
Rai baru saja kembali dari minimarket yang tak jauh dari kosnya. Ia menenteng kantung plastik berisi beberapa makanan ringan dan minuman soda. Ia sama sekali tidak ingat dengan Esta yang masih ada di dalam kamarnya. Jadi ia langsung masuk begitu saja.
Ia terkejut saat mendapati Esta yang rupanya sedang tertidur dengan bersandar ke dinding. Satu hal yang membuatnya langsung mendekati Esta adalah, bekas merah dipipi yang sama seperti dirinya. Kenapa tadi dia tidak memperhatikan bekas tamparan itu? Ia hanya fokus melihat benjolan di kening gadis itu.
Perlahan Rai mendekatkan wajahnya kepada Esta untuk melihat dengan seksama area pipi Esta. Entah mengapa hatinya menjadi sangat sakit saat mengingat tamparan yang mendarat di pipinya sendiri. Iapun memiliki bekas luka yang sama. Bekas tangan ayahnya sudah terukir nyaman di pipinya.
Ia jadi penasaran sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada gadis yang sedang memejamkan matanya itu? Apa cerita mereka sama? Apa luka-luka itu berasal dari orang-orang yang sejenis? Orang yang seharusnya menjadi pengayom bagi anak-anak remaja seperti mereka?
Perasaan Rai menjadi bergejolak saat ia memikirkan semua itu. Mengapa orang dewasa di sekitarnya sangat menjijikkan? Ia ingin cepat jadi dewasa dan melawan semua stigma bodoh itu.
Luka dari anak-anak seperti mereka, selalu dianggap tidak penting oleh orang-orang di sekitar mereka. Padahal luka itu bisa membuat hati mereka rusak dan membusuk. Hal itulah yang menjadi penyebab utama sikap yang tidak bisa di kendalikan di kemudian hari.
Kemana mereka mencari penyembuh? Kalau luka itu di sebabkan oleh orang tua dan orang-orang di sekitar mereka sendiri yang seharusnya menjadi penyembuhnya.
Rai terlalu masuk kedalam lukanya sehingga ia tidak menyadari kalau kini tangannya sudah mengusap pipi Esta dan menyingkirkan rambut Esta yang tergerai. Entah perasaan aneh apa yang sedang menelusupi hatinya, yang jelas ia tidak bisa menghentikan tangannya dan masih ingin melakukannya lebih jauh lagi.
Esta terhenyak saat merasakan sentuhan di pipinya. Ia menatap Rai yang sedang menatapnya pias. Kali ini, Esta juga bisa melihat luka di pipi Rai. Tapi tidak separah luka yang ada di pipinya. Ia terus menatap ke arah pipi Rai hingga pria itu menyadarinya dan langsung menarik tangannya dari Esta.
Meski begitu, Esta masih enggan untuk mengalihkan pandangannya dari pipi Rai. Hatinya di penuhi rasa penasaran. Apakah luka itu adalah luka yang sama seperti miliknya?
“Ternyata kita punya luka yang sama.” Ujar Rai sambil mengalihkan pandangannya ke arah pipi Esta.
Sontak Esta langsung mengalihkan wajahnya dan menunduk. Ia menutupi pipinya dengan telapak tangan. Ia malu kepada Rai.
__ADS_1
“Banyakan aku. Aku punya dua.” Ujar Esta menunjuk keningnya sambil tertawa kecil.
Rai sama sekali tidak tersenyum mendengar lelucon itu. Baginya itu sama sekali tidak lucu. Karna ia sangat tau sesakit apa rasanya.
Lagi-lagi, Rai kembali mendekatkan tubuhnya kepada Esta. Ia menyingkirkan tangan Esta dari pipi dan ganti menyentuhnya dengan tangannya sendiri. Namun hal yang mengejutkan terjadi kemudian.
Untuk beberapa detik Esta terhenyak dengan apa yang sedang terjadi. Namun lembutnya bibir Rai yang berlabuh di bibirnya, membuat sebuah perasaan aneh muncul dihatinya. Perasaan itu seolah menyuruhnya untuk menikmati momen itu. Rasanya sangat berbeda saat Ringgo yang melakukannya.
