
Esta dan Rai sedang duduk di tepian tempat tidur. Keduanya lama terdiam dan sibuk dengan fikirannya masing-masing.
Rai mengeluarkan sesuatu dari laci nakas yang ada disampingnya. Sebuah kotak panjang dengan lingkaran pita berwarna putih yang menghiasainya. Ia memberikan kotak itu kepada Esta.
“Apa ini?” Tanya Esta sambil menerimanya.
“Hadiah perpisahan. Bukalah.”
Perlahan Esta membuka kotak itu. Ia tercengang dengan isinya. Itu adalah sebuah pena berdesain mewah berwarna hitam metalik dengan berhiaskan emas di beberapa bagiannya. Dengan sekali melihat saja, Esta bisa tau kalau itu pena berharga sangat mahal.
“Aku lihat kamu suka banget nulis. Tapi sejak nikah kamu jadi jarang nulis lagi di bindermu. Aku harap, pena ini akan terus buat kamu inget sama aku.” Lirih Rai sambil tersenyum.
“Makasih, Rai. Kamu baik. Udah perhatiin orang gak penting kayak aku.”
“Bahkan orang yang merasa tidak pentingpun menjadi tokoh penting bagi seseorang. Dan kamu adalah tokoh penting buat aku, Esta. Jadi mulai sekarang, aku harap kamu gak perlu lagi minder dengan keadaan kamu. Gak usah berkecil hati karna pandangan orang-orang yang bahkan gak mengenalmu dengan baik.”
Pesan Rai itu begitu dalam dan menyentuh. Rasanya ia ingin meraung dan menangis di pelukan pria itu. Agar Rai mengusap airmatanya. Tapi ia tidak boleh melakukan itu atau hatinya akan goyah lagi.
“Sekali lagi makasih banyak. Kamu udah baik sama aku. Dan makasih juga buat hadiahnya. Aku malah gak punya hadiah apa-apa buat kamu.”
Rai menggeser tubuhnya untuk menghadap Esta. Ia menyentuh kedua pipi gadis itu dan menatapnya dalam.
“Aku yang makasih karna kamu udah hadir dalam hidup aku. Kamu yang awalnya kufikir adalah kesalahan, ternyata kamu adalah hadiah pemberian Tuhan. Kamu yang udah bisa menutup lubang di hatiku. Kamu yang udah bisa nutup lukaku. Dan kamu yang bisa menerima seluruh cintaku.” Ujar Rai. Ia menghela nafas dalam dengan mata yang berkaca-kaca.
“Dan Semesta, mulai detik ini, aku talak kamu. Mulai detik ini aku ceraikan kamu. Dan mulai detik ini, hubungan pernikahan kita berakhir di sini.”
‘tapi tidak dengan perasaanku. Karna perasaanku akan terus
ada buat kamu sampai kapanpun.’
Kalimat yang terdengar seperti guntur itu langsung menyambar dan merobek hati Esta yang rapuh. Seketika airmatanya mengalir dengan deras. Ia tergugu dengan wajah yang menunduk. Mencengkeram jemarinya sendiri untuk mengalirkan rasa sakit di hatinya yang hampir tidak bisa ia tahan.
“Huhuhuhuhuhuhuh.”
__ADS_1
Sama halnya dengan Esta, Rai juga sudah tergugu dengan tangisnya. Sungguh kalimat yang sangat tidak ingin ia ucapkan. Kalimat itu memang meluncur dari mulutnya, dan kalimat itu juga yang berhasil meluluh lantakkan hatinya. Rasanya sakit luar biasa. Tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Hanya airmatalah yang mampu menyampaikannya betapa terlukanya hatinya.
Lama sekali mereka dalam keadaan seperti itu. Saling terdiam dengan airmata yang terus membanjiri pipi. Saling menekan rasa sakit masing-masing. Lubang di hati mereka, kembali terbuka. Bahkan lebih besar dari sebelumnya.
Baru setelah mendengar ketukan di pintu kamarnya, Esta dan Rai cepat-cepat menghela bekas airmata dan berusaha untuk menenangkan diri.
“Rai! Udah waktunya berangkat.” Panggil Pras dari depan pintu.
“Iya, Om.” Jawab Rai. Ia memperbaiki rambut dan mengusap wajahnya. Begitu juga dengan Esta.
Tidak lama kemudian keduanya keluar dari kamar. Salamah, Citra, bahkan Pras, mereka semua tau apa yang sedang dirasakan oleh Rai dan Esta. Dengan melihat mata keduanya yang masih sembab, mereka tau apa yang sudah terjadi di antara keduanya.
Melihat kesedihan yang terus menggantung di wajah Esta, Salamah langsung memeluk tubuh Esta. Begitu juga dengan Citra.
