Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 87. Rindu Itu Tidak Bisa di Usir.


__ADS_3

Dua orang yang pernah menjalin hubungan pernikahan singkat itu, kini saling terdiam di tempatnya. Tidak ada yang memulai bicara. Bahkan setelah segelas teh hangat sudah mendarat di atas meja.


Dalam hati Esta hanya berharap, kalau Rai akan segera pergi agar ia bisa menata kembali perasaannya yang sudah berceceran kemana-mana.


Namun tidak. Sedikitpun Rai tidak pernah beranjak dari tempatnya. Ia tidak peduli kalau Esta mengabaikannya dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Ia tetap duduk dan memperhatikan Esta.


Sebisa mungkin Esta menganggap kalau dirinya hanya sendirian di ruangan itu. Tapi yang namanya rindu, dia selalu tinggal walaupun sudah di usir mati-matian dari hati.


Kini Rai sudah berdiri tegap di depan meja Esta. Memandangi Esta yang masih pura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Padahal fikirannya sedang melayang kemana-mana.


Tiba-tiba Rai mendekatkan wajahnya kepada wajah Esta dengan bertumpu pada kedua tangannya di atas meja. Ia menatap netra Esta lekat-lekat.


Esta yang tidak bisa menghindar malah balik menatap pria itu. Itu adalah sikap spontannya karna terkejut.


“Ap-apa? Kenapa? Ka-kamu gak pergi?” Tanya Esta kelabakan. Sungguh, ia tidak sanggup menatap mata Rai yang bening. Itu membuat jantungnya ingin meledak. Ia menggeretakkan giginya untuk menetralkannya.


“Kamu... Marah ya sama aku?” Ujar Rai kemudian.


“Eng-enggak. Siapa yang marah? Kenapa juga aku harus marah sama kamu?”


Rai menelisik jauh ke dalam netra Esta untuk menemukan kejujuran wanita itu.


“Hemph.” Rai kembali tersenyum. Kali ini ia kembali berdiri kemudian berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di samping Esta. Ia memutar kursi Esta hingga wanita itu menghadap sempurna kepadanya. Setelah itu, ia berjongkok di depannya.


“Kamu ini apa-apaan?” Tanya Esta yang terkejut.


“Semesta... Aku tau kamu marah sama aku. Maafin aku karna baru bisa datang sekarang. Tapi yang terpenting, aku menepati janjiku. Sekarang aku disini. Jadi jangan marah lagi, ya? Hem?” Ujar Rai dengan sangat manisnya.


Seketika Esta teringat dengan rekaman pena yang sudah mendarat manis di tempat sampah. Bodohnya ia yang tidak pernah tau kalau ada rekaman suara Rai di pena itu.


Entah kenapa, memandangi netra Rai membuat Esta ingin menangis saja rasanya. Ingin ia menghambur ke pelukan pria itu. Tapi ia sedang berusaha menjaga gengsinya saat ini. Lagipula ia sudah berjanji akan membuka lembaran baru.


Rai datang di waktu yang tidak tepat. Apa di waktu yang tepat?


Esta menelan salivanya untuk membasahi tenggorokan. Ia mengedip-ngedipkan mata kemudian membuang wajahnya ke samping.


“Lihat aku...” Rengek Rai manja. Dia sama sekali tidak merasa canggung padahal mereka baru bertemu setelah hampir 11 tahun berpisah.


“Ta..... Lihat aku...” Rai mendekatkan tubuhnya agar Esta mau melihatnya.

__ADS_1


Entah apa yang mendorong Esta untuk kembali memalingkan wajah dan menatap pria itu. Saat pandangan mereka bertemu, dada Esta bergemuruh hebat seakan jantungnya ingin melompat keluar.


“Kenapa kamu tiba-tiba muncul begini?” Tanya Esta lirih. Ia menguatkan diri untuk menatap Rai.


“Karna aku baru punya keberanian. Sekarang aku udah lebih kuat, seperti yang kamu minta. Dan sekarang aku udah bisa ngelindungi kamu. Dan aku bakalan gelindungin kamu selamanya.” Jawaban memuaskan itu malah membuat hati Esta mencelos.


Ia malu. Malu karna sudah menyuruh Rai pergi. Ternyata pria itu menepati janjinya untuk datang.


“Terus kamu mau aku gimana?”


“Ya gimana lagi? Aku bakalan nikahin kamu lagi.”


“Apa?”


“Kenapa? Gak mau? Bukannya kamu juga masih nunggu aku, ya?”


“Si-siapa bilang? Aku gak nungguin kamu!” Hardik Esta.


