
Hari ketiga di rumah sakit.
Rai sedang mondar mandir di depan jendela dengan perasaan gusar. Waktunya terasa berjalan sangat lambat karna ia sedang menunggu kedatangan Esta.
Sudah berkali-kali ia melirik ke arah jam dinding, dan kepada jam tangannya juga. Sudah hampir jam 10 siang dan Esta belum menampakkan batang hidungnya.
Padahal Esta berjanji hanya pulang sebentar untuk mandi dan berganti baju. Tapi kenapa lama sekali?
Rai membuka ponselnya dan berniat hendak menghubungi Esta, namun ia segera menutup ponsel itu kembali. Ia tidak mau Esta menganggapnya tidak sabar. Ia takut Esta tidak menyukainya.
Suara ketukan di pintu membuat Rai langsung menoleh dengan memasang senyuman. Senyumnya semakin melebar saat melihat sosok Esta yang muncul dari balik pintu. Namun senyumnya kembali menguap saat melihat ada orang lain yang datang bersama dengan Esta.
“Hai. Udah bangun? Lagi ngapain?” Sapa Esta kemudian berjalan ke nakas dan meletakkan tasnya di sana.
Pandangan Rai hanya tertuju kepada seorang pria yang sedang menggandeng gadis kecil di sampingnya. Ia tau pria itu. Itu adalah polisi yang tempo hari membawa Esta pergi dari hadapannya. Ada kilatan rasa tidak suka terhadap kehadiran pria itu.
“Kenapa baru datang?” Tanya Rai kepada Esta. Ia mengalihkan wajahnya kepada wanita itu.
“Sorry. Tadi banyak yang di urusin di rumah.” Jawab Esta. “Oh iya, kenalin, ini Mas Oza. Dia juga alumni LB.”
“Hai. Salam kenal.” Ucap Oza yang mengulurkan tangannya kepada Rai.
Rai mengangguk dan menyambut uluran tangan itu. “Rai.” Ia memperkenalkan diri.
“Oza. Iya, aku udah sering denger kamu dari anak-anak lain.”
Rai tersenyum gamang. Ia berfikir kenapa Oza datang ke rumah sakit sementara mereka tidak saling mengenal?
“Tadi pas aku mau kesini mereka dateng terus nawarin buat nganterin aku. Jadi ya udah.” Jelas etsa saat melihat kilatan rasa penasaran di wajah Rai. Entah kenapa ia harus menjelaskan hal itu. Yang jelas ia tidak ingin Rai merasa curiga dengannya.
“Oh.” Jawab Rai singkat. “Silahkan duduk, Mas.” Tawar Rai kepada Oza.
“Enggak usah. Aku masih banyak urusan. Yuk Nak, pulang.” Ajak Oza kepada putrinya.
Nampaknya Starla enggan untuk pergi. Ia bosan jika harus di tinggal di rumah bersama dengan pengasuhnya. Gadis kecil yang berdiri di samping Esta itu terus mencengkeram baju Esta dengan erat. Ia tidak berani menggeleng saat diajak oleh ayahnya. Hanya meliriknya saja.
“Starla mau disini aja sama Tante?” Tawar Esta yang mengerti keinginan Starla.
Gadis kecil itu langsung mendongak dan mengangguk dengan sumringah. Kemudian ia menatap ayahnya penuh harap agar di ijinkan tetap tinggal disana dengan Esta.
“Tapi nanti ngerepotin kamu, Ta.” Ujar Oza. Merasa tidak enak hati. Terlebih sepertinya Rai tidak terlalu menyukai keberadaan putrinya.
“Enggak kok Mas. Gak ngerepotin.” Jawab Esta.
__ADS_1
“Beneran nih? Aku gak enak lho.”
“Iya, Mas. Gak apa-apa. Biar Starla disini sama aku. Nanti sore Mas Oza bisa jemput dia.”
Oza nampak berfikir sejenak. Ia menatap Starla yang masih konsisten dengan tatapan memohonnya. Oza kemudian berjongkok di depan putrinya.
“Janji sama Papa, gak boleh nakal dan gak boleh ngerepotin Tante Esta, ya?” Pinta Oza kepada Starla.
“Janji, Pa.” Jawab Starla. Ia senang akhirnya ayahnya mengijinkannya untuk tinggal dengan Esta.
Oza mengusap puncak kepala putrinya sebelum akhirnya bangkit berdiri kembali.
“Kalau gitu, nitip Starla ya Ta? Nanti kalau aku udah selesai urusan aku jemput dia.”
