Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 43. Debaran Hati Yang Semakin Menjadi


__ADS_3

Butuh waktu sekitar dua jam bahkan lebih untuk mereka tiba di kawasan puncak. Dan mereka baru di setengah perjalanan. Setelah pembahasan serius tadi, baik Esta dan Rai lebih banyak diam. Sesekali Esta hanya memainkan ponselnya. Melihat-lihat media sosial miliknya.


Dan Rai, ia tetap fokus pada jalan tol yang terbentang di hadapannya. Dia sedang menekan hatinya untuk membangun bentengnya kembali. Ia membiarkan Esta tertidur setelah bosan bermain ponsel.


Sekitar jam setengah empat sore, mereka sudah sampai di villa. Rai dan Esta tiba lebih dulu di sana. Rai membangunkan Esta yang masih tertidur dengan pelan. Ia membuka pintu mobil di sisi Esta secara perlahan dan menggerak-gerakkan tubuh Esta setelah melepaskan sabuk pengaman yang melilit di tubuh gadis itu.


“Ta?”


“Hemmm...”


“Udah sampe. Bangun.”


Esta memaksa kelopak matanya untuk terbuka. Rasanya masih berat dan ia masih ingin tertidur lagi. Namun ia tetap bangun dan keluar dari mobil. Ia mengedarkan pandangannya ke sekililingnya. Hembusan angin sore membuat ia bergidik. Seketika bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya berdiri. Esta merinding kedinginan. Ia memeluk tubuhnya sendiri dan mengusap-usap kedua lengannya sendiri.


“Nenek mana?” Tanya Esta ketika ia tidak menemukan mobil prasetyo di sana.


“Masih di belakang. Ayo masuk, dingin.” Ajak Rai. Ia membuka pintu belakang dan mengambil tas ransel dari sana.


Baru saja Rai menutup pintu mobilnya, mobil prasetyo muncul memasuki pekarangan villa. Setelah mereka semua turun dari mobil, Rai membantu pamannya untuk membawa barang-barang masuk ke dalam villa. Mereka juga di bantu oleh penjaga villa mereka yang bernama Mang Bardi.


“Sini, Den. Biar saya bawakan tasnya.” Tawar Mang Bardi kepada Rai.


“Gak usah, Mang. Bisa kok. Itu masih ada di bagasi tasnya Nenek.” Ujar Rai menyuruh Mang Bardi  mengambil sisa barang.


“Ayo, Esta. Sini, masuk.” Ajak Citra.


Esta segera mensejajarkan langkah bersama dengan Citra dan juga Salamah. Ketiga wanita beda generasi itu berjalan beriringan masuk ke dalam villa mewah milik keluarga Salamah.


Villa itu sudah nampak mewah bahkan ketika di lihat dari luar. Setelah masuk ke dalamnya, beberapa interior klasik menyambut siapapun yang melangkahkan kaki masuk kedalamnya.


Rai mengajak Esta untuk masuk ke kamar yang biasa ia tempati saat sedang berlibur di sini.walupun canggung, tapi Esta tetap mengikuti Rai masuk ke kamar yang terletak di lantai dua itu. Tangga yang terbuat dari kayu namun di poles hingga nampak begitu mewah, menghubungkan lantai satu dan lantai mdua.


Di lantai dua, hanya ada ruang bersantai yang menghadap ke pemandangan dengan dinding kaca yang besar. Sementara kamar yang dimasuki oleh Rai dan Esta merupakan kamar loteng dengan desain yang tidak kalah unik.


Disana ada sebuah tempat tidur berukuran king bed yang menghadap langsung ke jendela kaca dengan hamparan pemandangan kebun teh sejauh mata memandang.

__ADS_1



Rai meletakkan tas dan mengeluarkan isinya kemudian menaruhnya di dalam lemari pakaian. Sementara Esta sedang berdiri di depan jendela dan mengagumi pemandangan yang terbentang di depannya.


“Wah...” Ujarnya tanpa sadar. Matanya berbinar menatap lurus ke luar.


“Kenapa?” Tanya Rai yang agak terkejut. Ia fikir telah nterjadi sesuatu kepada Esta. Ia langsung menghampiri Esta.


“Cantik banget...”


Pada akhirnya Rai tesenyum lega dan iapun ikut berdiri di samping Esta.


“Mau jalan-jalan gak?”


“Kemana?” Esta menoleh dengan ekspresi antusias.


