
“Buk, ada yang nungguin di depan.” Ujar Nisa saat masuk ke dalam ruangan Esta.
Esta mengalihkan pandangannya dari layar laptop kepada Nisa. “Siapa?”
“Pak Rai.”
Esta beralih kepada jam tangannya. Ternyata sudah hampir jam 8 malam. Dan ia baru teringat kepada janji makan malam dengan Rai. Padahal mereka baru makan beberapa jam yang lalu.
“Belum selesai kerjaanya?” Suara Rai yang tiba-tiba muncul dari pintu mengejutkan Esta dan Nisa. Pria itu langsung menerobos masuk tanpa permisi.
“Tunggu ya, sedikit lagi.” Ujar Esta.
Nisa langsung keluar dari ruangan untuk kemabli ke pekerjaannya. Sementara Rai terus memperhatikan kekasihnya yang tengah serius menatap layar laptop.
Lima belas menit berlalu dan Esta sudah berhasil menyelesaikan pekerjaanya. Ia bangkit dari kursinya dan menghampiri Rai yang duduk di sofa dan asyik bermain game di ponselnya.
“Ayok.” Ajak Esta mengejutkan Rai. Pria itu langsung menyakukan ponselnya dan ikut berdiri.
“Udah selesai?”
“Udah.”
Rai tak mau melepaskan genggaman tangannya. Bahkan Nisa dan Giri yang melihatnya terkejut sampai melotot. Namun Rai malah seperti memanas-manasi Giri dengan memamerkan tangannya kepada pria itu. Ia tersenyum penuh kemenangan.
“Mbak mau kemana?” Tanya Giri dengan nada curiga dan tidak terima.
“Mau jalan. Bocil gak usah ikut.” Hardik Rai tersenyum lebar.
Esta hanya tersenyum saja dengan tingkah kedua pria itu. Sama-sama konyol.
“Mau ke mana sih?” Tanya Esta saat meeka sudah berada di dalam mobil.
“Jalan-jalan dong.”
“Ya jalan-jalannya kemana?”
“Ya kemana aja. Kamu kan sukanya ngukur jalan.”
“Enaknya motoran. Kayak dulu...” Ujar Esta kemudian. Ia menggoda Rai dengan menaik-naikkan kedua alisnya.
“Gak sempet nyewa motor. Nantilah kapan-kapan.” Janji Rai. “Sini tangannya.” Rai meminta tangan Esta untuknya.
Esta tidak lagi malu-malu. Ia mengerti apa yang di inginkan oleh Rai dan menangkupkan tangannya ke atas tangan kiri Rai. Langsung saja pria itu menggenggam tangan Esta dengan erat.
Rai mengemudikan mobilnya ke sebuah mall terbesar yang ada di kota Semarang. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka langsung turun dari dalam mobil.
“Mau cari apa kesini?” Tanya Esta penasaran. Ia mengikuti langkah kaki Rai dan menyesuaikan kakinya.
“Adalah.”
__ADS_1
“Ih. Pake rahasia-rahasiaan segala.” Hardik Esta. Ia memukul pelan lengan Rai.
“Nanti kamu juga tau. Ta, panggil aku Mas, dong.”
Esta terbelalak mendengarnya. “Iiiiih. Apaan sih. Geli banget.”
“Ayoolah. Kamu bisa manggil Mas Oza, ‘Mas’. Masak gak mau manggil aku ‘mas’.”
Esta hanya nyengir saja. Geli sendiri membayangkannya.
“Ayo dong.”
“Udah, diem.”
“Hehehehehe.”
Rai terus mengajak Esta menuju ke sebuah gerai perhiasan dengan merk ternama. Sesampainya disana, ia segera di sambut oleh seorang menajer toko yang langsung mengarahkan keduanya menuju ke dalam ruangan khusus pelanggan VIP. Ternyata Hera sudah melakukan reservasi untuk Rai.
“Tolong keluarkan koleksi terbaik kalian.” Pinta Rai dengan wibawanya.
Sang manajer wanita itu langsung mengangguk senang kemudian menyuruh dua anak buahnya untuk membawa koleksi terbaik mereka.
Beberapa saat kemudian, empat kotak berisi berbagai macam cincin sudah tersaji di atas meja.
“Pilih. Kamu suka yang mana?” Pinta Rai pada Esta.
Pandangan Esta langsung tertuju pada cincin dengan bentuk unik dan elegan. Tidak nampak terlalu mewah. Walaupun sederhana, namun terkesan elegan dan manis.
“Boleh di coba?” Tanya Esta.
“Boleh, boleh. Silahkan di coba. Nanti kalau ukurannya gak pas bisa kita perbaiki.”
