Semesta Rai

Semesta Rai
Bonchap 2.


__ADS_3

Akash terus terngiang-ngiang ucapan Leka saat di Jakarta dulu. Bahkan sudah dua bulan ini Leka sama sekali tidak menghubunginya. Padahal biasanya gadis itu selalu menghubunginya terlebih dahulu. Biasanya ia akan


tersenyum saat bangun tidur dan sebuah pesan sudah masuk ke ponselnya dari Leka.


Tapi, sekarang ia merasa kosong. Ia seperti bingung tentang apa yang harus di lakukan.


Akash sedang duduk di sofa rumahnya. Matanya tak lepas menatapi ponselnya yang tergeletak di atas meja. Berharap nama Leka muncul di sana. Tapi sayangnya, bahkan setelah sebulan berikutnya, gadis itu tetap tidak pernah menghubunginya.


Sepertinya Leka benar-benar dengan ucapannya waktu itu.


Tidak bisa begini terus. Ia harus menelfon Leka dan menanyakannya langsung kepada gadis itu.


Akhirnya Akash memberanikan diri untuk menelfon Leka terlebih dahulu. Namun ternyata ada hal yang membuat ia sangat terkejut. Ternyata Leka memblokir nomornya dan ia tidak bisa menghubungi gadis itu.


Akash sedang berada di puncak titik frustasinya karna tidak bisa menghubungi Leka. Akhirnya ia menyerah dan menelfon manajernya.


“Pesankan tiket ke Semarang. Secepatnya.” Perintahnya tegas.


Dan disinilah Akash sekarang. Berdiri di pintu keluar Bandara Ahmad Yani , Semarang. Mengedarkan pandangannya kemudian mendorong koper kecilnya menuju ke sebuah taksi yang berada tak jauh darinya. Ia masuk ke dalam taksi itu dan meminta sopir untuk mengantarkannya ke sebuah hotel.


Akash beristirahat sebentar di hotel sebelum menyewa mobil kemudian berangkat menuju ke kantor Leka.


Sesampainya di sana, ia menghentikan mobilnya di seberang kantor karna melihat Leka yang sedang bersama dengan seorang pria masuk kedalam mobil.


Akash mengikuti mobil itu di belakangnya. Ia merasa khawatir saat melihat mobil yang membawa Leka hampir menghilang dari pandangannya. Dan ia segera bernafas lega saat menemukannya kembali.


Mobil Leka memasuki halaman sebuah foodcurt yang tak terlalu ramai. Dan Akash segera ikut memarkirkan mobilnya di sisi yang berseberangan dari mobil Leka.


Leka dan pria yang bersamanya terus duduk di sebuah meja payung. Pria yang bersama Leka lantas memesankan makanan untuk mereka berdua. Akash menurunkan topinya untuk menutupi wajahnya. Ia tidak ingin penyamarannya terbongkar. Ia mengambil duduk di meja yang berada tepat di belakang Leka.


“Sudah pesan?” Tanya Leka kepada teman prianya.


Pria itu mengangguk dan tersenyum. Lantas ikut duduk di depan Leka.


“Maaf aku tiba-tiba ngajak kamu jalan kayak gini. Padahal kamu pasti sibuk dan banyak kerjaan.” Ujar pria itu. Akash tetap mendengarkan dengan seksama. Ia menajamkan telinganya.


“Gak apa-apa. Lumayanlah, buat ngilangin bosan.” Jawab Leka. Masih dengan ekspresi cerianya seperti biasa.


“Jadi kamu sama Akash, udah putus?” Pertanyaan pria itu mengejutkan Akash yang mendengarnya.


“Mana ada putus.” Jawab Leka. Membuat Akash tersenyum senang. “Orang kami gak ada hubungan apa-apa, kok. Gimana bisa putus?”

__ADS_1


Hati Akash mencelos mendengarnya. Ia menggenggam jemarinya dengan erat.


“Lho tapi kata Mas Oza, kamu lagi deket sama Akash.”


“Jadi Mas Oza yang kasih tau kamu?”


“Iya.”


“Aku sama Akash gak ada hubungan apa-apa. Aku memang suka sama dia. Tapi perasaanku bertepuk sebelah tangan. Sedih ya aku? Hheheheheh.”


“Kalau gitu, ayo pacaan sama aku aja.” Ujar pria itu tiba-tiba. Membuat Akash melepas serta membanting topinya ke atas meja dan langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke meja mereka.


“Jangan di terima!” Ujarnya dengan nada menekan.


Leka yang terkejut langsung menatap kepada Akash tidak percaya. “Mas Akash?!”


“Jangan terima dia. Kamu punyaku.” Tekannya kemudian.


Akash tidak peduli dengan orang-orang yang menatap mereka. Ia langsung meraih tangan Leka dan menariknya untuk menjauh dari sana.


“Mas, lepasin.” Ujar Leka yang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Akash.


