
Hari kedua di Jogja.
Rencana hari ini adalah, mengunjungi Candi Prambanan dan Candi Boko. Setelah itu berlanjut ke pantai Parang Tritis.
Sejak keluar dari hotel, Rai tidak luput memandangi bagian kepala Esta. Ia ingin tau apakah Esta memakai ikat rambut yang di berikan Akash semalam, atau tidak. Dan ia akan bernafas lega dan tersenyum saat tau kalau Esta tetap memakai ikat rambut pemberiannya.
“Rencana beli oleh-oleh apa aja, Ta?” Tanya Putri.
“Belum tau. Lihat besok.” Ujarnya.
Karna menurut rencana, besok mereka hanya akan mengunjungi Keraton dan Taman Sari. Setelah itu para murid di persilahkan untuk memburu oleh-oleh di Malioboro. Sementara malam hari, mereka akan membuat api unggun dan bermalam di pantai Siung sebelum kembali pulang ke Jakarta keesokan harinya.
Saat dalam perjalanan ke candi Prambanan, bus berhenti di sekitar Tugu yang merupakan ikon kota Jogja tersebut. Tidak ada yang turun karna saat itu kendaraan sedang ramai dan tidak memungkinkan untuk berfoto di sana. Itu akan membahayakan bagi mereka karna Tugu berada tepat di tengah jalan raya.
Tidak ada yang keberatan dengan hal itu. Dan mereka setuju untuk melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan sebagai tempat tujuan berikutnya.
Tidak ada yang istimewa di Candi Prambanan. Setidaknya itu menurut Esta. Entah kenapa hari ini ia enggan sekali untuk turun dari bus. Tapi karna di desak oleh Putri, akhirnya ia ikut turun juga.
Hari ini lebih terik dari kemarin. Esta bahkan sudah menghabiskan dua botol air mineral kecil yang ia bawa. Belum lagi, ia meminta minuman teh dingin milik Akash.
Tidak seperti teman-temannya, Esta sama sekali tidak antusias berkeliling candi. Ia merasa sangat lelah dan pusing. Padahal ia sudah menyewa payung untuk melindunginya dari teriknya matahari.
Esta berjongkok di tengah perjalanan karna lututnya melemas. Akash dan Putri yang sedang bersamanya langsung ikut berjongkok.
“Kenapa, Ta?” Tanya Putri.
“Pusing.” Ujar Esta. Ia merasa hampir pingsan dan pandangannya menjadi hitam dan berkunang-kunang.
“Kita istirahat di sana aja, yuk.” Ujar Putri.
Tidak pakai kata-kata, Akash langsung saja menggendong Esta di punggungnya dan mencari tempat teduh di bawah pohon. Ia menurunkan Esta dengan perlahan. Wajahnya nampak sangat khawatir.
Putri memberikan botol air mineral miliknya kepada Esta. Setelah menenangkan diri sejenak, pandangan Esta kembali normal dan wajahnya kembali bercahaya.
“Gimana? Udah baikan?” Tanya Akash. Ia masih khawatir.
“Udah. Udah gak apa-apa.”
“Istirahat aja dulu. Gak usah keliling lagi.” Pinta Akash.
“Put, kamu lanjut aja kelilingnya. Biar aku yang jagain Esta di sini.” Pinta Akash kepada Putri.
__ADS_1
Putri nampak ragu. Walaupun ia mengkhawatirkan kondisi Esta, tapi ia juga tidak ingin kehilangan momen jalan-jalan ini. Walaupun ia sudah sering kemari, tapi tidak bersama dengan teman-temannya.
“Ya udah. Nitip Esta ya Kash.”
Akash mengangguk. Kemudian mendudukkan diri di samping Esta sambil melihat kepergian Putri.
“Kamu pigi aja, gak apa-apa. Aku mau jalan ke bus aja.”
“Enak aja. Gak mau. Aku mau nemenin kamu.” Tegas Akash.
“Tapi kan kamu jadi gak bisa foto-foto.”
“Gak masalah. Aku bisa kesini lagi kapan-kapan.”
“Makasih, Kash. Maaf selalu ngerepotin.”
“Kamu ini bicara apa sih? Kamu gak ngerepotin kok.”
“Hehehehehe.
Putri berlari kecil untuk bergabung bersama dengan teman-temannya yang lain. Rai yang melihat kemunculan Putri langsung menghampiri gadis itu dan bertanya tentang Esta.
