
Pagi ini ekspresi wajah Rai tidak secerah pengantin baru pada umumnya. Pria itu bahkan terus membungkus dirinya di dalam selimut dan enggan untuk keluar. Sementara Esta sudah bangun sejak tadi dan sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Ia kembali ke dalam kamar untuk membangunkan suaminya yang padahal tidak pernah bisa tidur sejak semalam.
“Mas? Sarapannya udah siap. Makan dulu yuk.” Ajak Esta mendekati Rai. Namun pria itu tetap bergeming.
“Aku gak punya tenaga buat bangun.” Sura Rai terdengar sangat lirih.
“Uluh,, uluh... Sini aku kasih tambahan tenaga.” Seloroh Esta yang membungkukkan tubuhnya kearah Rai.
Cup.
Ia memberikan asupan tenaga untuk suaminya itu.
“Itu gak cukup, Sayang...” Imbuh Rai yang meminta lebih.
“Ya gimana dong?”
“Kenapa harus datang sekarang? Huhuhuhuhuhu.” Rai memasang wajah menangis.
“Ya emang udah masanya dia datang.”
“Aaaaaaaaa! Pokoknya aku gak terima.” Melas Rai.
“Hahahahahaha. Udah ah, ayo buruan bangun.” Esta memaksa suaminya untuk bangun dengan sedikit menarik selimutnya.
“Bentar lagi ah.. Hari ini libur aja kok. Lagian aku gak punya semangat hari ini.”
“Ya udah.” Ujar Esta yang kemudian meninggalkan suaminya yang masih terlentang di atas tempat tidur.
Tapi tidak lama setelah itu, Rai bangun dan mencuci mukanya. Kemudian menghampiri istrinya yang sedang sibuk di dapur. Ia memeluknya dari belakang sambil menggelayutkan dagunya di pundak Esta.
“Berapa lama aku harus sabar, sayang?” Lirihnya.
“Ehm, lima sampai enam hari.”
“Hah?!!! Selama itu? Ya ampun. Mana bisa tahan kalau selama itu, sayang. Aku udah nunggu sepuluh tahun lho, sayang...” Protes Rai.
“Ya udah,,, mau cari istri baru apa gimana?” Dengus Esta yang kesal karna Rai terus merengek perihal yang sama.
“Ih, kok gitu? Ya gak mau lah. Gak akan ada tempat buat orang baru lagi, yang. Selamanya tetap kamu. Uuuuh.” Ujar Rai yang semakin mengeratkan pelukannya dan menggoyangkan tubuh Esta.
__ADS_1
“Sarapan, yuk.” Ajak Esta kemudian. Keduanya lantas berjalan menuju ke meja makan.
Walaupun hatinya sedang kecewa, namun Rai tetap menikmati sarapan hasil masakan istrinya di hari pertama mereka menikah tersebut.
“Hari ini kita ngapain, ya?” Tanya Rai sambil memikirkan rencana untuk menghabiskan waktu berdua.
“Ehm, di rumah aja ya, aku capek.” Jawab Esta.
“Masih sakit kakinya?”
“Sedikit.”
“Kalau masih sakit, kita ke dokter aja.”
“Gak usah ke dokter lah, Mas. Aku pengen di rumah aja sama kamu.”
“Sayang, kamu mau kita bulan madu ke mana?”
“Gak kepikiran buat bulan madu. Menurutku, mau bulan madu, mau enggak, toh intinya sama, untuk menghabiskan waktu berdua. Apa bedanya dengan di rumah?”
“Istriku memang beda. Padahal aku udah siap kalau kamu ajak aku ke ujung dunia sekalipun.”
“Mas, bumi itu bulat. Jadi gak punya ujung. Hehehehhe.”
“Love you juga kangmas Rai Kenandra. Heeee.”
Rai tinggal menyuapkan suapan terakhir sarapan ke mulutnya saat tiba-tiba ponselnya meraung di atas meja. Namun ia tetap menyendokkan makanannya sebelum mengangkat telfon dari Hera.
“Iya, Ra?”
“Apa?!!!” Rai sangat terkejut sampai berdiri dari duduknya. Wajahnya berubah sangat panik karna terkejut.
Esta memperhatikan tingkah suaminya itu dengan rasa penasaran. Entah berita apa yang membuat suaminya itu sampai terkejut begitu.
“Oke. Aku ke sana sekarang.” Ujar Rai sebelum mematikan ponselnya dan beralih menatap Esta.
“Kenapa, Mas?”
“Sky Air jatuh di perairan selat sunda.”
“Apa?!” Esta tak kalah terkejut. Ia menatap suaminya pias.
