
Senang karna mendapat teman mengobrol yang baru, Esta sampai bersenandung pelan saat masuk ke dalam kamarnya. Seketika ia lupa kalau ia sedang hamil dan lupa dengan masalah peliknya.
Esta baru saja selesai memasak mie instan kesukaannya. Ia tidak menghabiskan satu porsi mie instan itu untuk sekali makan, melainkan ia membaginya untuk makan malam nanti. Itu adalah lauk sehari-harinya untuk sekedar mengganjal perutnya. Walaupun banyak yang mengatakan kalau tidak sehat memakan mi dengan nasi, namun Esta tidak peduli. Yang penting perutnya kenyang.
Bukan saat baginya untuk memikirkan gizi dan kawan-kawannya. Bukan ia tidak mau memberikan yang terbaik untuk bayinya, tapi ia tidak mampu untuk melakukan itu. Semuanya serba terbatas dan ia tidak mampu untuk mencukupinya.
Saat Esta sedang menikmati detik-detik terakhir makanannya,ponsel bututnya berdering. Itu adalah nomor baru yang tidak ia kenal, jadi Esta tidak mengangkatnya sampai ia menyelesaikan makanannya.
Namun, nomor itu terus menghubunginya dan membuat ponselnya terus berbunyi hingga ia merasa kesal setengah mati. Dengan menghela nafas kasar, Esta akhirnya mengangkat telfon itu.
“Halo!” Bentaknya kasar.
“Ini Rai. Aku di depan kosmu, keluarlah.”
Kalimat singkat, padat, dan jelas itu langsung membuat Esta mematung beberapa saat.
Tunggu, dia tidak salah dengar, kan? Rai? Apa ini Rai yangdia kenal? Esta masih tidak percaya dengan kalimat singkat itu.
Setelah kesadarannya kembali, Esta segera berlari kecil menuruni tangga karna kamarnya berada di lantai dua. Sikapnya benar-benar seperti anak kecil sampai-sampai ia lupa kalau ia sedang hamil.
Esta seketika berhenti dan membeku tepat di depan pagar kos saat melihat seorang pria yang sedang berdiri di samping sebuah motor di luar pagar kos. Itu benar-benar Rai yang ia kenal. Pria itu manatapnya tajam sepertisedang marah padanya.
“Kenapa kamu lari-lari begitu?!” Pekik Rai setengah marah. Esta hanya mengernyit heran menatap Rai kenapa pria itu memarahinya. Namun setelah mengikuti arah pandang Rai yang tertuju ke perutnya, barulah Esta menyadari kalau tingkahnya barusan bisa saja membahayakan bayinya.
“Oh, maaf.” Lirih Esta sambil membukakan pintu gerbang kos.
“Hati-hati...” Ujar Rai kemudian.
Esta mengangguk walaupun masih tidak mengerti kenapa Rai peduli dengan bayinya. Bukankah pria itu memutuskan untuk mengabaikannya?
“Ngapain kesini?” Tanya Esta langsung.
“Ayo, ikut aku.”
__ADS_1
“Kemana?”
“Gak usah banyak tanya, pokoknya ikut aja.” Rai menyodorkan helm kepada Esta.
“Gak mau.” Tolak Esta mentah-mentah.
“Kok gak mau?”
“Ya kemana dulu?”
“Ke rumah nenekku. Buruan naik.” Desak Rai. Membuat Esta semakin mengernyitkan keningnya. “Kok malah diem aja? naik.”
“Gak mau ah. Ngapain aku harus ikut ke rumah nenekmu?”
“Kamu ini susah banget sih di ajak pergi. Udah buruan naik.”
“Gak mau.” Tolak Esta tetap kekeuh tidak mau ikut dengan Rai.
“Ini penting, Esta.” Rai memilih jalur kelembutan agar Esta mau ikut dengannya.
“Jelasin dulu kenapa ajak aku ke rumah nenekmu?”
“Nenek pengen ketemu sama kamu.”
“Kenapa?”
“Gak usah banyak pertanyaan. Nanti kamu juga bakalan tau.”
Esta memilih untuk menerima helm dari Rai dan memutuskan untuk ikut dengannya. Ia penasaran kenapa nenek Rai ingin bertemu dengannya.
Rasanya canggung luar biasa saat Esta bertengger di belakang Rai dan motor mulai melaju di jalan raya. Namun, entah kenapa rasanya sangat nyaman karna Rai melajukan motornya dengan pelan dan hati-hati.
Sepanjang perjalanan, Esta tak berani bertanya apapun lagi kepada Rai. Ia hanya fokus memperhatikan jalan dan kemana Rai membawanya. Tidak lama kemudian, Rai menghentikan sepeda motornya di halaman sebuah rumah mewah dan super besar. Bahkan di depan rumah itu ada taman mininya. Belum lagi tanaman hias super mahal nampak berderet di sepanjang pinggir pagar.
