Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 130. Memperhatikan Diri Sendiri Sebelum Memperhatikan Orang Lain.


__ADS_3

Sudah dua minggu ini berita terkait dengan kecelakaan pesawat milik Sky Air Aviation selalu berseliweran di layar kaca. Dan sudah dua minggu pula Rai selalu pulang malam atau bahkan tidak pulang sama sekali.


Esta mengerti, ia mahami situasi sulit yang tengah membelit perusahaan Rai. Jadi ia tidak menuntut apapun kepada suaminya itu dan hanya menunggu sambil terus memberikan dukungannya agar Rai tidak merasa di abaikan.


Sudah tiga hari dua malam Rai tidak pulang. Pria itu sibuk mengurusi para korban kecelakaan. Dia tidak punya waktu untuk pulang ke rumah. Dan itu membuat Esta sedikit mengkhawatirkan kondisi suaminya itu. Bagaimana makannya? Dimana tidurnya? Bagaimana keadaannya?


Hanya Hera yang sering pulang untuk mengambilkan pakaian bosnya itu. Sedangkan Rai, ia akan melepas rindu kepada istrinya dengan melakukan panggilan video. Untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup karna ia sedang mengurusi nyawa banyak orang yang juga sangat berharga bagi keluarga mereka.


“Aku boleh ikut ke kantor ya, Ka?” Tanya Esta sambil membereskan pakaian untuk suaminya.


“Silahkan, Bu. Kalau Ibu mau.”


“Tapi aku gak ganggu dia kan ya? Soalnya kau takut ngeganggu kerjaannya.” Tanya Esta ragu.


“Pastinya gak ganggu, Bu. Bapak pasti seneng banget kalau Ibu dateng.”


“Oke. Kalau gitu tunggu bentar ya. Aku ganti baju dulu.”


“Iya, Bu.”


Tidak butuh waktu lama bagi Esta untuk mengganti pakaiannya karna ia tidak mau Hera menunggu lebih lama. Setelah itu ia membungkus nasi dan lauk-pauk untuk suaminya kemudian kembali menghampiri Hera di ruang tamu.


“Ayo.”


Hera melajukan mobilnya menuju ke gedung Sky Air Aviation. Sesekali ia melirik Esta yang sedang membuang pandangan ke luar jendela dari kaca dashboard.


“Jadi, apa kotak hitamnya belum di temukan?”


“Belum, Bu. Tim masih melakukan pencarian.”


“Jadi, gak ada yang selamat, ya.....” Lirih Esta.


Pias hatinya membayangkan perasaan Rai yang pastinya sangat terpukul dengan kejadian ini. Ia ingin melakukan sesuatu untuk menghibur suaminya itu, namun ia tidak tau harus melakukan apa.


Mobil sudah memasuki area gedung Sky Air Aviation. Hera menurunkan Esta tepat di depan lobi gedung. Esta segera turun kemudian berjalan mendahului Hera dan langsung masuk ke dalam lift.

__ADS_1


Beberapa orang nampak mengangguk sopan padanya. Ada yang tersenyum ramah juga. Saat lift sudah berhenti di lantai 9, Esta segera keluar dan berjalan ke arah ruangan suaminya.


Esta mengetuk pintu di hadapannya. Setelah terdengar suara Rai yang menyuruhnya masuk, barulah ia membuka pintu itu secara perlahan. Ia melongokkan kepalanya terlebih dahulu. Ia bisa melihat suaminya yang sedang berkutat dengan tumpukan kertas dan berkas di mejanya. Pria itu tidak melihat kepadanya karna berfikir kalau dia adalah Hera.


“Taruh di kursi aja, Ra. Abis itu kamu tolong ke ruangan humas dan minta update-an data korban terbaru.” Ujar Rai yang masih tidak mengalihkan pandangannya.


Esta pias melihat penampilan Rai yang acak-acakan. Rambutnya berantakan dan tak terurus. Lengan kemeja tersingsing begitu saja dengan wajah yang sayu dan nampak sangat lelah.


“Mas.....” Panggil Esta.


Mendengar suara wanita yang sangat dirindukannya itu, membuat Rai langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Esta.


“Sayang!!” Pekik Rai yang langsung memasang senyuman super lebar. Raut bahagia langsung muncul di wajahnya. Ia bangun dan berlari kepada Esta.


Rai langsung saja memeluk Esta dengan sekuat-kuatnya. Ia sangat merindukan istrinya. Pria itu bahkan langsung mengecupi kening dan wajah istrinya dengan membabi buta. Ia sedang meluapkan kerinduannya kepada wanita itu.


