
Setelah mengantar Akash ke stasiun untuk kembali pulang ke Jakarta, Esta kembali ke mess dengan di antar oleh Edin. Setelah itu Edin harus segera kembali ke Jogja untuk mengembalikan mobil yang ia sewa. Sementara Esta kembali sibuk dengan rutinitas pekerjaannya di laundry.
“Jadi jam berapa rapatnya, Sa?” Tanya Esta setelah ia selesai mandi.
“Jam 9, Buk.” Jawab Nisa.
Esta melirik jam tangannya yang ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 08.35. Itu berarti mereka tidak punya banyak waktu.
“Ibuk udah siap?”
Esta mengangguk. “Ayok.”
Esta dan Nisa berangkat dengan di antar oleh Giri menggunakan mobil box antar jemput milik laundry. Mereka menuju ke sebuah perusahaan pengembang aplikasi yang jaraknya lumayan jauh.
Sekitar setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di gedung ruko berlantai 2 itu.
Seorang wanita muda dengan balutan kemeja biru dan celana panjang putih, datang menyambut kedatangan Esta. Gadis itu menghampiri Esta dengan senyum ramahnya.
“Selamat datang, Mbak Esta.” Ujar wanita bernama Leka itu menyalami Esta. “Ayo, kita masuk ke dalam aja.” Ujar Leka mempersilahkan.
Meeting itu berjalan dengan baik dan sempurna. Dan ternyata Leka adalah pimpinan perusahaan pengembang itu. Ia memimpin rapat dengan sangat baik. Ia mengemukakan ide-ide untuk produknya yang terdengar luar biasa. Sementara Esta mengemukakan beberapa keinginannya mengenai aplikasi yang akan mereka buat.
Dan akhirnya, Leka menyetujui semua persyaratan dari Esta. Ia berjanji akan membuat aplikasinya sebaik mungkin seperti yang di minta oleh Esta.
Setelah kembali ke laundry, seperti biasa, Esta duduk di ruangannya untuk membaca berkas laporan dari masing-masing cabang. Ia menoleh ke arah ponselnya saat onsel itu berdering. Ada nama Oza yang muncul di layarnya.
“Halo, Mas?” Sapa Esta.
“Udah di rumah kah?” Tanya oza.
__ADS_1
“Iya udah, Mas. Kenapa Mas?”
“Gak apa-apa. Mau nanya aja. Aku lagi jalan-jalan sama Putri nih.” Pamer oza.
“Oh, ya? Jalan-jalan kemana?” Tanya Esta mencoba antusias.
Oza menjelaskan tujuan destinasi mereka hari ini dengan lantang. Dan Esta kembali menanggapinya dengan antusias.
“Mas, maaf nih. Aku lagi banyak kerjaan. Nanti sambung lagi telfonnya.” Ujar Esta merasa tidak enak hati.
“Oh, gitu? Oke, oke. Nanti sambung lagi telfonnya, ya?”
“Oke.”
Dan sambungan telfon itupun terputus. Setelah itu Esta kembali fokus dengan pekerjaannya.
Sekitar pukul 15.00 wib, Esta keluar dari ruangannya untuk istirahat sejenak di kamarnya. Ia merasa sangat penat. Ia duduk di tepian tempat tidur dengan pandangan mengarah ke atas meja. Sebuah buku menarik perhatiannya. Itu adalah binder miliknya sewaktu SMA dan ia masih menyimpannya dengan baik.
Binder itu berisi berbagai macam cerita pendek yang ia tulis. Dulu ia sangat tertarik untuk menulis cerita. Tapi sejak menikah dengan Rai, ia jadi tidak punya waktu karna harus belajar.
Ah, lagi-lagi Rai.
Tiba-tiba Esta teringat dengan pena pemberian pria itu. Ia mengambil kotak itu dari dalam laci mejanya. Membukanya dan mengeluarkan isinya. Ia termangu sejenak sambil memandangi benda itu.
Esta berfikir, kalau ia ingin melepaskan semuanya, itu berarti ia harus memutus setiap kenangannya bersama dengan Rai. Ia memutuskan untuk memberikan pena itu kepada Nisa. Agar tidak ada lagi yang mengingatkannya kepada Rai.
Ada satu benda lagi yang harus ia singkirkan. Yaitu foto USG yang tetap tersimpan rapi di dompetnya. Ia mengeluarkan foto itu, menatapnya dan memeluknya sebentar sebelum ia ikhlas melepaskan semua perasaannya.