__ADS_1
Esta turun dari motor dan melepas helm yang ia pakai kemudian menyerahkannya kepada Rai. Ia terkesima dengan pemandangan mewah rumahitu dan ia sangat kagum melihatnya. Impiannya adalah untuk memiliki rumah seperti itu. Ia fikir pasti akan sangat nyaman tinggal di dalamnya.
Lamunan Esta seketika buyar saat melihat seorang wanita cantik dan anggun muncul membukakan pintu rumah. Itu adalah Citra, istri dari Prasetyo.
“Kalian udah datang? Ayo, sini, masuk.” Ajaknya ramah. Ia bahkan tersenyum kepada Esta, senyumannya sangat manis sampai lesung pipinya terlihat.
“Ayo.” Ajak Rai kemudian.
Walaupun bingung, Esta tetap mengikuti langkah Rai dan berjalan di belakang pria itu. Tidak lupa ia memperhatikan seluruh interior mewah begitu ia masuk ke dalam rumah nenek Rai.
“Nek, Om.” Sapa Rai kemudian menyalami Salamah dan Pras. Melihat lirikan dari Rai, Esta jadi ikut menyalami mereka.
Esta memang minim sopan santun. Namun ia tetap masih punya pengetahuan tentang harus menghormati orang yang lebih tua darinya. Itu semua tidak terlepas dari cara Kanti dan Ringgo mendidiknya. Juga lingkungan tempat tinggalnya yang terkesan bebas dan tidak peduli satu sama lain. Jadi itulahyang di pelajari oleh Esta dan di terapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Ayo, duduk.” Ajak Salamah ramah. Ia bahkan menggandeng tangan Esta dan mengarahkan Esta untuk duduk di sebelahnya.
Keadaan berubah canggung untuk beberapa saat. Setelah seorang asisten rumah tangga menyajikan minuman jus jeruk yang nampak segar, barulah Esta mulai bisa menyesuaikan diri.
“Jadi siapa namamu?” Tanya Salamah kemudian.
“Semesta, Nek.” Esta masih grogi.
“Namamu bagus, kamu juga cantik.” Ujar nenek menggenggam tangan Esta. “Maafkan cucu nenek ya. Rai pasti udah banyak ngerepotin kamu.”
“Oh, enggak kok nek. Rai gak pernah ngerepotin aku.” Esta melihat kepada Rai yang duduk di depannya, di sebelah Pras.
Tiba-tiba nenek merengkuh tubuh gempal Esta dan mengusap kepalanya dengan lembut. “Kasihan sekali kamu, masih semuda ini tapi udah dapat cobaan yang begitu berat.” Salamah berkata sambil terisak.
Esta sama sekali tidak mengerti mengapa nenek Rai malah menangis sambil memeluknya. Namun yang ia mulai sadari adalah, kalau keluarga Rai pasti sudah tau tentang kehamilannya.
Sebuah perasaan yang aneh muncul seiring belaian tangan nenek yang mulai mengalirkan kehangatan di hatinya. Perlahan, air mata Esta sudah tidak bisa di bendung lagi. Dan iapun menumpahkan seluruh kesedihannya di pelukan wanita renta itu. Ia bahkan sampai mencengkeram jaket yang di kenakan Salamah sambil terisak dan menangis menderu-deru.
Sejak beberapa hari lalu esta tidak bisa menangis walaupun dadanya terasa sesak. Namun sekarang, ada bahu yang menawarkan untuk ia bersandar. Jadi ia tidak bisa menahan diri dan menumpahkan segala kesakitannya di punggung wanita renta itu.
__ADS_1
Selama ini, bukan Esta tidak sedih dengan keadannya. Bukan ia tidak marah dengan kehamilannya. Dan bukan ia tidak peduli dengan semua masalah yang bahkan ia tidak tau jalan keluarnya. Dia hanya mencoba untuk kuat dan berusaha untuk baik-baik saja dan berusaha untuk menyelesaikan semuanya sendiri. Ia fikir, ia tidak butuh bahu untuk bersandar. Ia fikir, ia tidak butuh kata penghibur. Ia fikir, ia tidak butuh perhatian tulus dari orang lain tentang masalahnya.
Namun itu semua hanyalah kedok Esta untuk melarikan diri agar tidak merasa terlalu terpuruk dan menderita. Sebenarnya dia butuh semua itu. Dia butuh semua perhatian kecil itu walaupun itu membantu atau tidak. Sebenarnya dia tidak ingin melalui masa-masa sulit ini sendirian. Sebenarnya dia sangat terluka dan hancur.