Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 128. Datang Di Waktu Yang Sangat Tidak Tepat, Membuat Kecewa.


__ADS_3

Gerimis yang sempat mereda tadi kembali mulai menampakkan dirinya. Di padu dengan udara tengah malam ibu kota. Tapi itu semua belum cukup untuk mengusir hawa panas yang masih terasa gerah.


Hera sudah menghentikan mobil di basement apartemen. Ia juga sudah membuka pintu agar bos dan istrinya segera turun dan bisa segera istirahat.


“Masih sakit?” Tanya Rai.


Esta mengangguk. Dan anggukan itu berhasil membuat tubuh Esta melayang sejenak sebelum berpindah di gendongan suaminya.


“Mas, apaan? Turunin, ih.” Dengus Esta yang sudah kepalang malu dengan Hera. Ia melirik kepada Hera yang masih menampakkan ekspresi wajah datar seperti tidak melihat apapun.


“Udah, diem. Biar ku gendong sampe rumah. Kan kakimu sakit.” Paksa Rai.


Hera segera memencet tombol lift dan mempersilahkan bosnya untuk masuk setelah pintu lift terbuka. Setelah itu ia kembali ke dalam mobil dan kembali ke gedung untuk mengurusi hal yang belum selesai.


“Mas,,, turunin dong.”


“Udah, diem aja. Pegangan yang kuat. Nanti jatuh.”


“Ya tapi aku berat lho. Turunin...”


“Gak berat kok. Masih sama kayak dulu. Kamu inget gak dulu aku juga sering gendongin kamu? Apalagi kalau udah molor di mobil. Beeuuhhh...” Rai mengenang masa dulu.


Wajah Esta menjadi tersipu karna tingkah Rai. Kini mereka sudah berada di depan apartemen. Esta membantu menempelkan kartu aksesnya ke layar kemudian pintupun terbuka.


Rai langsung membopong istrinya dan mendudukkannya di tepian tempat tidur. Kemudian ia berjongkok di hadapannya dengan tatapan mata yang sulit di jelaskan.


“Sakit banget?”


“Gak sakit. Cuman pegel sama kaku aja. Wajar lah kebanyakan berdiri soalnya.” Jawab Esta.


Esta membiarkan saja saat suaminya mulai melepas sepatu flat yang ia kenakan. Kemudian menyingsingkan celana dan mulai memijati betisnya. Ia sempat mengernying-ngernying karna merasakan sakit di sana.


“Aku pengen mandi. Badanku udah lengket.” Ujar Esta.


Dan tanpa aba-aba Rai segera menggendong Esta untuk masuk ke dalam kamar mandi.


“Udah, buruan keluar.” Usir Esta.


“Kenapa ngusir? Aku mau bantuin kamu mandi kok. Emangnya bisa mandi sendiri?” Rai beralasan.

__ADS_1


“Aku bukan anak bayi, tau. Lagian kakiku cuma kram. Bukan buntung. Udah sana.” Paksa Esta.


“Hehehehe. Ya udah. Kalau udah selesai panggil aku ya.”


Esta mengangguk dan Rai keluar meninggalkan Esta di dalam kamar mandi.


Berendam air hangat membuat rasa kram di kaki Esta sedikit berkurang. Pun tubuhnya menjadi lebih segar dari sebelumnya.


“Sayang! Udah selesai belum?” Teriak Rai dari luar pintu kamar mandi.


“Bentar lagi. Mas! Tolong ambilin tas kecil di laci bawah lemari dong!” Pinta Esta kemudian.


Ceklek! Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka tiba-tiba dan Rai muncul dari baliknya dengan membawa pesanan Esta.


“Ini?” Tanya Rai. Esta mengangguk.


“Apa sih ini?” Tanya Rai penasaran sambil berusaha mengintip isi tas itu.


“Keperluan perempuan. Sini.” Pinta Esta yang sudah mengenakan bathrobe-nya. “Udah, sana keluar.” Usir Esta lagi sambil mendorong tubuh suaminya memaksanya keluar dari kamar mandi.


Rai sangat penasaran sebenarnya apa yang membuat istrinya begitu lama berada di kamar mandi. Karna ia sudah tidak sabar ingin segera mengobati kaki Esta.


Esta keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap. Ia berjalan tertaih-tatih karna menahan kram di kakinya yang seolah semakin menjadi. Padahal tadi sudah mulai mereda.


Tak lama setelahnya, Rai sudah kembali dengan membawa botol spray untuk meredakan kaku pada betis istrinya. Ia juga membantu menyemprotkan obat itu disana. Baru setelah itu mengarahkan istrinya untuk berbaring.


“Istirahat aja biar cepet sembuh. Aku mau mandi dulu.” Pamit Rai kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Esta mencoba mengalihkan rasa sakit dikakinya dengan berusaha memejamkan mata. Saat tiba-tiba ia mendengar suara berdehem dari Rai dan membuatnya langsung menoleh ke arah kamar mandi.