Ya, Esta sedang bersiap untuk menutup lembaran kisah masa lalunya. Dan mulai detik ini, ia akan membuka lembaran baru. Benar kata Akash, ia tidak bisa selamanya menutup diri.
__ADS_1
Sebelum memberikan pena itu kepada Nisa, ia ingin mencoba menulis beberapa kata di buku bindernya. Karna selama ini ia tidak pernah menggunakan pena itu sama sekali. Jadi ia ingin setidaknya sekali saja ia menggunakannya.
Esta memperhatikan pena yang ada di tangannya itu. Ia memencet tombol yang ada di bagian atas dan bersiap untuk menulis.
Namun sebuah suara membuat Esta membeku seketika. Ia tidak jadi melanjutkan menulis dan malah mendengarkan suara yang keluar dari pena itu. Esta baru tau kalau ternyata pena itu mempunyai fitur perekam di dalamnya.
“Ta? Sebenernya aku gak mau kita berakhir begini. Aku udah terlanjur nyaman sama kamu. Aku udah terlanjur sayang sama kamu. Hatiku udah penuh sama kamu. Rasanya aku pengen teriak dan marah waktu kamu bilang pengen pisah. Aku bertekad buat gak akan nurutin permintaan konyolmu itu apapun yang terjadi. Tapi pas lihat kamu nangis tadi, aku jadi gak kuat. Hatiku langsung hancur pas lihat airmata yang keluar dari matamu. Aku gak kuat lihat kamu nangis.”
“Aku sayang banget sama kamu, Ta. Dan aku jamin kalau rasa ini akan bertahan selamanya buat kamu. Cintaku cuma buat kamu. Tapi kalau menurutmu ini yang terbaik buat kita, gak apa-apa. Aku ikhlas kalau kita harus pisah walaupun hatiku hancur lebur luluh lantah. Aku ikhlas melepasmu dengan satu harapan, semoga kamu bener-bener bisa bahagia setelah pisah sama aku.”
“Aku harap, kamu gak akan nangis lagi. Aku harap, kedepannya, hanya akan ada bahagia buat kamu. Tapi asal kamu tau. Aku akan kembali buat kamu, Ta. Aku janji aku akan kembali buat kamu. Aku akan membuktikan kalau perasaanku ini tulus sama kamu. Aku akan buat kamu kembali sama aku. Di belahan bumi manapun kamu nanti, aku janji aku bakalan menemukanmu.”
“Seperti yang kamu bilang kalau aku harus jadi lebih kuat. Dan setelah aku menjadi kuat, aku benar-benar akan menjemputmu. Tunggu aku, Esta. Aku sayang kamu.”
Esta masih terpaku di kursinya. Menatapi pena yang rekamannya sudah berakhir itu. Hatinya kembali mencelos.
Kenapa saat ia ingin lepas dari masa lalu, ada saja hal yang membuatnya harus mengingat kembali?
Ya, memang perpisahan itu keinginannya. Kala itu ia bertekad untuk kembali ke kehidupannya yang dulu sebelum mengenal Rai. Ia memaksa hatinya membenci. Melimpahkan semua kesalahan kepada pria itu hanya agar hatinya menjadi kuat.
Soal perasaan, cintanya memang hanya tertuju kepada Rai Kenandra. Diam-diam ia bahkan berani berharap kalau kelak mereka di pertemukan kembali. Dengan tidak tahu malunya ia berani berharap begitu. Padahal ia sendiri yang menginginkan perpisahan. Sungguh tidak tau malu.
Namun sekarang, ia sudah berniat untuk melepaskan harapannya itu dan membuka lembaran baru.
Dengan mendengus kesal, Esta menguatkan hatinya. Ia melemparkan pena itu ke tempat sampah begitu saja. Ia sudah bernar-benar ingin terlepas dari belenggu masa lalunya. Ia tidak jadi memberikannya kepada Nisa dan akan membuangnya saja.
Perhatian Esta teralihkan dengan suara ketukan di pintu kamarnya.
“Mbak! Mbak!” Pekik Giri dengan suara panik. Membuat Esta langsung bangun untuk membuka pintu.
__ADS_1
“Kenapa, Ri? Kok panik gitu?” Tanya Esta yang ikut panik.
“Emergency! Ada om-om dateng merah-marah. Katanya pakaiannya rusak setelah di cuci di sini. Dia marah-marah minta ketemu sama Mbak. Dia bilang mau minta ganti rugi karna itu pakaian mahal.” Terang Giri sambil terengah-engah begitu pintu kamar terbuka.