
“Ta? Bangun. Kita udah di panggil tuh.” Lirih Rai membangunkan Esta. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Esta untuk membangunkannya.
Esta bangun dan langsung menguap. Ia heran karna sudah tidak ada orang lagi di dalam klinik.
“Kita terakhir?” Tanya Esta.
“Iya. Udah, ayuk.” Rai memaksa Esta untuk berdiri dengan menarik tangannya. Mereka berjalan ke dalam sebuah ruangan dengan di arahkan oleh seorang perawat di sana.
“Halo, Rai...” Sapa Dokter berkaca mata yang sedang duduk dikursinya. Dokter berusia sekitar 50 an itu langsung berdiri dan menyambut kedatangan Rai dan Esta. “Duduk.” Imbuhnya.
Esta merasa sangat canggung sekali berada di dalam ruangan itu. Ia tidak berani mengangkat wajahnya tinggi-tinggi dan hanya sesekali melihat ke arah Dokter Hafis.
“Gimana kabarnya, Dok?” Tanya Rai ramah sambi menyalami Dokter Hafis.
“Baik, baik. Jadi ini istrimu. Cantik juga..” Puji Dokter Hafis. Esta hanya tersenyum samar saja mendengar pujian yang terasa seperti fitnah itu.
Rai menanggapi gurauan Dokter Hafis dengan terkekeh kecil.
“Jadi, ayo kita mulai pemeriksaannya. Esta boleh berbaring di sana.” Perintah Dokter Hafis menunjuk ke arah ranjang pasien.
Dengan di bantu oleh salah seorang perawat, Esta berbaring di ranjang. Perawat itu menutup bagian bawah Esta dengan kain yang ada disana. Kemudian menyingsingkan bajunya dan mengoleskan semacam gel di perutnya.
Dokter Hafis segera menempelkan sebuah alat ke perut Esta. Ia memperhatikan layar monitor yang ada di samping ranjang sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Kamu lihat ini?” Tanya Dokter Hafis kepada Rai yang berdiri di sampingnya. Ia menunjuk ke sebuah titik yang sebesar biji kacang polong di layar. “Imut, kan?”
Rai nampak berbinar menatapi layar itu. Ia seperti sedang tersenyum samar. Ada gurat kebahagiaan di wajahnya. Apa Esta salah lihat?
Esta menengadahkan kepalanya demi bisa melihat layar monitor. Ia tidak merasakan apa-apa di hatinya. Perasaannya biasa saja bahkan saat melihat penampakan janin di layar itu. Ia tidak bahagia seperti Rai. Bahkan Rai nampak lebih senang daripada dirinya.
“Wah, mantap ini. Semuanya sehat sekali.” Ujar Dokter Hafis tersenyum senang.
“Udah bisa lihat jenis kelaminnya belum, Dok?” Tanya Rai dengan raut wajah tidak sabar.
“Kamu ini gak sabaran banget, sih. Masa-masa ini tu lagi dalam pembentukan organ-organ tubuh seperti mata, hidung, telinga, lengan dan kaki. Jadi belum bisa lihat jenis kelaminnya. Kenapa?kamu pengen anak perempuan, atau laki-laki?”
“Hehehe. Gak, Dok. Apa aja, sedikasihnya. Yang penting sehat.” Tulus Rai.
“Nah, gitu dong. Udah jadi calon papa aja nih, Rai.” Ledek Dokter Hafis.
__ADS_1
Sementara Esta nampak tidak peduli dengan pembicaraan itu. Ia memang fokus menatap layar monitor tapi ia hanya sebatas memperhatikannya saja. Membaca tulisan-tulisan kecil yang tertera di sana.
“Udah selesai.” Ujar perawat membantu menutup kembali kaus Esta.
Dokter Hafis dan Rai kembali duduk di tempat semula. Begitu juga dengan Esta. Setelah selesai merapikan pakaiannya, ia ikut duduk di samping Rai dan terus-terusan menguap.
“Gak ada keluhan apa-apa, nih?” Tanya Dokter Hafis kepada Esta.
Esta menggeleng,
“Mual? Gak ada?”
“Enggak, Dok.”
“Makan? Lahap?”
Esta mengangguk. “Saya bisa makan semua.”
“Wah,,, anakmu pinter, Rai. Gak mau ngerepotin mamanya. Walaupun begitu, tetep hati-hati ya, jangan beraktifitas yang berlebihan. Minum-minum susu buat ibu hamil, boleh lah biar nambah sehat. Istirahat juga yang cukup.”
Menyinggung perihal istirahat, tiba-tiba Esta teringat sesuatu. “Ehm, Dok. Saya terus-terusan mengantuk. Maunya meremmmm terus. Itu kenapa, Dok? Apa memang bawaan bayi?”