“Iya, Mas.”
“Oke, cepet sembuh ya Rai. Aku pergi dulu.” Ujar Oza berpamitan kepada Rai.
Rai hanya mengangguk dan tersenyum saja. Sedangkan Esta mengantarkan Oza sampai ke pintu kamar.
Perasaan Rai jadi aneh saat ada sepasang mata cantik dan mungil yang sedang menatap tajam di hadapannya. Gadis kecil pelik mata itu melihatnya dengan tatapn curiga yang aneh.
“Starla kenapa ngelihatin Om Rai begitu?” Tanya Esta yang sudah kembali dari mengantarkan Oza.
“Om ganteng. Tapi sayang, sombong.”
Tapi Starla tidak mau menjawab. Ia malah beralih duduk di pangkuan Esta dan kembali memainkan boneka taddy bearnya. Gadis itu nampak sangat nyaman dengan Esta. Dan membuat Rai yang merasa tidak nyaman dengan hal itu.
“Kalian kelihatan akrab banget.” Dengus Rai kemudian.
“Iya, dong.”
“Kamu juga akrab sama papanya?” Selidik Rai.
“Gak akrab juga sih. Biasa aja. Kenapa?”
“Gak apa-apa.” Jawab Rai dengan langsung menundukkan wajahnya. Ekspresinya sulit dibaca dengan bibir yang agak mengerut.
Esta hanya tersenyum saja kemudian melanjutkan bermain dengan Starla. Ia bahkan menawari gadis kecil itu buah.
“Gak akrab tapi manggilnya mesra gitu.” Gumam Rai lagi.
“Mesra gimana?”
__ADS_1
“Kamu manggil dia ‘Mas’. Sama aku aja gak pernah manggil gitu.” Gerutunya kemudian.
Esta mengernyit. Heran dengan kelakuan absurd Rai. “Kamu ini ngomong apa sih?”
“Aku juga mau di panggil ‘Mas’.”
Dan Esta jadi terbelalak mendengarnya. Ia bergidik geli membayangkannya.
“Ya wajar lah aku panggil Mas Oza ‘mas’. Secara umur kan dia lebih tua dari aku. Gak sopan kalau aku manggil namanya aja.” Bela Esta.
“Tapi aku gak suka dengernya. Aku juga mau di panggil ‘Mas’.”
Esta kembali ternganga. Ia semakin geli.
“Kamu ini kenapa sih? Aneh banget.”
“Panggil aku ‘Mas’.” Desak Rai dengan tatapan serius.
“Iihhh. Kamu gak aneh gitu?”
Rai memasang wajah cemberut karna Esta tidak mau menurutinya. Sedangkan Esta hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.
Rai tidak suka. Pokoknya ia tidak suka melihat cara Esta memperlakukan Oza. Ia tidak suka mendengar Esta memanggil pria itu. Ada sesuatu yang mengganggunya dari tatapan pria itu kepada Esta. Tatapannya, sama seperti
saat ia menatap Esta. Dan ia sangat tidak suka itu. Perasaannya tidak baik mengenai hal ini.
Apa Oza akan menjadi saingannya? Seperti Akash? Astaga, kenapa banyak sekali yang menaruh rasa kepada Esta? Itu membuat peluangnya semakin kecil saja.
“Jangan terlalu akrab sama cowok. Mereka tidak bisa di percaya.” Gumam Rai lagi. Sepertinya ia lupa kalau ia juga laki-laki.
“Kalau gitu, kamu juga gak bisa dipercaya dong? Kan kamu cowok?” Sanggah Esta menahan senyum.
“Kalau aku beda, Ta.”
“apanya yang beda? Kamu kan juga cowok? Apa jangan-jangan kamu bukan cowok tulen?” Goda Esta.
“Enak aja! Aku ini asli, Ta. Mau bukti?!” Ujar Rai yang tidak terima dikatai bukan tulen. Ia bahkan langsung berdiri dan hendak melepaskan celana rumah sakit yang ia pakai.
“Eh! Eh! Eh! Mau ngapain?!” Cegah Esta sebelum semuanya terlambat.
“Mau nunjukin bukti kalau aku ini cowok tulen.”
“Gila kamu! Ada anak kecil juga!” Hardik Esta.
__ADS_1
“Hahahahahahahahaha. Bercanda kali. Serius amat. Lagian kan kamu yang pertama udah ngerasain lebih dulu.”
Selor~~~~ohan Rai itu berhasil membuat kulit rambutan mendarat di tubuhnya. Di sertai dengan cibiran kesal dari Esta.