Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 97. Ada Cerita Yang Tersembunyi.


__ADS_3

Hari ini Akash akan datang ke Semarang untuk meeting dengan Semesta Laundry dan juga pihak pengembang aplikasi. Pria itu sudah sampai sejak siang dan langsung meluncur ke tempat Esta.


Esta sumringah menyambut bintang iklannya itu saat dia masuk ke dalam ruangannya. Kemudian mereka saling memeluk dengan hangat.


“Lagi ngapain?” Tanya Akash sesaat setelah mereka saling melepaskan pelukan.


“Biasalah. Duduk dulu. Bentar lagi Leka datang.”


“Leka? Siapa itu?”


“Ah. Aku belum kasih tau, ya? Dia pengembangnya.” Jelas Esta yang ikut duduk di sofa depan Akash.


“Ooh.”


Sesaat setelahnya Nisa masuk untuk menyajikan teh kepada Akash. Di susul oleh Leka dan dua orang karyawannya.


Saat Leka masuk ke dalam ruangan Esta, gadis itu malah berhenti dan terpaku di depan pintu. Menatap lurus kepada Akash yang asyik tertawa dan mengobrol dengan Nisa di sofa.


“Masuk, Leka.” Ujar Esta yang langsung menyadarkan Leka.


Namun Leka bukannya ikut duduk, gadis itu malah berjalan ke samping Akash dengan tatapan terperangah tidak percaya.


“Ya ampun. Mimpi apa aku bsia ketemu sama Mas Akash disini? Aaaaaaa!” Pekik Leka sambil menutup mulutnya dengan tangan. Ia menghentak-hentakkan kakinya dengan ekspresi senang luar biasa.


Akash, Esta, dan Nisa hanya bisa ternganga saja melihat sikap Leka yang di luar dugaan.


“Aku penggemarnya Mas Akash. Aku bahkan pergi ke Jogja waktu itu buat ketemu sama Mas Akash.” Jawab Leka masih dengan ekspresi bahagia luar biasa.


“Oh, iyakah? Hai.” Sapa Akash dengan menjulurkan tangannya. Dan Leka langsung menyambut uluran tangan Akash dengan antusias.


Bahkan selama rapat itu berlangsung, Leka tak henti-hentinya melirik Akash. Hatinya sedang berdebar luar biasa. Betapa tidak? Ia bertemu dengan idolanya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau mereka akan bertemu seperti ini.


“Kalau bisa besok kita bisa langsung pemotretan.” Esta memberi saran. Soalnya ia tau kalau jadwal pertandingan Akash sangat padat. Belum lagi dengan iklan-iklan yang ia bintangi.


“Setuju. Soalnya aku juga gak bisa lama-lama disini.” Jawab Akash.


Akhirnya di sepakatilah kalau mereka akan melakukan pemotretan besok.


Rapat itu di akhiri dengan tingkah Leka yang seolah enggan untuk meninggalkan Akash. Padahal ia sudah mengambil banyak foto bersama dengan Akash. Tapi gadis itu tau kalau ia harus pergi dan kembali ke perusahaannya. Walaupun dengan berat hati, Leka tetap pamit untuk kembali ke kantornya.


Setelah mengantarkan Leka sampai di depan, Esta dan Akash kembali ke ruangan kerja Esta untuk melanjutkan obrolan mereka.

__ADS_1


“Kayaknya seneng banget tuh Leka ketemu sama kamu.” Ujar Esta memulai obrolan mereka.


“Hahahaha. Padahal aku gak ngerasa seterkenal itu. Tapi rupanya aku punya penggemar yang cantik juga.”


“Ciee. Tumben muji kalau ada gadis cantik.” Ejek Esta.


“Ya memang cantik. Harus di puji dong.”


“Terus, yang jelek gak pantes di puji, gitu?” Esta tersindir.


“Bukan gak pantes. Tapi nanti di bilang fitnah lah. Apa lah.” Akash membela diri.


“Hahahahahahha. Nginep di hotel?”


Akash mengangguk. “Kamu udah denger belum? Kabarnya Rai udah balik ke Indo.”


Ucapan Akash itu langsung membuat Esta menatapnya.


Esta sudah tau. Karna pria itu sudah mengikutinya beberapa hari yang lalu. Tapi entah kenapa mulut Esta seolah terkunci untuk memberitahu Akash. Ia hanya menanggapinya dengan anggukan kecil kemudian melempar padangannya ke bawah.


“Kabar dari mana?”


“Banyak temen-temen yang bilang.”


“Kamu gak mau nemuin dia? Aku bisa hubungi dia kalau kamu mau.”