Dokter Hafis tetap meresepkan vitamin untuk Esta walaupun kandungan Esta dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Ia juga merekomendasikan Esta untuk meminum susu formula sebagai asupan tambahan.
Setelah berbincang ringan sebentar, Rai pamit pulang karna sudah hampir larut. Dokter Hafis memberitahu kalau mereka harus rutin periksa setiap bulan untuk mengetahui perkembangan janin.
Saat sudah keluar dari klinik, Rai melihat ke arah minimarket yang terdapat beberapa meter di sebelah klinik. Ia memutuskan untuk mengajak Esta ke sana.
“Mau ngapain?” Tanya Esta setengah protes. Ia hanya ingin pulang lalu tidur.
“Beli susu buat kamu.” Jawab Rai.
Esta mengikuti Rai masuk ke dalam minimarket itu. Ia tetap mengekori saat Rai memilihkan susu formula untuk dirinya. Rai mengambil susu dengan harga yang paling mahal. Ia mengambil dua sekaligus.
“Kamu gak pengen apa, gitu?” Tawar Rai.
“Boleh?” Esta merasa ragu.
“Ambil semua yang kamu mau.”
__ADS_1
“Yessss.” Esta nampak sumringah mendengarnya. Ia berjingkrak dan berlari kecil menuju ke rak camilan. Ia mengambil beberapa camilan yang ia suka. Ia juga mengambil camilan yang nampak lezat dan memasukkannya ke dalam pelukannya. Setelah tangannya penuh, ia menghampiri Rai yang sudah menunggu di depan kasir.
Rai segera membayar barang-barang mereka. Esta terperangah saat melihat nominal yang harus di bayarkan oleh Rai mencapai lebih dari 600 ribu. Kenapa mahal sekali padahal mereka hanya membeli beberapa barang saja?
Setelah keluar dari minimarket, Esta segera melayangkan protesnya.
“Kenapa habis banyak?”
“Susu yang paling mahal.”
“Kenapa beli yang mahal? Yang murah aja banyak.” Dengus Esta. Ia merasa tidak masalah jika harus meminum susu dengan harga standar.
“Karna aku mau kasih yang terbaik buat anakku.”
Deg.
Ya, lagi-lagi Rai hanya mempedulikan bayinya. Esta benar-benar seperti cangkang kosong di hadapan Rai. Ia merengut tidak peduli.
Rai menggantungkan plastik belanjaan mereka di stang motor. Esta tidak menunggu Rai untuk menyuruhnya, ia langsung naik begitu Rai naik ke atas motor dan motorpun segera melaju membelah jalanan yang mulai sepi.
Rai melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata. Ia sesekali menggigil oleh terpaan angin malam karna ia hanya mengenakan kaus lengan pendek yang tipis. Esta menyadari kalau jaket Rai masih ada di badannya.
“Dingin? Ini jaketmu.” Ujar Esta dari belakang.
“Gak usah. Kamu aja yang pake. Aku gak dingin kok.” Nampak sekali kalau Rai sedang berbohong.
Karna Rai melajukan motornya dengan perlahan, membuat Esta semakin mengantuk saja. Berkali-kali helmnya merantuk helm Rai dan menimbulan suara keras.
“ta? Jangan tidur. Lagi di jalan, loh.” Rai memperingatkan. Tidak lucu kalau sampai Esta tertidur dan jatuh dari atas motor.
Merasa tidak mendapat tanggapan karna Esta masih terus terantuk ke kepalanya, membuat Rai menghentikan sepeda motornya kemudian meraba dan mencari tangan Esta dan melingkarkannya di pinggangnya. Ia menggenggam tangan Esta yang bertautan di perutnya itu dengan erat. Rai menyetir hanya menggunakan satu tangannya saja. Sulit memang, apalagi saat ia harus mengganti gigi yang mengharuskannya menekan kopling. Tapi sesulit apapun Rai tetap berusaha untuk menahan tangan Esta. Ia tidak melepaskan tangan itu bahkan sampai mereka sampai di rusun.
*******
untuk part ini piel mohon maaf kalau ada yang tidak sesuai dengan realita. soalnya piel belum pernah ngerasai hamil apalagi periksa kandungan. piel cuma baca dari berbagai sumber dan mengambil garis besarnya aja. maafkan karya yang cuma se u piel ini ya gaeesss,, kalau konfliknya terlalu jauh dari realita.
dan untuk visual, harap bersabar. lagi cari yang mendekati kehaluan u piel. soalnya belum nemu yang sesuai.
sekian dan selamat membaca...
__ADS_1