Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 88. Ada Yang Menarik Untuk DIperhatikan.


__ADS_3

Esta sedang berjongkok tepat di hadapan Rai yang masih mendengkur. Ia mendekap selimut dan bantal di perutnya. Menyelami setiap inci wajah tampan yang sedang memejamkan mata itu.


Wajah Rai tidak banyak berubah. Tetap tampan dengan hanya lebih terlihat dewasa. Dagu dan area kumisnya di tumbuhi bulu-bulu halus yang menambah kesan maskulin.


Rambut yang di sisir ke belakang menambah kesan keren. Berpadu dengan kemeja dan gaya berpakaiannya, ketampanan itu masih mutlak menjadi miliknya.


Ah,, wajah yang menyenangkan untuk di lihat setiap hari.


Tidak mau berlarut-larut dalam keindahan itu, Esta menghela nafas kemudian mulai membangunkan Rai perlahan.


“Rai? Angkat kepalamu sebentar. Pakai bantal biar lehermu gak sakit.” Lirih Esta.


Walaupun dengan mata terpejam, namun Rai tetap mengangkat kepalanya sedikit. Tapi itu tidak cukup untuk menyisipkan bantal di bawah kepalanya.


Dan pada akhirnya Esta terpaksa mengangkat kepala Rai dengan hati-hati untuk kemudian menyisipkan bantal di bawahnya. Aksi Esta itu membuat kepala Rai hampir menempel di dadanya. Dan Rai menyadari hal itu. Ia sengaja membiarkan Esta melakukannya dan hanya mengu lum senyum saja.


Setelah itu Esta kembali meletakkan kepala Rai pada bantal dan kemudian mulai menyelimutinya. Selesai menyelimuti pria itu, Esta kembali berjongkok di samping Rai. Ia melanjutkan memperhatikan dan memandangi wajah tampan Rai. Ia menumpu tubuhnya pada pinggiran sofa.


Bulu-bulu halus yang tumbuh di dagu pria itu menarik perhatian Esta. Hingga membuatnya tidak bisa menahan tangan untuk tidak menyentuhnya.


Perlahan tangan Esta menyentuhi bagian dagu Rai. Entah kenapa ia suka dengan bulu janggut yang masih samar itu. Setelah puas, ia kembali menarik tangannya karna takut membangunkan Rai.


Namun tiba-tiba tangan Rai bergerak cepat untuk menangkap tangannya. Pria itu membuka matanya sedikit untuk melirik Esta. Kemudian ia meletakkan telapak tangan Esta di pipinya.


“Nah. Sentuh sepuasmu.” Ujar Rai lirih kemudian melanjutkan memejamkan matanya.


Esta yang masih terhenyak dengan telapak tangan yang sudah mendarat sempurna di pipi Rai, hanya bisa menahan diri agar nafasnya kembali teratur dan degup jantungnya kembali normal. Sementara pria itu kembali melanjutkan tidurnya dengan senyum samar yang terpatri di kedua sudut bibirnya dan tangan yang masih menahan tangan Esta di pipinya.


Setelah dua menit berlalu, Esta tetap tidak bisa mengendalikan degup jantungnya. Jadi ia langsung menarik tangannya saat pegangan Rai mulai dirasakan melonggar. Ia langsung berdiri dan berjalan kembali ke meja kerjanya.


Diam-diam, Rai terkekeh kecil karna ulahnya sendiri. Ia senang menggoda Esta. Itu membuatnya bahagia. Tapi kemudian ia kembali melanjutkan tidurnya.


Rai tertidur sampai hampir jam 8 malam. Ia nyenyak sekali tidurnya. Dan Esta tetap membiarkannya tanpa mengganggunya sedikitpun. Ia berhasil menguasai keadaan dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Saat Esta kembali dari kamar mandi, ia melihat Rai yang sudah bangun dan sedang duduk di sofa. Matanya masih sayu akibat baru bangun tidur.

__ADS_1


“Kamu dari mana?” Tanya Rai dengan suara beratnya.


“Kamar mandi. Kamu udah bangun?”


“Hemmh. Aku laper.” Adu Rai. Ia menatap melas kepada Esta.


“Pulanglah, Rai. Kamu bisa makan di luar sekalian.” Usir Esta dengan halus.


“Pulang kemana?”


“Ya ke hotel. Bukannya kamu nginep di hotel?”


Gelengan kepala Rai membuat Esta terbelalak.


