Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 38. Keadaan Yang Sudah Mulai Membaik.


__ADS_3

Sepulang sekolah, Esta benar-benar mengikuti Rai dan Akash untuk pergi ke Depok. Ia ingin mendukung keinginan Akash yang ingin menjadi seorang atlet bola voli. Menurutnya itu adalah impian yang keren.


“Bisa makan dulu gak?” Rengek Esta. Akhir-akhir ini, ia lebih berani kepada Rai.


“Mau makan apa?” Tanya Rai yang sedang fokus di balik kemudi. Sementara Akash duduk di sebelahnya. Mereka hanya bertiga di dalam mobil.


“Ehmmmm....” Esta berfikir. Namun ia ingin memakan semua yang terlintas di kepalanya. “Seblak.”


“Jangan seblak. Pedes.” Tolak Rai.


“Kan bisa pesen gak pedes.”


“Gak boleh.” Rai mulai menunjukan sisi protektifnya. Ya, itu semua hanya demi bayinya saja. Ia tidak ingin sikap sembrono Esta membuat bayinya dalam bahaya.


“Nasi padang.”


“Lemak, Ta. Gak sehat.” Kali ini Akash yang menimpali. “Yang lain.” Tegasnya lagi.


“Jadi apa? Kalian neybelin. Ih.” Esta jadii ngambek. Ia membuang pandangannnya ke luar jendela.


“Ini gimana?” Tanya Akash menunjukkan ponselnya kepada Rai. Dan Rai mengangguk mantap.


Esta penasaran apa yang di tunjukkan Akash kepada Rai. Tapi ia masih gengsi untuk bertanya karna ia baru saja marah.


Esta hanya memperhatikan jalan saja sambil terdiam. Ia sudah pasrah kemana Rai akan membawanya. Yang penting dia bisa makan karna ia benar-benar lapar.


Rai membelokkan mobilnya ke sebuah hotel berbintang. Ia langsung memarkirkan mobilnya disana kemudian mengajak Esta untuk turun.


“Ngapain kesini?” Tiba-tiba otak Esta di penuhi oleh fikiran-fikiran kotor dan liar.


Bagaimana bisa ia tidak berfikir yang aneh-aneh? Bayangkan saja, ada dua pria yang sedang mengajaknya ke sebuah hotel. Wajar saja jika fikirannya menjadi gila. Apalagi mereka sedang mengenakan seragam sekolah.


“Udah, ikut aja.” Ujar Rai sambil menarik tangannya masuk ke dalam hotel.


“Gak mau!” Esta berusaha untuk menahan kakinya. Ia memberontak hingga menimbulkan beberapa perhatian dari tamu hotel.


“Kamu kenapa sih, Ta? Tadi katanya laper?” Tanya Akash heran dengan sikap aneh Esta.


Esta masih memberontak. Ia benar-benar sedang di kuasai oleh fikrian-fikrian kotor dan liarnya.


“Gak mau!” Pekik Esta kembali. Ia menampis genggaman tangan Rai.


“Beneran gak mau makan?” Tanya Rai menunjuk ke arah restaurant hotel yang ada di samping lobi.

__ADS_1


Esta hanya bisa ternganga saja sambil menahan malu. Wajahnya sudah memerah dan ia hanya bisa menunduk saja.


“Dasar ngeres.” Ledek Rai kemudian.


Esta mencibir tapi tetap mengikuti dua pria yang berjalan di depannya itu. Malu sekali rasanya. Seketika ia ingin menghilang saja atau menaruh wajahnya ke dalam saku.


Setelah duduk, Rai memesankan makanan untuk mereka. Ia memesan sesuai dengan menu yang di tunjukkan oleh Akash tadi. Tidak lama kemudian, makanan pesanan mereka sudah sampai.


Esta menatapi makanan yang sudah tersaji di atas meja. Masing-masing satu piring sudah mendarat di hadapan mereka masing-masing. Namun Esta hanya ternganga saja melihati secuil daging steak di depannya. Ia merasa kalau itu tidak akan cukup untuk mengganjal perutnya.


Rai dan Akash sudah mulai menyantap makanan mereka. Tapi tidak dengan Esta. Ia seperti masih menunggu sesuatu.


“Kenapa gak makan? Tadi katanya laper?” Tanya Rai.


“Nasinya mana?”


Seketika Akash dan Rai terbengong-bengong. Ternganga melihat kepada Esta. Bahkan Akash sampai tidak jadi menyuapkan potongan daging yang sudah hampir mendarat di mulutnya.


“Mana ada orang makan steak pakai nasi, Ta.” Ujar Akash.


