
“Papa di jebak, Rai.” Lirih Fandi membuat Rai langsung mengangkat kepala dan mengerutkan kening.
“Di jebak gimana? Hasil tes rambut membuktikan Papa udah jadi pemake selama setahun ini.”
Fandi terdiam. Ia terus menundukkan wajahnya. Tak berani menatap putranya.
“Gimana kabar pekerjaanmu?”
“Baik.”
“Kamu akan tetap bekerja di Sky?” Tanya Fandi lagi.
Rai mengangguk.
“Gak bisa kah kamu balik kerja di FD Corp? Perusahaan butuh kamu, Rai.”
Rai mengangguk. “Aku gak akan ikut campur dalam manajemen FD Corp, Pa. Papa gak usah khawatir. Istri Papa udah ngurus perusahaan dengan baik.”
“Tapi Papa besarin perusahaan itu cuma buat kamu, Rai.” Rayu Fandi menatap pias putranya.
“Apa anak Papa cuma aku aja? Anak Papa bukan cuma aku aja. Aku udah nyaman sama kerjaanku dan aku udah menghasilkan cukup banyak uang. Aku gak berharap kalau FD Corp jatuh ke tanganku.”
“Tapi mereka cewek Rai. Mana bisa jadi penerus Papa.”
“Aku udah bahagia hidup seperti ini, pa. Menikmati hasil kerja kerasku sendiri. Tolong jangan paksa aku...”
Fandi kembali terdiam. Ada genangan airmata di pelupuk matanya yang siap tumpah hanya dengan satu kali kedipan.
“Apa karna cewek itu? Apa sih yang kamu lihat dari dia? Cantik enggak. Latar belakang juga gak jelas. Kamu perlu cari istri yang bebet, bobot, dan bibitnya bagus, Rai.”
“Memangnya aku sebaik dan sebagus apa sampai mengharapkan yang seperti itu? Aku terlahir dari wanita yang tersakiti akibat perselingkuhan suaminya. Bebet, bobot, dan bibit? Apa Papa yakin kalau aku berasal dari bibit yang baik? Cuma luarnya yang baik, tapi dalemnya busuk.” Dengus Rai.
“Rai!”
Rai menatap ayahnya penuh ketegasan. Seolah ia tidak terima kalau ayahnya memandang rendah calon istrinya. Ayahnya sama sekali tidak mengenal Esta. Dan ayahnya tidak berhak untuk merendahkan Esta seperti itu.
__ADS_1
Ketegasan dalam netra Rai sudah jauh berbeda. Tidak seperti dulu. Kali ini, Fandi yang justru merasa terintimidasi oleh tatapan itu.
“Apa yang membuat Papa berfikir kalau kita lebih baik darinya? Harta? Kedudukan? Itu semua cuma nikmat dari Allah, Pa. Sekalinya nikmat itu di cabut, kita gak akan punya apa-apa lagi.”
“Papa cuma gak mau kamu nyesel nantinya, Rai.” Elak Fandi.
“Nyesel? Aku udah pernah nyesel karna harus nurutin keegoisan Papa. Dan kali ini. Aku akan melindungi pilihanku sendiri. Papa gak usah ikut campur.” Tegas Rai lagi.
Rasa sesak memenuhi rongga dada Fandi setelah melihat ketegasan di dalam netra Rai. Ia menelan salivanya untuk membasahi kerongkongan yang sudah mengering. Tatapan piasnya tak mau lepas dari wajah putranya itu.
“Pokoknya Papa tetep gak suka sama dia.”
“Memangnya Papa yang mau nikah sama dia? Aku yang mau nikah sama Esta, kenapa Papa yang sibuk? Aku yang akan menjalani sisa hari-hariku dengan dia, kenapa Papa yang tidak terima? Apa Papa masih belum menyadari tempat Papa sekarang?”
“Biar gimanapun, Papa tetep gak akan bsia nerima dia sebagai menantu Papa.” Kekeuh Fandi. Ia sudah terlanjur tidak menyukai Esta sejak dulu. Dan apapun alasan Rai, ia tetap tidak menyukainya. Karna Esta hampir saja membuat masa depan Rai hancur lebur.
