
Siang ini, Esta sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pergi ke sebuah universitas yang tak jauh dari tempatnya. Hari ini ia akan memenuhi undangan mereka untuk menjadi pembicara di dalam sebuah seminar kewirausahaan yang di adakan oleh Fakultas Ekonomi.
Bahkan Giri sudah bersiap sejak tadi. Pria itu sedang menunggunya di depan laundry sambil sesekali melirik ke arah pagar mess.
Sudah dua hari ini Rai benar-benar tidak memberi kabar apapun kepada Esta. Pria itu sedang menepati janjinya untuk tidak mengganggu Esta dulu. Ia tau, kalau Rai sedang menunggu dirinya.
“Padahal aku bisa pergi sendiri.” Gumam Esta saat sudah keluar dari gerbang mess dan berjalan menghampiri Giri.
“Gak apa-apa, Mbak. Sekalian aku mau cari-cari.” Seloroh Giri.
“Yaaah,, belum apa-apa udah mau nyari yang lain. Katamu kamu suka sama aku?”
“Buat cadangan, Mbak. Lagian aku yakin kalau Mbak Esta gak mungkin mau sama aku. Iya kan? Soalnya kan udah ada si combro itu.” Dengus Giri.
“Usahamu belum maksimal, Ri.”
“Mau maksimal kayak gimana? Lihat Mas Akash, kurang maksimal gimana lagi dia coba? Tapinya dasar hati Mbak yang masih ketutup.” Giri masih menggerutu.
“Kok jadi merepet gitu? Udah ayuk. Nanti telat.”
“Hehehehehehe.”
Giri segera masuk ke dalam mobil dan duduk manis di balik kemudi. Menyusul Esta yang sudah masuk terlebih dulu. Dan Giri segera membawa mobil van itu melesat pergi.
“Ahh, aku gugup.” Desis Esta. Karna memang dirinya belum pernah tampil di depan banyak orang seperti ini.
“Gak usah gugup, Mbak. Anggap aja mereka itu anak ayam.”
“Kok anak ayam sih?”
“Ya biar Mbak Esta gak gugup, anggap aja begitu. Biar lebih tenang.”
“Ya kalau menganggap mereka anak ayam, malah aneh dong. Masak iya aku ngomong sama anak ayam? Ganjil, Ri.”
__ADS_1
“Hahahahaha. Terserah Mbak lah mau nganggap mereka itu apa. Dibawa nyaman aja.”
Bagian yang sulit dalam berbuat sesuatu adalah awal mulanya. Fikiran selalu menolak untuk baik-baik saja. Membayangkan hal buruk yang bahkan
belum tentu terjadi.
Dan begitulah yang sedang Esta rasakan. Ia gugup karna takut jika nanti akan membuat masalah dan membuatnya malu. Tapi Giri terus menenangkannya sehingga rasa gugupnya berkurang.
Sesampainya di Fakultas Ekonomi, Esta di sambut ramah oleh ketua panitia yang memang sedang menunggunya. Mahasiswa itu juga nampak akrab dengan Giri.
“Selamat datang, Buk. Saya Faisal, ketua panitia seminar ini. Makasih banyak Ibu Semesta udah mau hadir di acara ini.” Ujar mahasiswa itu sambil menyalami Esta.
“Sama-sama. Semoga nanti saya tidak mengecewakan.” Jawab Esta.
“Pastinya enggak dong, Buk. Para peserta seminar sudah antusias banget waktu denger pemilik Semesta Laundry yang terkenal mau jadi pembicara. Bahkan sampai melebihi kapasitas kursi yang ada.”
“Iya, kah? Hehehehe.” Esta jadi merasa sungkan sendiri. Tidak menyangka kalau ia akan di kenal oleh begitu banyak orang.
Memang, sebagian besar pelanggannya adalah mahasiswa. Karna mereka merupakan target awal dari Semesta Laundry. Dan cabang-cabang laundry memang sengaja berada di dekat-dekat kampus yang mudah di jangkau oleh mahasiswa.
Esta mengikuti Faisal masuk ke dalam sebuah gedung yang tidak terlalu besar. Gedung itu hanya cukup menampung sekitar 200an orang saja. Giri juga ikut masuk dan duduk di kursi tambahan paling belakang. Ia duduk bersama dengan anggota panitia yang lain.