“Kenapa aku harus nemuin dia?”


“Ku fikir kalian harus menyelesaikan urusan di antara kalian. Aku pengen bantu kamu lepas, Ta. Lepas dari masa lalumu. Setelah ketemu, kamu bisa berfikir untuk mengambil keputusan yang terbaik buat kamu.”


Esta terdiam. Ia kembali menatap pias kepada Akash. Menelan salivanya untuk membasahi tenggorokan.


*****


Di hotel, Rai sedang sibuk melakukan rapat secara online dengan beberapa jajaran perusahaannya. Posisinya sebagai wakil direktur membuatnya super sibuk mengurusi pekerjaan. Padahal hari ini ia sedang merasa tidak enak badan. Bahkan wajahnya terlihat pucat dengan kelopak mata yang sayu.


Tapi begitulah Rai. Ia tetap profesional dalam mengerjakan pekerjaannya. Hanya saja Hera yang nampak mengkhawatirkan kondisi bosnya itu.


“Pak, Bapak baik-baik aja, kan?” Tanya Hera memberanikan diri.


Rai mengangguk. “Kenapa?”

__ADS_1


“Muka bapak pucet banget lho, Pak. Bapak mau saya antar ke rumah sakit?”


“Gak usah. Aku gak apa-apa kok, Ra. Cuma agak capek aja.”


Hera nampak menghela nafas lirih. Ia tahu apa yang membuat bosnya itu nampak bersedih dan patah semangat. Tapi ia tidak berhak mencampuri urusan pribadi Rai tanpa perintah dari pria itu.


“Pak, tadi saya denger kabar, kalau Akash lagi ada di laundry.”


Rai tidak menjawab. Ia hanya menoleh kepada Hera dengan tatapan pias kemudian kembali membuang wajahnya ke luar jendela. Memandangi bentangan atap-atap rumah yang jauh di depannya.


“Mau saya buatkan janji?”


“Gak. Gak usah.” Tolak Rai mentah-mentah.


Ia kembali teringat sepuluh tahun yang lalu. Akash pergi ke Purdue untuk menemuinya. Saat itu, Akash datang dengan ekspresi marah luar biasa. Dia bukan marah karna Rai tidak berpamitan dengannya. Melainkan karna ia dan Esta memilih untuk berpisah.


“Nyesel aku udah relain Esta buat kamu. Aku fikir kamu bisa jagain dia dengan baik seperti janjimu dulu. Kalau tau begini, aku gak akan pernah lepasin dia. Kamu udah negcewain aku, Rai.” Ucap Akash kala itu.


“Bukan aku yang menginginkan perpisahan ini, Kash. Tapi Esta.”


“Alasan! Itu cuma bentuk dari ketidak becusanmu buat jaga dia. Karna perbuatan konyolmu, ngumumin ke semua orang tentang hubungan kalian, Esta jadi terluka. Semua karna keegoisanmu, Rai!”


“Berhenti nyalahin aku! Kamu gak akan bisa ngerti betapa putus asanya aku buat nurutin kemauan dia.”


“Sekarang kamu udah kehilangan kesempatan buat bahagiain Esta. Jangan salahkan aku kalau aku bakalan ngerebut tempatmu di hatinya.” Ancam Akash dengan penuh kesungguhan.


“Ya, silahkan. Kalau kamu bisa.” Jawab Rai dengan penuh percaya diri. Ia tak kalah menatap tajam ke pada Akash yang juga sedang menatapnya dengan penuh kemarahan.


“Jangan pernah kembali atau nemuin Esta lagi. Atau aku bakalan hancurin kamu sampai berkeping-keping.” Ancaman Akash masih berlanjut.


“Memangnya siapa kamu? Gak usah ikut campur dalam perasaan kami.”


Buk!


Sebuah bogeman baru saja mendarat di pipi Rai hingga membuatnya tersungkur.


Dan akhir dari pertemuan itu adalah, Rai dan Akash saling melayangkan tinju untuk membela pembenaran masing-masing.


Akash dengan rasa kecewanya kepada Rai. Sementara Rai, tetap pada pendiriannya kalau ia juga terluka dengan keputusannya. Tidak ada istilah saling pengertian di antara dua teman itu.


Karna hal itu pulalah Rai dan Akash tidak saling berkabar lagi. Mereka memutus setiap komunikasi di antara mereka.

__ADS_1


Kini, kalau teringat dengan saat itu, Rai seperti bisa mengerti sedikit kemarahan Akash. Akash dan Esta terluka karna keputusan bodohnya.


__ADS_2