Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 27. Bodoh Itu Tidak Memalukan.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Rai sudah berangkat untuk membeli sarapan di warteg yang tidak jauh dari rusun. Saat ia kembali, ternyata Esta sudah siap dengan seragamnya.


“Udah mau berangkat?” Tanya Rai heran.


Esta mengangguk. “Ngejer bus Trans, takut gak keburu.”


“Sarapan dulu.”


“Gak sempet.” Tolak Esta tidak peduli. Ia hanya terus memasukkan bukunya ke dalam tas kemudian membuka pintu dan hendak pergi. Namun ia segera menghentikan langkah saat tangan Rai sudah meraih lengannya.


“Jangan egois. Sarapan dulu. Tubuhmu bukan cuma punyamu aja.” Gertak Rai dengan mimik wajah tegas. Ia mengalihkan tatapannya ke perut Esta.


Esta menghela nafas. Ia mengerti apa yang di maksud Rai. Ya, kini ia tengah berbadan dua dan ia harus memperhatikan kondisi janin di perutnya. Entahlah, yang jelas Esta merasa sebal saat Rai begitu memperhatikan bayi mereka.


Walaupun enggan untuk sarapan, tapi Esta tetap memakan sarapan dan menghabiskannya. Padahal fikirannya mengatakan untuk tidak akan menghabiskan makanan itu, namun nafsu makannya ternyata jauh lebih besar dari yang ia duga.


“Lusa kita periksa ke klinik, ya.”


Esta hanya mengangguk. Ia segera membereskan bekas makanan mereka kemudian menaruhnya di bak pencuci piring. Ia kembali menyambar tasnya dari atas meja kemudian pergi begitu saja meninggalkan Rai yang hanya bisa menghela nafas saja. Namun ia segera mandi dan berangkat ke sekolah tak lama setelah Esta pergi.


Walaupun berangkat lebih cepat dari rumah, namun Esta tetap hampir terlambat juga sampai di sekolah. Bahkan Rai sudah ada di kelas saat ia sampai. Perjalanannya butuh waktu lama karna ia harus dua kali mengganti rute bis.


Esta berusaha untuk mengatur ritme nafasnya saat ia sudah masuk ke dalam kelas. Ia melihat Rai yang juga melihat ke arahnya dan hendak menyapa pria itu. Namun Esta mengurungkan niatnya saat Rai hanya melihat acuh padanya sekilas dan sibuk dengan bukunya kembali.


Sebelum jam pelajaran pertama di mulai, Pak Jamil masuk dengan mendekap lembaran kertas kemudian menaruhnya di atas meja guru. Itu adalah lembaran jawaban soal latihan kemarin yang sudah di periksa.


Pak Jamil meminta ketua kelas untuk membagikan lembaran jawaban kepada siswa lainnya sementara ia sibuk menyiapkan sesuatu di meja.


“Kalian udah lihat, kan? Betapa rendahnya usaha kalian buat ngerjain soal kemarin. Esta?!” Panggil pak jamil dengan melihat ke arah Esta.

__ADS_1


“Iya, Pak?”


“Kamu lihat nilai kamu?”


Esta mengangguk dengan mimik wajah malu.


“Dengan nilai begitu kamu gak bakalan lulus ujian. Kamu ini kok gak ada perubahan sih? Padahal Bapak udah bantu kamu duduk sama Rai supaya kamu bisa belajar dari dia.”


Esta tidak berani menjawab. Yang jelas ia merasa sangat malu di marahi di kelas seperti itu. Ia terus menundukkan wajahnya sambil menggigit bibir bawahnya.


“Belajar dari Rai. Minta dia buat ngajarin kamu supaya nilai kamu naik. Kalau gini terus kamu yang rugi. Bisa-bisa kamu gak lulus nanti. Kali ini, nilaimu yang paling rendah. Jangan malas buat belajar dong. Masak gak ada perubahan sama sekali.” Pak Jamil terus menginterupsi Esta yang wajahnya sudah memerah. Malu sekali rasanya harus di marahi di depan umum seperti itu.