Memang, kalau sudah tidak suka sedari awal, mau bagaimanapun baiknya, akan tetap tidak terlihat. Itulah salah satu penyakit hati yang selalu bersarang di hati manusia seperti Fandi.
“Aku gak peduli. Aku bahkan udah siap buat ngelepas nama Prianggoro dari namaku.”
Fandi nampak terbelalak tidak terima. Sudah lama ia tidak mendengar ancaman itu dari Rai. Ia fikir Rai sudah tidak akan pernah mengungkitnya lagi.
“Aku akan memastikan kalau aku pasti akan menikahi Esta. Aku gak butuh pendapat atau persetujuan dari Papa. Aku gak peduli kalau Papa setuju apa enggak. Kali ini aku gak akan ngalah lagi.” Dengus Rai. Tatapan ketegasan itu tidak berubah dari netranya.
“Hhhhhhh. Padahal niatku kesini buat baikan sama Papa. Tapi kayaknya kita gak akan pernah bisa baikan.” Lirih Rai yang kini sudah bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi keluar.
Fandi tidak mencegah kepergian Rai. Ia hanya manatapi pintu yang sudah tertutup dan menelan bayangan Rai di baliknya itu sambil menghela nafas.
Esta yang sedang berdiri di depan ruangan nampak terkejut dengan kemunculan Rai. Apalagi wajah pria itu nampak masam dan tidak secerah sebelumnya. Dari sana Esta bisa menyimpulkan kalau pertemuan itu tidak berjalan dengan baik.
“Ayo kita pulang.” Ajak Rai dengan langsung ngeloyor begitu saja.
“Mas, tunggu!” Pekik Esta menghentikan langkah Rai. Pria itu menoleh kepada Esta.
“Beri aku waktu sebentar. Aku pengen bicara sama Papamu.”
__ADS_1
Rai tidak setuju. “Mau bicara apa? Gak ada yang bisa di bicaraain sama dia.”
“Please.” Mohon Esta. Rai terdiam sebentar dengan terus menatap lekat kedalam netra Esta.
“Ya udah. Tapi kalau ada apa-apa langsung panggil aku, ya. Aku nunggu disini.” Ujar Rai menunjuk arah daun pintu di ruangan Fandi.
Esta tersenyum berterimakasih kepada Rai. “Makasih, Mas.” Ujarnya kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan Fandi.
Fandi nampak sangat terkejut saat mendapati pintu ruangannya terbuka dan muncul Esta dari sana. Ia mendengus tidak suka sebagai intimidasi kepada wanita itu.
Esta tidak peduli. Ia terus duduk di hadapan Fandi walaupun raut wajahya datar saja.
“Gimana kabarnya, Om?” Tanya Esta berbasa-basi.
“Udah, gak perlu basa-basi. Mau apa kesini?” Dengus Fandi.
“Kayaknya pembicaraan Om sama Rai gak berjalan baik. Jadi aku mau meluruskan sesuatu.” Jujur Esta.
“Kamu memang gak berubah sama sekali, ya. Masih tetep arogan sama orang yang lebih tua.”
“Aku gak menyangkal kalau Om menganggapnya begitu, karna itu pandangan pribadi Om sendiri.”
Fandi semakin mendengusi keberanian Esta. “Aku tetep gak akan menyetujui pernikahan kalian. Titik.”
“Kenapa, Om?”
“Karna aku gak suka sama kamu.”
“Apa yang membuat Om gak suka sama aku?”
“Karna kamu berasal dari latar belakang yang sangat jauh berbeda dari Rai. Kamu itu anak gak jelas asal usulnya.”
“Bagian mana yang gak jelas, Om? Biar aku jelaskan.”
“Kamu itu gak punya orang tua. Lagian pamanmu itu, tipe-tipe baji ngan yang gak tau diri.”
__ADS_1
“Hemh” Esta tersenyum. Senyuman itu dianggap sebagai ejekan oleh Fandi. “Om dan pamanku, punya banyak kesamaan dalam hal yang berbeda, Om.”
Fandi sangat terhenyak mendengar pernyataan dari Esta itu. Kalimatnya menyinggung harga diri Fandi. Membuat kemarahannya semakin menumpuk. Namun Fandi. Hanya bisa menyalurkan kemarahan itu lewat tatapannya saja.