
Rai mengerjipkan kelopak matanya yang masih bengkak itu. Ia bisa melihat belakang kepala Esta yang sedang tertidur di pinggir ranjangnya. Senyuman samarpun semakin merekah di bibirnya. Ia takut kalau ia hanya bermimpi saja saat melihat Esta di depan matanya.
Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 3 dini hari. Ia mengelus pelan belakang kepala Esta kemudian melanjutkan tidurnya lagi.
Rai tercekat saat suasana di sekitarnya sudah terang benderang. Ia terkejut saat dua perawat masuk dan hendak mengganti cairan infus dan membersihkan lukanya.
Tidak ada Esta disana. Itulah yang membuat Rai mengedarkan pandangannya dengan bingung. Dadanya berdetak kencang dengan tiba-tiba. Ia di selimuti oleh rasa khawatir dan takut.
“Maaf, Mbak. Istriku mana ya Mbak?” Tanya Rai pada perawat.
“Istri?” Kedua perawat itu saling tatap dengan bingung.
“Oh, maksudku, apa gak ada orang lain di sini? Orang yang jagain saya?”
“Oh, kurang tau ya Pak. Soalnya kami baru masuk sif.” Jelas perawat itu.
Nampak kekecewaan dari raut wajah Rai. Ia jadi merenung bahkan saat kedua perawat itu pamit keluar dari kamarnya. Ia tidak menyangka kalau semua ini hanyalah mimpi semata.
Ia terlalu berharap dengan kehadiran Esta sampai-sampai ia terbawa mimpi. Tapi rasanya sangat nyata saat Esta meraung dan tergugu di sampingnya. Ia bahkan seperti bisa merasakan air mata Esta yang ia usap dengan tangannya. Apakah itu semua mimpi?
Ah. Rai semakin kecewa. Apalagi saat ia melihat Hera yang kemudian muncul dari balik pintu. Perasaannya kian pias.
“Bapak udah bangun? Bapak butuh apa? Biar saya ambilkan.”
“Gak usah. Aku cuma mau istirahat.” Jawab Rai yang kemudian menarik selimutnya kembali.
“Oh iya, Pak. Kayaknya saya harus kembali ke Jakarta.”
“Oke. Tolong urus dulu pekerjaanku untuk sementara waktu samapi aku pulih.” Perintah Rai. Padahal dalam hati ia kesal karna ia harus mengurus dirinya sendiri di saat sakit begini.
Ah, seandainya saja ada Esta disampingnya. Ia pasti tidak akan semenyedihkan ini.
“Baiklah kalau begitu, Pak. Bapak cepet sembuh ya. Biar cepet masuk kerja lagi.” Pesan Hera sebelum keluar dari kamar.
“Hmmm.” Rai hanya menanggapinya sekilas saja.
Pandangan Rai jauh menembus kaca jendela transparan yang terbentang di samping ranjang tempat tidurnya. Melihat gumpalan-gumpalan awan yang menggantung di langit. Nampak sempurna melukiskan perasaan Rai yang juga sedang berawan.
Rasa gerah yang perlahan timbul membuat Rai mengepakkan selimutnya dan kemudian bangun dari ranjang. Ia berdiri di dekat jendela dengan memegangi tiang infusnya untuk mendapat pemandangan yang lebih luas.
__ADS_1
Ia malas menoleh saat mendengar pintu kamarnya terbuka. Itu pastilah Hera yang lupa mengatakan sesuatu padanya. Ia juga malas mengucapkan terimakasih karna Hera sudah membawanya ke rumah sakit semalam.
“Oh? Udah bangun? Lagi ngeliatin apa sih?”
Itu bukan suara Hera. Tapi suara dari wanita yang sangat dia rindukan selama ini. Suara yang masih tersimpan di hatinya dengan sempurna.
Rai langsung berbalik dan menatap Esta dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak percaya kalau Esta benar-benar ada di hadapannya saat ini. Ini bukan mimpi kan?
“Kenapa malah bengong gitu? Kayak ngelihat hantu aja.” Ujar Esta yang masih meletakkan kantung berisi buah ke atas nakas.
Rai masih menatap tidak percaya kepada Esta yang kini sudah berdiri di hadapannya. Ia sedang mendesak kesadarannya untuk kembali. Ia tidak ingin bermimpi di siang bolong begini.
“Rai?”
Klik, klik.
