
Security membawa Akash untuk menjauh dari Rai. Sementara Rai di bawa masuk ke kamar oleh Hera karna Rai dengan tegas menolak untuk tidak dibawa kerumah sakit.
Hera sudah melobi security dan manajer hotel agar masalah ini tidak di teruskan ke pihak kepolisian. Ia juga memberi kompensasai kepada para tamu hotel yang merasa di rugikan akibat tindakan Rai dan Akash. Tentu saja itu semua atas perintah dari Rai.
Sementara Akash. Ia di antarkan ke rumah sakit oleh manajer hotel. Setelah mendapat perawatan dari luka-lukanya, ia meminta di antarkan pulang ke rumah Esta.
Esta sangat terkejut bukan main saat baru membuka pintu dan melihat Akash yang datang dengan pelipisnya yang memar serta bibirnya yang robek. Di tangan kanannya juga terdapat balutan perban.
“Ya ampun, Kash! Kamu kenapa?!” Pekik Esta saat Akash berdiri di depan kamarnya. Ia meneliti wajah dan tangan Akash.
“Aku,,, kecelakaan.” Lirih Akash. Tidak berani berterus terang karna akan membuat Esta semakin sedih.
“Kok bisa?”
“Tapi gak parah kok. Udah diobatin juga tadi. Hehehehe.”
“Ketawa? Keadaanmu udah begini dan kamu berani ketawa?!” Marah Esta.
“Hehehehe. Maaf. Aku cuma gak mau kamu khawatir.”
“Siapa yang antar kamu kesini?”
“Aku naik taksi.”
“Kenapa gak rawat inap aja? Lukamu parah lho ini. Kita ke rumah sakit lagi yuk.” Paksa Esta dengan menarik tangan Akash.
Tapi Akash hanya menahan diri dan bahkan tidak bergeser dari tempatnya.
“Aku gak apa-apa.” Ujar Akash meyakinkan Esta.
Esta menyerah karna bujukannya sama sekali tidak berhasil. Ia akhirnya membawa Akash masuk ke dalam kamar dan membantu Akash berbaring di tempat tidurnya.
Ia baru meninggalkan Akash saat pria itu nampak sudah tertidur pulas.
Esta keluar dari kamar dengan sangat hati-hati. Ia terkejut saat melihat Nisa dan Giri sudah berdiri di depan kamarnya.
“Gimana, Buk? Mas Akash, baik-baik aja?” Tanya Nisa khawatir.
“Dia lagi tidur. Jangan di ganggu dulu.”
Esta mengajak Nisa dan Giri pergi ke dapur untuk makan malam. Ia terus berada di sana sampai pukul 8 malam. Ia meminta Giri untuk tetap mengawasi Akash kalau-kalau membutuhkan sesuatu. Akash sudah tertidur sekitar 3 jam-an.
Perasaan Esta tidak enak. Ia merasa luka di tubuh Akash bukan karna kecelakaan. Walaupun luka itu terlihat demikian, tapi perasaannya berkata lain.
__ADS_1
Tapi Esta tidak mau menduga-duga. Ia akan mempercayai ucapan Akash.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu gerbang di ketuk, membuat Nisa langsung beranjak untuk meliha siapa yang datang.
“Permisi, bisa saya ketemu sama Buk Esta?” Ujar wanita muda yang sedang berdiri di depan pintu gerbang.
Wanita itu memperkenalkan diri kepada Nisa. Barulah setelah itu Nisa mempersilahkan wanita itu untuk masuk. Ia mengantarkannya ketempat Esta berada.
“Buk, ada yang mau ketemu.” Ujar Nisa lirih.
Esta menatap Hera yang berdiri di belakang Nisa dengan tatapan Heran.
“Halo, Buk Esta. Ibuk kenal saya, kan? Saya Hera, sekretarisnya Pak Rai.”
“Iya, saya ingat. Ada apa ya?” Tanya Esta penasaran.
“Kondisi Pak Rai, lagi gak baik, Buk. Apa ibuk bisa ikut saya sebentar?”
“Maksudnya apa, ya?” Tanya Esta mengernyit.
“Pak Rai lagi sakit. Dan kondisinya parah tapi dia gak mau dibawa ke rumah sakit. Saya bingung harus gimana. Tolong bantu saya, Buk Esta. Kalau di biarin begini, Pak Rai bisa ma ti.”
“Memangnya Rai kenapa?”
“Pak Rai berkelahi habis-habisan dengan Pak Akash. Kondisinya parah tapi dia gak mau ke rumah sakit.” Ulang Hera.
“Apa?”
Esta melemas. Benar dugaannya kalau luka itu bukan luka akibat kecelakaan. Akash sudah membohonginya. Tapi ia mengerti alasan Akash melakukan itu.