“Terus?”


“Aku baru sampe tadi siang dari Dubai dan langsung ke sini. Aku belum sempet pesen kamar.” Esta tau itu hanyalah alasan Rai saja. Padahal jaman sekarang kan sudah banyak aplikasi yang memudahkan untuk memesan hotel dengan cara online.


“Lagian aku gak berencana buat nginep di hotel. Aku mau tidur di rumahmu aja.”


“Gak peduli. Pokoknya kau mau nginep di tempatmu.” Kekeuh Rai juga. Ia nampak sibuk dengan ponselnya untuk memesan makanan.


Esta mendengus kesal dengan sifat keras kepala Rai yang tidak berubah. Saat pria itu ingin sesuatu dan ia harus mendapatkannya. Masalahnya, tidak ada kamar kosong lagi di mess. Semua sudah terisi oleh karyawan.


“Ada berapa orang yang kerja di sini sekarang?” Tanya Rai tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


“Semuanya ada 12, termasuk aku. Dibagi jadi dua sif.” Jawab Esta. Entah kenapa ia menjawab pertanyaan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Rai itu.


“Oke. Dua belas!” Gumam Rai pada dirinya sendiri.


Tidak lama kemudian, makanan yang di pesan oleh Rai datang. Banyaknya makanan itu membuat Esta terbelalak. Esta melongok ke dalam kantung plastik besar yang sudah tergeletak di atas meja.


“Nasi padang?”


“Ini tuh makanan yang paling aku kangenin waktu di Purdeu tau gak? Disana kan gak ada ini, jadi kadang-kadang aku minta dibuatin sama orang Dubes yang untungnya bisa masak rendang. Dan itu sedikit ngobatin kangennya aku ke kamu.” Rai menoleh kepada Esta dan tersenyum manis. Entah apa hubungannya antara nasi padang dengan Esta.

__ADS_1


“Kenapa banyak sekali?” Esta mengalihkan pembicaraan.


“Aku juga beli buat semua karyawanmu. Panggil mereka.” Perintah Rai dengan entengnya.


Walaupun mendengus, tapi Esta tetap keluar ruangannya dan memanggil Nisa.


Nisa masuk untuk mengambil nasi bungkus dengan perintah dari Esta agar membaginya kepada semua orang.


Esta, Rai, Nisa dan Giri sedang duduk bersama di ruangan Esta. Mereka berempat duduk di sofa dengan masing-masing kotak makanan yang terdapat di atas meja. Namun ada suasana canggung yang berputar di sekitar mereka.


Terlebih pandangan Giri yang terus menatap lurus kepada Rai yang duduk di samping Esta di sofa di depannya. Ia tidak peduli walaupun sudah di senggol berkali-kali oleh Nisa.


“Ayo makan.” Ajak Esta sambil membuka kotak nasinya.


“Iya, Buk.” Jawab Nisa sumringah.


Tapi tidak dengan Giri. Pria remaja itu hanya terus memperhatikan Rai dengan tatapan tajamnya sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Jelas ia sedang menunjukkan sikap tidak ramah kepada Rai.


Tapi nampaknya Rai tidak peduli dengan tatapan Giri. Ia hanya terus memindahkan separuh daging rendang dari kotaknya ke kotak Esta.


“Udah. Punyaku juga udah banyak.” Cegah Esta.


“Gak apa-apa. Biar kamu makan yang banyak. Kan kamu suka nasi padang. Hehehehe.”


“Hehehehe. Makasih.” Jawab Esta sambil menyuapkan suapan pertama ke mulutnya. Dan Rai juga kembali sibuk dengan makanannya.


“Kamu kenapa gak makan, Ri?” Tanya Esta pada akhirnya setelah melihat pria itu yang masih belum menyentuh


makanannya.


“Om ini sebenernya siapa sih, Mbak?” Tanya Giri terang-terangan.


Mendengar itu, Rai langsung mendongakkan kepala dan menatap Giri yang masih tetap pada tatapan tajamnya.


“Aku?” Ujar Rai yang kemudian malah merangkul pundak Esta dan menariknya, lalu tersenyum. “Calon suami Esta. Kenapa memangnya?”

__ADS_1


Uhuk! Uhuk! Nisa sampai tersedak mendengarnya. Ia bahkan berhenti untuk mengunyah makanannya. Menatap Esta dan Rai bergantian dengan mulut ternganga.


__ADS_2