Akash tidak peduli. Ia sudah kepalang marah. Ia terus menarik Leka ke tempat yang sepi.


“Kamu ini apa-apaan sih, Mas? Tiba-tiba muncul. Pake narik-narik segala lagi.” Dengus Leka.


“Kamu bilang mau terus berjuang buat aku? Mana? Apa cuma segini aja usahamu buat dapetin aku?” Ujar Akash dengan menatap lurus ke netra Leka.


“Hampir setahun usahaku buat masuk ke dalam hati kamu, Mas. Aku gak mau terus-terusan kelihatan bodoh dengan memperjuangkan cinta yang gak akan pernah terbalas.”


“Siapa bilang cintamu gak terbalas?”


Leka terdiam. Ia mencari kesungguhan dari pria yang berdiri di hadapannya itu.


“Hahahahahaha. Kamu ini kenapa sih, Mas? Udah gi la apa gimana? Sampe ngomongnya ngelantur begitu.”


“Ya! Aku memang gila! Aku jadi gila karna selalu nungguin kabar dari kamu setiap hari! Aku udah jadi gila karna kamu gak pernah hubungin aku selama beberapa bulan! Aku semakin gila karna aku gak bisa hubungin kamu!”


Leka ternganga dengan sempurna. Bukan apa, ia tidak pernah melihat Akash marah padanya seperti ini. Seberapapun ia mengganggu pria itu, dia tidak pernah meninggikan suara apalagi sampai melotot begini.


“Perasaanmu bukan gak terbalas, Leka. Maaf aku baru sadar saat kamu pergi dari aku.” Suara Akash berubah lirih. Tatapannya juga berubah teduh. Ia menangkup kedua pipi Leka dengan tangannya. Memaksa gadis itu untuk membalas tatapannya.

__ADS_1


“Leka, aku sayang sama kamu. Tolong jangan pergi dariku.”


Cup.


Akash mendaratkan kecupannya di puncak kepala Leka. Mengalirkan seluruh perasaannya kepada gadis itu.


Leka masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Itu seperti mimpi baginya.


“Hahahahahahahahahahaha!” Tiba-tiba Leka teratwa dengan sangat lepas. Membuat Akash mengerutkan keningnya.


“Kenapa ketawa begitu? Nyeremin tau gak?”


“Ya ampun. Ternyata Mbak Esta bener.”


“Esta? Maksudnya?” Tanya Akash curiga.


“Dulu Mbak Esta pernah kasih saran buat aku. Memang peluangnya 50:50. Dia bilang kalau aku harus menjauh sebentar dari kamu. Resikonya, kamu akan bener-bener nglupain aku. Tapi dengan begitu, aku bisa tau gimana perasaanmu yang sebenernya ke aku. Jadi aku gak harus buang-buang waktu.”


“Jadi Esta yang nyuruh kamu buat jauhin aku?”


Leka menggeleng. “Bukan nyuruh. Tapi kasih saran. Dan semua keputusan ada di tanganku sendiri.”


Cetik!


Akash menyentil kening Leka dengan gemas. “Iiissh! Kamu ini.”


“Auh! Sakit, Mas.” Protes Leka sambil mengusap-usap keningnya. Menatap kesal kepada Akash.


“Hhhhh! Sia-sia aku jauh-jauh dateng kemari.” Dengus Akash sambil membalikkan badan dan mulai berjalan meninggalkan Leka.


Tak tinggal diam, Leka langsung berlari dan menyelipkan tangan di lengan Akash sambil terkekeh senang.


“Leka!” Panggil pria teman Leka tadi. Ia menatap aneh kepada Leka yang sedang bergelayut di lengan Akash.


“San, sorry ya, aku gak bisa nerima kamu. Karna sekarang aku udah jadi milik seseorang.” Jelas Leka to the point sambil melirik kepada Akash. Ia menarik lengan Akash untuk menjauh dan pergi dari tempat itu. Meninggalkan


pria yang sedang patah hati sambil ternganga.


“Untung kamu cepet, Mas. Kalau enggak, kesempatanmu udah kelewat. ” Seloroh Leka. “Tapi, kok kamu bisa tau aku ada disini, sih? Tau dari mana? Siapa yang kasih tau kamu? Hemmm?” Desak Leka.


Akash hanya tersenyum saja sambil terus mengarah ke mobilnya.

__ADS_1


“Cuma kebetulan. Namanya juga takdir. Udah jodoh.” Jawab Akash berbohong. Ia mangu lum senyum bahagia. Ternyata Leka mampu mendebarkan hatinya.


Dan Akash telah menjatuhkan pilihannya kepada gadis bernama Leka itu. Gadis ceria yang selalu mengganggunya demi memenangkan hatinya. Dan sekarang, ia yang telah memenangkan hati gadis itu untuk menjadi miliknya seutuhnya.


__ADS_2