Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 112. Seburuk Apapun Hubungannya, Hatinya Tetap Mencelos.


__ADS_3

Nafsu makan Esta sudah menghilang entah kemana. Akibat rasa malu yang masih belum bisa menyingkir dari wajahnya.


“Jadi mau makan dimana, Ta?” Tanya Rai saat melihat Esta yang tidak bersuara sedikitpun.


“Aku udah gak laper. Terserah kamu mau makan dimana. Aku ngikut.”


“Eh, kok manggilnya kamu lagi. Panggilan sayang dong... Mas..” Protes Rai.


Sebenarnya Esta merasa sangat enggan memanggil Rai dengan sebutan Mas. Geli sekali rasanya. Tapi ya sudahlah, demi menyenangkan pria itu. Tidak apa-apa.


“Iya, Mas Rai sayang...”


“Hahahahaha. Uuuh. Gemes banget sih kamu.”


Sedang asyik mengacak-acak puncak kepala Esta, Rai mendapat telfon dari Hera, sekretarisnya. Lantas iapaun langsung menepikan mobilnya untuk menerima telfon itu.


Rai kemudian mengangkat telfon itu dan mendengarkannya dengan seksama. Wajahnya berubah serius sekali. Keningnya bahkan sampai berkerut. Entah apa yang di kabarkan oleh Hera, tapi yang jelas, raut wajah Rai berubah masam.


“Pesen tiket secepetnya.” Perintah Rai kepada Hera.


Selesai bicara dengan Hera, Rai segera menutup ponselnya dan memandang kosong ke arah jalan raya.


“Kenapa, Mas?”  Tanya Esta penasaran. Ia khawatir melihat ekspresi wajah Rai.


Rai tidak menjawab. Ia hanya kembali membuka ponselnya dan mencari sebuah berita di mesin pencari. Membaca berita itu membuat keningnya bertambah mengerut.


“Mas?” Esta memegang pundak Rai.


Perlahan Rai menunjukkan portal berita yang sedang ia baca kepada Esta. Dan Esta segera menerima ponsel itu. Ia membaca beritanya dengan seksama.


Esta juga nampak terkejut saat membaca berita itu.


‘MANTAN ARTIS TERKENAL, AFANDI PRIANGGORO, DITANGKAP!’


Begitulah judul berita yang bertuliskan dengan huruf kapital di bagian atas portal.


Esta terus membaca. Ia nampak semakin terkejut saat mengetahui penyebab tertangkapnya Fandi. Yaitu penyalah gunaan narkotika.


‘Sore tadi, mantan artis terkenal dan sekaligus pimpinan perusahaan FD Corp, Afandi Prianggoro di tangkap di sebuah hotel bersama dengan beberapa teman bisnisnya yang sedang mengadakan pesta sabu. Polisi mengamankan beberapa alat bukti berupa 0.3 gram sabu, beserta alat hisapnya. Dan juga beberapa bungkus sabu yang sudah kosong. Setelah di lakukan tes, Fandi di nyatakan positif mengkonsumsi barang haram tersebut dan langsung di gelandang oleh Satnarkoba Polres Jakarta Selatan.’


Begitulah penggalan kalimat dari berita tersebut. Sontak Esta langsung menoleh kepada Rai yang nampaknya masih berfikir. Pria itu sedang melamun.


“Mas,,, kamu gak apa-apa?”

__ADS_1


“Kayaknya aku harus balik ke Jakarta deh, Ta. Gak apa-apa ya kalau aku tinggal sebentar aja?”


Esta mengangguk. Ia mendekatkan diri kepada Rai dan memeluk pria itu.


Walaupun hubungan Rai dengan ayahnya masih belum sepenuhnya membaik, tapi tetap saja, yang namanya orang tua terlibat masalah, hati Rai tetap mencelos. Ia merasa terpanggil untuk pulang dan mengurusi keadaan.


Terlebih perusahaan ayahnya sedang kacau dan pasti membutuhkan kehadiran dirinya.


“Insha Allah aku besok lusa nyusul, sekalian ke acara pertunangan Putri. Aku pergi sama Mas Oza, Starla, dan adiknya Mas Oza, Leka.” Jelas Esta kemudian.


“Ya udah. Kalau udah sampe hubungi aku ya.” Pesan Rai.


Esta mengangguk meyakinkan. Dan akhirnya Rai mengantarkan Esta pulang ke rumahnya.


“Hati-hati dijalan. Kabari aku kalau udah sampe.” Ujar Esta saat mereka sudah sampai di depan mess.


Rai mengangguk. Ia merengkuh tubuh Esta ke dalam pelukannya. Memeluk wanita itu dengan erat dan lama. Mengalirkan rasa tidak rela akan perpisahan sementara itu.


