangis.” Lirih Rai menenangkan.
__ADS_1
“Iya, Ta. Udah. Jangan nangis lagi.” Mpok Nur ikut membantu menenangkan.
Sementara di luar sudah berisik oleh bisikan orang-orang yang ingin tahu kenapa Esta mengurung diri di dalam rumah dan menguncinya.
Melihat kebisingan itu, Mpok Nur segera mengusir para tetangganya itu. Memaksa mereka untuk pergi meninggalkan rumah Esta.
Akash hanya berdiri saja. Ia mematung melihat Esta yang nampak sedih dan sangat terpukul sedang menangis di pelukan Rai.
“Rai, mending di bawa ke kamar aja deh.” Saran dari Mpok Nur.
Rai mengangguk mengerti dan ia segera membopong tubuh Esta. Akash membantunya dengan menyiapkan tempat tidur.
Setelah di baringkan di tempat tidur, Esta kembali melipat tubuhnya dan meneggelamkan diri di dalam selimut. Ia masih melanjutkan menangis.
“Rai, kamu keluar aja. Biar Mpok yang nemenin Esta. Mungkin dia mau cerita sama Mpok dan bisa sedikit tenang.” Ujar Mpok Nur.
Rai setuju dengan ide itu. Ia dan Akash keluar dari kamar dan membiarkan Esta bersama dengan Mpok Nur.
“Ta? Kamu kenapa? Sini cerita sama Mpok.” Mpok Nur mengelus-elus punggung Esta yang membelakanginya. Sentuhan hangat itu mampu membuat Esta berbalik dan menatap Mpok Nur. Masih dengan linangan air mata yang terus merembes keluar dari matanya. Ia bangun dan mendudukkan diri menghadap Mpok Nur.
“Apa kesalahanku sebesar itu, Mpok? Sampai-sampai orang-orang langsung menghakimiku gitu aja. Ini juga gak mudah buat aku. Ini juga berat sampai aku kepengen mati aja rasanya.”
“Aku gak kuat, Mpok. Lihat orang-orang gunjingin aku. Aku juga gak mau jadi kayak gini. Siapa juga yang mau kayak gini? Ini berat banget buat aku. Huhuhuhuhu.”
“Sabar, sabar. Kamu harus kuat. Demi dedek bayi yang ada di perutmu.” Mpok Nur mengusap punggung Esta. Ia juga sedang meneteskan airmata melihat deru tangis Esta yang terdengar sangat memilukan.
“Aku siap dengan konsekuensinya. Tapi ini tertalu menyakitkan.”
“Iya, iya. Mpok tau. Yang sabar Esta. Kamu pasti kuat. Kamu pasti bisa ngelaluin ini semua.”
“Huhuhuhuhuhhuhuhuhu.” Deru tangis Esta semakin menjadi. Rasanya ia benar-benar tidak sanggup menerima semua gunjingan itu. Terlebih tuduhan-demi tuduhan yang terlontar dari Fandi. Itulah yang membuatnya lebih sakit dari apapun.
Setelah lama Mpok Nur berusaha menenangkan Esta, akhirnya Esta sudah berangsur tenang. Kini ia sudah tidak menangis lagi.
Sementara di luar, Rai sedang menumpahkan segala kekhawatirannya kepada Akash. Akas mendesak Rai untuk menceritakan semuanya padanya.
Akash nampak sangat geram setelah mendengar perihal ayah Rai. Ia juga tak kalah marahnya dengan Rai.
“Please lindungin Esta, Rai. Cuma kamu yang bisa ngelindungin dia sekarang.”
__ADS_1
“Aku tau. Aku bakalan buat perhitungan sama orang itu.” Ujar Rai geram. Yang ia maksud adalah ayahnya.
Rai memang belum tau apa yang sudah di perbuat oleh ayahnya itu kepada Esta. Tapi melihat betapa terpukulnya Esta, itu pasti sesuatu yang sangat menyakitkan hingga Esta bersikap seperti itu.
Rai merasa sangat geram hingga ia merangsek hendak keluar dan pergi ke rumah ayahnya. Untung saja Akash segera menghentikannya.
“Kamu mau kemana?”
“Aku harus buat perhitungan sama dia.” Geram Rai.
“Aku ngerti, Rai. Tapi gak sekarang. Prioritaskan dulu keadaan Esta.” Akash memperingatkan.
Untung saja ada Akash yang bisa menasehatinya. Kalau tidak entah apa yang akan dia lakukan mengingat emosinya sedang berada di puncaknya saat ini.
Rai dan Akash langsung menoleh kepada Mpok Nur yang baru saja keluar dari kamar. Rai langsung bertanya tentang keadaan Esta.
“Gimana, Mpok?”
“Esta udah tidur. Biarin aja dulu. Kamu tungguin aja sampai dia bangun. Mpok pulang dulu. Kalau ada apa-apa panggil Mpok ya.” Pesan Mpok Nur yang kemudian keluar dari rumah.
“Kalau gitu aku juga pamit pulang, Rai. Inget, jangan gegabah.” Akash mewanti-wanti.
Sebenarnya Akash juga sangat mengkhawatirkan Esta. Tapi lagi, ia sudah tidak punya tempat bahkan untuk sekedar mengkhawatirkan gadis itu. Esta memilih untuk menerima perasaan Rai yang merupakan suaminya. Jadi Akash tidak ingin lagi melewati batasan itu. Ia harus tau diri dan menjaga jarak. Ia hanya akan tetap mengawasi mereka saja dari kejauhan.
Melepaskan perasaan memang tidak semudah yang di bayangkan. Tapi Akash yakin kalau Rai akan melindunginya dan membuat Esta bahagia. Ia hanya akan melihatnya dari tempatnya saja.
Sekarang, di rumah hanya tinggal Rai dan Esta saja. Rai menunggui Esta yang masih tidur sambil sesekali membelai rambut gadis itu. Ia juga menyela bekas airmata Esta dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya.
“Rai?” Lirih Esta.
“Ta? Kamu udah bangun? Kamu baik-baik aja? Kamu gak apa-apa kan? Kalau ada yang sakit bilang. Kita ke rumah sakit sekarang.”
Esta menggeleng lirih. Ia berusaha untuk bangun dengan di bantu oleh Rai. Ia manatap lurus ke netra Rai. Tatapannya pias dengan sejuta rasa sakit yang terlihat.
Rai tidak sanggup melihatnya. Ia langsung merengkuh tubuh Esta ke dalam pelukannya. Ia seperti bisa merasakan sakit yang sedang di rasakan oleh Esta.
“Maaafin aku. Maafin aku. Seharusnya aku gak ninggalin kamu sendirian.” Ujar Rai yanng terus mengelus kepala Esta.
“Huhuhuhuhuhuu.” Esta kembali terisak di pelukan Rai. Ia benci Rai karna ulah Fandi. Tapi ia juga tidak bisa serta merta menyalahkan pria itu karna Rai tidak tau apa-apa.
__ADS_1
Esta hanya sedang merasa hancur. Pundaknya terasa berat seolah semua kesalahan ada pada dirinya. Seolah hanya dia yang harus menanggung semuanya. Seolah seluruh dunia sedang mencibir kepadanya.