Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 93. Berbohong Itu Menyakitkan Walaupun Ada Alasannya.


__ADS_3

Sudah tiga malam berlalu sejak Rai memaksa untuk tetap tinggal di mess. Dan selama itu pula Esta tidak bisa berkutik. Ia sudah berkali-kali mengusir pria itu namun Rai tetap bersikeras untuk tinggal di mess. Bahkan ia sengaja membeli pakaiannya dari toko baju yang ada di sampinglaundry.


Dan alhasil, Esta yang jadi mengalah dan tidur di kamar Nisa.


Seperti hari, Rai masih setia mengekori Esta bahkan saat wanita itu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Awalnya ia bisa mengabaikan keberadaan Rai, tapi lama-kelamaan, Esta merasa jengah juga.


“Hhhhhhhh.” Helanya.


Rai mendengar helaan itu. Tapi ia memiih untuk tidak peduli dan tetap duduk manis disofa. Ia hanya melirik Esta sebentar kemudian melanjutkan bermain game di ponselnya. Ia bahkan sesekali berteriak kesal saat kalah dalam permainan.


“Rai!”


“Hem?” Jawab Rai santai.


“Emangnya kamu gak ada kerjaan, gitu?”


“Enggak.” Jawab Rai tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel.


“Kamu pengangguran?”


“Enggak.”


“Terus kenapa kamu bilang gak ada kerjaan?”


“Ya karna udah ada yang ngerjain. Dimasa-masa ini aku cuma mau fokus sama kamu aja.” Santai sekali ucapan Rai itu keluar dari mulutnya. “Aaaddduh!” Pekiknya saat ia kalah dalam permainan.


Jawaban Rai membuat Esta tidak bisa berkata-kata. Ia mendengus kesal sambil menggeleng-gelengkan kepala. Pada akhirnya Esta menghentakkan kaki sambil berdiri dari kursinya.


“Mau kemana?” Tanya Rai saat melihat Esta berjalan hendak keluar dari ruangannya.


“Awas kalau berani ngikutin.” Ancam Esta.


“Hehehehehe. Gak akan. Kamu lupa ya kalau aku punya antena yang bisa tau kemanapun kamu pergi? Aku bisa nemuin kamu dimanapun. Hahahahahah.” Seloroh Rai. Ia benar-benar tidak melepaskan pandangannya  dariponsel.

__ADS_1


Esta mencibir aneh sebelum menutup pintu ruangannya. Ia


menghela nafas kemudian berjalan menghampiri meja kerja Nisa.


“Sa, aku mau keluar bentar. Kalau ada apa-apa telfon ya?” Pinta Esta kepada Nisa.


“Iya, Buk.” Jawab Nisa. Sekilas gadis itu melirik ke arah ruangan Esta.


“Gak usah peduliin orang gila itu. Biarin aja sesukanya. Dari pada buat jengkel.”


“Sebenernya dia sampai kapan mau tinggal disini, Buk?” Akhirnya Nisa memberanikan diri bertanya. Bukan ia keberatan dengan Esta yang selalu tidur di kamarnya. Tapi ia kasihan dengan Esta yang sepertinya kurang nyaman saat tidur dengannya.


“Hhemphh...” Esta hanya tersenyum saja menjawabnya.


Ponsel Esta berbunyi saat mendapat panggilang dari tukang ojek yang ia pesan. Ia bergegas untuk keluar dari laundry dan langsung naik ke motor si abang ojek.


Hari ini, Esta sudah berjanji akan bertemu dengan Sena. Sahabat dunia mayanya itu sudah tiba di Semarang sejak semalam dan mereka berjanji akan bertemu di sebuah cafe di sekitar Kota Tua.


Esta memilih sebuah meja kosong yang ada di tengah ruangan cafe. Ia memesan segelas smoothie untuk dirinya seraya menunggu kedatangan Sena.


Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Sena. Sahabat yang selalu setia mendengarkan ceritanya.


Lima menit berlalu, dan Sena belum menampakkan batang hidungnya. Akhirnya Esta memilih untuk mengirimkan pesan kepada temannya itu.


Sena: “Lagi di jalan, tunggu bentar lagi nyampe.” Jawab Sena.


Setengah gelas smoothie sudah berhasil mendarat di lambung Esta. Ia membunuh rasa bosan dengan bermain ponsel. Melihat-lihat media sosialnya.


