
Sudah dua hari Esta berada di klinik dokter hafis. Dan selama dua hari itu pula, Esta tak pernah mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Ia bahkan enggan untuk membuka mulut saat Citra atau Rai menyuapinya makan. Ia terus merenung sambil memandang keluar jendela.
Sikap diam Esta itu sangat menakutkan. Tapi mereka semua bisa memakluminya. Dia butuh waktu untuk menerima kehilangan yang sangat menyakitkan itu. Ia butuh waktu untuk memutar dunianya kembali. Dunia yang sempat terhenti karna ia kehilangan bayinya.
Dulu memang Esta tidak begitu mengharapkan kehadiran bayi itu. Dulu ia memang menerimanya sekadarnya saja. Ia tidak mengharapkan, tapi ia juga tidak ingin membuangnya. Tapi lama kelamaan, rasa sayangnya terus tumbuh terhadap bayi itu. Dan saat ia sudah menerima dengan seluruh perasaannya, ia kembali harus menelan kepahitan karna bayi itu kini meninggalkannya.
Esta sudah tidak bisa menangis lagi. Ia tidak tau harus menyalahkan siapa dalam hal ini. Yang jelas, itu semua karna ia tidak menjaganya dengan baik. Maka dia pergi darinya.
Setelah empat hari di rawat di klinik bersalin, akhirnya Esta sudah di perbolehkan untuk pulang. Kali ini Salamah bersikeras kalau mereka harus pulang ke rumahnya. Tidak boleh ke rusun.
Esta tidak mengiyakan ataupun menolak. Dia hanya terus terdiam dan tediam. Kewarasannya masih mengambang jauh entah dimana. Ia tidak peduli kemanapun mereka membawanya.
Dan sudah seminggu ini Esta terus mengurung diri di rumah. Ia tidak pernah keluar rumah sekalipun. Kegiatannya hanya makan tidur, makan tidur saja. Tidak ada yang melarangnya ataupun protes kepadanya. Baik Salamah, Citra, Pras, maupun Rai, membiarkan Esta berbuat sesuka hatinya agar keadaannya kembali seperti semula.
Namun setelah dua minggu berlalupun, Esta masih tidak banyak perubahan. Ia hanya sesekali bicara saat ada hal penting yang harus di sampaikan. Esta menjadi pribadi yang asing dan sulit di sentuh.
“Mau bakso? Aku beliin ya?” Tanya Rai pada suatu malam di dalam kamarnya. Ia duduk di samping Esta yang sedang meringkuk di dalam selimut.
Namun, seperti baisa, Esta hanya terdiam saja tanpa menanggapi.
Ada suatu ketika saat Rai tidak sabar dengan sikap diam Esta. Ia ingin marah tapi juga tidak tega melampiaskannya. Ia tau kalau perasaan Esta masih hancur. Perasaan itu akan lama menghilang. Membuat Rai sangat prustasi dan tidak tau harus bagaimana lagi. Sempat ia berfikir untuk menyerah dan membiarkan Esta semaunya.
__ADS_1
Biar bagaimanapun, Rai hanyalah remaja 19 tahun yang masih labil emosi dan pemikirannya.
Tapi untungnya, ia mendapat suport dari orang-orang terdekatnya. Terlebih dari Salamah. Itulah yang bisa menguatkan Rai dalam menghadapi Esta.
Terpukul dan hancur. Esta sudah berusaha untuk baik-baik saja. Tapi hati dan fikirannya tidak mau menurutinya. Tubuhnya masih lemas dan tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya ingin tidur, tidur, dan tidur. Karna dengan tidur, ia bisa melupakan semuanya. Walaupun saat ia membuka mata, ia akan kembali teringat dengan kemalangannya.
“Sampai kapan kamu mau begini terus, Ta?” Ucap Rai pada akhirnya. Ia benar-benar sudah tidak sabar menghadapi Esta.
Ucapan bernada agak tinggi itu berhasil menarik perhatian Esta. Ia menyingkap selimutnya dan duduk manatap kepada Rai. Ada sebuah kemarahan di sana.