“Kalau cuma ini doang mana kenyang aku. Boleh pesen nasi, gak?” Pinta Esta sungguh-sungguh.


Rai melambaikan tangan untuk memanggil pelayan. Walaupun dengan setengah menahan malu.


Sang pelayan pria itu nampak agak terkejut dengan permintaan Rai. Ia merasa aneh karna tidak pernah ada y ang makan steak dengan nasi. Tapi pelayan itu tetap melayaninya.


Tentu saja Esta langsung melahap steaknya dengan nasi putih saat nasinya datang. Ia makan dengan sangat lahap. Membiarkan dua pria di hadapannya melihatnya dengan aneh. Ia tidak peduli.


Selesai makan, ketiganya kembali melanjutkan perjalanan ke Depok. Tepatnya ke sebuah universitas terkemuka di Indonesia. Sesampainya di sana, Akash langsung menemui seorang pelatih yang sudah ia kenal. Kemudian mereka semua pergi ke sebuah sarana gymnasium di kampus itu.


Sementara Akash sibuk dengan seleksinya, Rai dan Esta duduk di sebuah bangku yang ada di dalam gymnasium dan terus memperhatikan Akash.


Sudah tidak terhitung berapa kali Esta menguap karna mengantuk. Ia juga merasa sangat lelah sekali. Ia yang awalnya ingin memberikan semangat untuk Akash, tapi nyatanya ia yang lebih membutuhkan semangat itu.


Hanya sampai satu jam-an Esta berhasil bertahan dan menahan rasa kantuknya. Di menit setelahnya, ia sudah terpejam dengan kepala yang bersandar ke dinding.


Rai baru saja kembali dari membeli minuman untuk Esta, namun ia melihat Esta sudah tertidur disana. Ia meletakkan minuman motol itu ke kursi dan kemudian berjongkok di hadapan Esta.


“Ta?” Lirihnya.


“Hmmm?” Tidak di sangka kalau Esta akan menjawabnya.


“Kalau ngantuk, kita pulang yuk.”

__ADS_1


“Tapi kan Akash belum selesai.”


“Gak apa-apa. Biar aku yang bilang sama Akash.”


Walaupun dengan mata terpejam, namun Esta tetap menganggukkan kepalanya.


Rai berjalan menghampiri Akash yang sedang sibuk berbicara bersama dengan pelatihnya. Melihat kedatangan Rai, Akash permisi kepada pelatihnya untuk bicara kepada Rai.


“Napa?”


“Esta udah gak kuat nahan ngantuk. Gimana kalau kita balik dulu?”


Akash melihat ke arah Esta yang memang sudah tertidur. Akash mengangguk dan menyetujui kalau Rai dan Esta harus pulang lebih dulu.


“iya udah, kalian pulang aja dulu. Nanti biar aku minta di jemput sama abangku.”


“Sorry, Kash.”


“Gak apa-apa. Hati-hati di jalan.” Pesan Akash sebelum ia kembali kepada pelatihnya.


Rai kembali menghampiri Esta. Ia memaksa Esta untuk bangun dan pergi ke tempat parkir.


Esta kembali terlelap sesaat setelah masuk ke dalam mobil. Setelahnya, Rai mulai melajukan mobil dengan kecepatan standar agar tidak mengganggu tidur Esta.


Lama sekali Esta tidur di dalam mobil. Di tambah Rai memutar musik yang mengalun sendu membuat lelap Esta semakin sempurna.


“Aku pengen nasi padaaanngggggg....” Lirih Esta yang rupanya sudah terbangun.


Rai yang terkejut dengan lirihan Esta langsung menoleh kepada gadis itu.


“Ya ampun Ta, kamu itu baru makan lho beberapa jam yang lalu.”


“Tapi aku pengen nasi padang. Pake rendang, sama terong goreng sambel merah, yang kayak di mimpiku barusan. Uuuhhhh..” Rasanya air liur Esta sudah meleleh membayangkan betapa nikmatnya makan nasi padang.


“Ya udah bentar, kita cari warung padang.”Ujar Rai. Ia sungguh di buat heran dengan sikap random esta.


Esta sumringah karna Rai menuruti keinginannya. Setelah melihat warung padang, Rai langsung menghentikan mobilnya dan turun dari mobil. Tidak ketinggalan, Esta juga ikut turun dan mengikuti Rai.


“Di bungkus apa makan disini, dek?” Tanya penjualnya.


“Di bungkus, Bang. Pake rendang, sama terong sambal merah. 2.” Jawab Esta cepat.


Rai hanya menuruti saja apapun keinginan Esta. Yang ia lakukan hanya membayar makanan itu dan kembali melajukan mobil pulang ke rusun.

__ADS_1


__ADS_2