
Satu hari menjelang ujian nasional.
Esta sedang sibuk membereskan rumah sementara Rai sudah pergi. Pria itu bilang ingin berkumpul bersama dengan teman-temannya.
Setelah menyapu, mencuci piring, mencuci baju, dan mengepel lantai. Setelah itu, ia membuka buku pelajaran dan mulai belajar. Ia sedang mempersiapkan diri untuk ujian besok.
Esta membiarkan pintu depan rumahnya terbuka agar sirkulasi udara bebas masuk. Ia bisa mendengar beberapa tetangganya yang sedang mengomeli anak-anak mereka.
Kebisingan itu membuat Esta tidak fokus untuk belajar. Jadi ia memutuskan untuk keluar saja. Ternyata di sana ia juga melihat Mpok Nur yang juga sedang mengomeli sebuah baju. Di tangannya Mpok Nur membawa sebuah kemeja berwarna putih.
Esta tersenyum geli lantas menghampiri Mpok Nur.
“Kenapa Mpok pagi-pagi udah ngomel aja?” Tanya Esta.
“Gimana gak ngomel, Ta? Ini baju udah ketumpahan apa ini gak bisa di bersihin lagi. Mana gak punya pemutih lagi. Padahal mau di pake besok.” Ucap Mpok Nur menunjukkan kemeja yang ia bawa.
“Coba sini aku lihat, Mpok.” Pinta Esta.
Mpok Nur memberikan kemeja itu kepada Esta yang lantas meneliti nodanya.
“Gak usah pake pemutih, Mpok. Cepet rusak kainnya. Sebentar ya, biar aku bantu bersihkan.” Ujar Esta dengan membawa kemeja itu ke rumahnya.
Mpok Nur mengikuti Esta masuk ke dalam rumah. Ia menunggui dan memperhatikan Esta yang sedang membersihkan bajunya.
“Ta?”
“Apa, Mpok?”
“Mpok mau tanya, tapi kamu jangan tersinggung ya?” Mpok Nur berkata dengan hati-hati.
“Ngomong aja, Mpok. Apa?”
“Kamu sama Rai, bukan adek kakak kan? Rai itu bukan abangmu, kan?”
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Esta menghentikan kegiatannya sebentar. Ia terkejut dengan pertanyaan mbok Nur. Namun ia segera melanjutkan mencucinya dan berusaha untuk tidak menggubris pertanyaan Mpok Nur.
“Mpok ini bicara apa, sih?”
“Gak usah malu. Semua orang disini bilang kalau kalian bukan adek kakak. Tapi suami istri, bener gitu? Kalian udah nikah?”
Esta terdiam. Ada sayatan di hatinya lewat ucapan Mpok Nur yang terasa perih.
“Gak apa-apa. Mpok sih gak ambil pusing. Memangnya kenapa kalau kalian udah nikah? Gak ada ruginya juga buat Mpok. Tapi Mpok gerem banget denger omongan orang-orang tentang kalian. Padahal kalian kan baik, gak pernah ganggu mereka.”
Esta masih tetap melanjutkan mencucinya. Kali ini ia membilas kemeja itu.
“Kalau mau cerita, cerita aja sama Mpok, gak apa-apa. Mpok bisa jaga mulut.” Ujar Mpok Nur. Dari tutur katanya, ia seperti sangat ingin tau tentang hubungan Rai dan Esta. Apa benar mereka sudah menikah?
“Ada yang bilang kalau kamu udah hamil, makanya masih sekolah udah nikah.” Lirih Mpok Nur lagi. Ia melamun menerawang ke arah bak pencuci yang beriak.
Lama-lama, Esta tidak tahan juga mendengar Mpok Nur yang terus mendesaknya. Baru saja ia hendak menyangkalnya, tapi ia melihat Mpok Nur sedang terisak. Melihat Esta menoleh, wanita itu langsung mengusap airmatanya dengan tangan.
“Mpok kenapa? Kok nangis?”
Disitu Esta menjadi trenyuh mendengar kisah Mpok Nur. Ia tidak tau kalau Mpok Nur sudah selama itu menikah dan belum mempunyai anak. Ia tidak tau bagaimana cara untuk menghibur Mpok Nur. Sedangkan keadaannya saja sudah menyedihkan seperti itu.
Ternyata, dibanding dengan permasalahanya, permasalahan Mpok Nur juga tidak kalah pelik. Masalah yang berbeda tapi dengan sakit yang sama. Dan itu semua sama-sama terjadi karna campur tangan takdir.