Dan langsung saja, Esta kembali menumpahkan tangisnya kepada kedua wanita itu.
“Aku udah talak Esta, Nek.” Ujar Rai lirih.
Mendengar itu, Citra ikut menghela nafas sedih. Ia mengelus punggung Esta dengan lembut.
“Kita harus berangkat ke bandara sekarang.” Pras menimpali setelah melihat ketiga wanita itu masih berpelukan walaupun sudah lama.
Esta melepaskan diri dari pelukan Salamah dan Citra dan mengusap wajahnya.
“Kamu ikut ke bandara kan?” Tanya Salamah lagi.
Esta melihat ke arah Rai sejenak. Ia melihat ada awan kesedihan bercampur harapan di netra pria itu. Dan akhirnya Esta mengangguk pelan.
“Iya, Nek. Aku ikut.”
Setelah semuanya siap, Pras membantu Rai mendorong kopernya. Ia selalu merangkul bahu keponakannya itu untuk menguatkannya.
Hanya Citra dan Pras serta Esta yang mengantar Rai ke bandara. Sementara Salamah tidak ikut dan hanya menunggunya di rumah. Faktor usia sudah tidak memungkinkan bagi Salamah untuk ikut ke bandara. Ia tidak ingin merepotkan anak dan menantunya.
__ADS_1
Esta dan Citra duduk di belakang sementara Rai duduk di samping Pras yang sedang mengemudikan mobilnya.
Sepanjang perjalanan ke bandara, Esta sama sekali tidak berbicara kepada Rai. Ia hanya sesekali menjawab saat Citra maupun Pras mengajaknya bicara. Begitu juga dengan Rai. Ia sedang menahan diri untuk tidak mengajak Esta mengobrol karna sekarang keadaan mereka sudah terasa canggung.
Sesampainya di bandara, perasaan Esta semakin pias saja. Ia hanya terus menunduk dan mengikuti Rai ke pintu keberangkatan.
Dan ternyata disana sudah ada Fandi yang sedang menunggu kedatangan Rai. Ia langsung tersenyum senang dan berjalan menghampiri putranya itu.
Rai hanya melengos saja. Ia benci melihat wajah Fandi. Bukan apa, ia benci mengakui kalau ternyata ia memang tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan dari ayahnya itu. Ia benci mengakuinya.
“Hati-hati disana.” Pesan Pras.
“Iya, Om.” Rai memeluk erat Pras. Sementara ia hanya melengos saat Fandi memeluknya dan menepuki punggungnya. Ia ingin menolak perlakuan itu tapi ia merasa tidak enak dengan Citra dan Esta.
Rai juga memeluk Citra dan berpamitan padanya. Setelah itu, Rai berdiri berhadap-hadapan dengan Esta. Saling tatap dalam diam. Mereka tau sakitnya perasaan satu sama lain.
Namun tiba-tiba Rai merengkuh tubuh Esta ke dalam pelukannya. Ia memeluk Esta erat sekali. Ia sampai memejamkan mata demi menguatkan hatinya.
Esta membalas pelukan Rai dengan mengelus punggung pria itu. Seolah ia sedang menguatkan Rai. Padahal ia sedang menguatkan dirinya sendiri lewat pelukan terakhir itu.
“Maafin aku kalau selama ini aku ada salah sama kamu ya, Ta.” Lirih Rai dengan nada perpisahannya.
Esta mengangguk. “Aku juga. Aku juga minta maaf udah buat kamu ngerasa sakit kayak gini. Makasih Rai Kenandra, udah jadi sandaran ternyamanku.”
Mendengar jawaban Esta membuat Rai semakin mengeratkan pelukannya. Rasanya ia tidak rela jika harus melepaskan pelukan itu.
“Udah buruan masuk.” Hardik Fandi dengan ketus. Memaksa Rai dan Esta untuk mengakhiri pelukan mereka.
Rai menatap Esta lekat-lekat. Ia memegangi kedua pipi Esta dan mendaratkan sebuah kecupan terakhir di kening gadis itu. Lama sekali ia mengecup kening Esta. Mengalirkan seluruh sisa perasaannya kepada gadis itu.
‘aku sayang sama kamu, Esta.’ lirihnya dalam hati.
Pesawat yang membawa Rai sudah lepas landas. Terbang menembus awan yang tinggi. Menitipkan perasaan Esta untuk turut serta mengantar kepergian pria itu. Membawa setumpuk rindu yang terasa menyakitkan. Kembali mengasingkan hati dalam kesendirian.
__ADS_1
‘Rai Kenandra, semoga kita di ijinkan bertemu lagi.’
...^TAMAT^...