Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 50. Ingin Memberikan Semua Kenyamanan.


__ADS_3

Siswa-siswi kelas 3.1 terdiri dari 38 siswa. Dan dari 38 siswa itu, di bagi ke dalam 2 bus yang telah siap menunggu di lapangan parkir lentera bangsa. Mereka juga di dampingi oleh Pak Jamil selaku wali kelas, dan beberapa guru lainnya sebagai pendamping beserta keluarga mereka.


Trio, sang ketua kelas tetap menjadi koordinator bagi teman-temannya. Ia membangi teman-temannya dengan nomor undian untuk menentukan nomor bangku dan bus mana yang akan mereka naiki.


Entah kebetulan apa, Esta dan Rai berada dalam satu bus, yaitu bus nomor 2. Sedangkan Akash berada di bus nomor 1.


Namun Akash tidak mau mengalah. Ia memohon dan merayu Trio agar menempatkannya di bus nomor 2, bersama dengan Esta. Untunglah Trio memahami kalau temannya itu sednag memperjuangkan cintanya, jadi ia mengijinkan Akash untuk pindah ke bus nomor 2.


“Satu lagi dong, Yo.” Pinta Akash pada Trio.


“Apa lagi?”


“Aku mau duduk sama Esta. Di bangku belakang sopir. Dia mualan soalnya. Kalau duduk di depan kan enak nanti kalau muntah.” Akash beralasan. Padahal ia tidak tau apa Esta gampang mabuk atau tidak. Ia hanya ingin memberikan tempat duduk yang paling nyaman untuk Esta.


Trio menghela nafas kesal. Melihat tajam kepada Akash. Rasanya ia ingin menimpuk wajah Akash dengan buku absen yang sedang di pegangnya. Tapi walaupun kesal, Trio tetap menuruti permintaan Akash. Ia mengatur agar Esta dan Akash duduk di bangku nomor 3, dan 4, di belakang supir.


Di  tempat lain, Rai sedang sibuk menghindar dari rengekan Tina. Ia benar-benar sebal kepada gadis itu namun ia tidak bisa marah tanpa alasan. Ia terus melirik kearah Esta yang sedang melamun di samping bus mereka.


Tidak hanya Akash, Tina juga merengek untuk dapat duduk bersama dengan Rai. Padahal ia ada di daftar bus nomor 1. Tapi kali ini Trio tidak ingin mendapat masalah dari Rai, ia tidak mengabulkan permintaan Tina karna takut Rai akan marah padanya.


Rai mendapatkan kursi nomor 10, yaitu tiga baris di deretan sebelah kiri. Dia duduk bersama dengan Trio. Trio cari aman saja mengingat banyaknya gadis yang ingin duduk bersama dengan Rai.


Tepat pukul lima sore, bus sudah mulai melaju meninggalkan area sekolah. Mereka lebih memilih perjalanan malam agar bisa istirahat di bus selama perjalanan. Jadi saat besok pagi mereka tiba di Jogja, mereka bisa langsung menuju ke tempat tujuan yang sudah ada di daftar kesepakatan.


“Sorry Ta kalau aku buat kamu gak nyaman.” Lirih Akash saat bus sudah melaju. Entah kenapa ia merasakan aura aneh dari Esta yang sejak tadi hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Esta hanya menggelengs aja sambil kembali membuang pandangannya ke luar jendela.


“Ada masalah apa, sih?” Desak Akash.

__ADS_1


“Gak ada apa-apa kok.”


“Kamu berantem sama dia?” Maksud Akash adalah Rai.


Esta kembali menggeleng.


“Yaudah. Gak apa-apa kalau kamu gak nyaman cerita sekarang. Tapi nanti kalau kamu pengen cerita, aku siap jadi pendengar.”


Esta hanya mengangguk.


Seluruh fikiran Esta sedang di penuhi oleh Rai. Entah bagaimana ia dan Rai bisa berakhir dalam keadaan seperti ini. Tapi yang jelas, hatinya mulai berharap.


Dalam harapannya, ia tetap merasa sakit. Ia kesal karna Rai tidak pernah menganggapnya ada. Rai tidak pernah melihatnya, tidak pernah memperhatikannya, tidak pernah peduli padanya.


