
Rai sedang menunggu Esta kembali dari kamar mandi, namun gadis itu tak kunjung muncul bahkan setelah beberapa menit berlalu. Khawatir terjadi sesuatu padanya, akhirnya Rai beranjak dari duduknya dan pergi untuk menyusul Esta.
Rai berjalan perlahan menyusuri koridor kantor polisi. Saat ia sampai tak jauh dari kamar mandi, ia mendengar ada suara orang yang sedang mengobrol. Awalnya Rai tidak peduli dan hendak melanjutkan langkahnya, namun saat ia melihat ke arah suara, ternyata itu adalah Esta yang sedang mengobrol dengan wanita yang datang ke kantor polisi tadi. Rai tidak tau itu siapa, namun sepertinya itu adalah keluarga Esta. Rai menduga itu adalah tante Esta yang sempat di ceritakan tempo hari.
“Kamu ini bengal sekali. Udah ku bilang pergi jauh dari sini, kenapa kamu malah masih kerja di tempatnya Pakde Karya? Kamu memang sengaja kan buat mancing-mancing Ringgo?” Ucapan wanita itu terdengar pedas.
“Bi... Kok Bibi ngomongnya gitu sih? Aku udah berusaha buat jauh dari kehidupan Bibi. Jangan salahin aku kalau paman tiba-tiba datang ke warung padahal dia gak pernah datang sebelumnya. Bibi lagi bela suami Bibi yang bajing@n itu?”
“Jaga mulut kamu, Ta. Dia memang bajing@n, tapi dia tetep suamiku. Kamu aja yang kegatelan tetep kerja disana. Emangnya gak bisa apa kamu cari kerja di tempat lain?”
“Bibi tau sendiri cari kerja gak semudah itu, kan?”
“Banyak alasan kamu. Sekarang masalah udah jadi begini, kamu mau gimana? Dari dulu kamu selalu bikin masalah. Kalau aja dulu kami gak ngambil kamu, mungkin kehidupan kami bakalan baik-baik aja. Kamu ini anak pembawa sial tau gak? Gak pernah ada bagusnya sama sekali.”
“Masalah yang mana? Aku pernah bikin masalah apa? Bukannya Bibi yang selalu diem padahal tau perbuatan Ringgo ke aku? Aku pernah nyusahin Bibi apa? Aku cari makan sendiri. Aku cuma numpang tidur di rumah Bibi. Bibi gak pernah belain aku apalagi waktu Ringgo menggila.”
“Kamu semakin ngelunjak ya? Dasar gak tau di untung. Udah hebat kamu karna udah bisa cari uang sendiri?”
“Jadi mau Bibi apa?!!!” Esta nampak sudah kehabisan kesabaran karna terus di pojokkan
“Seenggaknya tau diri lah. Gak perlu sampe bawa Ringgo ke polisi segala. Cabut tuntutanmu.”
“Enggak mau.” Tegas Esta. Sudah lama ia ingin membalas perbuatan Ringgo, dan inilah kesempatannya. Enak saja.
__ADS_1
“Esta!!”
“Aku bilang gak mau!!”
“Tolong berhenti!” Rai sudah tidak bisa menahan diri lagi saat Kanti mengangkat tangannya hendak menampar Esta. Ia muncul kemudian menghampiri mereka.
“Gak usah ikut campur kamu.” Hardik Kanti.
“Kita di kantor polisi, Tante. Tante mau di penjara kayak suami Tante?” Ancam Rai.
Kanti terpojok dan akhirnya ia menurunkan tangannya walaupun dengan ekspresi yang sangat marah. Ia mendengus sebelum kemudian pergi meninggalkan Esta dan Rai.
Rasanya sudah cukup Esta merasa di permalukan di depan Rai untuk malam ini. Ia terus menundukkan kepala dan tidak berani menatap mata Rai.
“Ayo kita pulang. Kata petugas kamu udah boleh pulang. Nanti bakalan di panggil lagi kalau mereka perlu informasi tambahan.” Jelas Rai kemudian. Esta masih menundukkan kepalanya, namun ia tetap mengikuti Rai berjalan di belakangnya.
