
Rai sedang mengumpulkan keberaniannya di satu tempat. Ia ingin menyatakan sebuah pengakuan dan entah, apa yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah diam beberapa saat, Rai menatap Om Pras dan neneknya secara bergantian. Ia menarik nafas kemudian membuangnya perlahan.
“Kamu mau ngomong apa?” Tanya Om Pras yang memang sudah mencium gelagat mencurigakan dari Rai.
Rai sedikit terkejut, namun kemudian ia bisa mengendalikan ekspresinya. Ia kembali menghela nafas dalam.
“Om, Nek, seandainya, seandainya,,, aku,,, ngerusak anak gadis orang, gimana?” Lirih Rai dengan wajah yang tertunduk.
Om Pras mengernyit. Ia seperti tau apa yang sedang di bicarakan oleh keponakannya itu.
“Ngomong yang jelas.” Tegas Om Pras. Ia hampir tersulut emosi saat membayangkan apa yang ia fikirkan.
“Aku hamili temenku, Om.”
Pengakuan Rai sungguh bagai sembilu yang mengiris hati bagi Salamah dan Om Pras. Pria empat puluh tahunan itu bahkan langsung berdiri dan menatap marah pada Rai.
“Aku tau, aku tau ini salah, karna itu aku berani minta pendapat Om sama Nenek. Aku memang brengsek. Aku takut, Om.” Pias Rai menatap Om Pras. Suaranya gemetar menahan takut.
Pras yang tadinya sudah mengangkat tangan hendak menampar Rai, mengurungkan niatnya saat melihat genangan air mata di matanya. Ia seperti bisa merasakan apa yang sedang di rasakan pria remaja itu. Rai pasti sangat ketakutan.
Rai kembali menundukkan wajahnya. Ia siap jika Om Pras akan memukulnya atau menghajarnya habis-habisan, ia siap untuk itu. Namun, Pras hanya kembali duduk dengan sedikit membanting tubuhnya kemudian memejamkan matanya erat-erat.
Rai menelan salivanya membayangkan rasa sakit dari pukulan tangan Pras. Ia memejamkan matanya erat-erat.
“Apa dia cantik?” Pertanyaan Salamah membuat Rai dan Pras langsung menoleh padanya.
Nenek tersenyum dan mengelus kepala Rai lembut. “Selama kamu sadar kalau itu salah, itu udah cukup. Yang harus kamu lakukan kedepannya, jangan mengulangi kesalahan itu, dan bertanggung jawab sama dia.” Salamah nampak berusaha untuk tidak menangis walaupun gurat kekecewaan dan kesedihan jelas nampak di wajahnya.
__ADS_1
“Tapi aku gak tau harus gimana, Nek? Kemarin dia bilang kalau dia gak akan nuntut pertanggung jawabanku. Yang aku heran, kenapa dia bisa sesantai itu ngomongnya seolah gak ada beban sama sekali.”
“Ya ampun, dia pasti anak yang baik. Padahal hamil di usia semuda itu gak mudah, apalagi hamil di luar nikah dan masih sekolah pula. Dia rela nanggung tiga beban sekaligus demi gak ngrepotin kamu. Jadi, apa keputusanmu?”
“Cuma satu-satunya cara, kamu harus nikahin dia. Udah berapa bulan?” Timpal Pras.
Rai sangat terkejut mendengarnya walau ia sudah sempat berfikir ke arah sana. Hanya saja yang menjadi pertimbangannya adalah, mereka masih sekolah. Bagaimana dengan sekolah mereka nanti? Rai benar-benar bingung dan kacau.
“Tapi kami masih sekolah, Om. Aku gak tau udah berapa bulannya, kejadiannya sekitar sebulan lalu, dan kemarin dia baru ngasih tau aku.”
“Sekolahmu tinggal sekitar dua bulan lagi, kan? Dan Om rasa, kehamilannya belum nampak sampai saat kelulusan nanti. Anggap aja kalian beruntung dengan itu.”
“Jadi gimana? Mana yang kamu fikir lebih baik? Kamu mau nikahin dia, atau biarin dia kayak yang dia bilang?” Tanya nenek.
Rai terdiam. Ia berfikir keras. Menikah, ia tau kalau hal itu sangatlah tidak mudah di lakukan. Menikah bukan hanya sebatas ijab kabul, lalu selesai. Tapi menikah, adalah melulu soal tuntutan tanggung jawab. Dengan menikahi Esta, itu berarti ia yang bertanggung jawab atas seluruh hidup gadis itu. Ia harus bertangung jawab soal jaminan hidup bagi Esta. Dan ia merasa belum sanggup melakukan semua itu sementara hidupnya saja masih amburadul tidak karuan.
Dan jika ia melakukan seperti apa yang Esta minta, kalau ia tidak perlu bertanggung jawab atas kehamilannya, ia merasa kalau hal itu justru akan menyiksanya. Siksaan dari penyesalan yang akan membuatnya terpuruk di sisa hidupnya nanti. Ia tidak ingin di hantui oleh rasa bersalah di sepanjang hidupnya karna salah mengambil keputusan.
