
Akash benar-benar tidak peduli dengan peringatan dari Rai semalam. Karna pagi ini, ia tetap pergi ke rusun dan berangkat ke sekolah bersama-sama. Seperti hari-hari sebelumnya.
Baik Akash dan Rai mengerti kalau tingkah mereka itu hanyalah untuk menyamarkan keberadaan Esta semata. Karna tak jarang Rai juga memberi tumpangan kepada teman-temannya yang lain. Asalkan ia tidak terlihat berangkat berdua bersama Esta, itu sudah cukup. Ia khawatir orang-orang akan menggunjingi Esta.
“Rai!!!!!” Pekik suara yang sudah sangat familiar di telinga. Siapa lagi kalau bukan Kartina Maheswari.
Gadis cantik itu langsung menghampiri Rai yang bahkan baru saja turun dari mobilnya. Dengan tidak tau malu, kini Tina berani menggelayuti lengan Rai. Orang-orang yang melihat itu akan mengira kalau mereka pacaran.
“Apaan sih kamu?” Ujar Rai sambil menepis tangan Tina.
Tapi Tina tidak peduli. Ia kembali menggelayut di tempat yang sama. Ternyata ia sudah membulatkan tekad untuk maju lebih dulu untuk mendapatkan hati Rai.
Kesempatan itu di manfaatkan oleh Akash yang langsung merampas hasil prakarya yang di bawa Esta. Ia membantu membawakannya sampai di kelas. Tidak peduli walaupun ia mendapatkan lirikan tajam dari Rai. Apalagi saat Esta dan Akash berjalan beriringan sambil tertawa-tawa. Entah apa yang di tertawakan.
Hari ini, sikap Esta berubah drastis terhadap Rai. Semalam ia sudah memutuskan untuk membangun batasannya kembali. Kali ini ia akan membuat batasan yang lebih kokoh dari sebelumnya. Ia tidak bisa terus-terusan terhanyut oleh perhatian Rai yang padahal bukan ditujukan untuk dirinya.
Esta sudah membulatkan tekad untuk sebisa mungkin menghindari Rai. Berbicara seminimal mungkin dan berinteraksi saat ada hal yang penting saja. Ia harap itu akan ampuh untuk membantunya. Ia sudah memulai aksinya itu sejak tadi pagi. Esta sedang berusaha tegas kepada dirinya sendiri.
Saat di rumah tadi, Esta langsung mandi dan menyiapkan sarapan. Setelah sarapan ia langsung mengganti seragam dan membereskan prakarya mereka. Tanpa bicara sama sekali. Ia hanya menjawab ‘hemm’ dan ‘enggak’ kala Rai bertanya atau mengatakan sesuatu padanya.
Seperti saat ketika jam istirahat sudah tiba. Rai mengajak Esta untuk mengantarkan hasil prakarya mereka ke ruangan Bu Sisil.
“Kita ke ruangan Bu Sisil yuk. Nganterin ini.” Ajak Rai.
“Hmm.” Esta hanya mengangguk. Ia mengambil bagiannya dan berjalan ke meja Akash. “Kash, ke bawah yuk. Aku mau ngaterin ini” katanya kepada Akash.
Akash adalah pelarian yang sempurna.
Akash menoleh kepada Rai dengan kening berkerut. Ia merasa heran karna tidak pernah-pernahnya Esta mengajaknya lebih dulu. Tapi, ia tidak mau melewatkan kesempatan itu. Ia mengambil prakarya Esta dan menemani gadis itu ke ruangan Bu Sisil. Sementara Rai, hanya bisa berjalan di belakang merekadengan perasaan tak menentu.
Bahkan setelah mengantarkan prakarya, Esta tetap memilih untuk berjalan bersama dengan Akash.
“bentar, aku mau ke kamar mandi dulu.” Pamit Esta tiba-tiba. Ia langsung meninggalkan dua pria itu di koridor begitu saja. Sementara ia berjalan cepat menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Sepeninggalnya Esta, Akash menarik lengan Rai hingga mereka berdua menjauh dari kerumunan anak-anak.
“Dia kenapa?” Tanya Akash.
“Gak tau aku.”
“Kalian berantem?”
Rai menggeleng. “Enggak.”
“Terus kenapa sikapnya aneh gitu? Dia kayak ngehindarin kamu deh Rai.”
“Aku juga ngerasa gitu. Tapi aku gak berani buat nanya.”
Akash dan Rai sama-sama berfikir. Kira-kira apa yang membuat sikap Esta tiba-tiba berubah seperti itu.
