Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 39. Tidak Ada Hasil Yang Menghianati Usaha.


__ADS_3

Rai menatap Esta yang sedang melahap sebungkus nasi padang di hadapannya dengan terheran-heran. Bagaimana gadis itu masih punya nafsu makan sebesar itu padahal mereka baru makan beberapa jam sebelumnya?


“Kenapa gak makan?” Tanya Esta sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. Makan menggunakan tangan begini adalah yang ternikmat.


Rai hanya menggeleng-gelengkan kepala saja. Lantas iapun mulai menyuapkan nasi miliknya.


“Mau nambah, gak? Ini kalau mau.” Rai menawari. Dan dengan senang hati Esta mengangguk kegirangan.


Rai memindahkan separuh nasi beserta lauknya kepada Esta. Yang langsung mulai mengunyah kembali.


“Oh iya. Kita belum buat prakarya, lho.” Kata Esta yang baru teringat.


“Iya, ya? Mau buat apa?


Esta menggeleng. “Aku gak ada ide mau buat apa.”


“Gimana kalau buat sesuatu dari koran bekas aja?” Saran Rai.


“Wih, boleh juga. Mau buat apa kira-kira?”


“Itu kita fikir nanti. Sekarang cepet habiskan makanmu. Abis ini kita belajar lagi.”


Nafsu makan Esta langsung melayang terbang ke awang-awang. Membahas pelajaran membuatnya mual. Untungnya ia masih bisa menahan diri untuk tidak memuntahkan isi perutnya.


“Kok belajar lagi sih? Besok lagi nnapa?”


“Gak bisa. Kan udah di beliin nasi padang. Jadi harus lanjut belajar nanti malam.”


Esta mengalah. Ia tidak punya cara lagi untuk melarikan diri dari Rai. Sepertinya ia harus siap-siap lagi.


Dan benar saja seperti yang di janjikan oleh Rai. Setelah hari beranjak malam, ia sudah siap menunggu Esta di atas ambal dengan setumpuk buku pelajaran fisika. Ia menunggu Esta yang sedang mandi.

__ADS_1


“Mau mulai sekarang?” Tanya Esta dengan malas. Ia sedang memikirkan cara untuk menunda pekerjaan itu. Tapi tentu saja Rai tidak membiarkan hal itu terjadi.


“Lebih cepet lebih baik. Mumpung kamu baru selesai mandi, jadi kan otakmu lagi fresh. Biar cepet masuk pelajarannya.” Tegas Rai.


“Di meja aja bisa gak? Perutku sakit kalau duduk di bawah.” Esta beralasan. Dia benar-benar malas. Bahkan hanya untuk membayangkan deretan angka dan rumus sudah membuatnya pusing setengah mati.


“Ya udah.” Akhirnya Rai mengalah dan menarik kursi plastik untuk mendekat kepada Esta yang sudah duduk di kursi meja belajar.


Rai tau, kalau ia memang sedikit memaksakan Esta untuk belajar. Sebenarnya ia juga tidak tega melakukannya. Tapi ia harus membuat Esta lulus ujian bagaimanapun caranya.


“Aku cuma mau bantu kamu supaya kamu lulus, Ta. Gak ada maksud lain. Maaf kalau caraku buat kamu gak nyaman.” Lirih Rai sambil membenahi duduknya.


“Aku tau. Kalau kamu ngelakuin ini buat bantu aku. Tapi seberapapun aku maksa buat belajar, otakku gak kuat nampung itu semua, Rai. Tapi karna kamu udah bekerja keras buat ngajarin aku, aku bakalan berusaha sekuat tenaga buat belajar. Aku janji bakalan dapet nilai baik dan lulus ujian nasional.” Esta berujar dengan mantap. Ia melayangkan sebuah senyuman yang sangat jarang ia keluarkan jika di hadapan Rai.


Rai mengangguk dan mulai membuka bukunya. Ia mulai mengajari Esta berbagai model cara menyelesaikan soal-soal dari meteri yang mereka pelajari.


Dan sesuai dengan janjinya, kali ini Esta nampak serius sekali mempelajari semuanya. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan soal pemberian Rai. Ia tidak ingin membuat Rai kecewa. Rai suadah berusaha keras, jadi ia juga harus berusaha keras untuk menghargai pria itu.


