Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 89. Sekarang Tidak Ingin Menahan Diri Lagi.


__ADS_3

Esta mencoba untuk melepaskan diri dari rangkulan Rai. Tapi tangan pria itu nampak kokoh bertengger disana.


“Apa itu?! Kenapa Om bisa ngerangkul Mbak Esta begitu?!” Pekik Giri tidak terima. Ia semakin melotot kepada Rai.


“Kan udah ku bilang. Kalau aku ini calon suaminya Esta. Jadi suka-suka akulah mau ngapain.” Jawab Rai santai. Sepertinya ia sengaja untuk memanas-manasi Giri.


Namun lirikan tajam dari Esta berhasil membuat Rai melepaskan rangkulannya.


“Udah. Cepetan makan.” Tegas Esta dengan suara dingin yang terdengar menyeramkan. Dan itu berhasil membuat semua orang terdiam dan kembali melanjutkan makannya.


Selesai makan, Nisa membantu Esta untuk mengumpulkan sampah dan merapikan meja kembali. Sedangkan dua pria itu masih asyik dengan saling melemparkan tatapan tajamnya.


“Siapa nama kamu?” Tanya Rai.


“Giri.” Jawab Giri ketus.


“Kayaknya kamu masih bocah.”


“Enak aja bocah. Umurku udah 19 tahun. Dasar Om Bro.” Dengus Giri kesal.


“Apa? Kamu manggil aku apa? Combro?”


“Hah? Iya! Combro.” Ujar Giri menahan tawa. “Udah Om-Om sih. Makanya pendengarannya rada-rada...” Giri tidak melanjutkan perkataannya karna melihat Esta yang berjalan mendekat.


“Wah. Gak sopan.” Hardik Rai. “Kamu suka ya sama Esta?”


“Iya. Kenapa memangnya?” Giri jujur mengakui perasaannya.


“Gimana ya? Aku yang bakalan dapetin dia. Dia bakalan jadi istriku.” Ujar Rai sambil menjulurkan lidah mengejek. Membuat Giri memajukan tubuhnya dan mencibiri Rai dengan kesal.


“Kalian ini lagi ngapain, sih? Kayak anak kecil.” Desis Esta yang juga merasa kesal karna kelakuan Giri dan Rai.


Ke dua pria itu langsung terdiam dan kembali duduk dengan baik. Saling melemparkan pandangan ke arah lain untuk menghindari tatapan kemarahan Esta.


“Kamu beneran gak akan pergi ke hotel?” Tanya Esta beralih kepada Rai.


“Hem. Aku mau nginep di tempatmu. Lagian udah malem juga. Males banget nyari hotel.”


“Ada hotel yang gak jauh dari sini. Ayo aku anterin.” Giri menimpali. Ia tidak terima mendengar Rai yang bersikeras ingin tidur di sini.

__ADS_1


“Gak mau. Pokoknya aku mau tidur di rumahmu.”


“Tapi udah gak ada kamar lain.” Bujuk Esta.


“Gak masalah. Aku bisa tidur di kamarmu.” Jawab Rai santai.


“Apa?!!” Esta dan Giri terkejut dengan keinginan Rai. Keduanya bahkan kompak melotot kepada Rai.


“Apa? Terus aku harus gimana? Pokoknya aku gak mau ke hotel.”


Esta merasa prustasi menghadapi sikap Rai yang ke kanak-kanakan itu. Ia menghela nafas dengan alis yang berkerut.


“Yaudah. Terserah kamu aja.” Ujar Esta pada akhirnya. Membuat Giri semakin melotot tidak terima.


Selesai berdebat, akhirnya Esta mengajak Rai untuk pergi ke mess. Esta sama sekali tidak menaruh curiga kepada Rai. Padahal pria itu tidak nampak membawa barang sama sekali. Kalau menurut ceritanya ia baru kembali dari Dubai, kenapa ia tidak membawa barang-barang? Esta tidak berfikir sampai kesana. Dan Rai tetap tidak mengatakan yang sebenarnya.


“Nisa, malam ini aku tidur di kamarmu ya?” Lirih Esta kepada Nisa.


“Iya, Buk.” Jawab Nisa senang.


Kini mereka berempat sudah berhenti di depan kamar Esta.


Giri tidak terima. Ia langsung menoleh kepada Esta. “Mbak beneran mau tidur berdua sama combro ini?”


Plak! Sebuah pukulan berhasil mendarat di lengan Giri.


