
Tina masih terus melancarkan rayuannya untuk bisa mendekati Rai. Walaupun pria itu dengan jelas memperlihatkan batasan untun Tina, namun gadis itu sama sekali tidak peduli. Ia yakin kalau kegigihan akan berbuah manis untuknya dan Rai.
“Kamu kenapa sih, Rai? Bengong aja dari tadi.” Tanya Tina yang beralih tempat duduk di dekat Rai.
“Gak apa-apa. Cuman capek aja.”
“Yang semangat dong, katanya kekalahan itu adalah keberhasilan yang tertunda. Nanti pasti kamu bakalan menang, kok.” Tina masih mencoba untuk menghibur Rai.
Rai mengangguk pelan. Sebenarnya bukan itu masalahnya. Perasaan yang melenakan semalam masih bergelayut dengan utuh di benaknya. Sulit sekali untuk melupakannya. Itu adalah pengalaman pertamanya merusak seorang gadis. Dan tidak tanggung-tangung, dia melakukannya dengan sempurna. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Bahkan Rai sendiri tidak yakin dengan harapannya kalau tidak akan terjadi apa-apa.
Rai memijit batang hidungnya berkali-kali. Dia benar-benar pusing dengan semua ini. Apa yang bisa lakukan untuk menenangkan fikirannya?
Entah apa yang membutnya bisa melakukan itu dengan Esta. Entah apa yang membuatnya tergiur dengan tubuh gadis itu padahal penampakannya sangat biasa, sedikit berisi dan tidak menarik sama sekali. Kalau hanya sebatas luka yang tampak di pipinya, itu bukanlah alasan yang bagus. Luka itu memang sama dan mungkin mereka juga punya lubang yang sama di hati mereka. Tapi apakah itu pantas untuk di jadikan pembenaran atas perbuatan bodoh dan berdosa itu?
Sejatinya manusia hanyalah mencari alasan untuk melarikan diri dari situasi yang tidak diharapkan. Terlepas dari itu baik atau buruk, secara naluriah fikiran kita akan mencari sebuah alasan untuk membenarkan tindakan tersebut. Tidak ada cara untuk mengatasinya selain menerima dan mengakui tentang kesalahan yang di perbuat.
Rai bahkan tidak lagi menggubris ocehan yang terus terlontar dari mulut Tina. Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak jadi manusia brengsek seperti ayahnya yang memang terkenal playboy sejak masih muda.
Padahal Rai sudah berusaha untuk jatuh jauh dari pohon ayahnya. Agar setidaknya ia merasa menjadi manusia yang lebih baik dari ayahnya. Pada kenyatannya, ia tetaplah anak dari seorang Afandi Prianggoro. Ia adalah purnarupa buah titisan Fandi yang sempurna. Sebuah teori yang mendukung tentang, bahwa sifat seseorang itu juga di turunkan oleh kedua orang tuanya.
Itu adalah stigma yang tidak bisa diubah. Sebuah sikap dari seeorang akan terus di kaitkan dengan orang tuanya. Sebaik atau seburuk apa untuk mengukur sebuah keberhasilan dalam mendidik seorang anak, maka akan terlihat dari anak itu sendiri.
Seketika rasa kecewa kepada diri sendiri mulai menggerogoti rasa percaya diri Rai. Ia putus asa dengan jalan salah yang ia pilih semalam. Seharusnya ia bisa lebih menahan diri. Ia benar-benar heran kenapa ia bisa tergoda dengan esta. Benar-benar heran.
Padahal nafsu tidak butuh alasan apapun untuk pelampiasan bir@hi. Di depan nafsu, manusia paling jelek sekalipun akan nampak sangat menggiurkan. Nafsu tidak memandang hal-hal fisik itu. Tidak, dia tidak membutuhkannya.
__ADS_1
Kenikmatan yang masih tersisa semalam sungguh tidak mampu menelan penyesalan Rai. Rasa ini sungguh sangat membuatnya tidak nyaman. Senikmat apapun perasaan itu, itu justru membunuh keyakinan yang ada dalam diri Rai. Keyakinan kalau ia jauh lebih baik dari ayahnya.
Rai tidak tahan dengan dirinya sendiri sampai ia langsung berdiri tanpa aba-aba, sehingga membuat teman-temannya langsung menatap heran padanya.
“Aku pulang dulu.” Ujar Rai yang langsung menyambar jaketnya dan berlalu keluar dari cafe.
