Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 37. Tidak Punya Tempat Untuk Melarikan Diri.


__ADS_3

Dan satu minggu berjalan seperti biasanya. Hubungan Akash dan Esta kembali seperti sedia kala. Cuman bedanya, selama satu minggu ini dia akan berangkat sekolah dari rusun. Berangkat naik mobil bersama dengan Rai dan Esta, dan meninggalkan sepeda motornya di rusun.


Rai menceritakan kepada Akash kalau Esta selalu tertidur dimanapun. Maka dari itu, ia membawa mobil agar Esta bisa tidur dengan nyaman.


Akash agak cemburu juga dengan perhatian Rai itu. Tapi ia bisa memaklumi kalau itu semua demi kebaikan Esta dan bayi dalam kandungannya.


Dan sudah selama satu minggu ini, Rai selalu memaksa Esta untuk belajar. Setiap ada kesempatan, Rai selalu membuka bukunya dan menyuruh Esta belajar.


Seperti hari ini, saat teman-temannya sibuk bermain voli di jam istirahat, ia sibuk mencari Esta. Kini Rai tidak malu-malu lagi untuk bertanya kepada teman-temannya tetang Esta. Kini semua tau kalau Rai menjadi guru tutor dadakan untuk Esta karna desakan Pak Jamil.


Setidaknya alasan itu mampu menyembunyikan status mereka yang sebenarnya. Sehingga Rai tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk mengawasi Esta.


“Dimana, ini anak?” Gumam Rai seorang diri sambil terus jelalatan mencari Esta.


Sementara Esta, merasa lega karna bisa melarikan diri dari Rai. Ia sedang menangkupkan lengannya dan tertidur di perpustakaan.


Ah,, santai sekali rasanya. Akhirnya ia punya waktu untuk memanjakan diri sendiri. Tanpa rumus, tanpa angka, tanpa sura Rai yang cerewat jika ia tidak bisa menyelesaikan soal.


Waktunya sudah lebih banyak bersama dengan Rai, apalagi saat di rumah. Pria itu tetap memaksanya untuk belajar, belajar, dan belajar. Ia butuh waktu untuk melarikan diri dari pria itu.


Bruk!


Suara buku yang di banting di atas meja membuat Esta langsung mendongakkan kepalanya.


“Di sini rupanya.” Ujar Rai dengan wajah puas dan senyum licik yang muncul di sudut bibirnya. Pria itu langsung duduk di depan Esta.


Tentu saja Esta langsung protes dengan menghela nafas sebal. Ia menatap Rai malas. Ternyata dia tidak punya tempat untuk melarikan diri.


“Kenapa? Kamu fikir kamu bisa sembunyi dari aku? Gak akan bisa tsaiii...” Ujar Rai dengan nada aneh dan terdengar geli.


“Bisa gak sih kita libur sebentar aja? Aku capek, Rai. Ngantuk.” Entah bagaimana Rai bisa menemukannya di tempat keramat itu.


“Gak boleh banyak alesan. Pokoknya harus kejar target. Waktu kita gak banyak.” Tegas Rai. Ia tidak peduli dengan rengekan Esta.

__ADS_1


Ahh,, saat ini ia berharap kalau Akash akan muncul dan menyelamatkannya. Padahal menurut Esta, percuma saja ia belajar. Karna setelah pulang dari Jogja, ia pasti sudah melupakan semuanya. Karna ujian akan di adakan saat mereka kembali dari Jogja.


Jadi untuk apa belajar sekarang? Otaknya tidak akan menampung semua pelajaran itu.


“Cari buku ini.” Perintah Rai dengan menuliskan nama buku di atas secuil kertas.


Walaupun malas, Esta tetap bangun dan berjalan ke rak untuk mencari buku yang di perintah oleh Rai. Ia kira Rai hanya akan duduk dan menunggu di meja, tapi ternyata Rai juga mengikutinya di belakang.


Dengan teliti Esta membaca satu-persatu judul buku yang ia cari. Sesekali ia melihat cacatan yang ia pegang. Buku yang di cari Esta berada di ujung rak. Ia segera menarik buku itu namun sikunya menyenggol vas keramik yang ada di sebelahnya. Vas itu langsung terjatuh dan membuat Esta sontak menangkapnya.


Ternyata Rai juga dengan spontan menangkap vas itu walaupun keduluan oleh Esta. Esta yang lebih dulu berhasil menangkapnya.


Akibat ketakutan akan menimbulkan suara berisik, membuat ekspresi Esta dan Rai menjadi lucu dan aneh. Saat keduanya bersitatap, membuat Esta dan Rai langsung cekikikan karna lucu melihat ekspresi satu sama lain.