Satu-satunya pengikat hubungannya dengan Rai adalah janin yang tengah bersemayam di dalam perutnya. Tidak ada rasa, tidak ada apapun selain itu.


“Hihihihihi....”


“Apa sih? Kayaknya lucu banget?” Tanya Esta.


Akash menggeserkan tangan agar Esta dapat melihat film yang sedang ia tonton. Dan pada akhirnya Esta juga ikut terkekeh bersama dengan Akash. Lama sekali mereka seperti itu. Tidak ada yang menyadari sepasang tatapan tajam selalu mengarah kepada keduanya.


Rai tidak bisa tidur bahkan setelah hampir semua teman-temannya tidur. Ia terganggu dengan dua orang yang nampak sangat senang dan selalu tertawa di depan sana. Hatinya panas dan terbakar.


Ingin menghampiri tapi tidak berani. Sedangkan jika hanya melihat, hatinya terbakar dan emosi. Jadilah Rai hanya bisa mencengkeram pegangan kursinya saja. Seberapapun ia mencoba terpejam, saat mendengar suara tawa lirih dari Akash dan Esta, ia akan kembali terjaga sepenuhnya. Geram sekali rasanya.


Rasa penasaran memenuhi rongga dada Rai. Ia ingin melempar kepala Akash dengan sesuatu agar orang itu terdiam. Namun tiba-tiba Rai mendapat sebuah ide cemerlang. Ia bangun dan berjalan kemudian duduk di tengah, tepat di samping sopir.


“Kenapa gak tidur, Dek?” Tanya @@kondektor bis.

__ADS_1


“Gak bisa tidur, Bang. Soalnya ada yang berisik!” Rai sengaja mengarahkan kata ‘berisik’ kepada Esta dan Akash.


“Sewot.” Hardik Akash. Ia kembali melanjutkan menonton dan tertawa.


Kira-kira sampai hampir jam 11 malam Rai duduk menemani pak supir dan kondektur mengobrol. Mereka bahkan terkejut saat mengetahui kalau Rai ternyata anak seorang artis kaya raya dengan julukan sultan.


Namun Rai segera mengalihkan pembicaraan ke topik lain karna ia tidak ingin di sangkut pautnya dengan ayahnya. Orang-orang hanya mengagumi sosok ayahnya dari yang tampak saja. Tidak ada yang tau betapa dalam luka yang di torehkan oleh pria itu kepada keluarganya.


“Kira-kira jam berapa sampenya, Pak?”


“Sekitar jam 7, atau 8, udah sampe.” Jawab pak supir.


Saking asyiknya mengobrol, Rai sampai lupa kalau hanya tinggal suara kekeh Akash saja yang terdengar. Saat ia menoleh ke samping, ia melihat kalau Esta sudah tertidur dengan menempelkan kepalanya di kaca bus.


Dengan tersenyum samar, akhirnya Rai memutuskan untuk kembali ke tempat duduknya semula. Ia ingin mencoba untuk tidur karna Esta juga sudah tertidur.


Jauh di dalam lubuk hati Rai, ia ingin memberikan semua kenyamanan yang bisa ia dapatkan untuk Esta. Andai saja ia yang duduk di samping gadis itu, ia pasti sudah memberikan bahunya untuk bersandar. Sehingga kepala Esta tidak sakit terantuk jendela.


Sekitar pukul satu dini hari. Bus berhenti di sebuah rest area. Kondektur segera menyalakan lampu di dalam bus yang membuat sebagian besar orang terbangun.


“Ayo, kalau ada yang mau ke kamar mandi!” Pekik kondektur bus memberitahu.


Beberapa anak nampak turun dan pergi ke kamar mandi. Tapi Esta tidak. Ia menggeleng saat Akash menawarinya. Ia hanya masih sangat mengantuk. Jadilah Akash hanya turun sendiri untuk sekedar merenggangkan ototnya yang pegal.


Rai juga tidak turun. Ia hanya menatapi saja kepala Esta yang nampak menyembul di atas sandaran kursi. Melihat ujung kepalanya saja, sudah membuat hatinya berdegup kencang bukan main.


*****


ya ampunn..

__ADS_1


si Rai masih malu-malu macan ya ges ya....


__ADS_2