Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 116. Tak Perlu Mendendam Terhadap Rasa Sakit.


__ADS_3

Selesai makan malam dan mengobrol dengan Citra dan Pras, Esta membantu asisten rumah tangga Citra untuk mencuci piring bekas makan mereka. Kemudian Rai mengajak Esta untuk duduk di teras rumah. Namun pria itu hanya terdiam bahkan setelah mereka lama duduk di teras depan.


“Kok malah diem aja?” Tanya Esta pada akhirnya. Ia tidak tahan melihat Rai yang seperti sedang termenung memikirkan sesuatu.


“Kamu beneran mau nemin kau ke kantor polisi?” Tanya Rai tidak yakin.


“He-em.” Jawab Esta menganggukkan kepala.


“Kenapa? Bukannya kamu marah sama papaku? Aku aja masih marah sama dia. Bahkan aku masih gak ngomong sama dia sampai sekarang.”


“Marah, aku marah sama papamu. Tapi itu dulu.”


“Kamu gak dendam sama dia?”


“Kenapa harus dendam? Dendam itu gak baik buat kita, Mas. Dendam bikin kita menderita sendiri. Padahal orang yang kita dendam baik-baik aja hidupnya. Cuma kita yang kerepotan. Aku gak mau hidup begitu. Hidup cuma sekali, Mas. Dan aku mau hidup sebaik mungkin. Rasa sakit dari orang-orang yang jahatin aku dulu, aku udah ikhlas sekarang. Mereka akan dapet balasan pada waktunya yang penting aku fokus sama hidupku sendiri aja.”


Rai menatap Esta pias mendengar penjelasan itu. Tidak salah. Karna dendam akan membuat si pendendam menderita sendiri.


“Jadi, kamu juga udah harus berubah. Udah waktunya kamu maafin papamu, Mas. Kamu dan aku, kita udah sepakat buat mengubur masa lalu dan menjalani masa depan dengan sangat baik. Setelah kita nikah, aku gak mau ada masalah yang buat aku gak nyaman. Ayo kita selesaikan masalah ini sebelum kita nikah dan hidup damai sampai tua.”


Pemikiran Esta sangat dewasa. Ia sama sekali tidak mendendam terhadap penyebab rasa sakitnya di masa lalu. Ternyata ia sudah melepaskan rasa sakit itu dan hanya menyimpan kenangannya bersama dengan Rai saja. Hingga hanya ada sisa dari rasa sakit itu yang berusaha ia tekan jauh ke dalam hatinya.


Ia memang marah kepada Fandi. Terlebih Ringgo. Tapi ia tidak pernah mendendam kepada mereka. Toh sekarang hidupnya sudah baik-baik saja. Ia hanya menganggap semua itu sebagai proses pendewasaan diri.


Kalau bukan karna masalah itu, ia tidak mungkin bisa sekuat ini untuk akhirnya berkembang dan merubah kehidupannya menjadi lebih baik. Ia memilih bijak untuk menyikapi rasa sakit yang di peroleh dari dua pria itu. Karna dari rasa sakit itulah ia menjadi wanita yang kuat dan tahan banting dalam menghadapi masalah yang kemudian muncul.


Rai merengkuh tubuh Esta ke dalam pelukannya. Mengelus belakang kepala Esta dengan lembut. Ia bangga dengan pemikiran dan pendirian Esta. Membuatnya semakin yakin tentang pilihannya kepada wanita itu.


Rai melepaskan pelukannya dan menatap Esta dengan tersenyum. Ia membalai kepala Esta dengan tatapan kebahagiannya.


“Jam berapa besok acaranya Putri?”


“Jam sepuluh katanya sih.”

__ADS_1


“Kalau pagi aku gak bisa dateng. Soalnya ada banyak kerjaan di kantor.” Sesal Rai.


“Gak apa-apa. Cuman acara keluarga biasa aja sebagai pengikat. Pernikahannya bulan depan katanya.”


Rai mengangguk-angguk. “Berarti abis siang udah selesai dong acaranya? Aku jemput ya? Kita mampir ke makam nenek.”


“Oke.” Esta setuju.


“Uuhhh. Gemes bangat sih kamu, sayang. Refleks nyebar undangan kalau begini aku mah.”


“Hahahahahaha. Tanggalnya aja belum di tentuin, udah mau nyebar undangan aja.”


“Aku sih ayo aja kalau kamu bilang besok. Sekarangpun ayolah. Hahahaha.”


