
“Mas! Buruan! Nanti telat lho!” Pekik Esta dari luar kamar mandi. Ia kesal karna suaminya begitu lama berada di dalamnya.
“iya, bentar! Perutku mual ini.” Jawab Rai.
“Mama!” Panggil Ren yang sudah berumur lebih dari dua tahun itu. Ia berlari mendekati ibunya.
“Wih, ganteng banget anak Mama.” Puji Esta sambil mencium pipi putranya.
Tak berapa lama kemudian, Rai sudah keluar dari dalam kamar mandi. Wajahnya nampak pucat.
“Kita ke dokter aja, ya? Nanti aku yang bilang sama Akash.” Ujar Esta. Ia tidak tega melihat wajah suaminya yang seperti tak bertenaga.
Namun Rai langsung menggelengkan kepalanya. “Enggak. Jangan, sayang. Nanti dia kecewa kalau kita gak dateng ke nikahannya.”
“Tapi kalau nanti kamu pingsan disana gimana?”
“Udah, aku udah gak apa-apa. Udah minum obat masuk angin juga tadi. Bentar lagi juga udah sembuh, kok.” Kekeuh Rai. “Giri udah dateng?”
“Udah, itu lagi nunggu di depan.” Jawab Esta.
Rai memang sudah membelikan sebuah rumah untuk Esta agar memudahkan istrinya. Karna memang sesekali Esta akan pergi ke Semarang untuk mengurusi bisnis disana. Sehingga ia tidak perlu menginap di mess apalagi di hotel. Rumah itu juga tak jauh dari kantor pusat Semesta Laundry.
“Widih, anak Papa udah ganteng aja. Coba sini.” Panggil Rai memanggil Ren.
Ren mendekati ayahnya kemudian menempelkan pipinya di pipi ayahnya.
“Ma, siapa yang lebih ganteng?” Tanya Ren dengan polosnya.
“Hahahahahaha. Kalian berdua sama-sama ganteng.” Jawab Esta mencari aman.
“Iih. Mana bisa gitu, sayang. Ayo, gantengan aku apa Ren?” Tanya Rai tak kalah seperti putranya.
“Ehmmmm...” Esta berpura-pura berfikir untuk menentukan pemenangnya. Ia menatapi dua wajah yang mirip itu bergantian.
“Gantengan Papa.” Jawab Esta kemudian. Membuat Ren jadi cemberut kesal.
“Yesss!” Pekik Rai kegirangan.
“Kata orang-orang gantengan aku daripada Papa.” Dengus Ren tidak terima.
Esta berjongkok untuk mensejajarkan diri dengan putranya. Ia memagang pipi Ren dengan senyuman hangatnya.
“Karna itu, Mama milih Papa. Kan udah banyak orang yang bilang kalau Ren ganteng. Sedangkan Papa, cuma Mama yang bilang dia genteng. Masih menang Ren.”
“Hihihihihihihi.” Ren terkekeh sambil menutupi mulutnya. Menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan penuh kemenangan.
Sementara Rai jadi cemberut kesal kepada istrinya.
“Udah ayo. Nanti kita telat ke acara nikahannya om Akash.” Esta kembali memperingatkan.
Pernikahan Akash dan Leka berbeda dengan pernikahan Rai dan Esta yang terkesan mendadak dan tanpa persiapan. Leka tidak ingin cepat-cepat karna ia menginginkan pernikahan yang sempurna menurut versinya. Karna itu mereka harus menunggu selama dua tahun hingga akhirnya mereka benar-benar siap untuk menjalin bahtera rumah tangga.
__ADS_1
Pernikahan di laksanakan di sebuah gedung yang besar hingga dapat menampung banyak tamu. Para tamu yang hadir merupakan tamu-tamu penting. Apalagi kalau bukan karna ayah Leka yang baru saja dilantik menjadi seorang menteri. Jadi wajar kalau acara pernikahan itu dihadiri oleh para pejabat dan petinggi pemerintahan.
Di tambah lagi dengan Oza yang mempunyai jabatan tinggi juga di jajarannya.
Sedangkan tamu-tamu Akash lebih banyak dari kalangan selebritis dan dunia layar kaca. Karna memang ia berkecimpung di bidang itu.
Kedatangan Rai dan keluarga kecilnya di sambut sangat antusias oleh kedua mempelai dan keluarga mereka.
“Lega aku, Kash. Akhirnya sainganku bener-bener udah hilang.” Seloroh Rai berbisik kepada sahabatnya itu.
“Sialan kamu. Tapi jangan senang dulu. Sainganmu ada yang baru.” Ujar Akash melirik kepada Ren yang sedang bergelayut di gendongan ibunya.
“Hehehehe. Iya, sih. Lebih parah dia daripada kamu. Mau ***-*** sama Mamanya aja harus sembunyi-sembunyi kayak maling. Hihihihihi.”
“Dasar, otak mesum.” Hardik Akash kemudian mereka terkekeh bersama.
“Selamat ya, Kash. Ikut bahagia buat kalian.” Ujar Esta kepada Akash.
“Makasih banyak, Ta.” Akash membalas senyuman wanita yang pernah mengisi hatinya selama belasan tahun itu.
Esta beralih kepada Leka. “Selamat ya, Ka. Kamu keren.” Ujar Esta mengacungkan jempolnya.
“Makasih banyak, Mbak. Akhirnya kan ya.. Hihihihi.”
Setelahnya, mereka melakukan sesi foto bersama.