“Apa kamu gak sedih kehilangan bayimu? Kok kamu bisa ya bersikap biasa aja begitu? Kok bisa-bisanya kamu gak hancur? Kok bisa kamu gak ngerasa sedih? Kamu gak sayang sama anakmu?” Esta langsung memberondong Rai dengan pertanyaan yang terdengar menyakitkan. Ia sedang menghakimi pria itu.
Bukannya membuat perasaan Esta semakin baik, rentetan kalimat itu justru membuat Esta semakin menatap marah kepada Rai. Ia mendengus dengan ritme nafas yanng naik turun. Pertanda Esta sedang menahan kemarahannya.
Esta memang tidak membantah ataupun menjawab Rai. Ia hanya kembali menenggelamkan diri di dalam selimut. Ia marah pada pria itu. Marah karna Rai bisa terlihat kuat dan tegar sedangkan ia tidak bisa walaupun sudah berusaha mati-matian. Ia iri kepada Rai karna pria itu bisa cepat mengendalikan dirinya.
Tapi seberapapun Esta marah kepada Rai, ia tetap tidak pernah membenci apalagi menyalahkan Rai atas semua yang sudah terjadi. Ia tau kalau Rai juga tidak mungkin menginginkan hal ini. Ia hanya kesal karna ia belum bisa mengendalikan kesedihannya. Ia ingin mengikhlaskan bayinya, namun entah kenapa rasanya begitu berat hingga membuat dadanya sesak.
Rai keluar dari kamar dan menghampiri keluarganya yang sedang bercengkerama di ruang keluarga.
“Hufh!” Rai menghela nafas saat duduk di sofa bersama dengan Salamah, Citra dan Pras.
__ADS_1
“Esta masih belum ada perubahan?” Tanya Citra.
Rai mengangguk. “Aku udah gak tau lagi harus gimana, Tante.”
“Yang sabar, Rai. Lama-kelamaan juga dia bakalan balik seperti semula. Kamu jangan putus asa.” Hibur Citra.
“Ini semua salahku. Aku gak mampu ngelindungi istri dan anakku sendiri.”
“Kamu juga berhenti nyalahin dirimu sendiri, Rai. Ini semua udah takdir dan gak ada satupun manusia yang bisa ngelak dari takdir.” Pras ikut menguatkan keponakannya itu.
Rai mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar merasa sudah tidak ada yang bisa dilakukannya lagi untuk menghibur Esta. Ia tidak tau apa lagi yang bisa membuat Esta kembali seperti dulu. Tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan kehilangan.
“Kamu harus memahami perasaannya, Rai. Kita semua tau gimana hancurnya perasaan Esta saat ini. Dia cuma butuh waktu buat menata perasaannya kembali. Jadi kamu juga harus sabar ngadepinnya.” Ujar Salamah.
“Tapi sampai kapan, Nek? Sampai kapan dia mau begitu terus? Ini udah hampir sebulan dan dia masih bersedih terus-terusan. Gak sayang apa sama kesehatannya sendiri?” Rai jadi mendengus kesal.
Disini membuktikan bahwa Rai benar-benar masih seorang bocah remaja biasa. Fikirannya masih pendek dan rasa simpatinya masih kurang. Walaupun terhadap Esta yang notabenenya adalah istrinya sendiri. Fikirannya masih jauh dari kata dewasa yang benar-benar dewasa.
Pras mengelus punggung kepokannya itu. Berusaha untuk memberi kekuatan. Menatap pias kepada Rai. Tertegun dengan cobaan berat yang terus datang menghampirinya bahkan umurnya belum genap dua puluh tahun. Tapi ia sudah merasakan kehilangan berkali-kali dalam hidupnya.
Namun suasana itu seketika berubah seiring kedatangan Fandi ke rumah itu. Ia masuk dengan mengucapkan salam terlebih dahulu. Kemudian mencium punggung tangan Salamah dan ikut duduk di sofa bersama dengan mereka.
__ADS_1