“Kamu ngapain, Mas?” Tanya Esta dengan mengernyitkan keningnya menatap heran kepada Rai.


Pria itu sedang menyandarkan tubuhnya ke daun pintu kamar mandi dengan satu tangan mengusap rambut basahnya. Mengenakan handuk hingga sebatas pinggang membuat roti sobeknya terekspos dengan sempurna. Belum lagi wangi shampo menyeruak memenuhi seluruh kamar.


Rai sedang menunjukkan pesonanya kepada sang istri dengan menaik turunkan kedua alisnya. Kerlingan itu semakin membuat Esta menatapnya dengan aneh.


“Ngapain, sih begitu?”


“Kamu gak tergoda gitu ngelihat aku begini?”

__ADS_1


“Apanya yang menggoda? Biasa aja gitu.” Jawab Esta datar. Padahal jantungnya sedang berdisko luar biasa. Wajahnya juga sudah memanas menahan berdesiran aneh di dadanya. Ia malu dan merasa aneh.


Esta kembali menarik selimut dan membelakangi arah kamar mandi. Membuat Rai mendengus kecewa sambil memanyunkan bibirnya. Tapi ia tetap mengeringkan tubuhnya kemudian dengan hanya mengenakan celana boxer, ia menyusul istrinya dan menelusupkan diri di dalam selimut.


Esta tercekat saat sebuah kecupan mendarat di tengkuk lehernya. Bibir Rai yang terasa dingin karna baru selesai mandi, membuatnya merinding seketika sampai nafasnya terasa berhenti di kerongkongan. Tapi ia berusaha untuk tidak membalikkan tubuhnya karna dadanya sedang berdegup tak karuan. Ia tau apa yang akan di lakukan suaminya itu selanjutnya.


Dan benar saja, tangan Rai mulai menelusupi perutnya dari balik piyama yang ia kenakan. Memutar-mutar di area pusar dengan sentuhan lembut membuat nafas Esta semakin tercekat saja.


“Janjinya tadi di suruh istirahat.” Protes Esta lirih.


“Hehehehe. Niatku juga begitu. Tapi gimana dong, bagian diriku yang lain udah gak sabar.” Ujar Rai yang kini semakin menggesek-gesekkan tubuhnya di belakang Esta.


Tangan Rai yang tadi hanya mengusapi perut Esta kini semakin naik ke sebelah bukit Esta dan mencakupnya. Sementara bibirnya tak hendi-hentinya mengecupi tengkuk istrinya itu.


Perlahan, Rai mulai menarik punggung Esta agar beralih padanya. Esta tak kuasa menolak dan hanya menurutinya saja. Menatap wajah suaminya yang juga sedang menatap dirinya.


“Semesta,, makasih udah mau jadi istriku, lagi.” Bisik Rai yang sudah mendekatkan wajahnya.


Kini, bibirnya mulai meraup bibir lembut Esta. Melu matnya dengan penuh perasaan. Tangannya sudah lincah bermain di bukit milik Esta dan meremasnya lembut. Menimbulkan erangan kecil dari Esta yang juga tidak bisa menahan diri lagi.


Entah kapan Rai memulainya, namun yang jelas, kini kancing piyama yang di kenakan Esta sudah terlepas semuanya. Dalam kesempatan itu, Rai mulai melahap bukit Esta tanpa ampun. Meninggalkan bekas kepemilikan di semua tempat yang bisa di jangkau oleh bibirnya.


Setelah puas melahap dada istrinya, Rai mendorong tubuh Esta sehingga terlentang dengan sempurna. Ia segera memposisikan tubuhnya di atas istrinya itu dengan menumpu tubuhnya dengan satu lengannya.


Sementara lengannya yang lain sibuk menyentuhi wajah Esta dan berakhir di bibir wanita itu.


Kecupan lembut Rai kembali mendarat di kening Esta, kemudian menjalar ke kedua matanya, kemudian pipi dan hidungnya, dan terakhir, di bibir ranumnya. Lidahnya memaksa untuk merangsek kedalam mulut Esta dan mengecapi setiap bagiannya.


Sementara tangannya sudah menelusup ke dalam celana Esta. Namun ia segera menghentikan aksinya setelah menyadari sesuatu.


“Kamu pakai apa?” Tanyanya lirih.


“Pembalut.” Jawab Esta sambil menahan senyum.


“Kok pakai pembalut?” Tanya Rai Heran.


“Tadi barusan dateng bulan.”


Seolah seluruh tenaga Rai telah melayang sia-sia. Ia hanya bisa ternganga sambil menatapi wajah istrinya tidak percaya. Tatapan penuh kekecewaan yang membuat Esta semakin terkekeh saja. Ia menjatuhkan diri di samping Esta sambil menerawang jauh ke atas. jelas ia sedang kecewa.

__ADS_1


*****


Udah! Bubar semuanya! Kenapa pada ngumpul disini? Kan kecewa kan??? Hahahahahaha. Kecewa berjamaah ya judulnya.


__ADS_2