Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 79. Bukan Tidak Beruntung, Hanya Kurang Bersyukur.


__ADS_3

Esta punya seorang teman akrab di dunia maya bernama Sena. Walaupun mereka tidak pernah bertemu, tapi mereka sudah saling terbuka dan saling memberikan nasihat jika salah satu ada masalah.


Di lihat dari fotonya, Sena adalah wanita yang baik. Dan entah kenapa Esta merasa nyaman mengobrol dengannya walaupun hanya sebatas pesan singkat.


Selain Sena, ada juga Putri yang kini bekerja sebagai dosen di salah satu kampus swasta di kota Jogja. Putri sering datang menyambangi Esta saat libur tiba. Atau Esta yang mendatanginya saat ia butuh libur.


Seperti hari ini, Putri sedang tiduran di kamar Esta sambil bermain ponsel. Ia baru tiba beberapa jam yang lalu dan ia merasa kelelahan.


“Bu Narsih masak apa ya?” Gumam Putri.


“Kayaknya sih lele. Coba aja lihat di dapur.” Perintah Esta.


Tapi Putri enggan sekali untuk beranjak dari kasur. Ia sudah terlanjur nyaman rebahan di atasnya.


“Gak jadi makan?” Tanya Esta yang mengernyit karna Putri tak kunjung beranjak dari tempatnya. Gadis itu malah menghidupkan tv yang ada di kamar.


“Waahhh,, lihat itu. Udah nelor lagi aja.” Ujar Putri melihat ke arah tv.


Esta mengikuti arah pandang Putri. Di tv sedang menampilkan seorang penyanyi papan atas, yaitu Kartina Maheswari.


“Tapi emang lagunya bagus-bagus. Jadi wajar aja kalau selalu masuk trending di yutub.”


“Hemm,, enaknya jadi dia. Udah kaya, cantik, plus punya suara emas.” Gumam Putri.


“Jangan iri sama hidup orang lain. Kita bukan gak beruntung. Cuma kurang rasa syukur aja.” Timpal Esta. “Ayo kalau mau makan. Aku juga laper.” Ajak Esta pada akhirnya.


Kali ini, Putri langsung beranjak dari kasur dan berjalan mengikuti Esta di belakangnya.


Mess itu terdiri dari dua lantai. Ada 6 kamar di bawah dan 6 kamar di lantai atas. Dan kamar Esta terletak di dekat pintu gerbang. Sedangkan dapur ada di ujung koridor dekat dengan kamar mandi umum.


Benar saja dugaan Esta. Menu siang ini adalah lele. Ia dan Putri segera mengambil nasi dan lauknya kemudian duduk di meja makan. Disana juga ada Giri yang juga tengah menyantap makan siangnya. Ia mengangguk ramah kepada Putri dan Esta.


“Oh, iya. Aku denger kabar kalau bakalan ada reuni di Jogja.”


“Reuni?”


“Hem. Reuni akbar LB.”

__ADS_1


“Berarti dari semua angkatan dong?”


Putri mengangguk. “Mau dateng, gak?”


Esta nampak berfikir. Entahlah, ia sudah melupakan masa-masanya di sekolah dulu. Ia sudah melupakan masa-masa remajanya yang menyakitkan. Ia sudah mengucapkan selamat tinggal pada masa itu.


“Dateng aja. Katanya acaranya pas malem tahun baru. Sekalian ngerayain tahun baru disana. Ya kan?”


“Aku ikut dong mbak...” Timpal Giri yang sudah duduk di dekat mereka. Entah kapan pria itu menyelesaikan makanannya. Esta dan Putri sampai tidak menyadarinya.


“Anak kecil gak boleh ikut.” Hardik Putri.


“Tapi nanti gak ada yang jagain mbak Esta. Gimana dong?”


“Dasar bocil. Cintamu itu bertepuk sebelah tangan. Gak ada kapoknya nih bocah.” Gerutu Putri.


“Ya gak masalah dong. Selama Mbak Esta belum jadi istri orang. Aku akan tetap mencintai dia.” Ujar Giri dengan polosnya. Menatap penuh harap kepada Esta yang seperti biasa, tidak peduli dengan obrolan itu.


Putri geram sekali dengan tingkah polos Giri. Hampir saja ia melayangkan sendoknya kepada bocah itu.