“Ta, mau ke kantin?” Tanya Rai.
Esta menggeleng. “Enggak.”
“Kalian aja. Aku mau ke kelas lagi. Ngantuk.” Bahkan kepada Akash ia berkata lebih dari satu kata.
“Ya udah deh. Aku juga gak jadi main. Aku nemenin kamu aja.” Ujar Akash kemudian. Ia tersenyum dan mengikuti Esta yang kembali naik ke lantai 4.
Rai hanya ternganga saja dengan memendam rasa marah. Bukan marah kepada Esta, melainkan ia kesal kepada Akash yang seperti sedang memanfaatkan keadaan.
Rai mencoba untuk tidak mempedulikan sikap Esta dan Akash. Ia memilih untuk mengalihkan perhatiannya kepada permainan voli. Mungkin karna dia terlalu emosi dan mengalirkan tenaganya itu melalui pukulan-pukulan smashnya, pukulannya nampak lebih keras dari sebelumnya. Hingga tiba-tiba...
Buk!!
Dan tersungkurlah salah satu pemain akibat pukulannya. Temannya itu sampai mengeluarkan darah lewat hidungnya. Trio yang juga ikut main, segera berlari menghampiri Bima. Begitu juga dengan Rai.
Rai sangat terkejut saat bola smashnya tidak dapat di tangkis oleh Bima dan malah mengenai wajah temannya itu. Ia langsung berlari saat melihat Bima jatuh sambil meringis.
__ADS_1
“Sorry, Bim.” Ujar Rai panik melihat darah segar keluar dari hidung Bima.
“Gak apa-apa, Rai.”
“kita ke uks.” Ajak Trio.
Kemudian Trio dan Rai mengantarkan Bima pergi ke ruang UKS.
Kabar itu cepat sekali menyebar. Kabar bahwa Rai mengenai Bima hingga hidung Bima berdarah. Akash bahkan terkejut mendengarnya. Seumur-umur ia bermain bersama Rai, tidak pernah Rai sampai lengah hingga mengenai tubuh lawan mainnya.
“Aku mau ke UKS duu ya, Ta.” Pamit Akash.
Esta yang sedang memejamkan mata di atas meja hanya mengangguk saja. Ia nampak tidak peduli dengan kabar tentang Rai. Padahal dalam hatinya ia mengkhawatirkan Rai lebih dari siapapun. Ia takut Rai kena masalah.
Ia sedang mendidik hatinya untuk tidak peduli dengan apapun yang menyangkut dengan Rai. Ia sedang menumbuhkan rasa benci kepada pria itu. Segera mengusir rasa khawatir yang sempat singgah dan beralih untuk memfokuskan pendengarannya kepada sekelompok teman sekelasnya yang sedang antusias membahas perjalanan ke Jogja.
“Uuhh,,, aku gak sabar nunggu lusa..”
“Gak kerasa udah mau pergi aja. Mana aku belum packing baju-baju lagi.”
“Sama, aku juga. Pulang nanti aku mau packing-packing.”
“Satu koper cukup kali ya?”
“Banyak amat? Kita cuma tiga hari di sana.”
“Secara barang kebutuhan cewek kan banyak. Aku gak bisa tidur kalau gak bawa bantal gulingku. Bla,, bla,, bla,,”
Ah, iya. Esta lupa kalau lusa mereka sudah harus berangkat ke Jogja. Ia tidak sibuk untuk mengemas baju-baju mana yang akan ia bawa. Ia tidak bingung karna pakaiannya bisa di hitung dengan jari.
Dalam hati, sebenarnya Esta juga sangat antusias dengan perjalanan ini. Ia juga tidak sabar ingin segera menginjakkan kaki di kota romantis itu. Ini adalah pengalaman pertamanya pergi ke luar kota yang jaraknya jauh dari Jakarta. Mungkin juga menjadi pengalaman terakhirnya. Karna ia tidak tau kapan lagi ia bisa bepergian seperti ini.
Bel tanda istirahat berakhir telah berbunyi, seketika semua murid sibuk masuk ke kelas mereka masing-masing. Tidak terkecuali Rai.
__ADS_1
Pria itu hanya terus berjalan lantas duduk di kursinya. Melirik sekilas kepada Esta yang membelakanginya dengan masih merebahkan kepalanya di atas meja. Ia benar-benar penasaran apa yang membuat sikap Esta berubah seperti ini. Apa ia telah melakukan kesalahan? Tapi apa?