Saat itu malam sudah sangat larut, bahkan sudah hampir pagi. Tapi Esta dan Rai tidak merasa mengantuk sama sekali. Rai tau, kalau Esta sedang tidak baik-biak saja, namun gadis itu hanya terdiam di belakangnya. Bahkan saat mereka sampai di tempat parkir rusun, Esta tetap terdiam.
Esta turun dari sepeda motor Rai kemudian duduk di pinggir pembatas taman tanpa melepas helmnya. Ia hanya terus duduk disana dengan diam. Rasanya lelah sekali, dan pipinya terasa sangat perih.
Namun yang di lakukan oleh Rai, ia malah ikut duduk di samping Esta dan meletakkan helmnya di atas rumput begitu saja.
“Kamu gak apa-apa?” Tanya Rai setelah mereka lama terdiam.
__ADS_1
Esta masih tidak menjawab. Namun sekarang bahunya nampak terguncang dan Esta sedang terisak. Semakin lama, tangisan Esta semakin menjadi. Ia tidak berani mengusiknya. Ia hanya bisa mengelus pundak gadis itu berharap bisa sedikit membantu menenangkannya.
Esta sengaja tidak membuka penutup helmnya. Ia hanya terus terisak menumpahkan segalanya dan menyembunyikan airmatanya. Ia sudah kepalang malu kepada Rai dan ia sudah tidak peduli lagi.
“Kenapa hidupku begini? Kenapa hidupku selalu berantakan? Padahal aku udah bertekad buat memulai hidup baru. Aku udah muak dan ingin lepas dari belenggu. Kenapa gak bisa? Kenapa susah sekali?” Lirih Esta sambil terisak.
“Aku gak akan bilang sabar ke kamu, Ta. Karna aku gak tau hidup macam apa yang udah kamu jalanin. Yang aku tau, pasti itu sama sekali gak mudah. Kamu hebat udah bisa bertahan sampai detik ini. Dan aku harap, kamu akan terus begini sampai kapanpun. Kamu kuat.” Ujar Rai.
Esta menoleh kepada Rai dan menatap pria itu dari balik kaca helmnya. Rai juga menatapnya dan pandangan mereka bertemu walau tidak terlihat. Entah kenapa Esta seperti bisa membaca ketulusan disana.
Setelah beberapa saat, Esta kembali menghadapkan wajahnya ke depan, ia masih tidak sanggup untuk menatap mata Rai lebih lama. Tidak seperti sikapnya yang dingin, ternyata Rai punya sisi hangat yang baru Esta tau.
“Aku malu sama kamu, Rai. Malam ini, kamu ngelihat semua sisi burukku.”
“Sisi buruk yang mana? Aku gak ngelihat apa-apa. Gak usah malu, Ta. Mungkin kamu gak akan percaya, tapi kita punya luka yang sama dalam bentuk yang berbeda.”
Esta hanya menghela nafas untuk menenangkan hatinya.
“Kamu, lihat orang tadi, kan? Yang berkelahi sama aku. Dia pamanku, adik tiri mamaku. Sedangkan wanita yang di kantor polisi tadi, ituistrinya. Dari aku bayi, mereka yang ngerawat dan membesarkan aku. Jadi bener, kalau aku gak berterimakasih sama orang yang udah ngerawat aku dari kecil. Kamu juga berfikir begitu, kan?”
Rai menggeleng. “Aku gak punya ranah buat nilai hidup kamu, Ta. Karna aku gak tau kejadian yang sebenarnya. Yang jelas, kamu pasti punya alasan kenapa kamu ngelakuin semua ini. Kamu pasti udah berfikir panjang sebelum ngambil keputusan. Dan aku percaya kalau keputusan itu adalah yang terbaik yang bisa kamu fikirkan.”
Esta kembali menghela nafas. Rasanya canggung sekali saat ia rela menceritakan semua kepada Rai. Pria itu seperti mengerti dirinya, dan karna itulah ia bersedia terbuka.
__ADS_1
Rai sudah mengetahui semua kejadian yang menimpa Esta malam ini, jadi tidak ada yang perlu di tutupi lagi dari pria itu. Walaupun terasa aneh, tapi Esta sedang butuh tempat bersandar saat ini. Dan kebetulan, Rai memberikan bahu untuknya menumpahkan segala kesedihannya.