Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 11. Benteng yang Kokoh Itu, Hanyalah Sebuah Ilusi.


__ADS_3

Rai baru saja keluar dari dalam kamar mandi untuk mengganti seragam sekolahnya. Saat ia mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar, iasegera membukanya walaupun kemejanya belum terkancing semua. Alhasil langsung menampakkan dada bidangnya yang kekar dan putih bersih itu.


Ia mengernyit terkejut saat melihat Esta yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya dengan nafas yang ter engah-engah sedang meremasi jemarinya sendiri. Wajah gadis itu nampak berkeringat dan membuat rambutnya sedikit lepek. Menatap Rai dengan ekspresi takut dan penuh keraguan.


“Ada yang mau aku bicarain. Penting.” Ujar Esta sambilmenata nafasnya kembali. Ia menyibakkan rambutnya yang  tergerai menutupi sebelah matanya dan memperbaiki ikat rambutnya yang berupa karet gelang itu.


“Apa?” Tanya Rai dingin.


“Ini.” Ujar Esta sambil menyerahkan sebuah benda seperti lidi berwarna putih biru kepada Rai.


Rai segera menerimanya kemudian melihat benda itu dengan seksama.


“Kamu...” Rai terhenyak dengan sebuah test pack di tangannya.


“Ya, aku hamil.” Ujar Esta lirih. Ia masih berusaha menetralkan aliran nafasnya. “Awalnya aku fikir aku gak akan ngasih tau kamu. Tapi aku fikir lagi, kamu berhak buat tau tentang hal ini, Rai.”


Rai sudah sepenuhnya membeku di depan pintu. Ia hanya menatapi alat itu dengan tatapan pias.


“Gak usah di ambil pusing. Aku gak akan nuntut kamu buat tanggung jawab, kok. Aku cuma mau ngasih tau kamu aja karna aku fikir kamu wajib tau. Yaudah kalau gitu, aku pulang dulu. Maaf udah buat kamu kaget kayak gini.” Ujar Esta yang langsung menyambar test pack dari jemari Rai.


Dunia Rai sedang berhenti berputar. Kenyataan kalau ia memang terlahir sebagai orang brengsek kini memenuhi rongga dadanya. Sudah jelas ia tidak bisa menampik kenyataan itu.


Ia sepenuhnya sadar atas resiko yang mungkin muncul akibat perbuatannya malam itu. Namun ia tetap berharap kalau itu semua tidak akanpernah terjadi. Walaupun tidak di pungkiri, selama ini ia tetap merasa takut dan was-was.

__ADS_1


Dan kenyataan itu memang berbuah pahit untuknya. Perbuatannya malam itu benar-benar membuahkan benih di rahim Esta. Tapi kenapa gadis itu bersikap seolah semua baik-baik saja? apa dia sedang berbohong untu kmengerjainya? Rai jadi kesal sendiri memikirkannya.


Rai kembali menutup pintu dengan kesadaran yang tengah tenggelam di dasar keterpurukannya. Ia menyeret kakinya dan membaringkan diri di kasur sambil menutup matanya dengan lengan kanan.


Kini, kehancuran masa depan sedang menyambutnya dengan tangan terbuka lebar. Memutus semua impian yang ia pupuk dan pelihara hingga kini. Menenggelamkan arah cita-citanya sampai ke dasar relung yang paling dalam. Seberapapun ia mencoba untuk meraih warasnya, ia tetap gagal. Padahal ia sudah memejamkan matanya dengan erat berharap semua tidak pernah terjadi.


Namun, yang tertinggal hanyalah penyesalan.


Penyesalan akibat ia tidak bisa mengendalikan nafsunya yang seharusnya bisa ia kalahkan dengan mudah. Selama ini ia sudah membentengi nafsu itu dengan kokoh dan tidak pernah menunjukkannya. Namun dinding yang ia duga kokoh itu ternyata sangat rapuh dan tidak berdaya. Ternyata kekokohan itu hanyalah sebuah ilusi untuk meyakinkan dirinya. Itu hanyalah sebuah anggapan kosong semata.


Sekarang apa yang harus dia lakukan? Dia akan jadi pecundang atau pejuang?


Sebenarnya sederhana. Toh Esta dengan tegas tidak akan meminta pertanggung jawabannya. Kalau dia mau, dia bisa mengabaikan hal ini dan terus melangkah maju untuk meraih impiannya. Tapi, bukankah itu berarti ia adalah pria pecundang? Padahal ia mati-matian untuk tidak jadi seorang pecundang.