*****
Esta terus berjalan menyusuri kawasan perumahan yang tidak jauh dari sekolahnya. Ia sedang mencari kos dengan harga terjangkau untuk di tinggali. Ia hanya punya uang 600 ribu, ditambah dengan pemberian Kanti, 500 ribu. Total satu juta seratus ribu rupiah.
Entah apa itu cukup untuk menyewa sebuah kamar kos dalam satu bulan. Kecilpun tidak masalah asalkan masih layak untuk di tinggali. Namun di kota metropolitan ini, mencari kos murah bukanlah perkara mudah. Rata-rata harga indekos diatas 500 ribu rupiah. Sementara Esta harus membagi uang itu untuk keperluan sekolahnya juga untuk makannya sehari-hari selama setengah bulan kedepan sebelum ia mendapat bayaran dari Pakde Karya.
Lama sekali Esta menyusuri perumahan demi perumahan. Ia langsung bertanya saat ia menjumpai kos namun semuanya berharga di atas 500 ribu. Ia sudah mencari di aplikasi ponselnya namun rata-rata yang murah berada sangat jauh dari sekolahnya. Itu hanya kan menambah biaya transportasi untuk menuju ke sekolahnya
Didepan rumah, nampak seorang wanita paruh baya berhijab abu-abu yang sedang duduk bersantai sambil memakan sesuatu. Esta segera menemui ibu itu dan bertanya tentang harga sewa perkamarnya.
Esta sumringah saat mendengar kalau harga sewa per kamarnya hanya sebesar 400 ribu saja. Itu sudah termasuk dengan sebuah kasur dan lemari pakaian. Induk Semang segera mengantarkan Esta untuk melihat kamar yang masih kosong.
Kamar berukuran 2x3 meter persegi itu nampak suram. Dengan cat dinding berwarna biru laut yang sudah banyak terkelupas. Ternyata hanya ada satu kamar tersisa yang masih kosong. Sementara delapan sisanya sudah berpenghuni.
Esta melihat-lihat bagian dalam kamar itu dengan seksama. Kamar itu masih layak untuk di tinggali. Ditambah disana sudah ada kasur tua dan sebuah lemari kecil untuk tempat pakaian, jadi ia tidak perlu membelinya lagi.
“Jadi gimana?” Tanya si ibu kos.
“Saya ambil ini aja, Buk. Bisa sewa perbulan kan ya?”
__ADS_1
“Bisa, bisa. Semua yang ngekos disini juga ambilnya per bulan, kok. Cuma dua orang yang ambil per tiga bulan.” Jelas ibu kos.
“Terimakasih banyak, Buk. Itu harganya udah termasuk listrik sama air?”
“Belum, biaya listrik sama air, plus wi-fi, 50 ribu sebulan. Di pojok sana ada dapur umum, biaya gas nanti patungan sama yang lain terserah kalian gimana enaknya. Ngomong-ngomong namanya siapa?” Jelas ibu kos lagi.
Esta mengangguk mengerti dengan penjelasan ibu kos. Namun ada yang membuatnya risih, pandangan ibu kos yang tidak lepas dari wajahnya. Terlebih kening dan pipinya.
“Nama saya Semesta, Buk. Biasa di panggil Esta.”
“Ooh, udah kuliah atau udah kerja?”
“Masih sekolah, Buk. SMA kelas 3. Ini, saya bayar buat satu bulan ya, Buk.” Ujar Esta menyerahkan 4 lembar uang seratus ribu, dan satu lembar uang 50 ribu.
“Ooo,, gitu. Yaudah, silahkan masuk. Kalau perlu apa-apa Ibu ada di depan, ya.”
Esta mengangguk lagi. Ibu kos kemudian pergi meninggalkannya. Esta duduk di kasur tua dan meletakkan tasnya di sampingnya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang dan terlentang menatap langit-langit.
Kakinya terasa pegal karna sudah setengah harian berjalan. Ia masih harus meneruskan perjuangannya. Kali ini seorang diri, tanpa wali dan pendamping.
Esta berusaha memejamkan matanya untuk meraih ketenangan fikirannya yang sedang berkecamuk. Namun bayangan lembutnya sentuhan bibir Rai membuatnya langsung terhenyak lagi. Ia menepuk-nepuk pipinya untuk menyadarkan dirinya sendiri.
Dalam baringnya, Esta membuka-buka media sosialnya dari ponsel butut yang bahkan layarnya sudah pecah itu. Ia mendapati beberapa postingan Tina dan yang lainnya yang sedang bersenang-senang. Disana juga nampak Rai dan teman-temannya. Sepertinya hanya dia yang tidak ikut serta dengan mereka.
Di sisa hari itu, Esta terlelap sampai malam tiba.
__ADS_1