“Lagi istirahat disana. Dia hampir pingsan tadi...”
“Apa?!!!” Rai langsung memekik. “Dimana?” Desak Rai kepada Putri.
Sambil ternganga Putri menunjuk arah keberadaan Esta. Bahkan Rai langsung meluncur begitu saja tanpa menunggu penjelasan yang selanjutnya.
Rai terus berlari dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari Esta. Fikirannya kalang kabut jika membayangkan sesuatu terjadi kepada Esta.
Panik dan bingung. Dua perasaan itulah yang kini menguasai hati Rai. Ia terus mencari sosok Esta. Dan ia langsung menghentikan langkah saat melihat Esta yang sedang bergurau tertawa bersama dengan Akash.
Nyeri sekali hatinya melihat edegan itu. Walaupun ia juga merasa lega karan ternyata Esta tidak apa-apa.
“Ngapain Rai?” Suara Tina mengejutkan Rai.
“Oh? Enggak apa-apa.”
“Yuk kesana lagi.” Ajak Tina.
Kali ini Rai seperti kerbau yang di cucuk hidungnya. Menuruti langkah kaki Tina meninggalkan Esta dengan Akash. Walaupun tubuhnya sedang berjalan bersama dengan Tina, tapi fikirannya terus tertuju pada tawa bahagia Esta saat sedang bersama Akash.
__ADS_1
Kenapa Esta tidak bisa tertawa seperti itu saat bersama dengannya?
Rasa kesal seketika memenuhi rongga dadanya. Ia kesal, ia sebal, dan ia marah melihat kedekatan Esta dengan Akash.
“Foto yuk Rai.”Ajak Tina kemudian.
Rai tidak menolak. Ia tetap menuruti Tina yang ingin berfoto bersamanya. Bahkan dengan teman-teman yang lain juga.
Selesai berkeliling di Candi Parmbanan, rombongan melanjutkan ke Candi Boko yang jaraknya tidak jauh dari Prambanan. Disana, Esta memilih untuk tetap beristirahat di dalam bus. Dengan di temani oleh Akash tentu saja. Dan Rai juga.
Rai ikut-ikutan tetap berada di bus. Ia fikir kalaupun ia ikut turun, ia tidak bisa menikmati apapun yang ada di depannya. Karna fikirannya terus fokus kepada Esta. Ia malas saat membayangkan kalau Akash akan mengambil kesempatan untuk menyatakan cintanya lagi.
Tidak, ia tidak bisa membiarkannya. Ia harus tetap mengawasi mereka. Tanpa mengalihkan perhatian sedikitpun.
Esta dan Akash bahkan tidak menyadari keberadaan Rai yang duduk jauh di belakang mereka. Akash sibuk memperhatikan dan merawat Esta.
“Akhir-akhir ini, kamu selalu marah-marah sama Rai, kenapa sih?”
“Gak apa-apa. Kenapa?”
“Aneh aja. Gak ada alasan kok marah-marah gak jelas gitu?”
“Gak tau kenapa. Aku kesel aja tiap ngeliat dia. Males deket-deket dia. Yang dia peduliin itu cuma anak, anak, anak, dan anak. Gak ada yang lain. Gimana gak sebel coba? Dia kira aku gak bisa jaga anakku apa? Aku gak mungkin kali bahayain dia.” Dengus Esta.
Rai tetap mendengarkan dengan seksama. Hatinya mencelos bahwa selama ini ternyata Esta menanggapinya lain.
“Apa rencanamu setelah anak itu lahir?”
“Gak tau. Aku gak punya rencana. Lihat nanti aja baiknya gimana.”
“Aku bakalan nunggu kamu, Ta. Sampai kamu siap membuka hatimu buat aku.”
Benarkan yang di duga oleh Rai? Akash tidak melewatkan kesempatannya. Ia mencibiri mereka berdua dari tempatnya. Mengikuti gaya bicara Akash dengan bibir manyun.
“Nyenyenyenyenye.” Lirihnya.
“Aku gak bisa bilang apa-apa, Kash. Aku gak mau ngasih kamu harapan palsu.”
“Aku tau. Tapi aku tetep akan nunggu kamu.”
Rai masih mengikuti bicara Akash dengan bibir manyun. Sesekali ia mengejek dan mengangkat tangan seolah hendak memukul kepala Akash. Tentu saja ia melakukan itu secara sembunyi-sembunyi. Ia terlalu gengsi untuk muncul di hadapan mereka berdua.
__ADS_1