Esta menjentikkan jarinya di hadapan wajah Rai untuk menyadarkan pria itu. Melihat Rai ternganga dan mematung seperti itu, membuat Esta merasa was-was.
Alam kesadaran Rai telah kembali sepenuhnya. Sekarang ia benar-benar yakin kalau apa yang ada di hadapannya adalah nyata. Yang berdiri di hadapannya itu benar-benar Esta.
Seketika Rai langsung menarik dan merengkuh tubuh Esta ke dalam pelukannya. Ia mendekap tubuh itu dengan erat.
Namun walaupun dalam keadaan babak belur seperti itu, tenaga Rai masih cukup kuat untuk menahan tubuh Esta untuk tetap berada di pelukannya.
“Ada apa sih? Lepasih.” Paksa Esta.
“Sebentar. Gini aja sebentar lagi.” Lirih Rai sambil memejamkan mata dan menggantungkan dagunya di bahu Esta. Ia terdengar menarik nafas lega. Ia bersyukur kalau ini semua bukanlah mimpi.
Esta memilih terdiam untuk beberapa saat. Sampai Rai mau melepaskan pelukannya. Ia bahkan mengusap-usap punggung Rai untuk menenangkan pria itu. Padahal ia tidak tau alasan apa yang membuat Rai nampak sangat ketakutan dan sekaligus lega saat memeluknya.
Hampir sepuluh menitan mereka dalam posisi seperti itu. Dan kaki Esta sudah mulai pegal karna Rai bertumpu pada dirinya. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Rai bersikap begini.
“Apa ada masalah?” Tanya Esta lirih. Ia tidak ingin mengganggu kesenangan Rai.
“He-em.” Jawab Rai sambil menganggukkan kepalanya pelan.
“Masalah apa?”
“Aku kira mimpi.”
__ADS_1
“Mimpi apa?” Tanya Esta yang semakin Heran.
Perlahan Rai melepaskan pelukannya dan menatap wajah Esta dengan seksama. Ia menangkup wajah Esta dengan kedua telapan tangannya.
“Aku kira semalam itu aku cuma mimpi. Aku takut banget. Aku lega rupanya itu bukan mimpi.” Jelas Rai.
Esta mengernyitkan keningnya. Berarti semalam itu Rai tidak sepenuhnya menyadari kedatangannya?
“Oi. Pipiku sakit.” Ujar Esta. Wajahnya menjadi peyot karna Rai menekan kedua pipinya sampai bibirnya maju ke depan.
Cup!
“Apa itu?!” Pekik Esta yang terkejut karna tiba-tiba Rai mengecup bibirnya.
“Hehehehe. Aku cuma mau mastiin kalau ini juga bukan mimpi.” Jawab Rai dengan santainya.
Buk!
“Apaan sih?” Protes Esta yang wajahnya sudah merona. Menatap kesal pada Rai. Seketika ia memukul dada Rai hingga membuat pria itu meringis kesakitan.
“Auh!” Pekik Rai sambil memegangi dadanya setelah melepaskan pipi Esta.
“Oh? Maaf, maaf. Sakit banget?” Tanya Esta yang mendadak khawatir.
Rai mengangguk dengan masih meringis. Itu hanya pura-pura. Kenyataannya, dadanya tidak sesakit itu.
“Mending istirahat aja sih. Ayo.” Paksa Esta dengan menuntun Rai yang masih memegangi dadanya. Ia nampak meringis padahal ia sedang tersenyum senang.
Esta membantu Rai duduk di ranjangnya. Kemudian ia menyelimuti tubuh pria itu sampai sebatas pinggang.
“Masih sakit? Tunggu disini bentar, aku mau panggil dokter.” Ujar Esta yang hendak berdiri dari kursinya.
“Udah gak sesakit tadi kok. Udah mau sembuh.” Cegah Rai.
“Mau buah? Aku bawa buah jeruk. Mau?” Tawar Esta.
Rai mengangguk. Kemudian Esta mengupaskan satu buah jeruk untuknya. Wanita itu bahkan langsung menyuapinya sampai habis.
Mendapat perhatian seperti itu, membuat hati Rai serasa mau meledak karna di penuhi oleh bunga-bunga. Senyumnya terus mengembang di bibirnya. Namun ia masih memasang ekspresi kesakitan saat Esta memperhatikannya. Sikap jahilnya kembali muncul.
__ADS_1