Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 74. Masa, Bukan Hanya Untuk Menunggu Seseorang Kembali.


__ADS_3

Esta menuntaskan tangisnya di pelukan salamah sebelum memaksa diri untuk tenang dan menyusul Rai ke kamar. Namun sebelum masuk, ia berhenti sejenak di depan pintu untuk menenangkan diri. Baru setelah merasa sedikit tenang, ia membuka pintu dan masuk ke dalamnya.


Esta terhenyak dan langkahnya membeku seketika sesaat setelah ia menutup pintu. Ternyata Rai sudah menunggunya dan langsung memeluknya dari belakang begitu ia masuk ke dalam kamar.


Rai memeluk Esta dengan sangat erat. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Esta dan menenggelamkan wajahnya di leher gadis itu.


“Aku sayang banget sama kamu, Ta. Gak bisa apa kamu rubah keputusanmu?”


Esta sedang menahan tangisnya agar tidak kembali meluncur keluar. “Gak bisa, Rai.”


“Aku gak bakalan bisa ngelepasin kamu kayak gini. Aku gak bisa hidup tanpa kamu, Esta.”


“Bisa. Kamu bisa. Kamu pasti bisa.”


“Kamu egois. Kamu gak mikirin perasaanku.”


“Maaf kalau aku egois menurutmu. Tapi aku ngelakuin ini demi diriku sendiri. Please, bantu aku.”


“Aku gak bisa, Ta. Aku minta maaf kalau aku ada salah sama kamu. Aku emang gak berdaya buat ngelindungin kalian. Tapi aku janji kedepannya aku akan berusaha lebih baik lagi buat ngelindungi kamu.”


“Makanya kamu harus pergi kalau kamu mau jadi kuat.”


“Ta, harus gimana sih aku mohon sama kamu?”


“Aku gak bakalan minta kamu buat maafin aku. Aku sadar betul sebesar apa sayangmu ke aku.”


“Kalau kamu tau itu, kenapa kamu minta pisah? Kita bisa kok cari jalan lain dan gak harus pisah juga.”


“Gak ada jalan lain, Rai. Bagiku, pisah adalah jalan terbaiknya.”


Sepertinya memang Rai sudah tidak bisa mengubah pendirian Esta untuk tidak berpisah. Ia menyadari itu dan semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


“Aku bantu beres-beres ya.” Tawar Esta. Ia tetap tidak berani menatap netra Rai karna takut ia tidak akan kuat. Perlahan ia melepaskan lingkaran tangan Rai dari perutnya dan berjalan mendekati lemari pakaian.


Rai nampak menghela nafas kecil. Pias pandangannya menatap Esta yang kini sudah sibuk dengan koper dan pakaiannya. Sepertinya ia tetap harus menuruti keinginan Esta untuk berpisah. Walaupun itu berarti ia akan merasakan sakit, tapi setidaknya itu akan membuat Esta bahagia.


Melihat Esta kembali menjadi dirinya, itu sudah lebih dari cukup untuk Rai. Walaupun itu berarti mereka benar-benar harus berpisah.


“Ini mau di bawa, gak?” Tanya Esta memperlihatkan sebuah kaus voli kesayangan Rai.


“Gak usah. Gak akan dipake juga disana.” Tolak Rai. Ia duduk ditepi tempat tidur sambil terus melihat Esta membereskan barang-barangnya.


Berat hati. Entah, apakah Rai mampu untuk mengikhlaskan Esta pergi darinya. Yang jelas, hatinya sedang kacau karna merasa tidak rela.


Sama halnya dengan Esta. Gadis itu hanya berusaha untuk terlihat tegar di depan Rai. Padahal hatinya juga sedang merintih kesakitan. Ia berharap, pengorbanan ini akan setimpal dengan apa yang akan ia hadapi ke depannya.


“Aku minta satu hal sama kamu.” Ujar Rai kemudian.


“Apa?” Tanya Esta yang masih sibuk dengan koper dan pakaian.


“Iya. Aku gak akan putus kontak kok sama kamu.”


“Kita harus tetep jaga komunikasi. Janji?” Rai sedang meminta kepastian.


Esta menoleh kepada Rai. “He-em, aku janji.”


Cukup. Itu sudah cukup bagi Rai. Ia tersenyum pias karna ia merasa masih ada harapan untuk kembali dengan Esta.


“Tunggu aku ya, Ta. Tunggu aku kembali.”


“Kenapa?”


Pertanyaan itu membuat Rai mendekati Esta dan kembali memeluknya.

