
Sejak pagi hari, Esta sudah sibuk membantu Putri dan keluarganya untuk bersiap-siap. Putri sedang di rias di dalam kamrnya. Riasan tipis membuatnya berubah sangat cantik dengan sanggul kecil di kepalanya, dibalut dengan kebaya berwarna biru yang menambah kesan fenimin.
Sementara Oza juga sedang bersiap di kamar tamu. Di temani oleh Starla dan Leka yang sudah lebih dulu selesai berdandan.
Tepat pukul sepuluh pagi, acara sederhana itu di mulai.
Di awali dengan Oza yang menyampaikan maksud dan tujuannya untuk meminang Putri, kemudian di lanjutkan dengan kata penyambutan oleh ayah Putri yang menanyakan tentang kesanggupan Putri untuk menerima pinangan Oza.
Dengan malu-malu Putri menjawab kalau ia bersedia menerima pinangan Oza.
Di tengah-tengah acara, kemunculan Akash langsung menarik perhatian. Pria itu berjalan sambil sedikit membungkuk kemudian duduk di samping Esta. Melihat Putri yang sedang malu-malu menerima buket bunga dari Starla.
“Kenapa baru datang?” Bisik Esta sambil bertepuk tangan setelah Oza berhasil menyematkan cincin di jari manis Putri.
“Macet parah di jalan.”
“Ku kira gak jadi dateng.”
“Aku gak mau rambutku rontok kena jambak tuh anak. Hehehehe.” Seloroh Akash, ia tersenyum ke arah Putri yang nampak sangat bahagia setelah resmi bertunangan dengan Oza.
“Aku kaget banget waktu dia ngasih tau aku. Katanya mau tunangan sama Mas Oza. Aku syok. Karna aku fikir Mas Oza sukanya sama kamu.”
“Kan udah ku bilang kalau aku gak mungkin sama Mas Oza.”
“Hehehehe. Iya. Aku baru ngeh sekarang. Tapi kamu hebat lho, memutuskan buat dateng ke Jakarta demi Putri.”
“Kamu tau sendiri kalau dia ngamuk kayak gimana. Xixixixixi.”
“Ayo, yang mau foto. Esta! Akash! Sini.” Panggil Putri. Esta dan Akash langsung berdiri dan berjalan ke arah Putri dan Oza.
Foto bersama merupakan kesempatan bagi Leka untuk meminta foto bersama dengan Akash. Ia sangat senang sekali karna bisa berfoto berdua bersama dengan Akash. Gadis itu bahkan menunjukkan dengan sangat jelas kalau ia menyukai Akash. Hanya saja ia merasa Akash sangat sulit untuk di dekati. Tapi Leka bukanlah tipe gadis yang mudah menyerah sebelum berjuang habis-habisan.
Acara pertunangan sederhana itu telah selesai bahkan sebelum jam dua belas siang. Dan di lanjutkan dengan acara makan siang bersama. Semua keluarga Putri nampak sangat bahagia menyambut calon menantu mereka.
“Esta, calon suamimu kok gak jadi dateng?” Tanya mama Putri.
Mendengar itu Akash langsung menoleh kapada Esta meminta penjelasan.
“Oh? Ehm, lagi banyak kerjaan katanya, Tante.” Jawab Esta dengan wajah yang bersemu merah.
Bukan apa, setelah ini ia pasti harus menjelaskan kepada Akash. Ia merasa sedih dan tidak enak hati membayangkan reaksi pria itu.
Dan benar saja. Setelah selesai makan siang, Akash memberi kode kepada Esta untuk mengikutinya keluar dari rumah. Akash berhenti di samping rumah Putri yang tidak ada orang disana.
__ADS_1
“Apa itu? Calon suami? Siapa?” Desak Akash. Menatap marah kepada Esta.
“Maaf, Kash. Seharusnya aku ngasih kamu lebih dulu. Aku belum punya kesempatan.”
“Alasan.”
“Aku dan Rai, kami udah balikan.”
Raut wajah Akash nampak biasa saja. Tidak kecewa, tidak juga marah. Hanya biasa saja. Padahal Esta sudah menundukkan wajah dan tidak berani menatap pria itu.
“Kamu yakin sama pilihamu?”
Pertanyaan itu membuat Esta mengangkat wajahnya. Menatap Akash dengan kening yang berkerut.
“Aku tanya, apa kamu yakin kalau dia gak akan nyakitin kamu lagi?”
Esta mengangguk perlahan.
