Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 69. Tidak Bisa Melupakan, Apalagi Memaafkan.


__ADS_3

“Gimana kabar Mama?” Tanya Fandi ramah kepada Salamah.


“Alhamdulillah baik.” Jawab Salamah mencoba tersenyum walaupun canggung.


Suasana berubah canggung. Di rumah itu, sama sekali tidak ada yang mengharapkan kehadiran Fandi. Terlebih saat ada Rai disana. Semua orang tau kalau akhir dari pertemuan itu adalah pertengkaran. Selau begitu. Karna saat Fandi bertemu dengan Rai, mereka tidak pernah akur. Mereka akan bertengkar mempermasalahkan apapun.


“Kenapa Mas Fandi kesini?” Tanya Pras dengan nada tidak suka.


“Gak apa-apa. Cuma mau main aja. Udah lama gak kemari.” Jawab Fandi santai. Ia bahkan menyilangkan kedua kakinya saat duduk.


Sebenarnya hubungan Fandi tidak terlalu bagus dengan keluarga mendiang istrinya itu. Hubungan itu masih berjalan sampai sekarang hanya karna ada Rai di antara mereka.


Rai melirik tajam ke arah Fandi. Ia sedikit menyalahkan Fandi atas apa yang menimpa Esta. Karna sejak Fandi datang dan bicara yang tidak-tidak, membuat Esta semakin tertekan dan akhirnya mereka sampai kehilangan bayi mereka.


“Papa dengar istrimu keguguran? Gimana kabarnya?” Fandi mulai basa-basi. Ucapannya terdengar enteng saja.


Rai tidak menjawab. Ia malas untuk menanggapi. Karna begitu dia buka mulut, mereka pasti akan bertengkar. Ia tidak ingin memulai pertengkaran sementara ada Esta di sana. Ia tidak malu dengan keluarganya, tapi ia malu kepada Esta.


“hmmpphh. Papa datang cuma mau ngucapin selamat. Papa di telfon sama kepala sekolah. Katanya kamu dapat nilai tertinggi nasional.”


Rai masih diam. Ia bahkan melengos saja. Ia sudah tau itu.


Fandi mengeluarkan sesuatu dari dalam tas jinjingnya. Sebuah amplop berwarna coklat. Ia memberikanya kepada Rai yang bahkan nampak malas menerimanya. Namun Rai tetap membukanya.


“itu adalah surat penerimaan kelulusan di Purdue University.” Ujar Fandi.


Rai terbelalak tidak percaya. Bukan karna ia lulus di universitas bergengsi itu, tapi karna Fandi sudah mendaftarkannya tanpa seijin darinya.

__ADS_1


“kenapa ayah daftarin aku kesini?”


“bukannya kamu selalu pengen kuliah disana? Dulu kamu tergila-gila dengan penerbangan.”


“kenapa papa gak minta pendapatku dulu? Kenapa langsung daftarin aku tanpa kasih tau aku dulu?” Rai merasa sangat tersinggung dengan perbuatan ayahnya.


“kok kamu malah marah? Bukannya seneng udah di urusin segala sesuatunya?”


“ya tapi kan papa bisa kasih tau aku dulu. Bukan main daftarin seenaknya aja gini.” Protes Rai.


“udah, pokoknya kamu udah lulus berkat usaha papa. Kamu tinggal berangkat kesana dan fokus sama studimu. Papa juga udah beli rumah yang gak jauh dari kampus buat tempat tinggalmu nanti.”


Fandi benar-benar tidak menggubris keberatan yang di layangkan oleh Rai. Ia hanya merasa bangga karna telah berhasil memasukkan Rai di kampus itu. Ia tida merasa bersalah karna tidak meminta pendapat Rai terlebih dahulu.


“papa selalu begini. Selalu melakukan apapun keinginan papa tanpa minta pendapatku lebih dulu. Sebenernya papa ini nganggap aku apa sih? Apa papa nganggap aku anak?”


“justru karna papa nganggap kamu ini anak, papa ngelakuin semuanya buat kamu. Supaya masa depanmu terjamin. Supaya cita-citamu terwujud. Tapi kamu gak pernah maungertiin papa. Kalau papa gak sayang sama kamu, papa biarin kamu ngelakuin semuanya sesuka hatimu sampai kamu hancur.”


“halllahhhh. Ngapain sih masih mberatin bocah itu? Masa depanmu lebih penting, Rai. Jangan bodoh hanya karna perempuan. Lagian udah gak ada lagi yang mesti kamu beratin. Anakmu udah gak ada.”