“Kok gak ngasih tau kalau mau dateng?” Tanya Rai saat ia sudah melepaskan pelukannya. Kedua tangannya mencakup wajah Esta sambil memandanginya lekat.


“Rencana dadakan. Udah makan siang?” Tanya Esta.


“Ya ampun,,, kok bisa sampai lupa makan sih, Mas? Lihat ini pipi sampai tirus begini.” Ujar Esta sambil membelai pipi suaminya. “Makan yuk, aku bawa bekal buat kamu.” Esta menarik lengan suaminya untuk duduk di sofa.


Rai nampak bersemangat melihat bekal yang di bawa oleh istrinya. Ia tidak sabar untuk melahapnya karna memang ia sedang merasa lapar.


“Maaf, ya. Cuma lauk sederhana. Soalnya gak tau kalau Hera datang.”


“Gak apa-apa, Sayang. Sesederhana apapun makanannya, kalau kamu yang masak, aku pasti suka.” Hibur Rai karna melihat Esta yang nampak merasa bersalah kepada dirinya.


Selebihnya, Esta hanya memandangi lekat wajah suaminya saat pria itu mengunyah makanan. Tiba-tiba hatinya menjadi sedih melihat penampilan Rai yang acak-acakan seperti itu.


“Kenapa ngelihatinnya begitu?”


“Kamu berantakan.”


“Ya gimana, gak ada waktu buat ngurus diri.”

__ADS_1


“Pasti berat banget buat kamu.”


“Gak begitu berat kok, Sayang. Kan dibagi bebannya sama yang lain. Bukan cuma aku yang ngerjainnya.”


“Kalau gitu, nanti malam pulang ke rumah, ya. Udah berapa malam kamu gak pulang.”


“Lihat nanti ya, sayang. Soalnya masih banyak yang harus di urus.”


“Sebelum ngurusin orang lain, urus dirimu sendiri dulu, Mas. Lihat keadaanmu sekarang. Kamu udah kayak zombie tau gak? Pulang dulu, istirahat sebentar. Biar kamu gak sakit.” Ucapan itu di sertai dengan tatapan ancaman dari Esta. Membuat Rai mau tidak mau harus menganggukkan kepalanya.


“Iya, sayang. Sore ini kita pulang.” Janji Rai.


“Aku tau kalau ini keadaan genting. Tapi aku gak mau kalau kamu sampai sakit karna gak peduli sama diri kamu sendiri, Mas.”


“Iya, sayang... Janji aku pulang setelah ini.”


Esta tersenyum kemudian melayangkan sebuah kecupan di pipi suaminya. Ia tersenyum karna Rai mengerti dengan keinginannya.


“Aku sampe lupa kalau kita belum ***-***... Hihihihihi.” Rai cekikikan sendiri sambil bergumam.


Plak!


Akibat ulahnya itu, sebuah pukulan berhasil mendarat di bahunya. Esta jadi mengernyit tajam padanya.


“Hahahahahahahaha. Gak boleh protes. Aku bisa tahan kalau gak ada kamu. Karna udah ngelihat kamu begini, aku jadi gak bisa tahan lagi. Habis kamu nanti malam, yang.”


“Habisin sesukamu.” Jawab Esta tersenyum. “Karna memang aku ini milikmu.”


Sudah, kalimat itu tidak bisa menahan Rai untuk tidak menarik tubuh istrinya kepadanya. Setelah mereka saling menempel satu sama lain, Rai membelai rambut istrinya kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kening Esta.


“Capekku jadi hilang karna ada kamu, sayang.” Bisik Rai dengan suara berat.


Selebihnya, hanya ada suara decakan dari pagu tan kedua bibir yang saling melu mat satu sama lain. Meluapkan rindu karna sudah beberapa hari tak bertemu. Melampiaskan perasaan bahagia lewat sentuhan lembut bibir yang saling beradu.


Namun situasi membahagiakan itu tidak berlangsung lama. Karna setelah itu terdengar ketukan di pintu dari Hera. Gadis itu langsung masuk setelah mendapat perintah dari Rai

__ADS_1


Hera hanya menatap bingung kenapa Rai menatap tajam kepada dirinya. Seolah ia telah melakukan kesalahan fatal yang tidak termaafkan. Tapi ia tidak merasa sudah melakukan kesalahan. Jadi mengapa Rai seperti sedang memarahinya?


__ADS_2