
Selesai makan siang, rombongan melanjutkan perjalanan pulang ke kota Jogja dan mampir ke destinasi wisata selanjutnya, yaitu Kaliurang.
Desa wisata di kaki Gunung Merapi dan berudara sejuk itu mmenyuguhkan pemandangan luar biasa. Tempat yang pertama mereka datangi adalah sebuah bungker pengungsian.
Bus di parkir di tempat yang lumayan jauh dari bungker. Berhubung jalananan yang tidak memungkinkan untuk di lewati oleh bus pariwisata, jadi rombongan memilih untuk menyewa mobil-mobil jeep yang di sediakan oleh tour guide.
Disana, Esta tidak ikut rombongan dan hanya menunggu di bus saja. Ia merasa lelah sekali setelah berjam-jam berjalan mengelilingi Candi Borobudur untuk berburu foto selfi.
Esta sedang duduk di sebuah bangku kayu panjang yang ada di parkiran. Ia sedang menikmati salak pondoh yang ia beli tadi di perjalanan pulang dari Borobudur. Rasa salak yang manis membuat Esta tak bisa berhenti mengunyah.
Tidak hanya Esta sendiri yang memilih untuk tinggal, tapi ada beberapa teman lainnya yang juga tidak ikut dan memutuskan beristirahat saja.
“Ngunyah terus. Bagi.” Rai berdiri di hadapan Esta dengan mengulurkan tangannya.
“Apa?”
“Salak.” Ujar Rai. Ia tetap menengadahkan tangannya.
Dengan malas Esta mengambilkan salak dari plastik kemudian memberikannya kepada Rai. Ia berharap setelah melakukan itu Rai akan pergi dari sana. Namun yang terjadi adalah, Rai justru malah duduk di samping Esta.
Esta sungguh merasa jengah. Kenapa saat ia berusaha menciptakan jarak, pria itu justru terus mendekatinya dan membuat hatinya goyah?
Esta mendengus pelan kemudian berdiri hendak pergi meninggalkan Rai. Namun ia tertahan oleh Rai yang segera mencegahnya pergi dengan memegangi pergelangan tangannya.
“Mau kemana? Di sini aja.” Tegas Rai. Tatapannya seolah memaksa Esta untuk menurutinya. Dan ajaibnya, Esta luluh dan mengikuti instruksi itu.
Esta kembali duduk di tempatnya semula. Menerima buah salak yang sudah di kupaskan oleh Rai dan memakanya.
“Kenapa gak ikut pergi?”
“Gak. Capek.” Jawab Esta singkat. Ia masih menunjukkan kekesalannya kepada Rai.
“Dia baik-baik aja, kan? Gak bikin kamu susah kan?” Rai bertanya tentang kondisi anaknya. Membuat Esta semakin merengut sebal.
__ADS_1
“Iya.”
“Kalian disini? Mau ikut gak?” Tanya Bu Sisil yang tiba-tiba muncul bersama dengan suaminya. Bu Sisil baru sekitar enam bulan menikah.
Memang, bukan hanya Bu Sisil yang mengajak serta keluarganya, tapi guru yang lain juga mengajak anak dan istri/suami mereka.
“Mau kemana, Buk?” Tanya Esta.
“Museum Sisa Hartaku. Lihat peninggalan-peninggalan pas erupsi dulu” jaawb Bu Sisil.
“Ikut bu.” Ujar Esta dengan segera. Ia berharap bisa melarikan diri dari Rai.
Tapi sayangnya, ternyata Rai juga ingin ikut dengan Bu Sisil dan suaminya. Jadilah mereka ber empat menyewa sebuah mobil jeep untuk mengantarkan ke museum itu.
Walaupun merengut, tapi Esta tidak punya pilihan lain selain membiarkan Rai ikut. Ia tidak punya alasan kepada Bu Sisil untuk melarangnya ikut.
Mobil mulai berjalan menyusuri jalanan aspal yang sempit dan lumayan menanjak. Di sepanjang perjalanan, mereka bisa melihat sisa-sisa rumah terdampak abu vulkanik pada erupsi merapi tahun 2010 silam. Menyisakan bongkahan bangunan yang sudah tertupi oleh rumput dan pepohonan. Menyisakan suasana suram dan kesedihan yang mendalam.