Esta terkejut saat tiba-tiba seorang pria yang mengenakan topi, masker, dan kacamata hitam duduk begitu saja di hadapannya. Yang lebih membuat Esta terkejut adalah, pria itu mengenakan kaus yang sama seperti yang ia pakai. Kaus yang seharusnya dipakai oleh Sena.


“Siapa kamu?” Tanya Esta heran. Ia mengerutkan keningnya heran.


Pria itu menyodorkan tangan meminta bersalaman dengan Esta. Demi rasa sopan, Esta menyambut uluran tangan itu.

__ADS_1


“Hai, Esta. Ini aku. Sena.” Ujar pria itu yang membuat Esta semakin mengernyitkan keningnya. Ia ternganga tidak percaya.


Bukankah Sena seorang wanita? Di foto profilnya Sena itu adalah seorang wanita muda yang cantik bak model ibukota. Dan suaranya juga suara wanita saat sesekali mereka bertelfon. Tapi yang ada di hadapannya itu? Seorang pria yang sedang mengaku-ngaku menjadi Sena? Siapa dia?


Esta semakin terbelalak saat perlahan pria itu melepaskan kaca mata hitam yang dikenakannya. Selanjutnya masker yang menutup wajahnya juga sudah tertanggal di atas meja. Pria itu tersenyum dengan masih memegang tangan Esta.


“Kan udah ku bilang kalau aku bakalan nemuin kamu dimanapun.” Ujar Rai dengan tersenyum.


Otak Esta sedang berhenti berputar. Ia terkejut sekaligus marah menatap penuh kebencian kepada Rai. Untung saja logikanya masih bekerja dengan baik.


“Kok bisa kamu.....” Ujar Esta lagi. Ia lupa kalau mereka masih berjabat tangan. Baru setelah teringat Esta segera  menarik tangannya.


“Ehhmm.. Aku bingung mau jelasinnya dari mana.” Ujar Rai.


“Jadi selama ini, Sena itu adalah... Kamu?”


Rai mengangguk dan tersenyum.


“Ceritakan dari awal.” Tegas Esta tanpa ekspresi. Ia sedang menahan marah karna merasa di permainkan oleh Rai. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil bersedekap.


“Ehhmm. Jadi gini.” Ujar Rai yang ikut membetulkan posisi duduknya. Ia menangkupkan kedua tangannya di atas meja, menatap lurus kepada Esta bersiap untuk bercerita.


“Sena itu sebenernya nama temen kuliah aku. Aku nyuruh dia invite pertemanan sama kamu. Aku gak nyangka kalau kamu bakalan menerimanya. Jadi ya gitu, aku mulai pura-pura jadi dia. Kalau pas nelfon kamu itu, itu Hera, sekretarisku. Aku juga yang nyuruh dia.”


Sakit hati sekali Esta mendengarnya. Sakit hati dan malu. Terlebih ia menceritakan semua permasalahannya kepada Sena, yang ternyata adalah Rai. Pantas saja pria itu selalu bersikukuh kalau Esta masih punya perasaan padanya. Ternyata Rai mengetahui semua rahasianya dengan menyamar menjadi Sena.


Sebuah rasa kemarahan mulai menggunung di dada Esta. Tiba-tiba ia menjadi benci kepada pria yang sedang menggigit bibir di depannya itu. Nampaknya Rai juga merasa sangat bersalah pada Esta.


“Aku minta maaf, Ta. Awalnya aku berfikir buat gak ngelanjutin ini semua. Tapi setelah ngelihat kamu nyaman cerita sama aku, aku jadi gak bisa berhenti lagi.”


Ada sebuah kekhawatiran yang terpancar dari raut wajah Rai. Sebenarnya ia merasa bersalah kepada Esta. Apalagi setelah melihat Esta yang hanya terdiam tanpa menanggapinya.


Dari tatapan Esta, jelas mengatakan kalau ia sangat marah kepada Rai. Ia merasa tersinggung karna Rai mempermainkannya sedemikian rupa. Padahal ia sudah nyaman untuk berbagi kisah dengan Sena. Dan ia juga malu karna ia sudah menceritakan segala macam hal kepada Sena. Itu membuat kepercayaan dirinya hancur seketika.

__ADS_1


__ADS_2