“Sini, sama Om.” Ujar Akash mengangkat tangannya. Dan Ren menyambutnya kemudian berpindah ke gendongan Akash.
Pukul 16.00 acara pesta pernikahan Akash dan Leka sudah berakhir. Rai dan Esta sudah kembali ke rumah mereka.
“Kayaknya kita ke rumah sakit aja deh, Mas. Gak pernah-pernahnya kamu muntah sampe beberapa kali sehari. Aku takut kamu kenapa-napa.” Rayu Esta.
“Tapi aku ngerasa kalau badanku biasa aja. Cuman entah kenapa perutku kok mual terus-terusan.” Ujar Rai yang duduk di sofa kamar mereka.
“Penyakit itu gak bisa kalau cuman di kira-kira aja, Mas. Harus di periksa dulu. Kita akan bukan ahlinya.”
“Tunggu sampai besok ya. Kalau mualnya gak reda juga, kita ke rumah sakit.” Kekeuh Rai.
Kalau suaminya sudah begitu, Esta tak punya pilihan lain selain menurutinya.
“Ya ampun, kenapa tiba-tiba aku pengen banget makan nasi padang, ya?” Gumam Rai kemudian.
“Aneh banget sih. Kan baru aja makan tadi di pestanya Akash.”
“Iya, tapi udah laper lagi.”
“Ya udah, tinggal pesen, selesai. Aku mau nunggu Ren dulu.” Pamit Esta kemudian beralih ke kamar putranya.
Sambil menepuk-nepuk Ren, fikiran Esta melayang kemana-mana. Semua hal terlintas di benaknya. Termasuk jadwal rutin datang bulannya.
Setelah ia mengingat-ingat, bulan kemarin ia tidak mendapati tamu bulanannya itu datang. Dan fikirannya langsung tertuju ke pada sesuatu.
__ADS_1
Esta segera bangun dan keluar dari kamar Ren. Ia pergi ke apotik yang ada di ujung gang untuk membeli sebuah alat tespack.
Sekembalinya ke rumah, Esta segera malakukan tesnya. Dan benar saja, garis dua muncul di sana sampai membuatnya meneteskan airmata haru sekaligus bahagia. Ia menutup mulut tidak percaya.
Esta segera berlari ke kamar utama dan langsung memeluk suaminya.
“Kenapa, sayang?” Tanya Rai yang khawatir melihat airmata keluar dari netra istrinya.
“Aku hamil, lagi.” Bisik Esta di telinga suaminya.
“Yang bener? Serius?” Tanya Rai tak percaya.
Esta mengangguk dengan mantap.
“Alhamdulillah.. Ren udah mau punya adik. Makasi banyak ya, sayang...” Rai balik memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat erat. Rasanya luar biasa sekali. Sama bahagianya saat ia tau kalau Esta sedang hamil anak pertama mereka.
“Kita ke rumah sakit sekarang. Sekalian aku mau periksa juga. Aku gak mau sakit saat kamu lagi hamil begini.”
Rai langsung menggenggam dan menarik tangan istrinya.
Sebelum pergi, Esta menitipkan Ren kepada pengasuhnya terlebih dahulu. Barulah mereka langsung menuju ke sebuah klinik kandungan yang tak jauh dari rumah mereka.
Rai menunggui istrinya yang sedang di periksa oleh seorang dokter wanita. Ia tidak melewatkan hal sekecil apapun saat dokter itu menjelaskan sesuatu.
“Selamat ya, bu. Udah jalan 7 mingggu ini.” Jelas dokter itu. Membuat mata Rai berbinar bahagia.
“Terimakasih, dokter.” Ujar Esta dan Rai saat mereka selesai melakukan pemeriksaan. Keduanya lantas keluar dari ruangan itu.
Rai sudah lebih dahulu melakukan pemeriksaan tadi. Dan dokter menyatakan tidak ada yang salah dengan kondisi tubuh Rai. Namun dokter tetap memberikan obat agar Rai tak terlalu mual lagi. Dokter juga berpesan agar besok Rai memeriksakan diri ke rumah sakit yang peralatannya lebih baik jika Rai tidak yakin dengan pemeriksaan hari ini.
“Huh!” Dengus Rai sambil fokus di balik kemudi.
“Kenapa, Mas?”
“Kamu yang hamil kok jadi aku yang mual? Emangnya bisa begitu?”
“Pernah denger sih. Dalam beberapa kasus, suaminya yang ngidam.” Jelas Esta.
Rai mengangguk-anggukan kepala. “Tapi gak apa-apa. Biar kamu gak susah. Hehehe.” Ia mengelus kepala sang istri dengan lembut.
“Kamu pengen cewek apa cowok, Mas?”
“Sediaksihnya aja. Mau cewek, mau cowok, sama-sama berharga. Wahh, aku harus mikirn nama nih buat dia.”
“Kecepetan. Masih lama juga lahirnya.”
“Tapi aku memang udah punya ide. Kalau cowok, Ranu. Kalau cewek, Reena.”
Esta menganggukkan kepala. “Keren juga. Ranu Wais. Atau kalau cewek, Reena..... Ehmmm. Reena apa ya...?” Esta jadi ikut berfikir.
“Nanti kita fikir pelan-pelan. Yang jelas, aku bahagia banget, sayang. Akhirnya, Ren bakalan punya adik. Love you sayangku.” Rai menggenggam tangan istrinya dengan erat.
__ADS_1
Esta membalasnya dengan mengecup pipi suaminya.
“love you too. Mas.”