Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 35. Tidak Punya Nilai Tambah.


__ADS_3

Gludak!!


Esta langsung menoleh ke arah suara helm yang terjatuh saat ia melewati parkiran sepeda motor. Bukan hanya ia yang langsung melihat kesana, tapi murid yang lain juga langsung melihat ke arah suara.


Akash melengos saja melirik kepada Esta sesaat. Ia memungut helmnya yang jatuh kemudian meletakkannya di atas tangki motornya. Ia nampak menghela nafas untuk beberapa kali dan tetap berdiri di samping motornya.


Entah kenapa sikap Akash itu membuat hati Esta mencelos. Ia langsung berbalik dan melanjutkan langkahnya. Sebenarnya ia takut kalau Akash telah menceritakan keadaannya kepada seseorang. Tapi hatinya mendesaknya untuk percaya kalau Akash tidak akan berbuat seperti itu.


Saat berada di lobi gedung sekolah, Akash melewati Esta begitu saja. Pria itu bersikap seperti angin yang tiba-tiba berhembus lalu menghilang. Terus berjalan meninggalkan Esta yang melambatkan langkahnya.


“Cieee,,, marahan nih yeee..” Seloroh Tria yang sedang berjalan bersama dengan Desi.


Selorohan itu bukan di tujukan untuk Esta, tapi untuk Akash. Mengejek Esta hanya buang-buang tenaga bagi mereka.  Mereka hanya senang menggoda Akash, bukan Esta. Esta sama sekali tidak penting untuk mendapat perhatian semacam itu.


Esta terus memperhatikan punggung Akash yang masih berjalan menaiki tangga sampai ia tidak bisa lagi melihatnya karna terhalang tembok pembatas. Esta menghela nafas pelan. Lalu iapun melanjutkan langkahnya lagi.


Suasana kelas nampak riuh. Semua orang sedang mengerubungi meja Tina. Mereka mengucapkan selamat kepada gadis itu. Beberapa buket bunga juga ada di mejanya. Tina sibuk berterimakasih kepada teman-temannya.


Esta tidak ingin tau apa yang sudah di capai oleh Tina kali ini. Memang pada dasarnya gadis itu penuh dengan prestasi. Esta iri melihatnya.


Sudah cantik, tubuh ideal, punya otak yang cerdas, dan punya orang tua yang kaya raya sebagai nilai tambahnya. Bagaimana tidak membuat iri?


Sedangkan di sisi lain, ada gadis yang jelek, bertubuh gemuk, miskin, dan bodoh pula. Nilai tambah? Esta tidak punya nilai tambah.


Ah ya, dia punya, satu. Hamil di luar nikah! Sempurna, bukan?


Esta tersenyum sengit. Senyum itu di tujukan untuk dirinya sendiri. Bukan orang lain. Ada rasa iri yang sedang memenuhi rongga dadanya.


Jam pelajaran pertama sudah di mulai, namun Esta tidak melihat Rai dan juga Akash. Entah kemana dua pria itu menghilang. Padahal mereka jelas-jelas datang ke sekolah tadi.

__ADS_1


Anak-anak yang lain juga sibuk berbisik-bisik mengenai Akash dan Rai yang tidan nampak di kelas. Ada yang bilang kalau dia melihat mereka pergi ke arah gudang belakang. Tapi ada juga yang melihat keduanya pergi ke kantin.


“Gak ah, aku lihat tadi mereka jalan berdua ke kantin, kok.” Bisik siswi yang duduk di depan Esta.


“Tapi katanya mereka pergi ke gudang belakang.” Sambut teman di sebelahnya.


“Udah, jangan ribut!!” Bu Sisil, guru mata pelajaran prakarya memperingatkan.


Melihat kemarahan Bu Sisil, semua anak langsung terdiam.


“Ayo kita bahas tugas akhir untuk prakarya. Sebelumnya, selamat, ya, buat Kartina Maheswari, yang udah mewakili sekolah kita dalam lomba menyanyi. Selamat udah jadi juara umum.” Ujar Bu Sisil kemudian yang di sambut tepukan tangan kebanggaan untuk Tina.


Bu Sisil masih muda, mungkin umurnya baru pertengahan dua puluh tahunan. Tubuhnya ramping dan tinggi. Berhijab dan berkaca mata. Manis sekali. Dia juga ramah kepada semua murid. Tidak galak seperti Pak Jamil.


