Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 56. Laksana Sinar Jingga Yang Menerpa Bumi.


__ADS_3

Malam terakhir di Kota Jogja.


Matahari terbenam menghiasai langit pantai Siung. Suasana disini jauh lebih romantis daripada suasana di Parangtritis. Itu menurut sebagian murid.


Buktinya tidak ada yang tidak menikmati pemandangan itu. Mereka semua duduk berbaris di sepanjang pantai menikmati keindahan jingga yang sedang bergerak menuju peraduannya. Meninggalkan rona keemasan di ujung laut tak bertepi itu.


Esta sedang duduk bersama Putri. Sedangkan di dekat mereka, Akash duduk bersama Trio dan Rai.


Posisi tiga pria yang berada di belakang Esta dan Putri, membuat Rai puas melirik Esta. Ia terus memperhatikan wajah Esta yang di terpa cahaya keemasan matahari terbenam.


Sebenarnya bukan itu yang membuat Rai terus mengembangkan senyumannya. Melainkan ikat rambut yang di kenakan oleh Estalah yang membuat senyuman terus merekah di bibirnya. Gadis itu masih memakai ikat rambut pemberiannya dan bukan mengenakan pemberian Akash. Entah kenapa ia senang dengan hal kecil itu.


Selesai makan malam, para pria berkumpul untuk membuat api unggun. Seperti yang telah di sepakati sebelumnya, bahwa mereka akan bermalam di pantai dan membuat api unggun untuk menciptakan suasana intim perpisahan bagi kelas mereka.


Malam terus berlanjut. Para siswa membentuk sebuah lingkaran manusia di sekitar api unggun. Ada yang bergitar sementara Tina menyumbangkan lagu-lagu lewat suara emasnya.


Suasana semakin penuh kehangatan. Mereka nampak sangat dekat tanpa ada batasan.


Akash yang duduk di sebelah Esta selalu berbuat konyol hingga membuat Esta dan Putri juga teman-teman yang lain tergelak tertawa.


Rai duduk tidak jauh dari mereka. Mata bulatnya selalu memperhatikan gerak-gerik Esta. Pokoknya ia tidak suka melihat Esta yang selalu tertawa jika berada di dekat Akash.


“Rai! Main!” Ujar Gian yang langsung menyerahkan gitar pada Rai.


Sebenarnya Rai tidak mau, tapi karna banyak teman-temannya yang meminta, pada akhirnya Rai menuruti untuk memainkan sebuah lagu lewat alunan gitarnya.


Saat Rai mulai memetik melodinya, sebagian besar ikut bernyanyi bersama. Menggerak-gerakkan tubuh mengikuti irama.


Satu yang tidak mereka sadari adalah, bahwa tatapan Rai hanya tertuju kepada satu makhluk. Yaitu Esta.


Esta berusaha untuk tidak terpengaruh dengan nyanyian Rai. Ia hanya terus tertawa karna Akash punya banyak sekali bahan lelucon. Tapi sesekali, Esta tetap melirik kepada Rai juga. Ia tidak bisa sepenuhnya fokus pada cerita Akash. Separuh pendengarannya tetap berlari ke arah melodi Rai.


Namun saat tatapan mereka bertemu untuk yang kesekian kalinya, Esta tetap langsung melengos dan membelokkan wajahnya.


“Kash, bentar ya, aku mau ke kamar mandi dulu.” Pamit Esta setelah bersitatap dengan Rai.

__ADS_1


“Okee..”


Esta berdiri dan langsung pergi ke kamar mandi.


Rai yang melihat Esta pergi langsung menyerahkan gitarnya pada temannya yang lain kemudian ikut pamit pergi.


Lama sekali Esta duduk di kamar mandi. Perutnya terasa sesak dan penuh, tapi ia tidak bisa mengeluarkan apapun. Sambil duduk, ia mengusap-usap perutnya yang sedikit buncit. Bukan karna hamil, tapi perut Esta memang sudah buncit sejak dulu walaupun belum berisi janin.


Setelah gagal mengeluarkan isi perut, akhirnya Esta keluar dari kamar mandi. Ia terkejut saat ada sesuatu yang langsung menarik tangannya dari samping kamar mandi. Ternyata itu adalah Rai.


Rai terus mencengkeram pergelangan tangan Esta dan menariknya ke tempat sepi. Baru setelah tiba di tempat yang tidak terlihat oleh teman-teman mereka, Rai melepaskan tangan Esta.


“Kamu ini kenapa sih, ganggu aku terus!” bentak Rai.


“Ganggu? ganggu apa?”


“Kamu ketawa-ketawa sama Akash, itu ganggu banget tau gak?!”


“Aku yang ketawa sama Akash, kenapa yang terganggu kamu?” Tanya Esta menatap marah kepada Rai. Pergelangan tangannya sampai sakit di buatnya.