__ADS_1
“Sayang, aku harus ke kantor sekarang juga.”
Esta mengangguk. “Iya.. Kamu mandi aja biar aku siapin bajumu, Mas.”
*****
Esta mengantar kepergian suaminya sampai ke tempat parkir. Ia terus memperhatikan mobil yang membawa Rai sampai menghilang dari pandangan. Hatinya ikut khawatir.
Ia mengusap wajah untuk mengusir kekhawatirannya dan bersiap untuk kembali ke rumahnya. Namun ia menghentikan langkah seketika saat berpapasan dengan Tina yang sudah siap dengan penampilan paripurnanya.
“Darimana, Ta?” Sapa Tina lebih dulu.
“Gak dari mana-mana. Barusan nganterin Rai kerja. Kamu mau berangkat kerja?” Esta berusaha untuk bersikap ramah dengan wanita menyebalkan itu. Sejenak ia lupa kalau mereka bertetangga.
Tina mengangguk. “Cieee. Yang pengantin baru. Udah di tinggal kerja aja.” Seloroh Tina tidak mempedullikan pertanyaan Esta padanya.
Esta tidak mempedulikannya dan hanya tersenyum gamang.
“Kamu gak curiga, gitu? Di hari pertama kalian nikah bahkan Rai sibuk sama kerjaannya. Aku jadi curiga kalau dia gak beneran sayang sama kamu.” Celetuk Tina di luar dugaan.
“Kamu ini ngomong apa sih, Tina?”
“Aku cuma khawatir sama kamu aja, Esta.”
“Memangnya kamu siapa harus khawatirkan aku? Aku gak tau kalau hubungan kita sedekat itu rupanya sampai kamu khawatir hubunganku sama suamiku.”
“Apa?!” Tina nampak sangat terkejut.
“Tina, kamu masih gak bisa move on ya dari Rai? Kenapa kamu selalu ganggu hubungan kami? Padahal kamu bisa dapetin pria yang lebih dari Rai. Lihat kamu, kamu udah berubah jadi wanita hebat yang terkenal. Gak pantes banget rasanya kalau kamu masih berharap sama cowok yang udah jadi suami orang. Aku kok jadi kasihan sama kamu.”
Ucapan Esta memang terdengar biasa, namun ucapan itu tajam menusuk ke dalam hati Tina yang kini jadi terdiam tanpa bisa membantah. Menatap marah kepada Esta tapi ia tidak bisa berkata-kata.
“Kenapa? Kamu masih gak terima kalau Rai lebih milih orang jelek ini daripada kamu, si cantik dari Lentera Bangsa? Move on, Tina. Udah sepuluh tahun lebih lho. Mending kalau Rai masih bujangan. Lha ini Rai udah jadi suami orang kok kamu masih sibuk ngurusin.” Kalimat terakhir Esta yang kemudian pergi ngeloyor begitu saja meninggalkan Tina yang masih menatapnya tidak percaya.
Esta tahu, setelah ini, hubungan mereka akan semakin buruk. Tapi ia tidak peduli. Sesekali ia harus memberi wanita itu pelajaran. Karna kalau di biarkan, sikap Tina semakin arogan kepadanya.
Esta yang sekarang sudah jauh berbeda dengan Esta yang dulu. Yang selalu diam saja walaupun di tindas, di hina, dan tak di anggap. Dulu ia berfikir kalau dirinya memang tak berharga seperti kebanyakan orang memandangnya. Dulu ia berfikir kalau ia memang pantas di rendahkan karna ia merasa tidak punya apapun.
Tapi tidak dengan sekarang. Dirinya, hidupnya, sangat berharga. Ia tidak akan membiarkan siapapun merendahkannya. Tidak ada seorangpun yang berhak merendahkannya. Karna setiap manusia itu berharga. Terlepas dari apapun latar belakang, dan bagaimanapun penampilannya.
Kini Esta menyadari, semua itu berawal karna dirinyalah yang menganggap rendah dirinya sendiri. Maka dari itu, semua orang tidak menganggapnya ada dan merendahkan dirinya.
__ADS_1
Sebelum lift tertutup, Esta sempat menyunggingkan sebelah bibirnya kepada Tina. Senyuman yang menunjukkan kalau ia mendominasi keadaan. Senyuman yang menunjukkan peringatan kalau jangan sekali-kali lagi Tina merendahkan dirinya dan mengurusi hidupnya apalagi rumah tangganya.
Sementara Tina hanya bisa mendengus kesal sambil membanting pintu mobil untuk menyalurkan kekesalannya. Berkali-kali menggigit bibirnya dengan marah.