“Nanti saya yang ajarin, Pak.” Ujar Rai tiba-tiba. Ia melirik tangan Esta yang sudah saling mencengkeram di bawah meja. Ia tau kalau Esta pasti sedang malu saat ini.


“Oke, tolong ajarin dia ya Rai.”


“Iya, Pak.”


Yang Esta heran adalah, kalau di rumah Rai begitu memperhatikannya. Tapi kenapa saat di sekolah pria itu selalu acuh seperti sebelum menikah?


Esta menghela nafas sambil tidur di atas meja dengan berbantalkan lengannya. Ia terkejut saat melihat sebuah kotak jus mendarat di hadapannya. Ia bangun dan melihat Akash yang sedang tersenyum padanya.


“Semangat, Ta. Manfaatin Rai selagi dia duduk dekat kamu. Kesempatan nih.” Seloroh Akash.


“Makasih...”


“Kamu gak keluar?”


Esta menggeleng dengan tidak semangat.

__ADS_1


“Tapi kamu ikut kan, ke Jogja?” Tanya Akash kemudian duduk di bangku sebelah.


“Belum tau, nih. Uangku belum ke kumpul.”


“Ikut aja, Ta. Kita terakhir lho kayak gini. Nanti di bantu sama temen-temen yang lain.”


“Mudah-mudahan aku bisa ikut.” Jawab Esta. Kali ini optimis karna ia teringat kalau Rai akan membayari ongkos perjalanannya.


“Nah, gitu dong. Yang semangat. Ke bawah yuk, bentar lagi pelajaran olahraga. Bu Murni gak datang dan kita di suruh buat olahraga sendiri. Temen-temen sepakat buat main voli aja katanya.”


Esta mengangguk. Ia merogoh pakaian olahraganya dari dalam laci kemudian keluar kelas bersama dengan Akash yang juga membawa pakaian olahraganya sendiri.


Trio yang merupakan ketua kelas, bertindak sebagai juru koordinir bagi teman-teman kelasnya. Ia membagi para gadis menjadi dua grup yang akan di tandingkan. Sementara para pria hanya akan mengajari mereka bagaimana tekhnik yang terbaik untuk menang. Bisa di sebut para pria hanya akan menjadi ‘manajer’ tim dengan menyusun strategi. Tim yang kalah, harus mentraktrir tim yang menang makan di kantin sekolah.


“tim1, Tina, Desi, Nana, Suci, Keela, Brigita, Fitri, Resti, Nadya. Kalian sama aku, Stevan dan yang lain.”


“Tim 2, Navya, Zinniya, Esta, Arin, Tria, Mia, Retno, Sabila. Kalian sama Rai, Akash, dan yang lain.”


Tim 1 terdengar kecewa saat mereka tidak berada dalam satu tim bersama dengan Rai. Tapi sebaliknya, tim 2 bersorak kegirangan setelah mendengar mereka satu tim dengan Rai. Kecuali Esta yang nampak bersikap biasa saja dan tidak antusias.


Babak pertama di mulai dan masing-masing tim sedang mendengarkan pengarahan dari kelompok pria yang mendampingi mereka. Esta tidak begitu memperhatikan karna sebenarnya dia malas untuk bermain.


“Esta, kamu bisa jadi cadangan dan nunggu giliran aja. Kamu gak main juga gak apa-apa.” Ujar Rai ketus.


“Kok gitu? Esta juga pengen main, kali Rai. Gak adil kalau gitu.” Protes Akash.


Bukan apa, Rai hanya tidak mau terjadi sesuatu kepada Esta karna ia sedang mengandung. Namun alasan dari Akash juga masuk akal mengingat mereka tidak tau keadaan Esta yang sebenarnya.


“Gak apa-apa. Aku ikut.”

__ADS_1


Rai nampak protes melalui tatapan tajamnya namun Esta tidak menanggapinya. Gadis itu kekeuh dengan kemauannya membuat Rai hanya bisa menghela nafas kasar. Bahkan Esta tidak mengerti kalau Rai sedang mengkhawatirkan keadaannya dan tidak mau terjadi apa-apa padanya. Karna ini olahraga yang lumayan berat dan itu bisa membahayakan bayi yang ada di perut Esta.


__ADS_2