“Apa?” Esta tidak mengerti apa yang di larang oleh Rai.


“Jangan ketawa sama cowok lain. Terlebih Akash. Aku gak suka lihatnya.”


“Apa urusanmu? Suka-suka aku lah mau ketawa sama siapa aja. Bukan urusanmu.”


“Itu urusanku.”


“Kamu ini kenapa sih, Rai? Gak jelas banget.”


“Apanya yang gak jelas? Aku bilang aku gak suka lihat kamu ketawa sama cowok lain.”


“Ya memangnya kenapa?!”


“Kamu tau gak sih Ta, kalau aku suka sama kamu?”

__ADS_1


“Gimana aku bisa tau kalau kamu gak pernah bilang? Kamu selalu bilang kalau semua yang kamu lakuin itu cuma demi anak, demi anak, dan demi anak. Gimana aku bisa tau kalau kamu suka a-ku?”


Saking emosinya, Esta sampai tidak menyadari kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Rai. Saat menyadarinya, tiba-tiba ia diam seribu bahasa dan menutup mulutnya rapat-rapat. Ia menatap Rai tidak percaya dengan alis yang berkerut.


“Kamu bilang apa barusan?” Tanyanya lirih. Nada suaranya berubah lembut.


“Aku suka sama kamu. Aku bukan cuma peduli sama anak, tapi aku juga peduli sama kamu. Aku sayang kalian berdua. Kenapa kamu gak pernah ngerti?” Ujar Rai lirih. Tatapannya memancarkan sebuah ketulusan. Laksana sinar jingga yang menerpa bumi.


Esta tidak sanggup menatap tatapan Rai. Ia mengalihkan wajahnya dengan bingung. Bagaimana ia tidak bingung kalau tiba-tiba Rai mengungkapkan perasaannya seperti itu?


Dengan lembut tangan Rai memegang pipi Esta dan membuat gadis itu untuk kembali menatapnya. Netranya bergerak liar meneliti setiap bagian wajah Esta. Bahkan kini kedua tangannya sudah mendarat sempurna di pipi Esta.


Perasaan itu semakin menggebu. Ditumpuk oleh rasa kesal dan tidak rela saat melihat Esta tertawa bersama dengan pria lain selain dirinya. Rasa bingung saat Esta selalu mengacuhkan dirinya membuatnya memberanikan diri untuk mengungkapkan seluruh perasaannya.


Rai semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Esta. Ia menatapi wajah itu lekat-lekat seolah tidak ingin melepaskannya. Sinar bulan menjadi saksi betapa tulus dan dalamnya perasaan Rai saat itu.


Esta sedang tersihir. Ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Ia bahkan tidak mampu memalingkan wajah saat wajah Rai semakin dekat dengannya. Ia sudah sepenuhnya membeku di tempat. Tatapan dan hembusan nafas Rai membuat dunianya seolah melambat. Apalagi saat tangan pria itu mengusap lembut pipinya. Mengalirkan sengatan listrik yang memacu detak jantungnya.


Entah siapa yang menyuruhnya untuk memejamkan mata. Namun saat bibir Rai mendarat di bibirnya, ia malah memejamkan matanya seolah menikmati momen itu.


Lum@tan lembut dari bibir Rai yang terasa manis, membuat sanubari Esta bergetar. Ia seperti sedang melayang di awan. Dan ia tidak ingin turun. Ia ingin berada di sana selamanya. Ia pasrah menerima setiap pagut@n dari bibir lembut Rai. Ia suka rasa manis dari bibir itu. Ia suka sensasinya yang menentramkan dan menggetarkan kalbu.


Sentuhan penuh cinta itu, membuat dua insan itu dilambung perasaan bahagia. Rai terus saja membawa Esta menuju angkasa lewat pagut@nnya. Ia bahkan menarik pinggang Esta untuk lebih menempel padanya. Rasanya ia tidak ingin mengakhiri aksinya sampai di situ saja.


Rai mulai melepaskan pagut@nnya dari bibir Esta. Ia menempelkan keningnya di kening Esta. Memegang kedua pipi gadis itu sambil mengatur nafasnya yang memburu. Menatap lekat wajah yang kini berada sangat dekat dengannya itu.


Dua pasang bola mata yang saling menatap itu, semakin menumbuhkan debaran-debaran halus di hati keduanya. Mereka saling menatap dengan tulus. Memancarkan perasaan mereka satu sama lain.


“Aku sayang kamu, Esta.” Lirih Rai sebelum merengkuh tubuh Esta ke dalam pelukannya. Menenggelamkan wajah Esta di dadanya. Pelukan hangat dan erat yang mengalirkan kehangatan kedalam hati Esta, menutup perlahan lubang yang ada di hatinya.


“Aku juga sayang kamu, Rai....”


*****


hufh, akhirnya.........

__ADS_1


__ADS_2