Setelah tiga kali Esta berhasil memecahkan soal sendiri, Rai merasa bangga dengan dirinya sendiri karna berhasil mengajari Esta. Terlebih, ia bangga kepada Esta. Memang, tidak ada usaha yang akan menghianati hasil. Sekeras apa usahamu, seperti itulah hasil yang akan kau dapatnya.


Lama kelamaan, Rai tidak hanya mengangguk-anggukkan kepala saja karna kebanggaannya. Kali ini, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengelus kepala Esta.


“Anak pinter. Gak sia-sia aku ngajarin kamu.” Ujar Rai sambil mengelus kepala Esta.


Rai tidak sadar kalau perbuatannya itu membuat Esta membeku dan mati kutu. Gadis itu terdiam dengan tangan bergetar. Ada perasaan aneh yang menyusup di hatinya saat Rai mengelus kepalanya. Seperti ada aliran listrik yang menyengat tubuhnya.


”Ayo, coba yang lain lagi.” Kata Rai kemudian. Kini tangannya sudah lepas dari kepala Esta.


Dengan jantung yang berdegub kencang, Esta berusaha mati-matian untuk fokus mengerjakan soal. Dan ia berhasil mengerjakan dua soal lagi.


“Yesss!!!” Jingkat Esta saat Rai memberitahu kalau jawabannya benar.

__ADS_1


Dan, kini Esta bersiap untuk mengerjakan soal ke 6. Ia menundukkan kepalanya demi membaca soal dengan lebih jelas. Namun tiba-tiba...


Tes,, tes,,


Ada sesuatu yang menetes keluar dari hidungnya. Dan itu adalah darah segar.


Untuk sesaat, Esta hanya memperhatikan saja darah yang sudah menetes di atas buku pelajarannya. Sampai beberapa tetes lagi dan ia menyeka hidung dengan punggung jari telunjuknya.


Rai tidak menyadari karna ia sibuk bermain dengan ponselnya sambil menunggu Esta menyelesaikan soal. Esta menyodorkan telunjuk yang bersimbah darah ke hadapan Rai. Dan sontak saja, pria itu langsung terkejut di buatnya.


“Esta! Kamu kenapa?” Tiba-tiba Rai terserang panik. Ia menarik tangan Esta yang ada darahnya kemudian menatap kepada gadis itu. Ia semakin terkejut saat melihat darah segar terus mengalir lewat hidung Esta. Rai segera mendongakkan kepala Esta dan meraih kotak tisu di dekat tv.


Entah, berapa lembar yang Rai tarik. Yang jelas, tisu sudah memenuhi kepalan tangannya.


Rai segera menyeka darah dari hidung Esta. Nampak sekali raut kekhawatiran dari wajahnya. Berkali-kali ia mengganti tisu padahal belum seluruhnya terkena darah. Ia benar-benar panik.


“Kita ke rumah sakit.” Ujar Rai kemudian dengan masih menengadahkan kepala Esta dengan tangannya. Sementara tangan satunya memegangi tisu di hidung Esta.


“Gak apa-apa, kok. Cuma mimisan doang.”


“Tapi sebanyak ini lho, Ta. Kita ke rumah sakit, ya.”


Lima menit kemudian, darah sudah berhenti mengalir. Tapi Rai belum berhenti panik. Ia menggerak-gerakkan wajah Esta demi bisa melihat ke kedalaman lubang hidung Esta.


“Rai, aku udah gak apa-apa. Udah berhenti darahnya.” Esta berusaha memberitahu. Ia risih dengan perlakuan Rai. Sangat tidak nyaman untuk kepalanya.


“Beneran udah berhenti?” Rai sangat tidak yakin dengan ucapan Esta. “Gak ah. Ayo kita ke rumah sakit aja. Aku gak mau anak kita kenapa-napa. ” Rai langsung berdiri dan menggenggam tangan Esta dan menariknya. Ia harus segera membawa Esta ke rumah sakit. Ia tidak ingin terjadi apa-apa kepada jabang bayinya.


“Rai...” Esta mengerem kakinya hingga membuat Rai ikut berhenti.


Rai yang sudah memegang handle pintu dan bersiap membukanya ikut berhenti dan berbalik. Ia manatap Esta masih dengan tatapan yang sama, khawatir.

__ADS_1


“Aku gak apa-apa.” Kali ini Esta menekankan kalimatnya untuk menyadarkan Rai. Dan sedang menyadarkan hatinya yang sedang berdebar sakit.


__ADS_2