Esta, Rai, Bu Sisil dan suaminya segera turun dari mobil. Mereka di dampingi oleh sopir mobil yang bertugas sebagai tour guide mereka. Sopir itu mulai menjelaskan satu-persatu apa-apa yang ada di sana.
Mulai dari ruangan ujung yang berisi foto-foto saat erupsi terjadi. Beserta barang-barang rumah tangga lainnya yang sudah termakan abu.
Belum selesai berkeliling, tapi Bu Sisil dan suaminya memutuskan untuk berpencar. Pasangan itu turun ke bawah untuk berfoto-foto. Sementara Esta duduk di gubuk sambil menikmati es jeruk pesanannya. Sementara supir mobil pergi entah kemana.
Esta melengos melihat Rai yang berjalan ke arahnya. Sepertinya pria itu baru sja selesai mengambil beberapa foto dan sedang menghampiri Esta. Esta mengelus-elus kucing yang tertidur di sebelah kakinya. Mengalihkan perhatiannya dari Rai.
“Gak masuk?” Tanya Rai.
Esta menggeleng dengan mulut yang terkunci rapat.
“Seru lho di dalam. Tapi merinding juga sih lihat barang-barangnya.” Pamer Rai.
Esta tidak menggubris. Ia fokus menghabiskan es jeruknya. Baru setelah itu, ia berdiri dan pergi untuk melihat-lihat.
__ADS_1
Tidak tinggal diam. Rai segera menyusul Esta di belakangnya. Menunggu di dekat pintu sementara Esta berkeliling ruangan untuk melihat satu demi satu foto yang di pajang di sana.
Esta meleng. Ia asyik memperhatikan foto-foto itu smapai tidak menyadari kalau ia menuju ke tempat pajangan benda-benda di sisi ruangan. Alhasil kakinya tersandung kaki meja dan membuatnya hampir saja terjatuh.
Dengan cekatan Rai langsung menyambar tangan Esta. Untung saja ia isa meraihnya. Kalau tidak, Esta sudah akan jatuh tersungkur di lantai.
Satu detik kemudian, Esta sudah berada di pelukan Rai. Ia membeku untuk beberapa detik selanjutnya. Ia seperti bisa mendengar suara jantungnya sendiri yang berdetak tidak karuan.
“Apaan sih!” Dengus Esta sambil melepaskan diri dan mendorong tubuh Rai menjauh darinya.
“Hati-hati dong. Kalau kenapa-napa, gimana coba?”
Rai khawatir. Tapi yang tertangkap oleh Esta adalah, bahwa Rai sedang mengkhawatirkan anaknya, bukan dirinya.
“Kamu gak apa-apa, kan?” Tanya Rai yang membolak-balikkan tubuh Esta sambil memegangi lengannya.
“Lepasin! Ngapain sih pegang-pegang segala?!” Esta semakin kesal dan pergi meninggalkan Rai.
Sungguh Rai semakin bingung. Kenapa Esta selalu marah-marang dangan dirinya? Sebenarnya kesalahan apa yang sudah ia lakukan sehingga Esta sulit memaafkannya? Apa itu pengaruh kehamilan?
“Ta? Rai? Ayo, balik. Yang lain juga udah balik. Abis ini kita ke hotel.” Panggil Bu Sisil.
“Iya, Buk.” Jawab Rai.
Bahkan sepanjang perjalanan pulang, Esta masih mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia bahkan enggan untuk berada di sebelah Rai dan terus menempel pada Bu Sisil. Ia mengajak Bu Sisil mengobrol apa saja hingga Rai tidak punya celah untuk ikut campur.
Pukul 17.09 wib, semua rombongan sudah berkumpul di tempat bus terparkir. Setelah semua naik ke dalam bus masing-masing, bus segera berangkat menuju ke hotel yang ada di sekitar Malioboro.
Tour guide sengaja memilih hotel itu agar para murid bisa sekalian berjalan-jalan di sekitar Malioboro.
Di hotel, para siswa di bagi dalam banyak kamar. Rata-rata dalam satu kamar di isi oleh 2 orang dengan jenis kelamin yang sama.
Esta kebagian satu kamar dengan teman sekelasnya yang bernama Putri. Gadis berkaca mata dan pendiam itu sangat ramah kepada Esta. Ia banyak bertanya perihal hubungan Esta dan Akash. Ya, Putri lebih banyak bertanya tentang Akash.
__ADS_1