Rasa gugup Esta semakin menjadi saat Faisal mempersilahkannya untuk duduk di panggung. Disana sudah ada empat sofa yang di sediakan. Dan Esta duduk di salah satunya.
Ia merasa tubuhnya menciut saat ratusan pasang mata melihat kearahnya. Tiba-tiba dia ragu dan takut jika nanti membuat masalah yang tidak perlu.
Untung saja, seorang mahasiswi yang di dapuk menjadi moderator ikut naik dan mengajaknya mengobrol. Bertanya tentang seluk beluk Semesta Laundry hingga mengalihkannya dari rasa gugup.
Esta penasaran dengan dua narasumber lain yang ikut mengisi acara. Jadi dia bertanya kepada moderator itu.
“Ada dua, Buk. Satu Dekan fakultas kami, dan satunya wakil direktur dari maskapai Sky Air Aviation. Tapi sepertinya wakil direktur itu agak terlambat. Sekretarisnya baru saja menghubungi kami.” Jelas moderator itu kembali.
Obrolan itu terhenti saat seorang pria paruh baya datang dan ikut duduk di samping Esta. Mahasiswi moderator itu menyapa dekannya dengan hormat dan memperkenalkannya kepada Esta.
__ADS_1
“Saya Semesta, Pak.” Sambut Esta.
“Ya, ya. Saya sudah sering dengar nama Mbak Semesta. Saya Karim. Saya Dekan fakultas ekonomi.” Pak Karim juga memperkenalkan diri
Acara segera di mulai tanpa kehadiran salah satu pembicara. Karna mereka tidak mau membuat para peserta seminar menunggu terlalu lama, jadi mereka memutuskan untuk memulainya terlebih dahulu.
Pak Dekan Karim yang memulai terlebih dahulu setelah moderator mempersilahkannya. Pak Karim banyak menceritakan tentang pentingnya fokus pada pendidikan. Ia menekankan materinya sesuai dengan latar belakangnya.
Waktu yang di berikan untuk pembicara sebanyak 30 menit. Dan pak Karim sudah menyelesaikannya.
Kini moderator kembali mengangkat microphonenya kembali. Ia berterimakasih kepada Pak Karim dan memberitahu kepada para peserta untuk menyimpan pertanyaan di akhir sesi nanti.
Suasana kembali riuh saat ketua panitia bersama dengan seorang pria masuk ke dalam gedung seminar. Pria yang mengenakan celana hitam, kemaja putih dengan di balut oleh rompi berwarna hitam juga. Pria itu menyebarkan senyuman mematikan kemudian duduk di sofa kosong di atas panggung. Pria itu juga nampak tersenyum sekilas kepada Esta.
Penampilan dan auranya mampu menyihir semua mata yang sedang menatapnya.
“Selamat datang, Pak Rai.” Ujar moderator ramah.
“Ya, terimakasih. Maaf saya terlambat.” Bisiknya kemudian.
Esta membeku. Menatap Rai yang nampak sangat mempesona duduk di sampingnya. Dan jantungnya serasa berhenti saat Rai mengedipkan satu matanya padanya.
Sial. Rai datang di waktu yang tidak tepat.
“Dan sekarang kami persilahkan kepada Ibu Semesta, pemilik Semesta Laundry untuk membagikan pengalamannya. Waktu dan tempat di persilahkan.” Ujar moderator.
Esta memandangi microphone yang tergeletak di atas meja. Kemudian menoleh kepada Rai yang masih mengembangkan senyuman yang sama padanya.
Entah kenapa, senyuman itu memberinya kekuatan dan menghapus semua perasaan gugupnya. Seolah Rai sedang memberikan kekuatan padanya. Itu berbanding terbalik karna biasanya dia akan semakin sungkan dan gugup. Tapi kenapa sekarang tidak?
Esta meraih microphone dan menarik nafas dalam. Ia sudah bersiap membagikan pengalamannya.
“Ehm, hai semuanya. Walaupun moderator sudah memperkenalkan saya, tapi saya ingin memperkenalkan diri lagi. Nama saya Semesta, pemilik Semesta Laundry. Siapa disini yang jadi langgananku?” Ujar Esta memulai bicaranya.
__ADS_1
Di luar dugaan. Hampir semua orang mengangkat tangannya. Membuat Esta semakin berdebar karna rasa terimakasihnya kepada para pelanggannya.