
Rai mengernyitkan kening saat kesadarannya mulai kembali. Ia menoleh ke arah kasur dan sudah tidak mendapati Esta disana. Yang ia dapati hanyalah bercak merah seperti darah yang tersebar di beberapa titik di kain spreinya. Juga sampah tisu yang berserakan dimana-mana.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sangat mengingat jelas apa yang sudah terjadi semalam. Begitu gilanya dia sampai meniduri teman sekelasnya sendiri. Ia hanya bisa berharap semoga tidak terjadi apa-apa atau ia akan merasa menyesal dan bersalah kepada gadis itu.
Sebuah kebodohan jika ia kalah melawan nafsunya sendiri. Itu menegaskan kalau ia sangat bodoh dalam hal pengendalian diri.
Dan Esta, bisa-bisanya gadis itu tidak memberitahunya saat pergi. Membuat sebuah bongkahan penyesalan muncul di dalam hati Rai. Perasaannya buruk tentang hal ini. Apalagi ia tidak punya kontak Esta. Ia tidak tau apapun tentang gadis itu.
Tok, tok, tok.
Sebuah suara ketukan di pintu kamarnya membuat Rai langsung bangun dan membuka pintu. Danu, temannya sedang tersenyum lebar menyambutnya. Namun saat Danu hendak masuk kedalam kamarnya, Rai menolak mentah-mentah dan malah langsung menutup pintu kamar itu dari luar.
“Kenapa aku gak boleh masuk? Rai keenandra prianggoro!!” Danu protes.
“Sekali lagi kamu sebut kata itu, ku tebas telingamu!” Dengus Rai dari dalam kamar. Ia sangat tidak suka mendengar nama terakhirnya itu. Nama itu sudah lama ia singkirkan dari hidupnya.
“Ya tapi kenapa aku gak boleh masuk, sih? Kamu lagi sama cewek di dalam?!”
“Ngarang! gak apa-apa. Kamarku lagi berantakan.” Elak Rai. Bukan apa. Ia tidak ingin Danu melihat bercak-bercak darah di kasurnya karna ia belum sempat untuk mengganti spreinya.
“Biasa aja kali. Biasanya juga kamarmu berantakan.” Danu tetap berusaha untuk menerobos masuk.
“Ngapain sih pagi-pagi udah kesini?”
“Kamu lupa? Hari ini kan kita ada pertandingan. Ayo, buruan siap-siap.”
“Ah, iya. Tunggu sbentar. Aku mau mandi dulu.”
“Jadi belum mandi? Udah jam 9 lho Rai.”
“Berisik.” Rai masuk ke dalam kamar dan langsung menguncinya. Ia sama sekali tidak membirakan Danu untuk masuk.
Danu adalah teman satu tim Rai di club volly. Mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk sekedar bertanding ala persahabatan dengan tim lain.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Rai sudah keluar dengan memakai pakaian lengkap untuk bermain volly. Ia menutup tubuhnya dengan jaket tipis untuk menghindari sengatan matahari. Tubuh atletisnya sama sekali tidak menunjukkan kalau ia masih duduk di bangku kelas 3 SMA.
“Cabs!” Pekik Danu yang sudah bertengger di atas sepeda motor kerennya.
Rai segera mengenakan helm, dan hendak melajukan motornya. Namun ia lupa kalau motornya sedang tidak ada minyaknya.
“Kenapa?” Tanya Danu.
“Abis minyak.”
“Goblok. Bisa-bisanya.” Dengus Danu.
Danu bersedia untuk membelikan minyak untuk Rai. Setelah mengisi minyak di motor Rai, mereka bedua langsung tancap gas menuju ke lapangan tempat pertandingan.
Di dalam lapangan indoor itu, sudah banyak orang yang datang. Namun yang membuat Rai heran adalah, kenapa banyak teman-teman sekelasnya yang juga hadir disana. Mereka semua sedang duduk di bangku penonton untuk mensuport Rai dan timnya. Ini pasti perbuatan Trio.
“Pasti kerjaan kamu kan?” Selidik Rai kepada Trio.
“Pasti enak punya kembaran cepu.” Sindir Danu.
Trio hanya mencibiri Danu saja. Ia melirik saudara kembarnya yang duduk di deretan kursi penonton yang sedang berteriak bersama teman-temannya.
“Ya ampun, gilak. Rai damage-nya gak main-main.” Ujar Tina yang nampak sumringah menikmati ke seksian Rai.
“Sama kayak Danu gak sih? Badan mereka itu, beuuh.. Bikin gak nahan.” Sambut Desi.