Esta memasukkan cincin itu ke jari manisnya. Kemudian ia meminta pendapat Rai. Dan tentu saj apria itu langsung mengangguk senang. Nampak sangat indah di jari-jari Esta.
“Kamu suka?” Tanya Rai memastikan.
Esta mengangguk. Ia tersenyum memandangi cincin itu.
“Saya ambil yang ini.” Ujar Rai sambil menyerahkan kartu debitnya kepada manajer toko.
Rai tersenyum melihat ekspresi sumringah yang nampak di wajah Esta. Ia bahagia sekali saat ini.
“Udah fix, gak mau milih yang lain?”
Esta menggeleng. “Udah, yang ini aja. Aku suka yang ini.”
“Yaudah.”
“Rai..”
__ADS_1
“Hem?”
“Tapi cincinnya di simpan aja dulu ya.” Ujar Esta membuat kening Rai berkerut.
“Kenapa?”
“Nanti aja. Kalau semua prosesnya udah kita lalui dengan benar, baru kamu kasih cincin itu ke aku.”
“kok gitu?”
“aku gak mau kita asal melangkah, Rai. Kita butuh proses yang bener. Bawa aku ketemu sama keluargamu dulu. Baru setelah itu, kita rembuk enaknya gimana. Gak usah keburu-buru. Aku gak akan kemana-mana.”
Rai mengernyit. Ia berusaha memahami keinginan Esta. Yang di katakan Esta benar. Ada langkah-langkah yang harus mereka tapaki untuk menuju ke sebuah pernikahan. Mereka tidak bisa mengulangi kesalahan seperti dulu. Menikah tanpa restu dari orangtua Rai.
“Kamu udah baikan kan sama papamu?”
Rai melengos. Ia mengalihkan wajah ke samping.
Hubungannya dengan Fandi masih seperti dulu. Apalagi sekarang Rai sudah bisa mandiri dan menghasilkan uang untuk dirinya sendiri, ia jadi jarang berhubungan dengan ayahnya. Ia bahkan sudah lama tidak berhubungan dengan pria itu.
“Kamu belum baikan sama papamu?”
Rai mengangguk. Membuat Esta menghela nafas perlahan.
“Kayaknya kamu masih butuh waktu buat maafin papamu. Gak apa-apa. Pelan-pelan aja.” Hibur Esta. Ia memeluk Rai dengan hangat sambil mengelus punggung pria itu.
“Makasih, sayang.”
Wajah Esta kembali merona. Setiap kata panggilan itu keluar, wajahnya akan merona dan hatinya berdesir tidak karuan. Ia suka mendengarnya. Sangat suka.
Setelah menyelesaikan pembelian cincin, Rai dan Esta keluar dan melanjutkan dengan berjalan-jalan ringan di dalam mall. Seperti yang di minta oleh Esta, untuk saat ini, Rai hanya akan menyimpan cincin itu untuk di berikan kepada Esta pada waktu yang tepat nanti.
“Mau nonton, gak?” Tawar Rai.
“Gak ah. Lagi gak pengen.” Tolak Esta.
Rai manggut-manggut. “Ta, rencanaku, kita gak usah pake acara tunangan ya? Aku mau langsung nikahin kamu aja.”
“Boleh. Aku fikir juga bagusnya gitu.”
“Ya ampun.. Aku udah gak sabar, Ta. Kita nikah sekarang aja yuk. Aku udah gak tahan pengen pelukin kamu. Habisin kamu sepanjang malam.” Rengek Rai memelas.
“Apaan sih. Ngeres banget.” Hardik Esta memukul lengan Rai pelan.
“Sepuluh tahun, Ta, gak pernah kenak lagi. Kamu gak akan bisa bayangin rasanyanya. Pokoknya bbeeeuuuuhhhh.”
“Diem gak? Aku tinggal nih.” Ancam Esta sambil ngeloyor pergi lebih dulu. Ia malu kalau ucapan Rai itu terdengar oleh orang lain di sekitar mereka.
“Hahahahahahahaha. Jangan marah dong sayang.” Ujar Rai yang menarik tangan Esta untuk ia genggam kemudian mensejajarkan langkah mereka.
__ADS_1
“Abis ini mau kemana lagi?” Tanya Esta. Malam ini ia akan mengikuti kemanapun Rai ingin pergi. Ini adalah kencan pertama mereka setelah resmi menerima satu sama lain.
Perasaan yang terpisah itu, kini sudah saling menemukan untuk saling melengkapi. Membuncah tak terbendung hingga membuat bunga bermekaran di hati mereka.