“Lihat sunset. Mau?”


“Serius?” Esta semakin bersemangat.


“Mau bangetttt..”


“Pakai jaketmu.” Perintah Rai.


Tapi Esta tidak punya jaket. Yang ia punya hanya blazer tipis yang sedang ia pakai itu.


Rai turun lebih dulu ke bawah dan pamit kepada neneknya. Tidak lama kemudian, Esta sudah menyusul dan ikut pamit kepada Salamah.


“Hati-hati di jalan. Jangan malem-malem baliknya, dingin.” Pras memperingatkan.


“Iya, Om. Kami berangkat dulu, Om, Nek.”


“Iya...”


Esta melenggangkan kakinya dengan bahagia. Ia bahkan terus menatap sepanjang jalan dengan antusias. Ia memperhatikan semua yang mereka lewati.

__ADS_1


“Udah pernah kesini?”


Esta menggeleng. “Belum. Baru ini.”


“Puas-puasin deh.”


Rai juga tak kalah senang. Ia juga selalu tersenyum saat melihat Esta yang seperti anak kecil yang melihat hal menyenangkan di pinggir jalan. Ekspresinya sangat lucu sekali.


Rai terus melajukan mobilnya menyusuri jalanan perbukitan yang banyak terdapat kebun teh di sisi-sisi jalan. Esta tak henti-hentinya mengagumi pemandangan yang baru petama kali ia lihat itu.


Mobil terus melaju hingga sampailah mereka di sebuah pintu masuk dan Rai harus menghentikan mobilnya untuk membeli tiket masuk. Setelah mendapatkan dua tiket, ia kembali melajukan mobilnya.


Jarak pintu masuk dan tempat parkir mobil masih lumayan jauh. Sekitar beberapa ratus meter lagi. Setelah sampai di tempat parkir mobil, Rai segera mencari tempat yang kosong. Sulit sekali menemukannya karna tempat itu sudah penuh terisi oleh mobil-mobil pengunjung.


Tapi beruntung, saat Rai tengah bingung, ada sebuah mobil yang keluar area parkir dan Rai segera mengisi tempat itu dan memarkirkan mobilnya di sana.


“Pakai jaketmu..”


“Ini udah aku pakai.”


“Itu tipis. Dingin.”


“Gak dingin kok.” Elak Esta. Lagipula ia tidak punya jaket tebal sepeti yang di pinta oleh Rai. Ia tidak pernah punya jenis jaket yang seperti itu.


Bahkan jaket yang melekat di tubuhnya itu saja, merupakan barang second alias baju bekas yang ia beli dengan gaji pertamanya saat bekerja di warung Pakde Karya. Dan lagi, di Jakarta panas, jadi ia tidak membutuhkan jaket tebal.


Esta tetap mengikuti Rai dan mensejajarkan langkah dengan pria itu pergi menapaki beberapa anak tangga, dan kemudian voila...


Pemandangan menakjubkan segera terbentang di hadapan mereka. Walaupun banyak pengunjung yang juga ada disana, tapi masih ada cukup tempat bagi Esta dan Rai untuk menikmati pemandangan di salah satu gubuk bambu mungil yang tersedia.


“Kamu tunggu disini bentar, ya. Aku mau beli makanan dulu.” Pamit Rai.


Rai beranjak pergi kemudian masuk ke salah satu warung. Rai memesan dua mie cup besar rasa soto. Ia juga membeli dua buah jagung bakar. Setelah selesai, ia membawa semua pesanannya dengan meminjam nampan pemilik warung.


Rai menghentikan langkahnya di tempat yang tak jauh dari gubuk. Ia bisa melihat Esta yang sedang sibuk dengan rambut terurainya yang sedang di terpa angin. Terbang kesana kemari menutupi sebagian wajahnya. Gadis itu nampak kesulitan untuk menyingkirkan rambut dari wajahnya. Padahal ia sudah menyelipkannya di belakang telinga. Tapi karna angin yang bertiup cukup kencang, tetap saja rambut itu terombang-ambing.

__ADS_1


Senyum terus mengembang di bibir Rai. Itu adalah sebuah senyum tulus yang bahkan tidak pernah ia nampakkan. Menatap gadis yang perlahan mampu menarik perhatiannya dengan tatapan yang tersenyum. Pria itu, ia sedang menikmati debaran hatinya yang semakin menjadi.


__ADS_2