Rai mengkerutkan keningnya dengan bibir yang manyun. “Beneran?”


Esta langsung menganggukkan kepala.


Dan Esta kembali mengangguk. Ia mencoba mempertahankan harga dirinya. Ia tidak ingin kalah malu dengan Rai. Ia yang meminta pria itu pergi dan memutuskan pernikahan dengannya. Tapi ia juga kesal karna Rai memutus kontak dengannya begitu saja.


Sebenarnya Esta ini kenapa? Ia sedang menjaga gengsi? Atau sedang menjaga rindu? Apa ia sedang malu? Malu pada Rai? Atau malu pada dirinya sendiri? (totor sampe bingung sendiri)


“Aku kangen banget lho Ta sama kamu.” Ujar Rai kembali. Ia melandaskan kepalanya di paha Esta. Tentu saja Esta langsung terbelalak dan hampir berjingkat. Tapi Rai menahannya sehingga kepalanya tetap berada di pangkuan Esta.


“Rai...” Lirih Esta. Sungguh ia sudah tidak bisa menahan degub jantungnya lagi.


Rai mendongakkan kepalanya menatap Esta. Ia tersenyum senang saat Esta menyebut namanya. Hatinya bergetar mendengar suara Esta memanggilnya.


“Udah gak marah lagi, kan?”


“Udah ku bilang aku gak marah sama kamu.”


“Gak marah tapi ngambek. Hehehehehe.” Ujar Rai yang kini sudah kembali berdiri. Ia mengacak-acak pelan puncak kepala Esta dengan senyum mematikan miliknya.


“Yaudah kalau mau ngelanjutin kerja. Aku boleh ya istirahat bentar di sana? Capek banget aku dari perjalanan jauh.” Tawar Rai menunjuk ke arah sofa.

__ADS_1


Dan tanpa menunggu jawaban dari Esta, pria itu langsung ngeloyor pergi ke sofa dan membaringkan dirinya disana. Meninggalkan Esta yang hanya bisa ternganga saja melihat kelakuannya.


Rai membaringkan dirinya di atas sofa dengan kedua tangan bersedekap untuk mengusir dingin. Tidak butuh waktu lama sebelum ia terlelap dengan sempurna.


“Hhhhhhhh....” Lirih Esta. Melihat Rai menghilang dari pandangannya karna terhalang sandaran kursi, membuat Esta bernafas lega. Setidaknya ia tidak harus menatap wajah pria itu. Atau rindunya akan membludak tak terbendung.


Setelah sekitar 30 menit berlalu dan Esta tidak berhasil untuk fokus pada pekerjaannya, akhirnya dia bangun dan berjalan mendekati Rai yang sudah mendengkur pelan. Kemudian ia keluar dari ruangannya.


Ternyata Giri masih menunggu Esta di depan ruangannya. Dia langsung menghampiri Esta begitu Esta keluar dari ruangan.


“Mbak! Mbak gak apa-apa, kan?” Giri panik.


“Aku gak apa-apa. Kenapa?”


“Aku takut Mbak kenapa-napa soalnya tadi Mbak kayak syok banget gitu. Dimana Om itu?” Tanya Giri emosi dan ia hendak merangsek masuk. Esta segera mencegahnya dengan menarik lengannya.


“Aku mau kasih perhitungan sama Om itu. Dia pasti udah jahat sama Mbak.”


“Hehehehehe. Kamu ini. Enggak kok. Udah ah. Tolong kamu ambilin bantal sama selimut aja.” Pinta Esta kemudian.


Walaupun memasang mimik wajah tidak terima, namun Giri tetap melaksanakan perintah Esta. Sedangkan Nisa memilih untuk tidak ikut campur dan fokus mengerjakan pekerjaannya.


“Orang tadi belum pergi, Mbak?” Tanya Nisa.


Esta menggeleng. “Lagi tidur.”


“Tidur?!” Nisa terkejut.


“Hem.” Jawab Esta sambil tertawa kecil.


Tidak lama kemudian Giri sudah datang dengan membawa bantal dan selimut kemudian menyerahkannya kepada Esta.


Setelah menerimanya, Esta membawanya masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan Giri dan Nisa saling tatap dengan penuh curiga.


“Mbak Nisa kenal sama Om itu?” Tanya Giri kepada Nisa.


Nisa menggeleng. “Enggak. Aku baru pertama ini ngelihatnya. Kayaknya sih kenalannya Buk Esta.”


Giri mendengus. Ia jelas tidak menyukai pria itu.

__ADS_1


__ADS_2