“Udahlah. Lagi makan juga.” Esta melerai.


Rai, apakah pria itu juga akan hadir disana? Sudah lama sekali ia tidak pernah mendengar kabar dari pria itu. Seperti apa dia sekarang? Apa dia semakin tampan? Semakin tinggi? Ahh, sekelumit kenangan berputar di otaknya.


“Kamu lagi mikirin dia, kan?” Maksud Putri adalah Rai.


“Enggak. Siapa juga yang mikirin dia.”


“Dasar ya tuh orang. Sampe sekarang gak ada kabar sama sekali. Padahal janjinya gak begitu.” Dengus Putri kesal.


“Siapa?” Tanya Giri penasaran.


“Nih orang belum pergi juga. Udah pergi sana. Nanti ada pelanggan.” Usir Putri kembali.


Tidak punya pilihan lain, akhirnya Giri pergi meninggalkan mereka untuk kembali ke laundry.


“Gak usah di fikirin. Aku yakin dia gak bakalan dateng. Selama ini juga dia gak pernah dateng ke acara reuni.”

__ADS_1


Ucapan Putri seolah meyakinkan Esta untuk datang ke acara reuni itu.


“Kapan tadi acaranya?” Tanya Esta.


“Jum’at depan. Pas malem tahun baru.” Putri mengingatkan.


“Okeelah. Kenapa enggak. Sekalian tahun baruan disana.”


“Nah gitu dong. Gitu kan aku seneng. Hehehehe.”


Saat malam hari tiba, dan Putri sudah terlelap di kamarnya. Tapi Esta masih sibuk berbalas pesan dengan Sena. Mengobrol dengan Sena bisa membunuh kebosanannya. Seperti biasanya, Sena punya banyak hal untuk di ceritakan kepada Esta.


Sena: “Jadi kamu ikut reuni itu?”


Esta: “Belum tau. Kemungkinan ikut.”


Sena: “Udah. Gak usah di fikirin. Tinggal ikut aja kok. Itung-itung buat nyari cowok ganteng. Hahahaahaha.”


Esta: “Hehehehehe. Kayaknya sih memang ikut.”


Sena: “Nahh. Gitu dong. Jangan sibuk ngurusin kerjaan aja sampai gak punya waktu buat seneng-seneng.”


Esta: “Sok tau kamu!”


Sena: “Hahahahahahahaa. Oke deh. Aku mau tidur dulu. Besok harus lanjut kerja lagi. Met malem Ta...”


Esta: “Oke. Met malem juga. Met istirahat.”


Esta mengakhiri obrolan sosial media itu dengan tersenyum. Entah kenapa Sena membuatnya nyaman untuk bercerita. Ia ingin bertemu dengan temannya itu namun belum berani mengutarakannya.


Esta berjalan menghampiri rak buku yang ada di dekat jendela. Pandangannya hanya tertuju pada satu benda. Yaitu sebuah pena yang masih terbungkus rapi di dalam kotaknya. Esta memang sengaja tidak menggunakan pena itu karna ia merasa kalau itu adalah benda berharga untuknya. Sayang kalau di pakai.


Pena itu menyimpan sejuta kenangannya bersama Rai. Sosok pria yang kini entah berada di belahan bumi bagian mana. Tanpa kabar yang terdengar sekalipun.


Sesaat, Esta seperti tidak menyangka kalau kehidupannya akan jadi seperti ini. Jika mengingat jauh ke belakang, terlalu banyak rasa sakit yang ia terima. Tapi itu justru berhasil membentuk karakter Esta menjadi wanita kuat dan mandiri. Tidak pernah mengandalkan siapapun untuk masalahnya.


Perpisahannya dengan Rai, tetap membekaskan luka yang mendalam dan tidak pernah sembuh bahkan sampai saat ini. Ia tetap menutup hati bagi laki-laki manapun yang ingin dekat dengannya. Seolah perasaan itu masih belum tertembus

__ADS_1


Namun sekarang Esta sadar kalau ia tidak bisa seperti ini selamanya. Ia harus segera membuka hati untuk orang lain. Ia harus segera menutup lukanya dan menyembuhkan diri dengan cinta yang ia terima.


Bisakah ia memaksa dirinya untuk menerima kehadiran orang lain? Setelah sekian lama hatinya tertutup.


__ADS_2