“Jadi crush kamu siapa sih sebenernya? Rai apa Danu?” Timpal Tina lagi.
“Kalau boleh dua kenapa enggak.”
“Yaudah, kamu Danu aja. Biar Rai buat aku.”
“Bukannya kamu udah di tolak?” Tanya Tria.
__ADS_1
“Perjuangan belum berakhir selama janur kuning belum melengkung.” Ujar Tina sangat yakin.
“Sekarang udah gak jaman pake janur lagi kali, Tina. Pakenya cincin.”
“Yeee. Itu kan cuma istilah doang. Aku yakin bisa dapetin Rai. Secara kami tuh udah cocok dari segi manapun.”
“Eh, udah mulai, udah mulai.” Ujar desi memperingatkan. Tina dan teman-temannya langsung bersorak-sorak untuk menyemangati tim Rai.
Sementara Rai sedang berusaha untuk berkonsentrasi penuh pada pertandingan. Namun fikirannya tetap tertuju pada ingatan tentang perbuatannya semalam. Hal itu membawa tim Rai kepada kekalahan di set pertama. Yang tentu saja membuat rekan-rekan satu timnya kecewa dan merasa heran padanya.
“Kamu kenapa sih? Gak kayak biasanya. Gak semangat gitu.” Tanya Danu.
“Entahlah. Padahal aku ngerasa udah berusaha maksimal.” Jawab Rai sambil menenggak air mineral. Peluh sudah mengalir di sekujur tubuhnya dan membuat para gadis semakin berteriak menggilainya.
“Mungkin kamu kecapekan belajar, Rai. Otakmu itu udah cerdas dari sananya, gak usah maksain diri gitu.” Seloroh Trio.
Rai hanya menghela mafas saja. Ia melirik ke arah Tribun penonton yang langsung di sambut oleh sorak sorai Tina dan teman-temannya
Perasaan Rai hari ini sangat tidak nyaman. Namun ia berusaha untuk tetap fokus pada permainan. Ia sedang merasa menjadi pria paling bodoh di dunia dan itu membuatnya frustasi. Tapi untungnya ia bisa mengimbangi permainan lawan dan berhasil membawa timnya menuju kemenangan pada set ke dua.
Set ketiga berjalan dengan sengit. Set ini menentukan tim mana yang akan menjadi pemenang karna masing-masing tim sudah mendapat satu kemenangan. Rai dan teman-temannya sedang berjuang mati-matian untuk mengungguli lawan. Namun lawan mereka juga bukanlah lawan yang mudah. Hingga pada akhirnya tim Rai harus menelan kekecewaan karna mereka kalah mutlak di set ketiga.
Suara kekecewaan juga terdengar menggema dari kursi penonton. Tapi Tina tetap berusaha untuk menyemangati Rai. Ia langsung turun begitu melihat Rai duduk lunglai di tengah lapangan. Ia membawakan botol air mineral untuk pria itu.
Rai langsung menenggak habis minuman yang di bawakan oleh Tina itu. Bukan apa, ia memang sedang merasa haus. Tapi hal itu justru di tanggapi berbeda oleh Tina. Gadis itu merasa senang sekali bahwa sikap Rai ternyata tidak berubah setelah ia mengutarakan perasaannya kemarin. Padahal ia takut kalau Rai akan menjauhinya dan membuat batasan dengannya.
“Gak usah kecewa, Rai. Baru kalah sekali ini. Sesekali perlu juga ngalah sama lawan.” Hibur Tina. Rai hanya berusaha menghormati ucapan semangat itu dan tersenyum kecil.
Selesai bertanding, Rai dan timnya memutuskan untuk mendinginkan fikiran dengan nongkrong di sebuah cafe yang tidak jauh dari lapangan. Yang membuat suasana semakin meriah adalah, Tina dan teman-temannya juga ikut disana. Dan dengan baiknya Tina bersedia mentraktir semua makanan dan minuman yang mereka pesan. Tentu saja hal itu di sambut dengan gembira oleh teman-temannya.
Lain halnya dengan Rai. Ia sama sekali tidak ikut merasakan euforia itu. Yang sebenarnya mereka seperti sedang merayakan sebuah kekalahan.
Ya, sebuah kekalahan telak untuk Rai pribadi. Ia merasa seperti sedang merayakan kebodohannya tentang apa yang terjadi semalam. Dalam hati kecilnya ia sangat penasaran bagaimana keadaan Esta saat ini. Tidak mungkin gadis itu baik-baik saja sedangkan ia sendiripun merasa terpuruk.
__ADS_1