“Pphhhhfffffhhh.... Kikikikiikikikikiiki...” Ujar Esta yang tidak bisa menahan tawa melihat wajah takut Rai.


“Tolong jangan berisik!” Pekik penjaga perpustakaan karna mendengar kikikan mereka.


Sontak Rai dan Esta langsung terdiam walaupun mulut mereka masih terbuka lebar dan tertawa.


“Harusnya kamu ngaca, Rai. Wajahmu, lucu sekali. Phhfffff..” Kikik Esta lagi.


“Sstttt, jangan berisik. Nanti kena marah lagi.” Rai memperingatkan.


“Kalian ngapain di situ?” Suara Akash membuat Rai dan Esta langsung menoleh padanya.


“Telat.” Hardik Esta begitu melewati Akash dan berjalan ke meja. Akash tidak mengerti kenapa Esta menghardiknya. Ia menatap Rai dengan tatapan bertanya namun Rai hanya mengangkat bahunya saja.


Padahal sudah sejak tadi Esta berharap Akash muncul dan menyelamatkannya dari belajar. Tapi pria itu malah baru datang sekarang. Itulah yang membuatnya esal.


Rai dan Akash segera mengikuti Esta kembali ke meja mereka. Dua pria itu duduk bersandingan di hadapan Esta. Esta melihatnya dengan aneh. Ia seperti sedang di sidang oleh pria-pria itu.


Esta ternyata salah besar kalau menganggap Akash akan menyelamatkannya dari belajar kali ini. Pria itu justru bekerjasama dengan Rai untuk memaksanya belajar. Mereka bekerja sama dengan sangat baik.

__ADS_1


Esta memaksa diri untuk mendengarkan penjelasan Rai. Sesekali Akash ikut menimpali dan membantu.


Namun baru sepuluh menit berlalu, kelopak mata Esta perlahan mulai turun. Ia di serang rasa kantuk yang luar biasa. Ia mencoba untuk tetap fokus dengan menyangga kepalanya. Namun kepalanya berkali-kali hampir terjatuh.


“Esta!” Pekik Rai dengan suara lirih.


“Oh? Eh? Aku gak tidur.” Esta kembali tersadar. Ia menatap Rai dengan membuka matanya lebar-lebar. Ekspresinya membuat dua pria itu tersenyum mentertawainya.


Dan lima menit kemudian, Esta sudah tidak bisa menahan beban kepalanya lagi. Ia benar-benar terbuai dengan penjelasan rumus-rumus kimia yang sedang di jelaskan oleh Rai. Rumus-rumus itu membuat rasa kantuknya semakin cepat datang.


Dengan cekatan Akash langsung menahan kepala Esta. Pipi Esta mendarat sempurna di telapak tangan kiri Akash. Dan, Esta terlelap dengan sempurna.


Rai hanya melirik saja sambil menggeleng-gelengkan kepala. Padahal ada rasa menyayat di hatinya melihat sikap Akash itu. Dia kalah cepat. Tapi tidak apa, memang Akash yang menyukai Esta. Kenapa dia ikut campur?


“Kayaknya udah gak bisa di lanjutin lagi deh.” Ujar Akash yang sedang tersenyum menatap lekat wajah Esta. Ia lucu melihat pipi gembul Esta yang tertindih kepala sehingga membuat hidung dan bibirnya peyot.


“Padahal udah gak banyak waktu lagi...” Lirih Rai sambil membereskan buku-buku dari atas meja dan menumpuknya menjadi satu.


“Abis ini anterin aku, ya.” Imbuh Akash.


“Kemana?”


“Aku mau ikut seleksi atlet voli putra tingkat Provinsi.”


“Dimana?”


“UWI.”


“Oke. Terus dia?” Rai menunjuk Esta dengan dagunya.


“Ya kalau mau di ajak aja. Sekalian jalan-jalan. Dia pasti butek banget kepalanya belajar mulu.”


Rai kembali terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menghela nafas pelan kemudian bangkit berdiri dan pergi dari perpustakaan. Meninggalkan Akash yang masih senang menatapi wajah Esta di tangannya.

__ADS_1


Rumit sekali hubungan mereka itu. Esta dan Rai menikah, tapi Rai tetap membiarkan Akash melakukan apapun untuk perasaannya kepada Esta. Ia membiarkan temannya itu memperjuangkan cintanya. Rai berusaha untuk tetap meyakinkan dirinya, kalau semua perhatiannya itu hanya demi bayinya saja. Jadi tidak apa-apa ia membiarkan Akash mendekati Esta. Ia fikir, Esta juga pasti butuh sosok yang tulus mencintainya. Bukan hanya terjebak pernikahan hampa dengan dirinya saja.


__ADS_2