“Kamu ini mikirin apa sih? Ngeres banget.” Hardik Esta. “Udah sana masuk!” Perintahnya kemudian.


Tidak punya pilihan lain, Giri pergi dengan bibir manyun dan rasa dongkol di dadanya. Ia sadar kalau dia tidak punya ranah untuk ikut campur dalam kehidupan pribadi Esta. Sedangkan Nisa sudah masuk lebih dulu ke kamarnya.


Esta membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Rai untuk masuk.


“Masuk.” Ujar Esta.


Rai mengikutinya masuk ke dalam kamar. Namun Esta segera berlari untuk membereskan beberapa pakaian dalamnya yang berserak di atas tempat tidur. Dia belum sempat membereskannya karna keburu panik tadi. Ia menyembunyikan pakaian itu di balik badannya kemudian membuka lemari dan melemparkannya ke dalamnya.


Rai hanya mengu lum senyum saja. Ia sudah melihatnya tadi.


“Kenapa malu? Padahal aku udah ngelihat semua isinya.” Gumam Rai. Membuat wajah Esta semakin merona.

__ADS_1


“Ish! Udah buruan tidur. Aku tidur di kamar Nisa aja.” Ujar Esta yang ingin segera melarikan diri dari situasi memalukan itu.


Namun saat tangannya hendak meraih knop pintu, pelukan Rai menghentikan langkahnya. Pria itu tiba-tiba memeluknya dari belakang dengan sangat erat sekali.


“Gak bisa kah kamu tidur di sini aja?” Lirih Rai yang sudah menyampirkan wajahnya di pundak Esta.


“Hem. Gak bisa.”


“Kenapa? Padahal dulu kita bisa.”


“Karna itu, aku gak mau buat kesalahan yang sama kedua kalinya.” Jawab Esta. Nada suaranya terdengar dalam dan serius.


Rai melepaskan pelukannya kemudian membalikkan badan Esta untuk menghadapnya.


“Kalau gitu, ayo kita lakukan nanti dengan cara yang seharusnya. Yang bukan kesalahan.”


Esta tidak menjawab. Ia seperti mengerti maksud dari kalimat Rai itu.


“Udahlah. Cepetan tidur.” Tegas Esta kemudian keluar dari kamar itu dan pergi ke kamar Nisa yang ada di depan kamarnya.


Meninggalkan Rai dengan perasaan piasnya. Memandangi pintu sambil menghela nafas panjang.


Sekarang rasanya sulit sekali untuk membuka hati Esta. Ia ingin masuk ke dalamnya tapi ia tidak punya celah. Tapi itu bukan berarti ia harus menyerah. Ia akan mengerahkan seluruh usahanya untuk bisa masuk ke dalam hati Esta kembali. Karna selama ini ia juga selalu menjaga nama wanita itu di dalam hatinya.


Esta menghentikan langkahnya saat hampir masuk ke kamar Nisa. Tiba-tiba ia teringat dengan pena perekam yang ia buang di tempat sampah. Tiba-tiba ia khawatir, takut kalau Rai melihat pemberiannya itu sudah di buang. Rai pasti akan sangat tersinggung.


Esta segera membalikkan badan dan kembali membuka pintu kamarnya. Rai yang sedang merapikan selimut di atas tempat tidur menatap heran kepada Esta.


“Apa? Ada yang ketinggalan?” Tanya Rai.


Esta kelabakan. Ia mengedip-ngedipkan matanya sebagai tanda ia sedang bingung mencari alasan.


“Sampah. Aku lupa buang sampah.” Ujar Esta yang langsung menyambar tempat sampah kecil dari bawah meja.


“Udah, silahkan di lanjut tidurnya.” Ujar Esta kemudian sambil melayangkan senyuman dan keluar dari kamar.


Sesampainya di luar, Esta segera mengobrak abrik isi tempat sampahnya. Dan ia segera bernafas lega setelah berhasil mendapati benda itu yang ternyata masih ada disana. Ia segera mengambil dan menaruhnya di saku kemudian meletakkan tempat sampahnya di depan kamar begitu saja.


Padahal tadi ia sempat takut karna mengira Rai sudah menemukan perekam itu. Ternyata itu hanyalah sebuah kekhawatiran kosong semata. Untung saja.

__ADS_1


Sebelum masuk ke kamar Nisa, Esta sempat menoleh ke arah kamarnya lagi. Ia tersenyum simpul barulah kemudian melanjutkan langkahnya kembali.


__ADS_2