“Yaudah. Semua adalah keputusanmu, Ta. Aku gak berhak ikut campur.” Uajr Akash. Dia semakin mahir menyembunyikan kekecewaanya di hadapan Esta.
Akash tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Senyumnya nampak biasa saja bagi Esta. Ia tidak membaca gelagat sakit hati dari raut wajah Akash.
“Selamat ya. Jangan lupa undang aku kalau kalian nikah.”
“Kalian ngapain disini?” Suara Leka mengejutkan Esta dan Akash. Gadis itu sedang berjalan menghampiri mereka.
“Oh, Leka. Gak ada. Ngobrol sedikit.” Jawab Esta.
“Mas Akash boleh ngobrol berdua?” Ujar Leka malu-malu.
Akash mengangguk menyanggupi permintaan Leka. Sementara Esta kembali ke dalam rumah untuk kembali bergabung bersama dengan Putri dan keluarganya.
Pukul 12.47. Sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan rumah Putri. Dan muncullah Hera dari balik kemudi kemudian berjalan masuk. Ia bertanya kepada Leka dan Akash yang sedang mengobrol di depan rumah.
Akash mengenali Hera karna memang mereka pernah bertemu. Sedangkan Hera nampak terkejut dengan keberadaan Akash di sana.
“Kamu bukannya sekretarisnya Rai, ya?” Tanya Akash kepada Hera.
Hera mengangguk sopan kepada Akash. “Saya di suruh menjemput Bu Esta.” Ujar Hera.
Leka masuk ke dalam rumah untuk memanggil Esta. Dan Estapun langsung keluar untuk menemui Hera.
“Maaf, Buk. Saya di minta Pak Rai untuk menjemput ibu.” Ujar Hera.
__ADS_1
“Memangnya dia dimana?”
“Pak Rai masih ada meeting di kantor. Sebentar lagi selesai.”
“Oh, gitu. Tunggu sebentar ya. Saya ambil tas dulu.” Pamit Esta yang kemudian kembali masuk ke dalam rumah. Tidak berapa lama kemudian Esta sudah kembali dan sudah menenteng tas kecilnya yang berisi ponsel dan beberapa keperluannya.
“Kash, Leka. Aku keluar dulu ya.” Pamit Esta.
“Mau kemana, Ta?” Tanya Akash.
“Rai ngajak aku buat ke makam nenek.” Jujur Esta.
“Ow. Hati-hati.” Ujar Akash.
Tidak ada yang berubah dari intonasi Akash setelah mendengar kabar kalau Rai dan Esta sudah balikan. Pria itu benar-benar bersikap biasa saja. Dia benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya. Padahal hatinya sedang menjerit terluka.
Biar bagaimanapun, ia tetap tidak bisa seikhlas itu untuk melepas Esta. Apalagi untuk kembali ke pelukan Rai. Walaupun ia bilang akan ikhlas, tetap saja masih ada rasa sakit yang di akibatkan oleh hubungan Esta dengan Rai.
Mungkin Esta benar-benar bukan jodohnya. Ia menatap punggung Esta yang sudah masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi.
“Mas Akash suka kan sama Mbak Esta?” Tebak Leka kemudian. Membuat Akash langsung menoleh kepada gadis itu.
“Sejelas itu?”
Leka mengangguk.
“Tapi kayaknya harapan Mas Akash udah pupus. Karna mbak Esta udah sama Mas Rai. Berapa lama mendem perasaan, Mas?”
“11 tahun.” Jawab Akash datar.
“Hah?!!! 11 tahun?!!” Pekik Leka tidak percaya. “Dan selama itu Mas Akash gak pernah suka sama cewek lain?”
Akash mengangguk lagi.
“Waaahhh. Bukan main. Gimana caranya aku bisa saingin waktu Mas Akash yang 11 tahun itu?”
Akash mengernyitkan keningnya. Tidak mengerti maksud perkataan Leka.
“Jangan pura-pura gak tau gitu dong, Mas.”
“Aku juga gak tau gimana caranya. Coba aja dulu kalau kamu mau. Tapi jangan kecewa nanti kalau gak berhasil ya?” Tanting Akash sambil tersenyum.
“Hahahahaha. Kita lihat aja nanti. Aku punya banyak jurus jitu soalnya. Hehehehehe.”
__ADS_1
Akash mengacak puncak kepala Leka dengan gemasnya. Gadis itu, mampu membuat hatinya menghangat. Ada percikan kecil yang perlahan muncul di hatinya. Dan ia berharap, itu akan bisa mengganti waktu 11 tahunnya yang ia peruntukkan hanya untuk seorang wanita bernama Semesta.