__ADS_1


“Kamu Semestaku, jadi berjanjilah kalau kamu akan menungguku tidak peduli berapa lama. Selesai pendidikan, kamu adalah orang pertama yang akan ku temui. Janji sama aku, Ta.” Lirih Rai.


Entahlah. Apa Esta pantas untuk memegang janji itu? Mereka masih muda dan jalan yang terbentang di hadapan mereka masih panjang. Masa depan bukan hanya untuk menunggu seseorang kembali. Esta juga harus fokus pada kehidupannya sendiri.


Esta diam saja. Ia tidak berani menjawab janji Rai padanya. Ia takut tidak akan bisa menepatinya. Ia takut akan berharap pada janji itu. Ia takut jika Rai tidak akan kembali padanya setelah ia berharap. Karna Esta tahu benar, waktu, tidak bisa di prediksi.


Waktu bisa membuat seseorang melupakan segalanya. Waktu bisa membuat orang membenci dalam seketika. Dan waktu juga bisa membuat Rai dan Esta seperti itu nantinya. Satu hal yang pasti, tidak ada yang bisa di harapkan saat dua manusia berada dalam jarak yang berjauhan. Karna waktu akan mengambil alih semua kenangan indah mereka.


Hubungan mereka indah bagi Rai. Tapi tidak indah bagi Esta. Selama ini, Esta selalu di liputi perasaan was-was dan malu saat berjalan atau berdekatan dengan Rai. Ia merasa rendah diri apalagi saat orang-orang menatap mereka dengan aneh. Seolah mengatakan, mereka bukan pasangan yang cocok. Mereka terlihat aneh saat berdua.


Seberapapun ia berusaha untuk tidak mempedulikan gunjingan-gunjingan itu, tapi yang namanya manusia, Esta tetap punya hati yang bisa merasa. Karna itu Esta merasa sangat kesulitan saat harus menyesuaikan diri. Dan lagi, pangeran tidak pernah memilih gadis buruk rupa untuk menjadi istrinya. Atau dongeng itu tidak akan berakhir dengan sempurna dan bahagia.


“Aku minta supaya kamu tetep tinggal disini sama Nenek. Aku titip Nenek sama kamu. Kamu gak punya keluarga, dan aku gak bisa bayangin kamu tinggal sendirian di luar sana.”


“Iya, aku ngerti.”


Itu bukan janji Esta. Ia sudah berfikir jauh kedepan. Dan tidak mungkin ia akan tinggal dengan keluarga mantan suaminya setelah ia berpisah dengan Rai. Itu akan membuatnya lebih tidak tau malu dan tidak tau diri.


Sebaik apapun keluarga Rai, mereka tetap hanya orang asing yang baru saja bertemu. Dan ia tidak mungkin menanggungkan kehidupannya kepada mereka. Itu kalau ia masih punya hati dan perasaan.


“Awas kalau sampai kamu ingkar.” Ancam Rai.


“Iya. Udah tidur sana. Berisik banget.” Hardik Esta. Ia mengancingkan koper yang sudah selesai ia kemas kemudian menaruhnya di dekat lemari.


Rai tidak membawa banyak barang. Ia hanya membawa seperlunya saja. Keperluan yang lain akan di kirimkan menyusul saat Rai sudah tiba di sana.


Sepanjang malam, Rai tidak melepaskan pelukannya dari Esta. Ia ingin memeluk istrinya itu untuk yang terakhir kalinya sebelum mereka benar-benar berpisah. Begitu juga dengan Esta. Ia puas menenggelamkan wajahnya di dekapan dada Rai. Menyesap wangi tubuh Rai sampai dadanya penuh dengan aroma pria itu.


Saling melepaskan ternyata rasanya sesakit ini. Hampir sama sakitnya saat Esta kehilangan bayinya. Belum tuntas ikhlasnya untuk merelakan kepergian bayinya, kini ia harus melepaskan Rai dari pelukannya.


Semoga ini setimpal. Semoga ini akan berakhir dengan baik bagi mereka masing-masing. Hubungannya dengan Rai adalah pelajaran yang tidak akan ia dapatkan dimanapun. Bersama dengan Rai, ia bisa memperlihatkan sisi lemah yang selama ini ia sembunyikan. Bersama dengan Rai, ia tidak harus terlihat kuat dan baik-baik saja. Dan bersama dengan Rai, ia mengerti arti mencintai dan kehilangan yang sesungguhnya.

__ADS_1


Dan senyum kerelaan itu menghiasi tidur keduanya hingga pagi menyapa.


__ADS_2