“Aku mau nikahin dia, Nek. Aku mau bertanggung jawab atassemua kesalahanku. Aku gak mau buat mama kecewa kalau aku bersikap pengecut dan lari dari tanggung jawab.” Ucap Rai pada akhirnya setelah lama terdiam dan berfikir.
Biar saja, ia akan melihat apa yang bisa ia lakukan ke depannya dengan menikahi Esta.
Nenek lega sekali mendengarnya. Ia kembali mengelus kepala cucunya itu lembut sambil tersenyum.
“Rupanya kamu lebih bijaksana dari yang nenek fikir.” Lirih nenek.
“Tapi kalau dia gak mau gimana, Nek?” Rai khawatir.
“Besok apa lusa, bawa dia kesini. Biar nenek yang ngomong.”
__ADS_1
Rai mengangguk.
“Rai, kamu tau kan kalau ini bukan masalah gampang? Ada hukum-hukumnya yang harus kamu jalanin. Ini tu aib, yang harus kita tutupi rapat-rapat. Karna kalau sampai ini kesebar, akibatnya bukan cuma buat kamu, tapi seluruh keluarga besar kita. Apa kamu ngerti?”
Rai kembali mengangguk. “Iya, Om. Aku ngerti.”
“Om gak faham tentang masalah ini. Tapi nanti coba Om minta pendapat sama Gus Kholiq gimana-gimananya. Om gak mau kita salah dalam prosesnya. Masalahnya ini bukan pernikahan biasa, bahaya kalau sampai ada yang salah karna kita ini orang awam dengan pengetahuan agama yang terbatas.”
“Nenek juga mikirnya gitu, tadi.”
“Tapi, gimana sama papa, Nek?”
“Ngeliat sifat papamu, dia pasti bakalan hajar kamu habis-habisan. Kalau menurut Om, lebih baik kita rahasiain dulu dari dia. Nanti malah tambah runyam masalahnya. Lagian kamu ini laki, gak butuh wali buat nikah. Cukup aku aja walimu. Nanti kalau udah pas waktunya, baru kita kasih tau dia.” Saran Pras. Walaupun ia marah dengan kebodohan yang sudah Rai perbuat, tapi ia tetap tidak akan tega melihat keponakan satu-satunya itu di hajar oleh ayahnya sendiri.
Rai dan nenek setuju dengan ide Pras. Mengingat sifat marah dan keras yang dimiliki oleh Fandi, hal ini justru akan bertambah rumit.
“Hal ini harus di lakukan secepatnya. Sekarang ayo kita ke pondok Gus Kholiq dan minta saran gimana baiknya.” Ajak Pras kepada Rai.
Rai mengangguk mengerti kemudian mengikuti Omnya berdiri dan keluar dari rumah menuju garasi mobil. Jujur, jantung Rai saat ini sedang berdetak kencang tidak karuan. Itu karna seluruh rasa penyesalan dan kekhawatiran sedang menumpuk menjadi satu disana.
Ia telah menorehkan aib di wajah seluruh keluarga yang menganggapnya berharga. Ia sudah mengiriskan sayatan luka di hati mereka yang menyayanginya. Entah, bagaimana ia iakan menanggung seluruh penyesalan itu nanti.
Menyesal karna ia bertindak bodoh dan tidak bisa menahan diri, dan khawatir apa yang bisa dia lakukan kedepannya dengan menikahi Esta. Ia merinding saat membayangkan ia akan segera menjadi seorang suami. Belum lagi mereka harus menanggung malu karna aib.
Yang menyesakkan adalah, ia menikahi gadis yang sama sekali tidak ia kenal bagaimana sifatnya, bagaimana perawakannya, dan bagaimana fikriannya. Ia menikahinya tidak lebih karna sebuah tanggung jawab. Apalagi masalah cinta, itu sangat jauh dari keadaannya sekarang ini.
Perasaan cinta tidak di perlukan dalam pernikahan ini. Karna pernikahan ini adalah pernikahan yang harus terjadi karna sudah terikat dengan hukum Allah. Sebuah pernikahan untuk menyelamatkan harga diri dari anak yang tidak tau apa-apa, anak hasil perbuatan zina mereka.
Semakin mobil melaju mendekati jalan menuju pondok pesantren Darussa’adah, jantung Rai semakin berdetak dengan sangat cepat. Rasa percayadirinya sudah menciut dan membuatnya was-was.
__ADS_1
“Om, apa gak apa-apa kalau beliau tau tentang masalah ini?”Tanya Rai khawatir.
“Kamu tenang aja. Orang seperti Gus Kholiq itu tau mana yang harus di simpan untuk dirinya sendiri. Dia gak mungkin mengumbar aib oranglain. Karna apa? Karna ilmunya jauh lebih tinggi dari kita. Hatinya penuh dengan kebijaksanaan. Karna itu kita bisa minta saran apapun sama dia. Jadi gak usah malu apalagi khawatir, ya.” Pras mencoba menanangkan keponakannya itu, karna ia bisa merasakan kegelisahan dari raut wajah Rai.