“Tugasnya apa, Bu?”


“Ehmm,, temanya, daur ulang. Terserah kalian mau buat apa, yang penting bahannya dari sampah daur ulang. Waktu kalian sampai akhir bulan ya. Berarti sebelum kalian pergi ke Jogja, kalian udah harus kumpul tugasnya. Ngerti gak?”


Ah, tugas lagi. Esta menghela nafas kesal. Kali ini tugas yang berhubungan dengan kreatifitas. Begitu banyak yang harus di kerjakan menjelang ujian akhir. Mana dia belum bisa memenuhi nilai standar yang di sarankan oleh Pak Jamil. Sepertinya ia memang harus meminta Rai mengajarinya.


Huaaaaahhhmmmmm.....


Esta menguap tiba-tiba dan langsung menutup mulut dengan tangan. Astaga, ini masih pagi dan ia sudah mengantuk saja.


“Oh iya, lupa. Ngerjainnya kelompok dua orang ya sama temen sebangku.” Ujar Bu Sisil lagi sebelum keluar dari kelas. Padahal jam pelajarannya masih lama, tapi Bu Sisil masuk hanya ingin memberitahu tugas itu saja.


Banyaknya jam kosong membuat anak-anak kelas langsung bersuka cita. Ada yang berhamburan pergi ke kantin, ada yang masih mengerubuti Tina, dan ada juga yang sudah menghilang entah kemana.


Sementara Esta, ia sedang memberanikan diri untuk mendekati Tina dan memberi selamat kepadanya. Tapi karna banyaknya anak-anak yang berkumpul, membuat Esta sulit untuk mencapai Tina di kursinya.

__ADS_1


“Bentar...” Esta permisi dan menerobos teman-temannya.


“Hai, Ta.” Sapa Tina ramah. Ia tersenyum ke pada Esta.


“Selamat ya, Tin.” Ujar Esta.


“Makasih banyak ya...” Tina nampak senang sekali.


“Cuman selamat doang? Gak kasih hadiah, gitu?” Entah siapa yang berucap di antara mereka.


Esta hanya terdiam saja. Mungkin maksud temannya itu hanya bercanda saja. Tapi entah kenapa ia merasa sakit hati mendengarnya. Ia melihat tumpukan hadiah yang ada di atas meja dan di samping kursi Tina.


“Maaf , aku gak punya hadiah buat kamu.”


“Ya ampun. Gak apa-apa kali. Gak usah di fikirin. Aku udah dapet banyak hadiah juga kok. Kamu gak ngasih juga gak apa-apa.”


Cara bicara Tina itu, terdengar seperti mengejek Esta. Beberapa temannya langsung cekikikan dan ada juga yang langsung menutup mulut.


Tersinggung sekali rasanya hati Esta. Memang tidak langsung di ucapkan, tapi cara bicara dan reaksi mereka berlebihan. Apa mereka tidak sadar kalau ada sebuah hati yang sakit mendengarnya?


Esta memang sudah biasa dengan sikap itu. Banyak sekali orang-orang mengejek dengan dalih ‘bercanda’. Mereka tidak peduli bahwa yang mendengarnya merasa sakit hati dan tersinggung walaupun tidak di nampakkan.


Tapi dengan sikap seperti itu, justru semakin membuat orang-orang jenis ini akan semakin merasa kalau candaan mereka tidak berpengaruh.


Saking tidak tahannya mendengar cemoohan itu, Esta memilih untuk segera menyingkir dari sana. Ia keluar kelas dan menuruni tangga dengan hati-hati. Ia berkali-kali menguap tapi ia terus berjalan untuk mencari Rai dan Akash.


Firasatnya tidak baik untuk dua pria itu. Ia merasa akan terjadi sesuatu kepada mereka kalau ia tidak segera menemukannya.


Pertama, Esta berjalan menuju ke kantin sekolah. Disana, ia mengedarkan pandangannya mencari sosok dua pria itu. Tapi tidak menemukannya. Ia bahkan sampai masuk ke dalam ruang makan yang berada di dalam hanya untuk melihat apa Akash dan Rai ada disana.

__ADS_1


Kalau mereka tidak ada di kantin, hanya ada satu kemungkinan lagi, yaitu gudang belakang. Ia mendengar teman sekelasnya tadi kalau mereka ada di gudang belakang. Semoga saja mereka ada di sana.


__ADS_2