Seketika seluruh dunia Rai terasa hancur lebur. Ia merasa seperti sedang berhenti di tengah jalan dengan banyak kendaraan yang melaju ke arahnya dan siap menghancurkannya sampai berkeping-keping. Sudah jelas kalau ia tidak bisa bergerak apalagi menyingkir dari jalan itu. Ia terjebak disana dan ia tidak tau bagaimana cara untuk keluar.


*****


Esta menggenggam erat hasil test pack di tangannya. Sudah beberapa hari yang lalu ia tau kalau ia sedang hamil saat ia tidak mendapatkan tamu bulanannya lagi. Memang dari awal perasaan Esta sudah mengarah kesana. Dan ia sudah menyiapkan diri sepenuhnya kalau-kalau ia benar-benar hamil. Jadi saat mengetahui tentang kehamilannya, ia tidak begitu terkejut dan berusaha untuk bersikap santai saja.


Walaupun sepertinya Rai sangat terkejut dengan kehamilannya.


Esta sudah merancang masa depannya sedemikian rupa. Ia benar-benar tidak akan meminta Rai untuk bertanggung jawab padanya. Ia sudah memutuskan untuk menerima kehadiran makhluk yang kini bersemayam di dalam perut buncitnya itu dengan lapang dada. anggap saja itu adalah teman yang di kirimkan Tuhan kepadanya walaupun lewat jalur yang salah.

__ADS_1


“Aku akan tetap pertahanin kamu. Aku akan mengurusmu dengan baik sebagai penebusan kesalahanku. Aku gak akan nganggap kamu sebagai petaka, aku akan menganggap kamu sebagai hadiah yang harus kujaga dengan baik.” Lirih Esta sambil memegangi perutnya.


Ia tau kalau mulai sekarang semuanya menjadi lebih sulit daripada sebelumnya. Tapi ia tetap tidak mengharapkan pertolongan dari siapapun. Satu-satunya orang yang bisa menolongnya adalah dirinya sendiri, ia tidak akan mengandalkan orang lain.Karna memang selama ini begitulah cara hidupnya


Karna itulah Esta bersikap biasa aja. Bahkan ia tetap bekerja di lapak Pakde Karya seperti biasanya.


Seperti malam ini, Esta tetap sibuk melayani pembeli ditenda pinggir jalan itu. Sama sekali tidak ada yang berubah dari dirinya. Atau, orang-orang tidak memperhatikan itu.


“Tadi kamu di cariin loh Ta, sama Kanti.” Ujar istri Pakde Karya yang sedang merapikan tisu ke tempatnya.


“Kenapa dia nyariin, Bude?”


“Gak tau. Aku juga gak nanyak sih. Tapi emang bener kamu udah pindah dan gak tinggal sama mereka lagi?”


“Iya, Bude. Sekarang aku pindah kos di deket sekolah, biar gak kejauhan.”


“Yang hati-hati lho kalau kos sendiri. Jaman sekarang ini udah banyak kejahatan dimana-mana. Apalagi kamu perempuan, tinggal sendiri pula. Yang jelas hati-hati sama laki-laki biar siapapun itu. Jaga diri baik-baik ya, Ta.”


Tumben sekali istri Pakde Karya mau menasihatinya seperti itu. Nasihat yang sebenarnya sudah sangat terlambat untuk Esta. Padahal biasanya wanita itu tidak peduli bahkan dengan luka yang nampak di tubuh Esta.


“Iya, Bude.”


Hampir tengah malam saat Pakde Karya menutup lapaknya. Dan itu berarti ia sudah bisa pulang dan beristirahat di kos sambil mengerjakan tugas fisikanya.

__ADS_1


Kisah sepenggal malam Esta masih akan terus berlanjut. Dengan harapan apa yang sudah menjadi keputusannya adalah jalan terbaik yang tidak akan merugikan siapapun, termasuk dirinya. Tidak ada gunanya menyesali apalagi menangisi yang sudah terjadi. Yang bisa ia lakukan adalah berusaha berjalan maju dengan mengubah arah menjadi lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Ini semua cukup menjadi pembelajaran sebagai proses pendewasaan bagi Esta. Pembelajaran yang sangat bodoh tapi berharga mahal karna masa depan yang menjadi taruhannya.


__ADS_2