
“Kamu gak bisa main, gak usah nekat.” Hardik Rai lagi yang masih berusaha untuk melarang Esta bermain.
“Ya ampun, Rai. Bisa kali ngomong baik-baik. Siapa tau Esta punya bakat terpendam selama ini.” Bela Zinniya.
Melihat tidak ada satupun yang berpihak padanya, akhirnya Rai memutuskan untuk tetap membiarkan Esta bermain. Namun ia harus terus memperhatikan gadis itu.
Dua set telah berlalu dengan skor seimbang antar tim. Walaupun Esta ikut masuk dalam lapangan, namun ia lebih banyak diam bahkan saat bola datang padanya dia tidak melakukan apapun. Hal itu membuat tim lawan jadi kegirangan dan terus mengarahkan bola padanya.
“Udah ku bilang dia gak bisa main. Dari kelihatannya aja di tipe manusia yang takut bola.” Dengus Rai pada Akash.
“Ya biarin aja, lah. Cuma main-main ini.” Akash membela diri. Padahal dia juga sedang kesal karna Esta sama sekali tidak bisa di andalkan dalam permainan. Kalau begini terus, bisa di pastikan tim mereka akan kalah.
Esta sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menangkap bola dan mengembalikannya pada lawan, namun entah kenapa semua bola yang mengarah padanya nampak terlalu cepat sehingga ia selalu terlambat untuk menangkisnya. Ia bahkan sudah berkali-kali menjadi bahan tertawaan tim lawan maupun timnya sendiri. Dia memang tidak becus dalam hal apapun.
Sebenarnya, Esta sedang berhati-hati agar bola itu tidak mengenai area perutnya. Ia sadar dengan kondisinya dan ia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada bayinya. Jadi, ia lebih banyak menghindar ketimbang bola itu mendarat di perutnya.
Namun kali ini, bola pemberian tim lawan sulit ia hindari. Bola itu mengarah tepat pada dirinya dan entah kenapa fikirannya menjadi kosong dan tidak bisa bergerak. Ia bahkan hanya mematung saja di tempatnya sementara bola semakin mendekat ke arahnya.
Bodohnya, Esta malah hanya memejamkan matanya kuat-kuat. Entah apa gunanya hal itu.
Buk!
Bola memantul mengenai punggung yang berdiri di hadapan Esta.
“Kamu gak apa-apa?”
“Uuuuuuuuuuuuuu...” Terdengar sorak sorai dari teman-temannya.
Esta membuka matanya dan mendapati Akash yang sedang memberikan punggungnya untuk tameng pelindung.
“Kamu gak kena kan?” Tanya Akash lagi.
Esta yang segera tersadar langsung melihat kepada pria yang sedang tersenyum padanya itu. Ia mengangguk pelan dengan wajah yang sudah merona karna kini ia menjadi pusat perhatian.
“Kash! Apa-apaan itu, woi?!” Pekik Trio dari seberang.
“Bacot!” Hardik Akash.
“Cieeeeeee..... Akash, udah main buka-bukaan nih.” Seloroh Tina.
__ADS_1
“Akash kamu ngapain?! Cepetan nyingkir, woilah!”
Namun, Akash tidak segera menyingkir dari lapangan dan malah terus menatap Esta dalam sambil tersenyum.
“Kamu ngapain sih di situ? Kamu suka sama Esta?” Celetuk Arin yang menambah sorak sorai teman-temannya.
“Iya.”
Seketika semua menjadi hening. Mereka menatap tidak percaya kepada Akash yang masih tetap berdiri di depan Esta.
“Memangnya kenapa? Aku suka sama Esta.”
Tegas, padat, dan jelas. Kalimat yang di lontarkan oleh Akash membuat wajah Esta semakin merona merah. Ditambah kini ia semakin di soraki oleh teman-teman satu kelasnya.
“Udah, kamu gak usah main lagi, ya. Ganti sama Sabila.” Ujar Akash kemudian.
“Cieee, Akash! Rupanya kamu cowok gentle ya.” Entah siapa yang menyela itu.
Sudah kepalang malu, Esta hanya terdiam saja saat Akash menarik tangannya untuk menyingkir dari lapangan dan segera di gantikan oleh Sabila. Sementara Rai sedang melirik tajam ke arah keduanya sambil bersedekap. Namun kemudian ia segera mengalihkan perhatiannya ke tengah lapangan dan fokus membantu timnya.