“pa!!” Rai benar-benar sudah hilang kesabaran. Ia berdiri dan langsung melotot kepada Fandi yang duduk di depannya.


Ucapan Fandi membuat Rai semakin pias. Sudah ia menyesal karna tidak bisa melindungi anaknya, kini malah Fandi mengungkit harga dirinya.


“udahlah. Ada orang sakit. Jangan bertengkar disini.  Gak enak di denger orang.” Pras menghela nafas dalam mendengar pertengkeran itu. Ia tidak membela Rai. Tapi ia juga tidak membenarkan tindakan Fandi yang sesuka hati.


“kamu gak usah ikut campur, Pras. Ini masalah aku sama anakku. Karna kamu selalu belain dia makanya dia jadi bengal begini sikapnya.” Fandi malah melampiaskan kekesalannya kepada Pras.

__ADS_1


Sontak saja Pras langsung melolot tidak terima. Niatnya ingin meleRai kok malah dia yang kena semprot juga.


“kok mas Fandi jadi nyalahin aku sih? Mas yang selalu berbuat sesuka hati.”


“diem kamu.”


“mungkin papa baru sadar saat aku bener-bener ngelepas nama prianggoro dan memutus semua hubunganku sama papa.” Ucapan Rai mengandung ancaman. Amarahnya sudah tidak bisa di kendalikan lagi. Itu semua tersirat dari wajahnya yang sudah memerah karna marah.


“kalau kamu mau ngelindungi orang yang berarti buat kamu, kamu harus bisa lebih hebat dari papa. Tapi ingat, kamu gak akan bisa mencapai apapun kalau kamu meninggalkan nama prianggoro.” Balas Fandi. Ia balik menatap tajam kepada Rai. Lalu ia berdiri dan berjalan keluar seolah tanpa beban.


Sementara orang-orang yang masih berada di ruang tamu itu, semua menundukkan kepala. Hanya Rai yang menatap kepergian sang ayah dengan kemarahan yang sudah menggunung.


Seberapapun berusaha, kenapa ia tidak bisa memaafkan ayahnya? Kenapa tidak ada satu hal saja yang membuat mereka berada di sisi yang sama? Semua serba saling membelakangi. Saling bertentangan. Tidak pernah ada kecocokan di antara ayah dan anak itu.


Padahal dulu mereka sangat dekat. Padahal dulu Rai sangat menyayangi ayahnya. Sebelum kematian sang ibu merenggut semua kebahagiannya. Dan itu semua akibat ulah ayahnya yang sampai sekarang tidak bisa di lupakan. Apalagi memaafkan.


“aku bakalan mutus hubunganku sama dia.” Lirih Rai geram.


“Rai. Jangan gegabah. Kamu tau gimana sifat keras kepala papamu.” Timpal Salamah.


“tapi nenek lihat itu tadi? Apa masih bisa dia dianggap orang tua kalau modelannya begitu? Gak cukup dia nyuruh Esta buat gugurin kandungannya? Sekarang dia pasti seneng banget dengan keadaanku yang begini. Makanya dia langsung daftarin aku seenaknya aja.”


“apa maksudmu dia nyuruh gugurin kandungan Esta?” Tanya Salamah terkejut.


Rai baru menyadari kalau selama ini ia menutup rapat masalah ini dari nenek dan omnya. Dan pada akhirnya ia mengatakannya juga.


“Dia bener nyuruh Esta buat gugurin kandungannya?” Tanya Citra yang baru kembali dari menidurkan afni. Ia terkejut juga mendengar betapa teganya Fandi melakukan itu.

__ADS_1


“Dasar biad@b. Orang tua macam apa begitu? Padahal itu cucunya sendiri lho.” Pras ikut geram. Ia memaklumi kalau Rai ingin memutus hubungan dengan Fandi. Sekarang ia mengerti alasannya dan jadi mendukungnya.


“Jangan begitu. Biar gimanapun itu papa kandungmu, Rai. Darahnya mengalir di tubuhmu. Kalian punya darah yang sama. Jangan memutuskan tali itu. Nenek gak mau kamu dosa karna memutus silaturahnmi dengan papamu sendiri. Nenek gak mau kamu kenapa-napa. Ayo kita fikirkan jalan keluarnya dengan kepala dingin.” Kebijaksanaan Salamah membuat anak, menantu dan cucunya terdiam.


__ADS_2