“Nanti kalau udah sampe aku telfon.” Janji Rai dengan masih memeluk Esta.


“Yaudah, cepetan sana.” Esta mengelus punggung Rai.


Nampak raut wajah tidak rela dari Rai. Ia sangat tidak ingin berpisah dengan Esta walaupun sebentar saja. Tapi ia tau kalau dia harus tetap pergi.


Rai mengemudikan mobil menuju ke hotel. Disana, Hera sudah menunggunya dan sedang membereskan barang-barangnya. Sekretarisnya itu sangat cekatan. Sehingga Rai selalu puas dengan pekerjaannya.


“Saya sudah pesan tiket, Pak.” Hera memberitahu.


“Oke.”


“Barang-barang bapak juga sudah selesai saya kemas. Kita berangkat sekarang, Pak?”


“Iya.” Jawab Rai. Ia menyambar hoodienya dari atas ranjang kemudian memakainya sambil berjalan.


Sementara menunggu Hera yang sedang mengurus kepulangan mereka, Rai menunggu di dalam mobil dengan sopir hotel yang sudah siap di balik kemudi. Mobil segera melaju menuju bandara begitu Hera masuk dan duduk di kursi depan.


Rai sedang duduk di ruang tunggu bandara setelah check in. Mengunyak permen gummy rasa jeruk kesukaannya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Sambil menunggu jadwal keberangkatan, Rai menelfon Esta. Baru beberapa menit dan dia sudah sangat merindukan wanita itu.


“Lagi ngapain?” Tanya Rai.


“Lagi siap-siap mau tidur. Take off jam berapa?” Tanya Esta dari seberang.


“Lima belas menit lagi.” Jawab Rai sambil melihat jam tangannya. “Ta??”

__ADS_1


“Hem?”


“Aku udah kangen ini, gimana?”


“Ya ampun. Kasihan. Yang sabar ya Mas... Hehehehehe.”


“Kok kamu gitu?”


“Ya terus mau gimana?”


“Pengen pelukkk..” Bisik Rai pada ponselnya.


“Tadi kan udah.”


“Belum puas.”


“Hahahahaha. Ya udah peluk aja hapenya itu.” Goda Esta.


“Aaaahhhhh. Aku kangen,, Esta...” Rengek Rai. Tidak peduli kalau Hera sedang memperhatikan dirinya dengan menahan senyum.


Hera mengernyit menatap Rai yang sedang bertelfon di hadapannya. Sikap wibawanya sedang terbang entah kemana. Menyisakan sikap kekanak-kanakan yang sedang merengek kepada kekasihnya. Sangat berbeda dengan Rai yang selama ini ia kenal.


Hera baru tau, ternyata jatuh cinta mampu membuat seorang Rai Kenandra, bos yang senantiasa tegas kalau masalah pekerjaan, menjadi meleyot tidak berdaya di hadapan kekasihnya. Bikin geli saja.


“Pak, udah waktunya berangkat.” Hera mengingatkan.


Dari pengeras suara, terdengar panggilan untuk penumpang pesawat yang akan menuju ke Jakarta agar segera menuju ke bagian pintu keluar. Berat hati Rai mendengar panggilan itu.


“Sayang, udah dulu ya. Pesawatnya udah mau berangkat.” Pamit Rai tidak rela.


“Hmm. Hati-hati, Mas. Jangan lupa kasih kabar.”


“Iya, sayang. Da da...”


Dan Rai terpaksa mengakhiri panggilan itu dengan wajah tidak rela. Melirik sekilas ke arah Hera yang sibuk mengatur barangnya ke bagasi kabin. Setelah itu Herapun kembali duduk di kursinya.


Di kelas pertama itu, tidak banyak penumpangnya. Mungkin karna sudah malam juga sehingga hanya ada beberapa orang yang duduk di kursinya masing-masing.


“Jadi dia di Polres sekarang?” Tanya Rai kepada Hera. Yang dimaksud adalah Fandi.


“Iya, Pak. Tadi sekretarisnya udah menghubungi saya. Katanya udah di dampingi sama pengacaranya juga.” Jelas Hera.


“Huffhhhh...” Rai menghela nafas dalam. Tidak menyangka kalau ayahnya akan terlibat kasus semacam ini. Entah apa kekurangannya sehingga dia melarikan diri ke obat-obatan terlarang semacam itu.

__ADS_1


Rai merasa sedikit marah. Saat ini, Fandi sudah menghancurkan nama baik yang selama ini selalu di gaungkan oleh pria itu. Dia menghancurkan nama baik yang sudah dijaganya mati-matian itu dengan tangannya sendiri.


__ADS_2