“Sabar. Prosesnya belum sempurna. Kali ini aku bener-bener gak mau ada kesalahan.”


“Heheheheh. Iya, sayang. Aku ngerti kok. Aku kan cuma bercanda. Soalnya gak sabar aku tuh. Udah pengen nyaplok kamu. Hup.” Rai membuat tanda mencakar dengan kedua tangannya.


“Bilang gak sabar, padahal pas pulang ke Indo yang di ajak jalan si Tina.” Singgung Esta.


“Tina sendiri yang ngasih tau aku. Kita ketemu pas acara reunian tahun baru kemarin. Disana dia cerita kalau kalian sering jalan berdua.”


“Sering apaan? Cuma sekali kok. Bocor banget mulut tuh anak.” Dengus Rai.


“Heheheh. Tapi pas tahun baru kemarin bukannya kamu udah balik ke sini ya?”


“Udah. Rencana emang mau ikut reuni, tapi rupanya ada kerjaan yang gak bisa di tinggal. Jadinya gak jadi ikut. Padahal niatnya aku mau ngasih kejutan sama kamu didepan anak-anak.”


“Tapi kamu udah berhasil kasih kejutan buat aku kok, Mas. Jantungku hapir copot malahan. Hahahahaha.”


“Berarti aku berhasil ya ngejutin kamu.”


“Ya iya. Mana pura-pura jadi pelanggan gesrek lagi. Sebel kalau inget itu.”

__ADS_1


“Hahahahahahaha. Malam ini tidur di sini aja ya?” Pinta Rai lagi.


“Gak bisa. Besok pagi harus bantuin Putri siap-siap.” Tolak Esta. “Jadi kamu masih tinggal disini? Kirain udah beli rumah sendiri. Secara kan kamu udah jadi wadir Sky Air gitu.” Ejek Esta.


“Hehehehe. Belum ada rencana buat beli rumah. Uangnya masih di tabung biar bisa bikin rumah impianmu.”


“Kok rumah impianku?”


“Ya kan kamu bakalan jadi istriku. Jadi kamu bebas mau bikin rumah yang kayak gimana. Uangnya udah aku siapin.”


“Iih,, apaan sih. So sweet banget.”


“Hehehehe. Iya dong. Ini bukti kalau tujuan masa depanku itu memang bener-bener cuma kamu. Masih kurang percaya?”


Esta menggeleng sambil terkekeh kecil. “Enggak. Aku udah percaya sekarang. Kalau gak percaya mana mungkin aku mau nikah sama kamu.”


“Hahahaha. Iya juga ya. Tapi ngomong-ngomong, Akash udah di kasih tau belum?”


Esta menggeleng. “Belum. Dia masih di luar kota soalnya. Katanya sih malam ini baru pulang. Putri maksa dia buat dateng ke acaranya besok. Rencanaku besok aja ngasih tau dia.”


“Biar aku aja yang ngasih tau dia. Soalnya kami masih ada urusan yang belum selesai.”


“Eip. Gak boleh. Nanti malah baku hantam lagi. Aku yang repot.” Tolak Esta. Ia teringat beberapa waktu yang lalu ia harus merawat dua pria karna saling melayangkan tinju. Bahkan sampai masuk ke rumah sakit segala. Sangat merepotkan.


“Anterin pulang sekarang yuk. Takut kemaleman nanti gak enak sama keluarganya Putri.” Ajak Esta kemudian mengakhiri obrolan ringan mereka.


Rai melihat jam tangannya. Ternyata sudah lewat jam sepuluh malam. Tidak terasa mereka sudah menghabiskan banyak waktu dengan mengobrol. Rai mengangguk dan mengikuti Esta masuk ke dalam rumah untuk berpamitan denganCitra dan Pras yang sedang menonton tv.


“Kok gak nginep disini aja sih, Ta?” Pinta Citra.


“Maaf banget Tante. Nanti kapan-kapan aku nginep disini. Soalnya besok ada acara penting di rumahnya temen.”


“Oh, gitu. Yaudah. Hati-hati lho Rai nganterin Esta.” Timpal Pras.

__ADS_1


“Siap, Om. Kami pergi dulu, Om.”Pamit Rai juga.


Citra dan Pras mengantarkan Esta sampai ke depan rumah. Mereka baru masuk setelah mobil Rai menghilang dibalik pagar rumah.


__ADS_2