“Tolong bantu saya, Buk. Tolong bujuk Pak Rai untuk pergi ke rumah sakit.”
“Kamu sekretarisnya. Kamu bisa bawa dia kerumah sakit sendiri. Kenapa malah kemari?”
Hera nampak terkejut dengan jawaban Esta. Ada gurat kekecewaan yang terpancar di wajahnya. Ia tidak menduga kalau Esta akan menolaknya mentah-mentah.
“Mendingan sekarang kamu balik dan bawa dia ke rumah sakit. Daripada buang-buang waktu disini.” Tegas Esta.
Setelah mendengar ucapan Esta itu, Hera membalikkan badan dengan wajah tertunduk. Ia bahkan melewati Akash yang berdiri di pintu masuk dapur begitu saja.
Esta tetap duduk di tempatnya semula. Ia hanya menundukkan wajah untuk menahan laju air matanya. Ia bahkan tidak bergeming saat Akash ikut di depannya.
__ADS_1
“Pergilah.” Lirih Akash.
“Apa?” Esta mengangkat wajah. Berusaha menatap Akash walaupun manik netranya bergetar.
“Kamu lagi mengkhawatirkan dia, kan? Pergi sana.” Perintah Akash.
“Enggak. Aku bakalan disini nungguin kamu. Kamu udah baikan?” Tanya Esta mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin membahas Rai.
“Mungkin mukanya udah hancur sama pukulanku. Aku bener-bener kalap tadi. Kemungkinan, lukanya lebih parah dari aku. Soalnya tadi aku hajar dia habis-habisa. Pergilah, Ta.”
Esta terdiam. Karna kalau ia membuka mulut, air matanya akan ikut mengalir.
“Aku tau kamu pengen nanya kejadiannya. Nanti aku ceritain detailnya. Sekarang, pergilah. Temuin dia. Aku rasa, luka hatinya jauh lebih dalam dari luka fisik akibat pukulanku. Kayaknya selama ini dia bener-bener menderita banget. Aku baru faham tadi.” Ujar Akash berbesar hati.
“Selama ini dia selalu ada buat kamu walaupun mengatasnamakan Sena. Mungkin itu caranya buat ngelindungin dan jagain kamu. Aku yakin dia juga sebenernya gak kuat ngelakuinnya. Aku tau kayak apa sifat Rai. Jadi Ta, maafin dia.”
“Kash....”
“Temuin dia, dan selesaikan urusan kalian. Terserah kalau kamu mau memutus hubungan sama dia. Tapi aku juga gak akan beratin kamu kalau kamu mau balik lagi sama dia. Kamu dan Rai, berhenti nyakitin diri sendiri. Udah tua. Malu sama umur... Hehehehehe...”
Sudah. Airmata Esta sudah tidak bisa di bendung lagi. Mengalir deras dengan sendirinya. Ia berdiri dan menghampiri Akash lalu memeluk sahabatnya itu dengan sangat erat.
“Maafin aku, Kash. Maafin aku.” Sesal Esta tentang perasaan Akash.
“Aku gak apa-apa. Aku bakalan dukung apapun keputusan kamu.” Akash membalas pelukan Esta sambil mengusap-usap punggung wanita itu.
Kali ini, Akash benar-benar rela dan ikhlas melepaskan Esta. Sekarang tinggal menunggu bagaimana keputusan Esta. Apakah dia akan memutus hubungan dengan Rai? Atau justru kembali dengan pria itu? Atau bahkan memilih lembaran baru bersama dengan Oza dan Starla?
Akash benar-benar sudah lega melepaskan seluruh perasaannya. Ia teringat kilatan rasa sakit yang ia lihat lewat tetesan airmata Rai. Seumur-umur ia tidak pernah melihat Rai meneteskan airmatanya. Bahkan saat pria itu bertengkar hebat dengan ayahnya, Rai tidak pernah menangis.
Dan Akash tau, kalau Rai sengaja tidak memukul wajahnya dan berusaha menahan diri untuk tidak melukainya lebih parah. Pria itu hanya sedikit melampiaskan rasa sakitnya saja. Itulah yang membuat hati Akash pias dan memilih jalan ini untuk kebaikan bersama. Ia akan menyerahkan semua keputusan kepada Esta dan ia akan mendukung apapun keputusannya.
...****************...
hai bestiiee...!
spesial buat hari ini aku up 6 episode sekaligus.
mau ngucapin selamat hari raya qurban yaaa.. jangan lupa bagi-bagi rendangnya nanti sama aku... sate juga boleh. dan yang lebih boleh lagi, likenya, votenya, dan komentarnya serta favoritnya..
lop yu gengs!
😘😘😘😘😘
__ADS_1