Akash mengajak Esta untuk duduk istirahat di bawah pohon di samping lapangan.
“Kamu malu, ya? Maaf.”
“Kenapa memangnya? Mereka juga udah pada tau kalau aku suka sama kamu. Cuma kamu aja mungkin yang gak tau.”
“Tau. Aku tau kalau kamu suka sama aku, Kash. Cuma aku malu aja, aku ngerasa kurang cocok deketan sama kamu.”
“Kurang cocok gimana?”
“Liat badanku ini.”
“Kenapa sama badanmu?” Tanya Akash sambil memperhatikan tubuh Esta.
“Orang bilang aku kayak gajah duduk, lho. Kamu gak malu jalan sama aku?”
“Pernah denger gini, gak? Wanita akan terlihat cantik di mata orang yang tepat. Dan kamu cantik di mataku. Memangnya kenapa kalau kamu gemuk? Memangnya gemuk itu dosa? Padahal kamu gak segemuk itu lho kenapa malah minder.”
Ada yang bergetar di hati Esta. Rasanya luar biasa bisa mendapat perhatian sedemikian rupa dari seorang pria. Perhatian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya itu membuat degup jantungnya semakin kencang dan membuat wajahnya kembali merona.
__ADS_1
“Jadi, gimana? Aku di terima gak nih buat jadi pacar kamu?”
“Pacar?”
Akash mengangguk. Tatapannya penuh harap. Sepertinya dia juga sedang menahan degup jantungnya yang juga sedang meningkat.
“Aku gak punya waktu, Kash. Kamu denger sendiri kan tadi Pak Jamil marahin aku habis-habisan. Bentar lagi ujian dan nilaiku harus naik.”
“Aku bakalan bantu kamu belajar.”
“Memangnya kamu peringkat berapa?”
“17. Hahahahahha”
“Woilah! Gak jauh-jauh amat lah sama aku.”
“Hahahahahahahaha” nampak sekali kalau Akash sedang berusaha untuk tidak canggung.
“Maaf, Akash. Kayaknya kalau sekarang aku belum bisa. Gak tau nanti.”
“Nanti,,, berarti aku langsung di tolak, nih.”
“Jangan nangis. Hehehehhe.”
“Sayangku sama kamu tulus kok, Ta. Kasih tau aku kapanpun kalau kamu udah siap.”
Dilema. Esta sedang merasa bingung. Keadaannya sekarang sangat tidak memungkinkan untuk menerima perasaan Akash. Terlebih, ia dan Rai sudah menikah dan ia sedang mengandung anak pria itu. Entah bagaimana cara menjelaskannya kepada Akash nanti. Padahal ia ingin sekali menerima Akash menjadi kekasihnya.
Kalau saja keadaannya tidak seperti ini, mungkin ia tidak akan sebingung ini. Tidak mungkin juga ia menceritakan tentang kondisinya kepada Akash. Tidak, ia tidak akan sanggup menanggung rasa malu itu.
“Woi! Yang becus dong mainnya!!” Pekik Rai yang sedang mengarahkan timnya. Nampaknya pria itu sedang emosi karna poin mereka sudah jauh tertinggal. Teriakan itu membuat Esta dan Akash langsung melihat ke arahnya.
“Kumat tuh anak.” Seloroh Akash kepada Rai.
“Kumat?”
“Dia itu selalu begitu tu. Kesel sendiri kalau kalah. Padahal cuma permainan biasa. Rai itu maunya menang terus dan gak boleh kalah. Kalau kalah ya begitu, marah dia.”
“Aku minta maaf ya, Kash. Tapi waktuku gak lama buat belajar. Aku pengen, seenggaknya aku lulus dari sini.”
__ADS_1
“Gak apa-apa kok. Kan udah ku bilang kalau perasaanku itu tulus. Jadi aku gak akan maksa kamu dan aku bakalan menghormati keputusan kamu. Aku ngerti kok, Ta. Jadi jangan di fikirin lagi, ya? Untuk sekarang, ayo kita sama-sama fokus sama ujian supaya kita bisa lulus bareng-bareng.” Akash tersenyum walaupun senyuman itu terlihat pahit dan di paksakan.
Esta menghela nafas berat. Ia merasa tidak enak hati kepada Akash yang sudah sangat baik memperlakukannya. Tapi ia memang harus menolaknya untuk saat ini. Ia harus tega menyakiti pria baik itu agar semuanya berjalan dengan baik.