“Udah berapa bulan, Ta?” Tanya Mpok Nur setelah berhasil menenangkan tangisnya.
“Udah hampir dua bulanan, Mpok.”
“Pantes aja perutmu masih rata. Mpok ikut seneng dengernya.”
“Maka sih, Mpok.”
“Jangan dengerin omongan orang di luar sana. Biarin aja mereka mau ngegosip kek, mau julid kek. Gak usah di dengerin. Tutup telinga rapat-rapat. Ngerti?”
__ADS_1
“Iya, ngerti, Mpok.”
Tapi, dalam hati Esta tetap merasa tidak nyaman dengan hal itu. Ia baru sadar sekarang kenapa para tetangganya selalu melihatnya dengan tatapan aneh. Seolah sedang mencibir kepadanya. Apalagi saat ia berjalan bersama dengan Rai, mereka langsung berbisik-bisik. Ternyata mereka sedang membicarakannya.
“udah, Mpok.” Ujar Esta menyerahkan kemeja kepada Mpok Nur.
“Wah, jadi bersih gini. Ternyata kamu pinter nyuci. Makasih banyak ya, Ta.” Mpok Nur merasa bersyukur karna kemeja suaminya sudah bersih seperti semula.
“Sama-sama, Mpok. Kalau ada yang mau di bersihin lagi, aku bisa bantu Mpok. Mencuci adalah keahlianku. Hehehehehe.” Ujar Esta membanggakan diri. Dan Mpok Nur segera menjemur pakaian suaminya di depan rumahnya.
Setelah itu kedua wanita beda generasi itu menghabiskan waktu untuk bercerita. Mengobrol ringan tentang perjalanan hidup. Mpok Nur lebih banyak bercerita tentang masa mudanya dulu. Sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore.
“Ya ampun. Keasyikan ngobrol sampe lupa waktu. Mana belum masak lagi.” Kata Mpok Nur yang bersiap untuk masuk ke rumahnya.
“Mau masak apa, Mpok?”
“Kagak tau. Belum ada ide. Huh! Tiap hari yang di pusingin cuma, mau nyayur apa.” Adu Mpok Nur. Ternyata itu adalah masalah setiap istri.
“Beli aja lah Mpok. Cuma berdua ini. Kami aja lebih sering beli di luar ketimbang masak. Hehehe.”
“Kayaknya boleh juga tuh. Sesekali kan ya....” Kalimat Mpok Nur tiba-tiba berhenti. Wanita itu menatap lurus kepada dua orang pria yang sedang berjalan ke arah mereka.
Salah satu pria berumur paruh baya. Sedangkan pria yang berjalan di belakangnya, lebih muda darinya. Berpakaian jas lengkap, dan berkaca mata. Bertubuh tinggi dengan wajah tampan dan kulit putih yang bersinar. Semua yang di kenakannya adalah barang mewah dan bermerk.
“Ya ampun! Itu bukannya Fandi ya? Artis kaya raya itu? Astaga. Ganteng bangettt...” Pekik Mpok Nur yang nampak sumringah dan langsung menghampiri dua pria itu.
Esta tau siapa itu. Itu adalah Fandi, ayah Rai. Mantan artis terkenal yang sudah pensiun dan sekarang sibuk mengurusi bisnisnya yang menggurita.
Ada perasaan takut, was-was, curiga, dan entah apa lagi yang sedang di rasakan oleh Esta. Ia bisa merasakan tatapan Fandi yang sangat tidak ramah padanya. Membuat lututnya gemetar. Firasatnya mengatakan kalau kedatangan Fandi itu adalah sesuatu yang tidak baik.
Bagaimana tidak? Fandi yang tidak menahu soal pernikahan putranya dengan Esta, tapi kini pria itu datang dan sedang berdiri tepat di hadapan Esta dengan tatapan yang memancarkan aura kemarahan. Membuat Esta merasa menjadi kecil di hadapannya.
“Ya ampun! Gantengnya. Mau minta foto dong mas Fandi?” Pinta Mpok Nur dengan antusias.
__ADS_1
Fandi tersenyum kepada Mpok Nur dan langsung melayaninya untuk berfoto bersama. Setelah itu, Esta mempersilahkan Fandi untuk masuk ke dalam rumah. Sementara Mpok Nur kembali ke rumahnya dengan perasaan yang berbunga-bunga. Walaupun ia sangat penasaran kenapa Fandi datang dan menemuinya.