Harum keringat Rai seolah masuk menelusuri setiap pembuluh nadinya. Membuatnya perlahan memejamkan mata dan pasrah menerima perlakuan Raipadanya.
Rai melakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati. Membuat degup jantung Esta langsung meningkat dan hatinya berdesir tidak karuan. Dalam hati kecilnya ia ingin menolak semua perlakuan itu, namun sanubarinya sedang terbuai oleh kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Kenikmatan itu membuat tubuhnya lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tau ia akan menyesali ini, namun Esta tetap tidak mampu untuk menolaknya. Nafsu telah mengalahkan logika mereka dan meruntuhkan dinding pertahanan yang selama ini di jaga dengan baik.
Malam hangat itu berakhir saat kumandang adzan subuhmenggema di kejauhan. Esta terhenyak dan langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia terkejut dengan kesadaran dan ingatan yang ada di kepalanya tentang apa yang sudah terjadi. Ia melihat tubuhnya yang masih polos dan hanya tertutup selimut, berbaring di atas kasur Rai. Sementara Rai, masih tertidur di ambal samping kasur dengan hanya mengenakan kolor saja.
Esta menutup pintu kamar Rai dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara, kemudian ia mulai berjalan untuk pulang dengan keadaan yang kacau. Menahan rasa sakit di daerah kewanitannya sepanjang perjalan.
Lebih dari setengah jam Esta berjalan pulang menuju ke rumah bibinya. Ia tidak bisa berhenti mengutuki dirinya sendiri karna kesalahan bodoh yang sudah di buatnya. Ia hanya bisa berharap kalau itu tidak akan membuahkan
hasil apapun. Ia tidak menyangka ia rela memberikan miliknya yang berharga kepada seorang Rai Kenandra.
Sesampainya dirumah, ternyata Kanti sudah menunggunya. Wanita itu duduk di kursi ruang tamu yang sederhana itu. Ia manatap Esta pias namun Esta bisa melihat sebuah kebencian disana.
__ADS_1
“Duduk dulu.” Ujar Kanti tanpa bertanya darimana Esta, kenapa baru kembali ke rumah. Ia nampak tidak mengkhawatirkan keadaan Esta.
Esta menurut saja dan duduk di dekat Kanti.
Kanti menyodorkan lima lembar uang seratus ribuan kepada Esta. Gadis itu hanya bisa menatap penuh tanya kepada bibinya.
“Ta, kalau kamu mau selamat, kamu harus pergi dari sini. Aku cuma bisa bantu kasih uang segini buat kamu. Sewaktu-waktu, Ringgo bisa ngelakuin yang lebih dari kemarin.”
Entahlah, yang jelas Esta sudah kehilangan semuanya. Bukan dengan Ringgo, tapi dengan Rai.
“Bi, aku harus kemana?”
“Terserah kamu mau ngekos apa gimana. Kamu pasti punya tabungan kan kerja sama Pakde Karya. Ini aku tambahin buat tambahan kamu cari kos.”
Ah, ternyata kisah malam ini belum berkahir juga.
“Sebaiknya kamu cepat. Karna bentar lagi Ringgo pulang.” Imbuh Kanti.
Itu adalah sebuah kalimat pengusiran yang sangat halus namun terdengar menyayat. Tapi memang apa yang di katakan oleh Kanti ada benarnya. Kalau ia tidak ingin terus-terusan di kerjai Ringgo, maka ia harus menyingkir dari keluarga itu.
Esta tidak sempat menjawab karna Kanti sudah keburu pergi untuk bekerja di warung padang. Ia hanya bisa menatapi punggung Kanti yang sudah menjauh dan membiarkan pintu depan terbuka.
Ia melihat jam di dinding. Sudah pukul setengah enam lewat. Untungnya hari ini adalah hari minggu, jadi Esta tidak perlu pergi ke sekolah.
__ADS_1
Esta meraih uang pemberian Kanti yang di letakkan begitu saja di kursi di sampingnya. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam kamarnya dan mulai membereskan barang-barangnya.
Lagi, sebuah cerita sedih sedang menyambut Esta dengan tangan terbuka lebar. Kini ia harus berjuang untuk hidupnya sendiri. Kenapa sulit sekali untuk mengakhiri kekonyolan ini.